
BAB 10
“Dewa”, panggil seorang pria yang usia tidak jauh dari Dokter Dewa. Membuyarkan lamunan serta fokus pria ini yang mengarah entah kemana.
“Oh ya, ada apa?”, tanya Dewa langsung menghampiri rekannya.
“Dokter Cakra tidak jadi ikut?, kita masih kekurangan dana 50 juta untuk membayarnya. Kamu bilang teman dokter mu itu mau berinvestasi”, jelas rekan Dewa.
“Iya tapi Dokter Cakra masih ragu, sebaiknya jangan menunggu hal yang tidak pasti. Begini, bukannya kamu bilang pemilik peternakan itu juga memerlukan mobil?”
“Wah, jangan gila kamu Dewa”, rekannya menggeleng kepala dengan cepat seakan tahu apa yang ada dalam kepala Dokter Dewa.
Dokter Dewa bersama rekan yang sangat ia percayai mengunjungi suatu tempat, membawa tas kecil berisi berkas yang sangat penting. Senyum terbit di bibir dokter tampan ini saat mendapati kesepakatan sesuai yang ia harapkan, kini tugas beratnya hanya satu yaitu mengembangkannya.
**
Sementara di tempat berbeda Dwyne masih senang menikmati udara segar pegunungan, bersama asisten D dan Zayn yang baru saja tiba usai mendapat kesepakatan dengan pemilik lahan sesuai perintah Tuan Rayden.
Asisten D yang mendapat kabar dari kantor tentang tumpukan pekerjaan segera memberitahu Dwyne, “Nona sebaiknya kita kembali sekarang, karena banyak berkas perlu persetujuan anda, peluncuran beberapa produk dan kerja sama dengan beberapa market place pun menunggu keputusan anda”, jelas Asisten D.
“Kau duluan saja, bawa semua pekerjaan ke rumah, aku akan pulang sore nanti, dan Zayn temani D kembali ke Jakarta”, perintah Dwyne.
“Tapi nona?”, sela Asisten Zayn yang ingin menolak.
“Aku ada pengawal, sebaiknya temani Asisten D”
“Kalau begitu saya permisi Nona Dwyne”, pamit Asisten pribadinya yang meninggalkan Asisten Zayn terdiam mematung di belakang Dwyne.
“Tuan Zayn”, panggil D membuat tangan Zayn terkepal dan segera menuju ke arahnya.
__ADS_1
Dwyne memilih menghabiskan waktunya berjalan-jalan di sekitar villa keluarga Bradley. Wanita cantik ini melihat hamparan lahan luas berwarna hijau, menyegarkan matanya yang lelah dengan pekerjaan kantor. “Ah akhirnya aku bisa menikmati hari sendirian”, ucap Dwyne senang. Tidak lama cuaca berubah mendung dan turun hujan cukup lebat. Berlari secepat mungkin untuk sampai villa namun ditengah perjalanan terpeleset akibat jalanan licin terguyur air hujan. “Ah, sshh”, Dwyne mencoba berdiri tapi terasa sakit di bagian pergelangan kaki.
“Dwyne”
“Dewa?”, Dwyne tersentak mendapati suaminya sedang memegang payung, dan berjongkok di belakangnya.
“Biar aku bantu, ayo”, Dewa mengulurkan tangan membantu istrinya berdiri tapi sayang Dwyne kesulitan karena rasa sakit di kakinya. “Bisa pegang payungnya?”, Dewa menggendong sang istri di punggung, tentu Dwyne memberontak tidak ingin dekat dengan suaminya. “Diam lah, kamu mau disini sampai kapan?”, akhirnya Dwyne diam di balik punggung Dewa.
Sesampainya di Villa, Dwyne kembali menunjukan sikap angkuhnya “Turunkan aku, aku bisa sendiri dan kamu pergilah”, usirnya.
“Tidak”, jawab Dewa tegas, terus membawa istrinya ke lantai 2, “Dimana kamarmu?”, tanyanya sembari melirik ke arah beberapa pintu karena Dewa baru pertama kali mengunjungi Villa ini.
“Untuk apa?, turunkan aku cepat”, sentak Dwyne.
Dengan pakaian yang basah terkena hujan, Dewa pun memutar tubuhnya hendak meninggalkan Dwyne, namun ia mendengar suara ringisan dari istrinya itu seketika menghentikan langkah kakinya dan Dewa kembali menuju Dwyne menggendongnya ala bridal style tidak peduli mendapat tatapan tajam dari sang istri.
“Kamu itu memang tidak mengerti bahasa manusia ya”
“Tidak, tidak, ini kamar mama dan papa. Disana”, tunjuk Dwyne ke arah berlawanan. Dewa membuka pintu yang ditunjuk istrinya, lalu menurunkan Dwyne di atas kursi.
“Sebaiknya kamu ganti baju, setelah itu aku obati kakimu”, ucap Dewa mengambil handuk dan memberikannya pada Dwyne.
“Kamu keluarlah, aku bisa sendiri, CEPAT DEWA”, sentak Dwyne merasa risih satu kamar dengan suaminya. Dewa pun menuruti permintaan sang istri, ia menunggu tepat di depan pintu. “Ah”, pekik Dwyne kembali terjatuh karena kakinya kesulitan melangkah.
“Dwyne”, Dewa menghambur masuk melihat istrinya terduduk di atas lantai kayu, “Untuk sekali ini menurut lah”, ucap Dewa lembut, membawa istrinya masuk kamar mandi mendudukkan di atas kloset. “Dimana tasmu?, aku bantu ambil pakaian”, Dewa celingukan mencari tas istrinya.
“Aku tidak bawa pakaian ganti”, cicit Dwyne.
“Sudahlah pakai ini saja yang penting jangan menggunakan baju basah itu”, tunjuk Dewa, keduanya saling tatap dengan pikiran masing-masing, dapat Dewa lihat di balik kemeja istrinya yang basah sesuatu menyembul. “Cepat buka dan pakai ini”, Dewa membalik tubuhnya ke arah pintu.
__ADS_1
“Ck”, Dwyne yang memang sudah menggigil menurut pada suaminya dan perlahan membuka satu persatu kancing kemeja lalu celana panjangnya, ia lempar ke dalam bathtub, meninggalkan pakaian dalamnya saja.
“Semuanya Dwyne”, ucap Dewa seakan tahu istrinya itu menyisakan penutup terakhir di tubuhnya.
Perlahan Dwyne membuka bra dan kain segitiga yang basah seperti terendam air, lalu melemparnya ke dalam bathtub, dan menggunakan bathrobe dengan cepat lalu mengikatnya seerat mungkin. Dewa menelan salivanya ketika melihat pakaian dalam wanita terpampang di sisinya. Pria tampan ini pun membalik tubuh kembali menggendong istrinya , mendudukkan di atas ranjang.
“Ma mau apa?”, gugup Dwyne.
“Luruskan kakimu”, perintah Dewa sedikit gemetaran karena pakaiannya pun basah sampai memberi rasa dingin pada kulitnya. Perlahan Dewa memijat kaki istrinya yang terkilir, “Tahan, ini sedikit sakit”, ucapnya.
“Ah, sakit . Dewa awas kau, ah”, teriak Dwyne yang merasa tulangnya bergeser.
“Sekarang gerakkan kakimu?, bisa kan?, meskipun sakit tidak akan lama”, Dewa melihat Dwyne mulai bisa menggerakkan pergelangan kakinya yang sedikit membengkak itu. Tak mendapat ucapan terima kasih, Dewa tersenyum melihat istrinya tidak kesakitan.
Tubuhnya semakin gemetar, bahkan gigi pun saling beradu, Dewa mengepalkan kedua tangannya menahan rasa dingin menusuk kulit dan tulangnya. “Aku permisi Dwyne”, berjalan menuju pintu kamar. Ia akan kembali ke rumah rekannya karena tas dan semua perlengkapannya berada di sana.
“DEWA”, panggil Dwyne menghentikan langkah suaminya, “Kamu mau kemana?”, Dwyne melirik ke arah kaca dan hujan deras masih mengguyur disertai angin.
“Ke rumah kenalanku, kau istirahatlah. Jika membutuhkan sesuatu bisa hubungi aku”, Dewa kembali berjalan, mendekati pintu. Tepat pintu akan tertutup dari luar, Dwyne berteriak memanggil namanya.
“Dewa? Kau punya mata dan telinga bukan? Dewa?”, panggil Dwyne.
“Kamu membutuhkan apa? Biar aku bantu". Dewa kembali berjalan mendekati istrinya.
“Gunakan mata dan telinga mu dengan baik”, seru Dwyne mengarahkan pandangan ke luar kaca.
“Ah aku bawa payung, tenang saja. Hubungi saja aku jika kamu membutuhkan sesuatu”, Dewa memutar tubuhnya dan melangkah pergi.
Bruk
__ADS_1
“DEWA”, teriak Dwyne panik.
Tbc