Immortal God Cultivator

Immortal God Cultivator
Kelulusan


__ADS_3

Mata saling bertatap mata, kedua orang yang saling memandangi satu sama lain malah menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana.


Etern bersama beberapa orang di belakangnya langsung mundur dan pergi menjauh dari pertarungan Adrine dengan Syorze. Jarak antara Adrine dengan Syorze tidaklah jauh, mereka hanya berjarak 10 meter.


TAP!!


Syorze yang tersenyum langsung melangkahkan kaki kirinya ke depan, terlihat ia sangat percaya diri ketika menghadapi Adrine.


Adrine sendiri juga memperlihatkan senyuman-nya, namun senyuman tersebut terlihat sangat menakutkan dan tak enak di lihat.


"Kau bisa tersenyum juga rupanya..."


Adrine masih terus mempertahankan senyuman menakutkannya itu, akan tetapi ia sama sekali tidak berucap sepatah katapun. Ekspresinya juga tidak berubah dan hanya terus tersenyum.


ZRAAAST!!


Syorze pun memulai pergerakan dan langsung menyerang Adrine, ia pun dengan cepatnya mendekati Adrine yang hanya terdiam di sana dan terus memperhatikan Syorze yang bergerak ke arahnya.


SWOOOSH!!


Adrine mengeluarkan energi yang cukup besar yang menyelimuti seluruh tubuhnya, di tambah dengan hawa pembunuh yang cukup pekat yang menyatu dengan energinya.


'EH?' Pikir Syorze.


ZRAAAST!!


Syorze langsung berinisiatif untuk melompat mundur agar tidak terjadi hal yang tak terduga, lompatan-nya cukup tinggi dan kini tubuhnya masih melayang di udara. Tangan kiri Syorze meraih pisau kecil yang ada di kantong pisau yang berada di kantong celananya.


WUUUSH!!


Syorze pun melemparkan pisaunya di saat masih melayang di udara, namun pisau yang di lemparkan-nya itu berkecepatan tinggi dan sedang mengarah ke arah kepala Adrine.


Bukan malah berusaha untuk menghindari lemparan pisau dari Syorze, Adrine malah memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya. Pisau yang di lemparkan oleh Syorze pun semakin dekat dan terus mendekat ke arahnya, namun Adrine sama sekali tidak menghiraukan serangan tersebut.


TIIING!!


Pisau lemparan Syorze langsung terlontar lurus keatas dan berputar seperti ada yang mengelakkan serangan tersebut, namun yang membuat pisau tersebut terbang berubah arah adalah energi yang menyelimuti tubuh Adrine. Orang-orang menyadari pertahanan yang dilakukan oleh Adrine, namun tak disangka kalau Adrine menahan serangan dari Syorze ketika serangan tersebut sudah berada tepat di depan kepalanya.


Syorze masih dalam keadaan melayang di udara dan hal itu juga yang membuatnya dalam kondisi yang buruk, akan sangat sulit baginya nanti untuk menghindari serangan balasan dari Adrine.


Pisau yang berputar tadi sudah mulai tertarik gravitasi dan turun tepat di atas kepala Adrine.


TIIING!! WUUUSH!!


Sekali lagi pisau tersebut di lontarkan dengan energi Adrine, namun pisau tersebut melesat dengan cepatnya dan ujung pisaunya tepat menghadap dan melesat ke arah kepala Syorze.


SRIIING!!


Syorze berhasil menghindari serangan balasan dari Adrine, pisau yang barusan melesat dengan cepat tadi melintas di sebelah kanan kepala Syorze tepat di samping pipinya. Pisau tadi menancap di langit-langit goa.


Kaki Syorze telah kembali menginjak tanah, namun secara tak terduga pipi kanan-nya berdarah seolah serangan Adrine tadi mengenai pipinya.


'Sialan! Aku menyerangnya dengan pisau ku dan dia mengembalikan-nya dengan energi yang di milikinya.' Pikir Syorze.


Memang Adrine sempat menambahkan sedikit energinya pada pisau yang di lesatkan-nya tadi dalam waktu yang sangat sangat singkat.

__ADS_1


"Ternyata kau menggunakan energi api pada serangan mu barusan, tak kusangka kau lumayan juga rupanya."


Walaupun kalimat Syorze terdengar memuji, namun Adrine masih terus menunduk dan memejamkan matanya, Adrine juga masih terus tersenyum namun tak tahu apa yang sedang membuatnya bahagia.


Adrine pun kini mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Syorze, kini ia tak lagi tersenyum dan juga membuat Syorze sedikit bingung.


"Aku akan memberimu 2 pilihan, mundur atau mati?"


Pertanyaan yang di lontarkan oleh Adrine sungguhlah menekan dan memprovokasi, orang lain yang mendengarnya juga tak habis pikir dengan Adrine. Mereka berpikir jika bisa menghabisinya langsung, mengapa harus menawarkan pilihan terlebih dahulu.


Syorze tersenyum, ia seperti tak masalah dengan penawaran dari Adrine barusan.


"Baiklah, aku lebih memilih mundur. Bukankah kau hanya ingin mengambil 1 temanmu itu?"


Syorze mengalah akan pertarungan-nya melawan Adrine, apalagi ia tahu dengan pasti apa tujuan Adrine datang dan tiba-tiba membuat kacau.


Adrine mengangguk dan berbalik badan, mengangkat kedua jari kanan-nya dan mengayunkan-nya, mengisyaratkan untuk teman-temannya segera pergi dari tempat tersebut. Syorze pun juga berbalik kanan dan pergi meninggalkan tempat dimana ia berdiri barusan.


'Apa yang di katakan oleh ayah memang benar, dia berada di sini. Akhirnya, kau ketemu juga ya... Etern!!' Pikir Syorze.


Syorze pun berjalan sambil menggenggam sesuatu, dan sesuatu itu seperti energi, energi berwarna merah gelap, mirip seperti energi milik Etern.


Disaat Syorze sampai di tempat perkumpulan para anggota murid dari rasi bintang yang lain, ia sempat di bentak oleh Alvian yang tak terima karena Syorze melepaskan Adrine begitu saja. Namun Syorze sama sekali tidak menghiraukan kemarahan Alvian dan kemudian Alvian malah terdiam.


Nicho dan Adrina menatap perginya Adrine bersama teman-temannya dan juga tidak memperhatikan kemarahan Alvian.


2 jam ujian telah berlalu, Adrine sudah tak mengambil poin lagi, ia memberikan kesempatan kepada teman-temannya yang lain. Yama dan keempat anggota Geng Lima Jenius memiliki poin yang sama dan cukup banyak, yaitu 30 poin. Sementara itu, David, Etern, dan Arpha memiliki poin yang sama juga yaitu 28 poin. Semua orang yang mengikuti Adrine berhasil lolos dan mendapatkan poin yang diharapkan dan juga tepat pada batas poin yang di butuhkan.


Adrine sempat bertemu dengan Guild Tangan Raja sekali lagi, mereka berusaha melarikan diri, namun Adrine berhasil menghadangnya dan menjadikan pertarungan antar kelompok. Dengan bantuan Adrine, tak ada satupun dari anggotanya yang harus menggunakan poin respawn, mereka semuanya selamat. Melihat Adrine saja semua orang yang bersama dengan Guild Tangan Raja menjadi takut, sudah menurunkan kepercayaan diri mereka masing-masing, bahkan menurunkan kualitas pertarungan dari setiap orang. Sebaliknya dengan tim Adrine, mereka justru bersemangat dan bahkan bisa mengalahkan lawan yang lebih kuat.


Dan karena waktunya telah habis, semua murid di kumpulkan dalam satu ruang khusus yang dimana mereka akan tahu apakah mereka akan lulus atau tidak. Terdapat layar yang menunjukkan peringkat dan perolehan poin masing-masing orang, dan lagi akan terdapat cahaya merah pada tubuh seseorang yang dimana menunjukkan ketidak lulusan seseorang dan yang lulus, tubuh mereka biasa-biasa saja.


Adrine mendapatkan peringkat teratas di layar peringkat ujian, dan kali ini orang-orang untuk pertama kalinya melihat senyuman ramah Adrine, selain David, Etern, dan Arpha.


Sebagai hadiah dari peringkat pertama yang diperoleh Adrine, ia mendapatkan undangan masuk ke dalam Perguruan Kilat Langit, perguruan tinggi yang dimana nanti bisa menjadi tempat untuk Adrine pulang dan bernaung. Kebanyakan dari orang-orang akan kembali pada sekte dan keluarga masing-masing untuk menjalani pelatihan pribadi, namun beberapa orang lain-nya bisa mencari tempat pulang mereka sendiri dengan mendaftarkan diri mereka pada perguruan tinggi seperti Perguruan Kilat Langit.


Dengan mendapatkan undangan dari Perguruan Kilat Langit, Adrine bisa dengan mudahnya masuk ke dalam perguruan secara langsung tanpa harus mengikuti seleksi masuk di tempat lain yang akan memakan waktu lebih lama lagi.


Tidak lebih dari 5 menit, semua murid telah kembali pada tubuh asli mereka masing-masing dan yang tidak lulus akan secara langsung di pindahkan jauh di luar perguruan. Setelah Adrine turun dari pilar simulasi, di tangannya secara langsung keluar sebuah token, terdapat sebuah ukiran simbol petir yang di kelilingi oleh awan, simbol tersebut adalah simbol dari Perguruan Kilat Langit.


Adrine pun berjalan keluar dan bertemu dengan teman-temannya, mereka juga bertemu dengan kelima anggota Geng Lima Jenius.


"Apakah kau nanti akan langsung pergi ke Perguruan Kilat Langit?"


Yama yang melihat Adrine yang memegang token Perguruan Kilat Langit langsung bertanya karena merasa penasaran.


"Aku akan pergi ke sana apabila temanku ini juga ke sana. Lalu, bagaimana dengan kalian?"


Adrine menjawab dengan nada yang datar, begitupun di saat ia bertanya.


"Aku akan kembali pada sekte ku, begitu juga dengan Rizky dan Shani, sementara Pino dan Vania akan meneruskan ke perguruan tinggi. Sepertinya mereka berdua juga akan ikut bersama denganmu."


Pino dan Vania langsung maju ketika namanya di sebut oleh Yama.


Etern sendiri merasa tidak ada tempat untuk pulang bagi dirinya, maka dari itu ia ingin mengikuti kemanapun Adrine akan pergi nantinya.

__ADS_1


"Kalau aku nantinya akan ikut bersama dengan Adrine, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan Arpha dan David."


Adrine memang sudah menduga kalau Etern akan ikut bersamanya, ia tahu kalau Etern tidak punya tempat untuk pulang sama halnya dengan Adrine.


"Untuk aku sendiri akan kembali ke keluargaku dan melakukan pelatihan secara pribadi, maafkan aku Adrine, ini sudah perintah dari ayahku sendiri."


David menundukkan kepalanya dan meminta maaf karena tidak bisa ikut bersama dengan Adrine,namun Adrine sama sekali tidak masalah dengan hal tersebut.


"Tenang saja David, tidak masalah jika kau ingin kembali bersama keluargamu. Lalu, bagaimana denganmu Arpha?"


Awalnya ketika Arpha di tanya oleh Adrine, ia hanya terdiam dan sedang memikirkan sesuatu, namun akhirnya ia membuka mulut dan menjawab pertanyaan Adrine.


"Aku akan kembali ke keluargaku juga seperti David, aku akan melakukan pelatihan pribadi dan berusaha menjadi lebih kuat lagi."


Adrine pun menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban dari Arpha, namun tidak ada wajah ceria dari Arpha sama sekali. Memang benar kalau Arpha sedang tersenyum, namun senyuman dari Arpha itu adalah senyuman terpaksa, Adrine sudah menyadari hal itu, namun ia tidak mau ikut campur dengan masalah Arpha dan tidak ingin terjun ke dalam masalah orang lain.


"Tenang saja, kau bebas memilih pilihanmu sendiri."


Adrine tersenyum dengan sangat tulus dan ramah, Arpha sendiri juga merasa seperti telah mengecewakan Adrine, namun ia masih memiliki urusan lain dan bukan malah mengikut dengan Adrine.


"Baiklah, berarti aku akan pergi bersama dengan Etern, Pino, dan Vania ke Perguruan Kilat Langit, bukankah yang ingin pergi ke sana akan mendapatkan pesawat khusus?"


Adrine telah memutuskan untuk pergi ke Perguruan Kilat Langit bersama dengan 3 temannya. Memang jika ingin pergi ke Perguruan Kilat Bayangan, sebuah pesawat akan datang menjemput mereka yang akan bersedia masuk untuk di seleksi.


Tempat dimana penjemputan berada di 1 km arah utara dari tempat ujian, Adrine bersama yang lain-nya juga ikut pergi ke sana dan menunggu pesawat yang akan menjemput mereka.


Orang-orang yang tidak ikut seleksi Perguruan Kilat Langit akan langsung keluar dari perguruan murid inti karena mereka bisa saja di jemput oleh keluarga masing-masing atau mereka bisa pergi ke perguruan tinggi lain-nya. Murid-murid dari rasi bintang juga menunggu penjemputan di luar perguruan murid inti.


Setelah menunggu beberapa menit, Adrine dan yang lain melihat pesawat yang sangat besar sedang melakukan proses pendaratan, namun pendaratan-nya tidak akan menyentuh tanah karena pesawat akan melayang di udara dengan jarak yang cukup dekat dengan tanah. Pesawat besar tersebut bernama Falcon X-12B


Setelah pesawat sudah berada dalam titik yang tepat, Adrine langsung di arahkan pada sebuah cahaya yang di pancarkan pada bagian bawah pesawat. Dan tak disangka, Adrine langsung menghilang dari pandangan dan tiba-tiba ia sudah berada di dalam pesawat.


'Pesawat yang canggih sekali.' Pikir Adrine.


Adrine tersenyum ketika mengapresiasi kecanggihan teknologi yang terdapat pada pesawat tersebut, namun tiba-tiba perutnya terasa mual dan wajahnya berubah menjadi pucat.


'Ah sial, sepertinya tubuhku belum terbiasa dengan gerakan yang cepat dan spontan tadi... Baru kali ini aku merasa mual seperti ini...' Pikir Adrine.


Adrine berusaha menahan mual di perutnya agar tidak muntah di dalam pesawat dan tidak membuat malu diri sendiri, namun ketika Adrine duduk di kursi terdekat, ia melihat seseorang yang juga baru saja naik dan langsing mual seperti apa yang di alaminya barusan. Orang itu langsung muntah mengeluarkan isi perutnya.


'Kukira di sini hanya aku yang tidak terbiasa dengan gerakan cepat dan spontanitas.' Pikir Adrine.


Terdapat 2 barisan tempat duduk di dalam pesawat, yaitu kanan dan kiri, setiap barisnya terdapat 4 kursi duduk yang berjejeran. Adrine memilih tempat duduk yang berada paling depan di barisan kiri dan ia duduk di tempat duduk yang paling kiri di samping dinding pesawat sambil menunggu datangnya ketiga teman-nya.


Lalu Adrine mengalihkan matanya ke arah langit-langit pesawat yang dipenuhi oleh cahaya dan kecanggihan teknologi. Dan Adrine juga melihat beberapa orang lagi yang sama-sama mual dan muntah. Namun ketika Etern masuk ke dalam pesawat, Adrine sama sekali tidak melihat Etern mual dan wajahnya terlihat segar bugar, tidak sepertinya dan lain-nya yang langsung mual dan pucat.


'Sepertinya Etern sudah terbiasa dengan kecepatan yang spontanitas.' Pikir Adrine.


Adrine terlihat sedikit kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa tahan seperti Etern, namun ketika melihat Pino dan Vania yang masuk dan juga langsung mual dan pucat, ia sedikit tersenyum dan menahan tawanya. Bukan tertawa karena Pino dan Vania yang muntah di tempat sampah yang di sediakan, namun karena menertawakan dirinya sendiri yang tidak seperti lain-nya, yaitu karena menahan muntah.


Etern melihat Adrine yang sedang menatap ke arahnya, Adrine langsung mengayunkan telapak tangan kirinya yang mengisyaratkan untuk datang ke tempat duduk di sampingnya. Lalu Etern berjalan ke arah Adrine dan duduk di samping Adrine, Pino dan Vania yang melihat Etern dan Adrine yang duduk di barisan paling depan ikut duduk di samping mereka berdua dengan Adrine yang berada paling sebelah kiri dan tepat berada di samping dinding pesawat.


Perjalanan hidup Adrine di Perguruan Kilat Langit pun, akan segera di mulai.


Bersambung!!

__ADS_1


__ADS_2