
BAB 44
Dwyne yang belakangan ini kurang menjaga kesehatannya, terpaksa menerima bantuan Zayn dan membawanya masuk ke rumah, memapah putri Rayden Bradley.
“Cukup di sini Zayn”, pinta Dwyne tak ingin asisten pribadi papanya mengantarnya sampai masuk kamar.
“Tapi.......”
“Sudah Zayn sebaiknya kamu pulang”, lirih Dwyne dengan tangan masih bertengger di leher dan bahu pria berjanggut tipis ini.
“Nona harus istirahat, dan aku akan menghubungi dokter”
Zayn menatap kepala nona bosnya, merapatkan diri hendak mengecup puncak kepala Dwyne yang harum dan lembut rambutnya.
Tiba-tiba dari pintu masuk terdengar suara pria dengan nada tegas “TIDAK PERLU”.
Sontak Zayn dan Dwyne menoleh pada sumber suara, betapa terkejut keduanya melihat Dewa memegang tas ransel besar hitam, sorot mata tajam pada Zayn apalagi tangan wanitanya masih menempel di tubuh pria itu.
“Pulang lah Zayn, tidak perlu sibuk mengurus istriku”, Dewa tak mengalihkan tatapan matanya dari pria yang memang menjadi pengagum sang istri. “Dan ini sebaiknya kamu melepasnya Dwyne”, bola mata Dewa beralih pada wanitanya, Dewa melepaskan tangan putih lembut itu dari bahu Asisten Zayn.
“Dewa”, lirih Dwyne tak menyangka setelah berhari-hari hilang kontak kini suaminya pulang, tapi suasana tak mengenakan terjadi di ruang keluarga, wanita ini dapat melihat kepalan tangan Dewa juga wajah memerah seperti menahan amarah.
“Istrimu sakit”, ucap Zayn dingin.
“Kau lupa siapa aku? Sebaiknya cepat kau keluar dari rumah ini”, tegas Dewa melepas ranselnya dan menyimpan asal di atas lantai. Menggendong tubuh yang terduduk di sofa ala bridal, menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.
“Dewa”, lirih Dwyne, namun tak mendapat tanggapan dari pria ini hanya terus melangkah dan masuk kamar, merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang.
Dewa beranjak dari duduknya dan mengambil peralatan pemeriksaan yang ia simpan, lalu memeriksa Dwyne yang terlihat pucat. "Tarik napas”, ucapnya datar.
“Kamu melewatkan makan, asam lambung mu naik”, papar Dewa dan dibenarkan oleh Dwyne yang masih belum mengalihkan pandangannya dari sang suami.
“Tunggu disini”, ucap Dewa datar, bagi Dwyne tidak biasa suaminya ini bersikap dingin dan acuh.
“Ada apa dengannya?”, gumam Dwyne.
__ADS_1
Dewa yang sudah berada di bawah masih menatap jengah pada Zayn, rupanya pria jangkung itu masih diam di tempat, tak bergeser sedikit pun, “Zayn, apa kau ingin menjadi petugas keamanan di sini?”, sindir Dewa.
“Aku tidak akan pergi sebelum kondisi Nona Dwyne membaik”, datar Zayn.
“Berani sekali”, kesal Dewa menghampiri asisten papa mertuanya. Mencengkram kerah kemeja putih Zayn, “Dengar baik-baik, Dwyne adalah istriku dan itu tidak akan pernah berubah. Cepatlah keluar dari rumah ini”.
“Kenapa kau takut aku merebut istrimu?, akan aku lakukan sesuatu yang membuatmu takut”, seringai licik di wajah asisten Papa Rayden.
“Brengsek”, Dewa semakin menarik kuat kerah kemeja, menatap berapi-api pria di depannya.
“Kau mau memukulku?”, ejek Zayn. ”Pukul saja, biar nona tahu sikap aslimu Tuan Dewa”, tantang Zayn.
Dewa mendengus kesal dan melepaskan cengkraman tangannya, tak ingin mengotori tangan mulianya hanya untuk memberi pukulan pada Asisten Zayn. Dewa menghubungi petugas keamanan dan meminta mereka membawa pria itu keluar dari rumah, awalnya sempat heran karena seluruh pegawai rumah tahu siapa itu Zayn namun raut wajah Dewa tak bersahabat membuat ketiga petugas keamanan yakin Tuan Mudanya berselisih paham dengan Zayn.
“LEPAS, aku bisa jalan dan keluar sendiri tanpa kalian paksa”, Zayn menghentak tubuh dari lengan para pria kekar berseragam hitam.
Selesai mengusir Zayn, dokter tampan ini bergegas menuju dapur membuka lemari penyimpanan bahan makanan dan memasak sup untuk istrinya. Tubuh lelahnya pun ia abaikan, ternyata keputusannya untuk tidak menunda jadwal pulang sangat tepat.
“Ini, makan lah”, suara datar Dewa terdengar tidka ramah di telinga Dwyne.
Dewa dan Dwyne tak bersuara sedikit pun, tiada kata sayang terucap dari bibir Dewa atau sentuhan belaian setitik pun tidak ada. Dewa hanya mengamati, memastikan istrinya ini memakan satu mangkuk sup sampai benar-benar habis.
“Uhuk, uhuk”, Dwyne tersedak, gugup selalu di perhatikan suaminya, sigap Dewa memberi sang istri minum.
“Ini”, Dewa menyerahkan satu butir pil obat pereda asam lambung yang diberikannya pada Dwyne. Dirinya memasuki kamar mandi membersihkan bagian tubuh yang lengket karena debu dan keringat. Selepas mandi Dewa langsung meluruskan punggungnya di sofa bed tanpa bertanya lebih lanjut bagaimana keadaan Dwyne saat ini. Memutar tubuh membelakangi wanitanya, memejamkan mata serapat mungkin “Semoga pagi segera datang”, batin Dewa.
Dwyne tergugu di atas ranjang sembari memegang obat di tangan kanan, sikap Dewa malam hari ini berubah 180°, tiada perhatian, kata sayang untuk wanita manik coklat yang hanya menatap punggung suaminya.
“Tidak biasanya,ada ada dengan Dewa?”, gumam Dwyne dalam hati, lalu meminum obat dan juga turut berbaring pada ranjangnya.
.
.
.
__ADS_1
Suara kicau burung di sekitar rumah membangunkan Dwyne lebih cepat dari waktu yang telah ia tentukan. Mengucek kedua mata lalu meregangkan otot tubuh, tatapan Dwyne langsung teralih pada sofa bed “Rapi?, bukankah tadi malam dia tidur di sana?”, Dwyne yang penasaran turun menghampiri sofa dan menajamkan telinga mungkin suaminya ada di dalam kamar mandi, “Sepi”, gumamnya. “Apa mungkin dia olahraga?”, mencoba berpikir positif.
Matahari yang semakin meninggi, dan wanita ini telah menghabiskan sarapannya dibuat heran dengan keberadaan sang suami, sedari pagi tadi tidak melihat sosok tampan yang selalu tersenyum hangat padanya. Dwyne pun masih setia menunggu Dewa, karena ketika ada di rumah pasti Dewa mengantarnya ke kantor.
“Ish, kalau terus begini aku bisa terlambat meeting”, kesal Putri Mama Nayla.
“Bi, kemari sebentar”, panggil Dwyne pada seorang pelayan rumah. “Dimana Dewa ? apa dia olahraga?”, tanya Dwyne menggebu.
“Nona tidak tahu kalau tuan muda berangkat pagi sekali?, Tuan muda juga tidak bawa mobil Non”, jawab asisten rumah.
“Oh, yasudah”, jawab Dwyne merasa ada yang janggal dari suaminya ini.
Melirik pada ponsel di atas meja makan, membuka kunci layar dan memeriksa notifikasi mungkin Dewa menghubunginya atau meninggalkan pesan tanpa sepengetahuan Dwyne, tapi sangat disayangkan semuanya tidak ada.
“Dasar aneh”, gumam Dwyne kesal.
**
GB Hospital
“Dokter Dewa tidak libur?, bukankah setelah menjadi relawan direktur memberi libur 3 hari?”, tanya seorang dokter jaga yang baru saja menyelesaikan tugasnya.
“Tidak”, Jawab Dewa tersenyum irit.
“Kalau begitu saya permisi”, pamit rekan kerjanya.
Bukan tidak ingin istirahat melainkan ada hal penting yang ingin di selesaikan selain adanya alasan lain. Dewa pun menggantikan rekannya yang pulang, memeriksa setiap pasien dalam instalasi gawat darurat dan mengirim pesan pada dokter spesialis untuk koordinasi mengenai penyakit yang di derita pasien. Kedua mata Dewa tanpa sengaja terarah pada kontak dengan gambar wanita cantik terbalut gaun pengantin indah.
“Dwyne”, lirihnya.
...Tbc...
...***...
^^^Happy weekend bestie, stay safe ya 😇😘^^^
__ADS_1