Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 49 - Karena mu


__ADS_3

BAB 49


Sadar berada di rumah mertua, usai beberapa detik mengecap bibir manis dan pink milik Dwyne, Dewa melepaskan pagutannya. Mengusap benda kenyal itu dengan ibu jari membersihkan sisa saliva yang menempel. Walau telah beberapa kali berciuman tetapi Dwyne Bradley masih tidak membalas dan hanya menutup rapat bibirnya tak ada celah bagi Dewa untuk masuk ke dalam.


“Kenapa tidak membalasnya sayang?”, ucap Dewa dengan wajah keduanya sangat dekat, aroma mint pun menguar dari bibirnya.


“Maksudnya?”, tanya Dwyne yang memang polos dalam urusan percintaan, ia hanya melihat papa dan mamanya saling memagut tapi tidak tahu bagaimana caranya dan seperti apa mengekspresikan diri, meskipun dalam diri terdapat sesuatu yang bergejolak menginginkan lebih.


“Istri arogan ku ini masih lugu”, Dewa semakin merapatkan tubuh Dwyne padanya, “Tapi aku beruntung, karena aku pria pertama untukmu dan bisa menyentuhmu seperti ini, terima kasih sayang”, mengecup puncak hidung mancung Dwyne Bradley.


“DEWA”, sentak wanita cantik yang beberapa saat terbuai dengan permainan suaminya, Dwyne mendorong kuat tubuh Dewa hingga mundur beberapa langkah.


“Bukankah kamu mau berangkat ke rumah sakit?, sebaiknya cepat”, usir Dwyne karena irama jantung kini tidak bersahabat. “Menjauh lah, kamu itu menyebalkan”, seru Dwyne berlalu dari hadapan sang suami dan sedikit berlari menghindari Dewa.


“Ah”, pekik wanita cantik yang memiliki warna bola mata seperti Mama Nayla, sayang niatnya melarikan diri tidak sesuai keinginan karena Dewa menggendongnya ala bridal menuju kamar. “Dewa kamu ini apa-apaan?, turunkan aku”, perintah Dwyne dengan nada khas arogannya.


“Sebaiknya kamu diam, kalau tidak seisi rumah akan melihat kita. Apa tidak malu?”, bisik Dewa dan seketika Dwyne ikut bungkam, betapa malunya ia kalau sampai Mama Nayla dan para pelayan melihatnya.


Sampai di kamar, Dewa membaringkan tubuh sang istri di atas ranjang, tersenyum manis pada wanitanya. “Hey, apa-apaan kamu ini Dewa, cepat menjauh”, usir Dwyne karena Dewa ikut naik ke atas ranjang. “Jangan macam-macam Dewa, atau ku buat memar mu bertambah”, Dwyne mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mata Dewa.


“Aku tidak mengerti, macam-macam bagaimana maksudmu?”, goda Dewa yang sebenarnya tahu apa maksud istri arogannya ini.


Dwyne melempar bantal betubi-tubi pada Dewa, bergerak mundur menghindari suaminya. Benar ia sangat takut jika terjadi sesuatu apalagi keduanya kini di kamar, di atas ranjang. Dewa terus merangkak mendekati wanita yang selalu menolaknya.


“Ish, menjauh lah”, tepat saat Dwyne melayangkan tinju dan terus mundur, ia kehilangan keseimbangan karena berada di pinggir kasur, “Ah”, pekiknya.


Sigap Dewa menarik tangan wanitanya agar tidak mendarat pada lantai meskipun tertutup karpet bulu tebal. Hingga posisi keduanya sangat menempel, Dewa menindih sang istri, sementara Dwyne mematung lagi-lagi kejadian yang ia takuti terjadi semoga Dewa tidak melakukan lebih. “Dewa berat”, dorong Dwyne merusak suasana yang tercipta.


“Ah ya, maaf sayang”, dokter tampan ini menyingkir dari atas tubuh wanitanya, merasakan sesuatu dalam diri yang bergejolak akhirnya Dewa putuskan ke kamar mandi.

__ADS_1


“Ish, bukannya dia sudah mandi kenapa mandi lagi?, memangnya tubuhku itu kotor?. Ck, enak saja. Awas kau Dewa”, gerutu Dwyne berprasangka yang tidak-tidak pada suaminya.


Dua puluh menit Dwyne menunggu dengan kesal karena ia pun ingin membersihkan tubuh, akhirnya Dewa keluar hanya memakai celana boksernya dan membiarkan bagian tubuh atas terlihat jelas.


“Ya ampun”, pekik Dwyne terperanjat karena ia mondar-mandir depan pintu kamar mandi. ”Kamu mandi lagi, ck yang benar saja”.


Dewa mengangguk cepat sembari mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. “Semua ini karena mu, Dwyne”.


“Ck, aku tahu aku belum mandi tapi tidak harus kamu mandi lagi kan, minggir”, Dwyne masuk ke kamar mandi, sedangkan Dewa tertawa melihat istrinya yang benar-benar lugu. Kalau saja Dwyne mengizinkannya ia tak harus membuang calon anak-anaknya pada saluran pembuangan air. Tapi karena terus mendapat penolakan mau tak mau , terpaksa melakukan ritual menjijikan itu yang mencoreng wajahnya sebagai pria beristri.


Dewa sengaja tidak turun lebih dulu, masih menunggu Dwyne sembari duduk di sofa memeriksa kelengkapan administrasi pendidikannya yang akan di mulai bulan depan. Bahkan Dewa telah meminta Dokter Cakra untuk menggantikannya praktik di klinik milik teman sekolahnya. Sementara untuk di Bogor tetap ia lakukan sendiri karena tidak bentrok dengan jadwal belajar di Universitas.


“Kamu sudah selesai Dwyne?”,tanya Dewa menatap wanitanya dari hari ke hari semakin cantik dan menggemaskan.


“Tidak lihat?”, ketus Dwyne.


“Baiklah, salahkan saja mataku ini. Aku berangkat sayang, jangan terlambat makan dan minum vitamin mu”, Dewa menarik tengkuk Dwyne dan mengecup kening wanitanya, “Aku akan menghubungimu siang nanti”.


Melihat suaminya menghilang di balik pintu Dwyne bernapas lega dan mengusap dadanya, padahal dirinya sudah berlama-lama di kamar mandi tapi Dewa tetap setia menunggunya. “Pergi juga dia”, gumam Dwyne menjatuhkan diri di atas kasur empuknya. Tapi sedetik kemudian langsung memegang bibir, "Eh, kenapa hanya ini tapi ini tidak”, tunjuk Dwyne pada dahi dan bibirnya.


.


.


Hari semakin siang Dwyne hanya menghabiskan waktu mengikuti Mama Nayla merawat tanaman hias di taman belakang rumah, mencium satu per satu bunga bermekaran.


“Apa kamu tidak ada kegiatan lain?”, tanya Mama Nayla yang menggelengkan kepala tidak habis pikir pada putrinya.


“Tidak. Papa melarang semua pekerjaan di bawa pulang ma, terus apa yang harus aku lakukan?”, Dwyne menengadahkan kedua tangannya.

__ADS_1


“Yasudah cepat bantu mama, ini”, menyerahkan pupuk ke tangan putri keras kepalanya.


“Mama. Kenapa harus ini?”, pekik Dwyne merasa jijik, tapi telinga dan matanya teralih pada dering ponsel cukup nyaring di atas meja. “Ma, maaf tidak jadi”, Dwyne pergi terburu-buru mencuci tangan dan menerima panggilan video suaminya.


Dewa : “ Siang cantik, istriku. Kamu di taman?”


Tanya Dewa melihat banyaknya bunga dan tanaman hias berdaun besar serta tempat sejuk.


Dwyne : “Bukannya kamu bisa lihat sendiri?”


Dewa : “Sudah makan siang sayang?”


Dwyne : “Belum”


Dewa : “Kenapa? apa aku harus pulang dan menyuapi istriku ini?, makan siang Dwyne dan minum vitaminnya, aku tidak mau kamu sakit”


Dwyne : “Bawel”


Dewa : “Ini namanya perhatian, ayo makan sekarang aku mau lihat”


Dwyne : “Apa?, aku belum lapar Dewa”


Dewa : “Sekarang atau aku pulang dan menyuapi mu, pilih mana?”


Kalau boleh Dwyne menjawab ia akan memilih Dewa pulang dan menyuapinya namun egonya melambung tinggi dan pasti akan menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita jika menjawab seperti keinginan hati


Dwyne : “Iya aku makan, dasar pemaksa”.


Gerutu Dwyne di bibir namun di hatinya sangat senang mendapat perhatian dari Dewa.

__ADS_1


Dewa memperhatikan melalui layar pipih Dwyne yang mengunyah makanan dengan lahap dan tentu dokter tampan itu tersenyum karena nyatanya Dwyne berbohong tidak lapar.


...TBC...


__ADS_2