Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Perdebatan Tentang Adrine


__ADS_3

Didalam Perguruan Bayangan Langit, perguruan murid inti. Dan didalam suatu ruangan pertandingan yang mirip seperti lapangan didalam ruangan, terdapat suatu keributan dan didalam keributan itu, disebutkan nama Adrine.


"Hehehe, Etern, bukankah dulu kau itu bukannya teman Adrine? Si pecundang yang dibuang itu, iya kan?"


Etern sedang melawan seseorang, dan orang itu kekuatannya lebih kuat dibandingkan dengannya. Etern masih terus bertahan dan melawan karena tidak terima kalau Adrine dihina. Dan orang itu bernama Daffa.


"Jangan kau berani menghinanya!! Aku percaya, diluar sana Adrine sedang berlatih dan sudah lebih kuat darimu."


ZRIIIING!!


Tiba-tiba saja Daffa sudah ada didepan Etern.


"Kau itu tidak pantas membandingkan aku dengan pecundang itu! Perguruan Bayangan Langit itu adalah tempat dengan energi kultivasi yang sangat mendukung dibandingkan dengan tanah yang lainnya."


BUAGH!!


Etern dipukul oleh Daffa dengan tinju Upper Cut. Ia merasakan kalau tulang rahang bawahnya retak akibat serangan tersebut. Etern terlempar dan terjatuh dilantai.


"HAHAHAHA!!"


Banyak sekali yang menertawakan kekalahan Etern. Semua penonton tertawa, kecuali Senior David dan Arpha. Didalam hati, Senior David merasa sangat sedih. Disisi lain, Arpha merasa ingin memukul semua orang yang telah menertawakan Etern karena membela Adrine.


Arpha memang tipe orang yang pemarah, namun bukan orang yang suka menyimpan dendam dengan temannya.


"Jika saja aku sudah mencapai tahap Kematian, aku mungkin bisa mengalahkannya."


Arpha sangatlah marah dan ia sendiri sebenarnya kecewa karena tidak bisa lebih kuat lagi tanpa ada lagi Adrine yang biasanya ada disekitarnya.


"Seharusnya aku bisa melawannya, tapi aku tidak berani menyinggung kelompok berandalan itu."


Senior David sendiri juga bukan orang yang membiarkan temannya dihina, namun ia tidak berani mengambil resiko yang lebih besar untuk membalasnya. Ia lebih memilih untuk menyelesaikan semua masalah dengan damai.


"Cih... Kalau aku jadi dirimu, aku akan menantang mereka semua. Mereka telah menghina temanku dan juga diriku, aku akan menghabisi mereka semua dengan tanganku, sayangnya aku lemah dan peraturan tidak memperbolehkan untuk saling membunuh."


Senior David menoleh kearah Arpha, ia sebenarnya sangatlah malu dengan Arpha dan dirinya sendiri. Itu karena sifatnya yang tidak terlalu kasar dan kurang berani untuk mengambil resiko.


Disamping itu, Etern terus berusaha untuk berdiri dan bangkit kembali untuk melawan kembali. Namun, Etern sangat bisa dikatakan kalah. Itu karena perbedaan kekuatan yang cukup besar diantara ia dengan Daffa.


Arpha memang sudah menembus hingga ketahap Kehidupan level-3, namun Daffa sudah mencapai tahap Kematian level-1. Apalagi Etern masih berada ditahap Kehidupan level-3 kelas awal, dan lawannya telah mencapai tahap Kematian level-1 kelas akhir. Perbedaannya sungguhlah sangat jauh.


"Sebenarnya aku tidak tega melihatmu seperti ini, tapi karena kau yang terus membela si pecundang itu, kau sangat membuatku marah. TINJU EMAS!!"


Lalu Daffa pun menghempaskan tinjunya dan memukul tubuh Etern yang sudah terbaring dibawah.


Sementara itu, para master yang sedang berada didalam ruangan berkumpul mereka sedang membicarakan tentang Adrine yang belum kembali juga. Ruangan yang cukup luas bahkan bisa diisi hingga puluhan orang, namun juga dipenuhi oleh teknologi-teknologi yang canggih buatan dari Master Taro.

__ADS_1


Dan didalam ruangan itu terdapat beberapa master termasuk Heyto, Kai, dan Taro. Dan disana, mereka tidak menggunakan zirah mereka masing-masing.


"Bagaimana Taro? Apakah Adrine sudah terlihat?"


Heyto menanyakan tentang Adrine terus, ia sangat khawatir dengan kondisi Adrine yang belum kunjung kembali.


"Datanya masih terkunci, ia belum ada didalam radius wilayah Perguruan Bayangan Langit."


Disana, Taro sibuk dengan layar yang ada didepannya, namun dia sedang fokus untuk mencari keberadaan Adrine.


"Apakah kau bisa memperluas radiusnya?"


Heyto yang tak sabaran langsung mengajukan saran untuk memperluas radiusnya, namun Taro menggelengkan kepalanya dan menolak saran dari Heyto.


"Kita akan melanggar peraturan yang sudah ditetapkan kepada setiap perguruan manapun. Radius maksimal data seseorang dalam pengintaian adalah sampai 100 meter keluar dari perguruan. Aku hanya bisa mencarinya dengan drone ciptaanku untuk mencari diluar sana."


Walaupun begitu, Heyto masih tetap saja cemas dan khawatir dengan Adrine. Tak ada yang tahu bagaimana kondisi Adrine sekarang ini


TING!!


Suara yang mirip seperti notifikasi muncul dari speaker kecil yang ada disamping layar yang ada didepan Taro.


"Notifikasi apa itu?"


Semua yang ada didalam ruangan itu sangatlah terkejut dan penasaran dengan notifikasi yang tiba-tiba muncul. Taro pun mengeceknya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"APA?"


Heyto langsung berdiri dan dengan cepat melihat layar yang ada didepan Taro.


"Apa benar data ini milik Adrine?"


Taro mengangguk.


"Lihatlah namanya! Bukankah itu Adrine? Aku akan mengecek tentang dirinya, sudah sejauh mana ia berkembang diluar sana."


Heyto tidak memperdulikan perkataan Taro, ia hanya tersenyum dan menangis terharu mendapati Adrine yang sudah kembali. Heyto sudah menganggap Adrine sebagai anaknya sendiri.


"Kehidupan level-1, level-2... Wow, level-3, hebat sekali bocah ini. Tunggu, apa?"


Sebelumnya Taro yang memuji Adrine karenanya yang sudah mencapai tahap Kehidupan level-3, raut wajahnya berubah ketika sesuatu terjadi.


"Kenapa?"


Semua yang ada disana bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun Taro hanya terpaku diam disana. Keringat Taro bercucuran deras.

__ADS_1


"A... Apa data ini benar-benar data milik Adrine?"


Taro sangatlah terkejut mendapati sesuatu didalam data Adrine, ia melihatnya seperti ada yang lain dari data milik Adrine. Sensor wajah menunjukkan kalau wajah Adrine tidak banyak berubah, namun bukan itu yang membuat Taro terkejut.


"Sejauh ini, murid inti yang telah mencapai pencapaian tahap Kematian level-2 hanyalah segelintir orang saja, tapi Adrine..."


"Apa Adrine sudah mencapai level itu?"


Namun Taro menggelengkan kepalanya.


"Adrine bukan hanya sudah mencapai tahap Kematian level-2, dia sudah melampauinya."


"Apa?"


Semua yang ada disana terkejut setengah mati. Tak disangka, kecepatan kultivasi yang tidak masuk akal ditunjukkan oleh seseorang dari luar perguruan.


"Jika kalian hanya mengira Adrine mencapai level-3, kalian salah! Adrine telah mencapai tahap Kematian level-4 kelas akhir."


DEG!!


Semuanya terkejut tanpa bisa berkata-kata. Memang bisa dikatakan kalau kecepatan kultivasi Adrine meningkat, mereka tak tahu kalau kecepatan kultivasinya meningkat dikarenakan Altar Sembilan Warna Api Spiritual.


Tapi, Altar Sembilan Warna Api Spiritual tidak berhenti sampai disitu saja, darah yang dimiliki Adrine telah menyatu dengan percampuran intisari sembilan warna api dari Altar Sembilan Warna Api Spiritual. Apalagi yang ditambah dengan bakat kultivasi Adrine yang mendukung.


TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!! TING!!


Tiba-tiba saja mereka semua mendengar banyak sekali notifikasi yang muncul. Mereka tak tahu kalau Adrine membawa banyak sekali orang masuk kedalam wilayah Perguruan Bayangan Langit. Namun Adrine hanya membawa seluruh Geng Deon masuk kedalam perbatasan saja.


"Notifikasi apa itu?"


Secara refleks Taro langsung melihat dan penasaran dengan notifikasi yang tiba-tiba muncul.


"Siapa mereka? Mereka muncul bersamaan dengan datangnya Adrine."


Disisi lain, Kai bukan lagi memikirkan tentang Adrine, namun sekarang ia lebih penasaran dengan siapa yang membuat notifikasi sebanyak itu.


"Seberapa banyak mereka? Kultivasinya? Dan dimana lokasi mereka tepatnya? Apa mereka bersama Adrine?"


Taro dengan cepat memeriksa keseluruhan data yang ada beserta dengan data Adrine. Bahkan Heyto juga sangat antusias menanggapi notifikasi yang muncul.


"Aku tidak tahu siapa mereka, data milik mereka terkunci, tapi posisi mereka bersama dengan Adrine. Kini mereka semua beserta Adrine berada dihutan Sindra."


Heyto yang cukup antusias langsung dengan cepat angkat bicara.


"Tunggu apalagi? Posisi Adrine sudah diketahui, aku harus menjemputnya."

__ADS_1


Bersambung!!


__ADS_2