Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 16 - Hadiah


__ADS_3

BAB 16


Dewa tidak menyerah pada istrinya begitu saja, dokter tampan ini tetap membujuknya pulang walau merubah sedikit intonasi suaranya menjadi lebih tegas. Dewa tidak menyukai Dwyne yang keluar bersama pria lain sedangkan pagi tadi jelas ia mengajak istrinya ini untuk berjalan-jalan tetapi ditolak mentah-mentah.


Dewa menarik tangan istrinya, namun Zayn menahannya, memegang tangan dari nona mudanya. “Apa anda tidak bisa pulang sendiri?”, suara datar Zayn.


“Kami suami istri, dan aku memiliki hak atas dirinya”, sahut Dewa tidak kalah tajam menatap Asisten Zayn.


Dua pria itu mengepalkan tangan dan hendak melayangkan pukulan satu sama lain, namun dengan cepat Dwyne melihatnya dan melerai dua pria tampan di depannya, sebelum restoran itu ramai  apalagi keributan ini sampai terdengar ke telinga Papa Rayden.


“DEWA CUKUP”, seru Dwyne, “Aku akan ikut denganmu”, melirik tajam suaminya. Pertama kalinya wanita ini memegang tangan suaminya, menarik paksa Dewa keluar dari restoran. Menjauh dari keramaian, dan berhenti tepat di ujung mall. “Kau itu apa-apaan Dewa?, bukankah aku sudah bilang jangan pernah ikut campur kehidupan ku”, kesal Dwyne menghempas tangan suaminya.


“Dwyne”, lirih Dewa.


“Ingat Dewa, hubungan kita memang suami istri dan itu hanya di atas kertas, tapi kenyataannya kau hanya debitur bagi ku, jangan lupa statusmu yang memiliki hutang”, sinis Dwyne.


“Dwyne, jaga kata-katamu. Walaupun di atas kertas aku Dewa Bagas Darka tetap suami sahmu”, tegas Dewa yang begitu sakit telinga dan hatinya mendengar pernyataan sang istri.


“Parasit”, cibir Dwyne.


“Dwyne, sebaiknya kita pulang”, Dewa kembali memegang pergelangan tangan Dwyne namun ditepis kasar.


“Aku bisa jalan sendiri”.


Sepasang suami istri ini berjalan masing-masing, Dwyne melangkah di depan tatapannya tajam ke depan seakan ingin memangsa buruannya, berbeda dengan Dewa yang harus menyiapkan mental saat mereka kembali ke rumah. Pasti perdebatan akan terulang lagi.


Sementara di restoran makanan khas timur tengah, Asisten D mematung memandang meja yang kosong tak berpenghuni, bukankah tadi meja itu diisi oleh Nona Bosnya dan Asisten Zayn, namun saat kembali dari toilet semuanya bersih tak bersisa bahkan butiran sisa makanan pun tidak ada, “Kemana nona dan Asisten Zayn?”, lirihnya ditinggalkan seorang diri.


.


.


Tiba di rumah, Dwyne turun dari mobil dan membanting keras pintu mobil mewah itu. Melangkah cepat memasuki rumah, namun kekesalannya bertambah berkali-kali lipat melihat Dayana masih ada di rumah, bahkan dengan santai duduk di samping Dariel yang sedang bermain game.

__ADS_1


“Ck, hari yang sial”, Dwyne memutar tubuhnya tapi Dewa menahan pergerakannya itu.


“Mau kemana?”, suara lembut Dewa.


“Minggir”


Tak memedulikan ucapan istrinya, Dewa meraih pinggang Dwyne menempel tak berjarak padanya, sontak mendapatan sorotan tajam dari wanita cantik itu, namun Dewa hanya tersenyum “Kamu tidak ingin pertengkaran kita diketahui keluarga bukan?”.


Dwyne menelan saliva enggan menanggapi suaminya, tapi ia ingat Dayana ada di dalam pasti akan merasa terganggu dengan kedekatannya bersama Dewa.


Kedua insan ini lantas masuk ke dalam rumah, Dewa merangkul pinggang istrinya sangat posesif, tatapan memuja Dewa untuk Dwyne begitu ketara sekali.


“Wow, pasangan pengantin baru”, suara Dariel membisingkan telinga Dayana.


Sontak Dayana menoleh ke arah yang dimaksud Dariel, matanya bersirobok dengan Dwyne yang memandang malas pada kakak sepupunya. Mata Dayana pun terusik tidak nyaman dan sakit melihat tangan Dokter Dewa merangkul istrinya sangat posesif.


“Baiklah sebaiknya kalian ke kamar, dan jangan lupa berikan aku keponakan”, teriak Dariel kemudian langsung bermain game kembali.


Sampai di ujung tangga lantai 2, Dwyne melepaskan tangan Dewa yang menempel erat. “LEPAS”, lalull melangkah masuk kamar.


“Kau itu membuatku malu”


“Aku tidak suka kamu bersama pria lain”, jujur Dewa karena dadanya terasa panas, darahnya pun seakan naik ke ubun-ubun.


“Ck, aku dan Asisten Zayn tidak sengaja bertemu, tidak salah bukan kami memang lebih sering bertemu. Aku pun akan pergi beberapa hari dengannya”, ucap Dwyne ringan.


“APA?”, Dewa membalik tubuh istrinya, memegang erat kedua bahu Dwyne.


“LEPAS DEWA”


“Kau pergi dengannya?, jangan Dwyne, aku tidak akan memberikan izin”.


“Apa urusannya denganmu Dewa?”, sinis Dwyne. “Lalu kau sendiri ada kepentingan apa ke mall bukankah kau bilang praktik di klinik?, pembohong”

__ADS_1


“Jelas itu urusanku, kau istriku, aku tidak akan mengizinkan siapapun pun, pria manapun mendekatimu Dwyne”


“Aku tidak peduli”, Dwyne menatap tajam suaminya. “Dan kenapa kau ada di mall?, apa berkencan dengan seseorang?, ah rupanya dokter satu ini seorang player”


Dewa memejamkan kedua matanya karena setiap apa yang keluar dari bibir sang istri berupa anak panah dua sisi yang akan sama-sama menusuk tepat dalam dada. Dewa memijat pangkal hidungnya dan menggelengkan kepala pelan.


“Kenapa? Tidak bisa menjawab bukan?”, cibir Dwyne memutar bola matanya,


“Dwyne, aku tidak pernah berbohong padamu”, merogoh saku jaketnya mengambil kotak bludru berwarna navy, membuka kotak itu tepat di depan mata sang istri. “Untukmu istriku”, Dewa tersenyum hangat.


Seketika Dwyne bergeming, karena ia tahu berapa harga kalung yang dibeli suaminya ini, tidak mungkin seorang Dewa Bagas Darka bisa membeli kalung ini.


“Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkanmu, dan ini spesial untukmu”, Dewa ingin sekali mengecup kening bahkan bibir istrinya tapi ia tidak berani melakukan itu.


“Kau membeli ini dengan uang dari mana?”, tanya Dwyne berbeda dari para wanita lainnya.


“Nanti akan aku beri tahu semuanya”, Dewa merengkuh pinggang istrinya, “Boleh aku bantu memasangnya?”, tawar Dewa.


“Perhiasanku sudah banyak Dewa, harganya lebih dari yang kau berikan”, Dwyne menolak meskipun dalam lubuk hatinya ia sedikit tersentuh.


“Jika tidak ingin memakainya, simpanlah. Jangan menolak pemberian suamimu”, Dewa mencoba sabar menghadapi Dwyne Bradley. “Ini, simpanlah”, Dewa memberi kotak kalung itu di telapak tangan mulus istrinya. Kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk melepas semua perasaan menyesakkan dalam dada.


“Dewa?”, panggil Dwyne menghentikan pria itu. “Bisa bantu aku memasangnya?”, suara datar nan dingin Dwyne.


Senyum lebar Dewa sunggingkan di bibir, “Tentu, tentu bisa. Kemari”, meminta kotak itu dari tangan sang istri dan menyibakkan rambut coklat Dwyne, lalu memasangkan kalung indah tepat di leher mulus istrinya. Harum parfum vanilla menyeruak masuk dalam indra penciuman Dokter Dewa, menggoda nalurinya sebagai seorang pria sekaligus suami untuk melabuhkan satu ciuman di ceruk leher serta tengkuk itu.


“Pilihan mu lumayan”, ucap Dwyne memegang liontin bertakhta berlian kecil, dan menyadarkan Dewa dari keinginannya .


“Ah ya, terima kasih Dwyne sudah menerimanya”, senyum Dewa tak pudar sedari tadi, begitu bahagia hadiah yang ia beli untuk sang istri diterima, meski hampir menguras tabungannya Dewa tak masalah selama itu untuk istrinya.


Tbc


 

__ADS_1


 


__ADS_2