
Keesokan harinya, Adrine dan teman-temannya sedang menuju ke Menara Aliran Bayangan Bertingkat. Sesampainya mereka disana, Plakat Penentu dibagikan masing-masing oleh Adrine dan seperti yang dikatakannya, ia lah yang membelikan semua plakatnya.
Plakat Penentunya telah menentukan pernomoran milik masing-masing. David mendapatkan nomor 14, Arpha mendapatkan nomor 17, dan yang terbaik, Etern mendapatkan nomor 02.
Arpha menatap plakat miliknya dengan tatapan kesal. Itu dikarenakan plakat miliknya memiliki nilai yang lebih buruk dibandingkan dengan sekawanannya.
"Ada apa Arpha?"
Adrine yang melihatnya menjadi penasaran, kenapa wajah Arpha menjadi cemberut seperti itu.
"Apa mungkin keberuntunganku ini hanya sebatas kotoran ditanah? Kenapa hanya aku yang mendapatkan nomor dibawah 15? Paling rendah pula."
Sekarang Adrine mengerti mengapa Arpha terlihat kesal, ia sendiri juga sempat melihat plakat milik Arpha itu bernomorkan 17.
"Tak apa-apa, yang penting kau punya kesempatan untuk memasuki Menara Aliran Bayangan Bertingkat."
Setelah Adrine menasehati Arpha, mereka semua langsung berinisiatif masuk. Adrine merangkul Arpha untuk menghiburnya dan juga membawanya masuk pula.
Namun, karena tidak adanya jadwal waktu yang tersedia, teman-teman Adrine tidak bisa masuk kedalam dan menunggu hingga waktunya. Etern yang melihat adanya tanggal waktu diplakat miliknya sudah tahu kapan ia bisa datang kemari.
"Lihatlah! Disini ternyata ada jadwalnya, aku bisa masuk kemari besok lusa."
Kemudian, setelah Etern mengatakan hal tersebut, David dan Arpha langsung memeriksa plakatnya miliknya masing-masing untuk melihat jadwal mereka bisa datang.
"Kalau aku bukan lusa, aku bisa kembali kesini lagi 4 hari lagi."
David memiliki jadwal 4 hari lagi, tetapi Arpha tidak memberitahukan kapan ia bisa datang kembali ke Menara Aliran Bayangan Bertingkat.
__ADS_1
"Arpha! Kenapa kau diam saja? Apa ada sesuatu?"
Arpha langsung menoleh ketika dipanggil oleh Adrine. Ia sepertinya tak tahu harus mengatakan apa kepada temannya karena terlihat ekspresi wajahnya yang datar.
"Tidak ada. Aku punya jadwal datang kemari dengan waktu yang sama dengan David, dan dia sudah mengatakannya, jadi sepertinya aku tidak perlu mengatakannya lagi."
Arpha menyeringai ketika mengatakannya.
Adrine ingin mengatakan sesuatu tentang jadwalnya yang tidak terbatas, maka dari itu ia tak bisa untuk menemani teman-temannya pulang kembali kekediaman mereka.
"Aku tak bisa menemani kalian, dan kalian bisa pulang sendiri kan? Kalau begitu, aku masuk duluan."
Mereka bertiga menganggukkan kepala mereka setelah ditanya oleh Adrine dan juga mereka saling melambaikan tangan mereka.
Adrine pun masuk kedalam dan diiringi teman-temannya yang berbalik kanan pulang. Sesaat ketika ia masuk kedalam, dirinya tak mendapati adanya Roni yang sedang duduk berkultivasi. Adrine berjalan keatas menuju kelantai 4 untuk segera berkultivasi dan menghancurkan lapisan dalam dari Lapisan Segel Darah Suci.
'Aku harus cepat! Ini sudah yang ketujuh harinya, setidaknya aku harus bisa menghancurkannya pada hari ini juga atau kalau tidak, besok ataupun lusa.' Pikir Adrine.
'Mungkin dilantai atas masih penuh juga.' Pikir Adrine.
Memang masih banyak orang yang mengantri dan memiliki jadwal menunggu dilantai 4, namun sepertinya dilantai ini waktu yang dimiliki itu lebih panjang dibandingkan dengan lantai yang ada dibawahnya. Pada lantai tersebut keheningannya bertambah dan jauh lebih sunyi ketimbang dengan lantai yang sebelumnya.
Karena Adrine kurang peduli akan kesunyian, ia langsung saja duduk dan berkultivasi.
SWOOOSH!!
Energi yang tak terlihat, namun bisa dirasakan dengan sangat kuat dan dahsyat. Dan energinya terasa sangatlah gelap seperti bayangan yang membentuk gelombang energi atau fluktuasi yang cukup kuat.
__ADS_1
Adrine memasuki lautan spiritualnya, ia mendapati kalau keretakannya semakin terbuka dan semakin mudah untuk dihancurkan. Energi yang terhisap masuk seperti air yang mengalir dengan deras, dan residunya adalah fluktuasi yang terpancar hebat dan terasa secara fisik.
Energi yang masuk adalah energi kultivasi dengan gabungan energi bayangan yang ada pada Menara Aliran Bayangan Bertingkat yang masuk kedalam tubuh Adrine. Kedua energi tersebut menyatu dan membentuk gabungan kekuatan yang sedang berusaha menerobos dan menghancurkan lapisan dalam dari Lapisan Segel Darah Suci. Kini hasilnya telah terlihat dari banyaknya retak dan lubang pada lapisan tersebut.
'Prosesnya tinggal sedikit lagi. Mungkin kurang dari seminggu aku bisa menghancurkannya.' Pikir Adrine.
Adrine memperkirakan lamanya proses yang masih tersisa hingga saat ini, dan perkiraannya itu masih ia perhitungkan lagi kedepannya.
Sementara Adrine sedang berusaha keras, Etern, Arpha, dan David sedang berkultivasi juga agar kekuatannya tidak tertinggal jauh dari Adrine. Apalagi kini mereka tahu kalau sesosok temannya yang satu ini sedang berusaha memasuki tahap Keberlanjutan. Jarak kultivasinya sangatlah jauh jika dibandingkan.
Tanpa disadari, energi yang masuk kedalam tubuh Adrine malah menjadi semakin banyak saja, seakan semua energi pada Menara Aliran Bayangan Bertingkat itu terpusat pada tempat duduk Adrine saat ini. Energinya begitu terkonsentrasi padanya, sehingga gejolak energi disekitar menjadi lebih kuat.
Orang-orang yang ada disekitar Adrine seperti terpengaruh dan terganggu akan gejolak yang ditimbulkannya. Energi pada masing-masing orang menjadi goyah dan tidak terkonsentrasi, kecuali dengan Adrine, energi yang datang padanya malah jauh lebih terkonsentrasi dan lebih murni ketimbang lainnya.
Namun orang-orang tak ada yang peduli dengan energi mereka yang sedang kacau. Tak ada satu pun dari mereka yang bangun dan mencari tahu mengapa energi kultivasi mereka menjadi tidak stabil.
Kekuatan yang bisa manusia raih itu tidak terhitung dan juga tidak terbatas. Manusia bisa menjadi seorang dewa ataupun orang yang menguasai alam semesta. Kini Adrine sedang melangkahkan kakinya untuk meraih semua kekuatan itu, dan perjalanannya sangatlah jauh dan penuh dengan rintangan. Mungkin, ini adalah langkah pertama Adrine untuk meraihnya. Masih butuh waktu yang cukup lama dan menaikkan banyak peluang agar bisa menapakkan kakinya hingga pada dunia yang ingin ia raih.
Pada kultivasi Adrine saat ini, yang disertai dengan kekuatan dan kondisinya, jika dihadapkan dengan 2 orang dari kejadian 2 tahun lalu, bagaikan sebutir pasir yang dihadapkan dengan 2 batu yang sebesar manusia.
'Tahap Keberlanjutan mungkin adalah mainan bagi 2 orang itu. Tapi mereka juga pernah melalui masa yang sama denganku sekarang, aku juga yakin aku akan bisa meraih semua yang mereka raih.' Pikir Adrine.
Bahkan jika dibandingkan dengan kekuatan yang dulu pernah diraih oleh Etern pada kehidupan sebelumnya, kekuatan tersebut hanya sebatas dari seorang pelindung galaksi, belum setara dengan kekuatan yang ingin diraih oleh Adrine. Apalagi Etern telah dikalahkan oleh orang yang kultivasinya masih belum setara dengannya, namun karena banyaknya orang yang bekerja sama, mereka mampu membunuh Etern.
Dan dengan adanya Shin kecil yang katanya juga pada kehidupannya, ia pernah mencapai kekuatan yang dimana telah melampaui ekspetasi dan harapan Adrine. Shin kecil telah mencapai kekuatan yang dimana bisa menghancurkan alam semesta yang sedang ia huni sekarang ini, seolah kehidupannya itu takkan pernah tercapai oleh orang biasa.
Dan disaat Adrine sedang memikirkan semua hal barusan, Titik Meridiannya bergejolak dan memancarkan cahaya yang sangat terang. Tubuhnya juga diselimuti oleh cahaya terang sehingga membuat mata siapapun yang melihatnya bisa menjadi silau. Dan lagi-lagi tak ada seorang pun yang memperdulikan adanya peristiwa-peristiwa seperti ini, mereka semua masih saja terfokus pada kultivasi masing-masing.
__ADS_1
'Ada apa ini? Cerah sekali!!' Pikir Adrine.
Bersambung!!