
"Oh ya, bukannya ada zona baru?" Tanya Heyto.
"Ya. Aku sendiri yang mengembangkan zona tersebut. Namanya adalah Blackzone." Ujar Taro.
"Seberapa tinggi tingkat kesusahan pada blackzone?" Tanya Tiran.
"Aku telah mengatur ulang seluruh zonanya. Untuk Deepzone, 10% lebih susah, Combatzone, 10% lebih susah, dan untuk blackzone adalah 80% lebih susah daripada combatzone." Ujar Taro.
"Bukannya itu akan mempersulit murid-murid?" Tanya Heyto.
"Memang harus seperti itu. Karena itulah yang harus dilakukan agar mereka bisa terus berkembang menjadi kuat." Ujar Taro.
"Aku setuju. Tapi, bagaimana dengan ujian kedua nanti?" Tanya Tirani.
"Ujian pertama berlangsung selama 5 jam. Setelah itu, akan ada waktu istirahat selama setengah jam dan langsung dimulai lagi ditempat yang acak pada stormzone dan deepzone." Ujar Taro.
"Bagaimana dengan whitezone? Bukankah mereka juga bisa kembali ketempat itu?' Tanya Tiran.
"Apa kau tak ingat waktu seumuran dengan mereka? Secara otomatis, zona tersebut akan tertutup oleh array pelindung khusus agar para murid tidak bisa masuk kedalam whitezone." Ujar Taro.
"Apa mereka bisa menghancurkan array pelindung itu?" Tanya Heyto.
__ADS_1
"Setahuku, array tersebut hanya bisa dihancurkan oleh kultivator setingkat pencapaian kehidupan." Ujar Taro.
"Belum ada yang sampai pada tahap tersebut. Bisa dikatakan tak akan ada yang bisa menerobos melewati array pelindung itu." Ujar Tirani.
Sementara itu, Adrine sedang bergerak menuju ke stormzone. Pada wilayah stormzone, kesulitannya adalah 35% kesulitan dari whitezone dan telah diatur ulang menjadi 45%. Dan juga saat berada tepat didepan perbatasan antara whitezone dengan stormzone, Adrine berpapasan dengan Etern. Etern yang saat itu juga baru saja melawan seekor monster.
"Adrine, darimana saja kau ini? Aku mencarimu tadi." Ujar Etern.
"Aku tadi baru saja melawan seekor hewan spirit. Dan sekarang aku ingin kewilayah stormzone." Ujar Adrine.
"Apa kau benar-benar ingin kewilayah itu? Kau tak takut nanti ter-respawn kembali dan pointmu hilang sebagian?" Ujar Etern.
"Aku tahu. Kalau terbunuh oleh hewan spirit, point yang telah didapatkan akan hilang sebagian. Tapi aku akan tetap pergi kewilayah stormzone." Ujar Adrine.
"Yasudah. Aku pergi dulu. Kau harus hati-hati juga. Lebih baik menyerang lawan diam-diam, pakai akal, dan harus satu lawan satu." Ujar Adrine.
"Ya. Hati-hati!" Ujar Etern.
Lalu Adrine pergi kewilayah stormzone sambil melambaikan tangannya. Etern sedikit cemas dengan Adrine. Tetapi Etern telah kembali fokus dan mencari hewan spirit lagi.
"[Biip]" Notifikasi dari layar besar yang digunakan oleh para master untuk mengawasi ujian.
__ADS_1
"Hei kalian, lihat ini! Ada yang masuk kedalam wilayah stormzone." Unta Taro.
"Ya. Siapa itu?" Tanya Tirani.
"Aku juga tak tahu. Coba kita lihat." Ujar Taro.
Lalu tari menekan notifikasi yang muncul tadi. Muncul sebuah rekaman seseorang yang sedang berlari melompat dari pohon kepohon lain untuk bergerak cepat.
"Bukankah itu Adrine?" Ujar Tiran.
"Ya, kau benar. Itu adalah Adrine." Ujar Heyto sambil menunjuk layar yang merekam Adrine.
"Biar kuperjelas dan kuambil datanya dulu. Kita akan tahu siapa dia." Ujar Taro.
Lalu Taro membuat rekaman tersebut ter-zoom dan lebih memperjelas rekaman. Wajah Adrine menjadi lebih jelas untuk dilihat dan data juga menunjukkan bahwa murid pada rekaman tersebut adalah Adrine.
"Ya. Data menunjukkan bahwa bocah ini adalah Adrine. Dan setelah aku memindai kembali wilayah whitezone, tidak ada data tentang Adrine." Ujar Taro.
"Berani sekali bocah ini." Ujar Tirani.
"Dengan mengalahkan Beruang Besi Salju dan Kera Hitam, tak salah juga kalau Adrine ini berani masuk kedalam stormzone." Ujar Taro.
__ADS_1
"Tadi kan sudah kubilang, anak ini benar-benar sesuatu." Ujar Heyto.