
BAB 93
Hanya satu jam Dwyne keluar rumah sakit selepas itu ia kembali berbaring di brankar. Dwyne ingin sekali melihat salah satu putranya di NICU namun karena kondisi tubuhnya belum fit, dokter melarangnya dan menyarankan istri Dewa Bagas Darka ini untuk istirahat lebih dulu.
“Tapi aku mau lihat Denver mah”, lirih Dwyne terdengar pilu di telinga Mama Nayla.
“Sabar sayang, kondisi kamu masih belum pulih, Samantha bilang apa? Istirahat 2 sampai 3 jam setelah itu kamu bisa menjenguk Denver”
Dwyne mengangguk ringan, ia sadar kesedihan yang datang tidak boleh berlebihan bagaimana pun bayi merahnya sedang berjuang bertahan hidup di ruang NICU dengan peralatan lengkap memenuhi tubuhnya. Ia terus menatap video bayinya yang direkam oleh Dariel.
Namun Dwyne masih memiliki rasa kecewa pada Dewa, hari ini tidak sekali pun bertanya keberadaan suaminya. Lagipula pasti Dewa sedang memeriksa pasien di ruangannya atau mungkin telah pergi ke Universitas.
Dwyne berbaring miring memunggungi mama tercintanya, memeluk guling kecil dan kembali menangis, kehilangan buah hati bukanlah hal mudah baginya. Bahunya berguncang pelan, Mama Nayla hanya bisa mengelus lembut punggung Dwyne.
“Tidurlah sayang”
“Iya ma”
Beberapa menit berlalu, dapat dipastikan Dwyne telah larut dalam alam mimpi. Napas teratur dan tak ada lagi guncangan bahu, hanya gerakan naik dan turun saja.
Dewa yang sedari tadi menunggu di depan ruangan kini masuk usai pintu ruangan di buka oleh ibu mertuanya. “Dwyne tidur, jangan membuatnya bangun Dewa”
“Iya ma, terima kasih”, Dewa melangkah mendekati istrinya.
Mama Nayla memberi ruang bagi sepasang suami istri ini, apalagi Dewa. Merasa kasihan pada menantunya, Dwyne mengusir kasar suaminya dan tidak peduli kabar Dewa hari ini.
“Dwyne, sayang. Aku kangen kamu, jangan tolak aku Dwyne”, gumam Dewa hanya bisa memandang punggung istrinya yang terbalut pakaian khusus pasien wanita.
Sekalipun Dwyne tak ingin melihat wajahnya, Dewa tetap berada di dekat wanita yang telah melahirkan keturunannya. Mengamati dari jauh keadaan sang istri, bahkan ia turut mengikuti Dwyne ke tempat istirahat Dafa. Ikut menangis dalam diam bagaimana tatapannya pada tanah basah yang mengubur putra kecilnya.
“Maafkan aku sayang, lagi-lagi aku gagal menjaga kalian bertiga”
“Jangan seperti ini Dwyne, aku membutuhkanmu”
Dewa menyadarkan kepala pada sandaran kursi, bolehkah memeluk istrinya saat ini? Mengecup pipi atau kening Dwyne? Ia juga memerlukan kekuatan untuk menghadapi kenyataan ini.
Hampir dua jam Dewa menemani Dwyne di dalam ruang rawat, keduanya sama-sama terlelap. Mama Nayla masuk membangunkan menantunya itu.
“Dewa, bangun, kamu tidak ke Universitas?”
__ADS_1
“Oh iya mah, terima kasih sudah mengingatkan”, jawab Dewa.
“Dwyne, sayang aku berangkat dulu, nanti malam aku kembali, ku mohon tetaplah kuat sayang”, mengecup puncak kepala sang istri.
“Mama yakin, Dwyne hanya memerlukan waktu saja, dia masih syok untuk saat ini”
“Iya mah”
.
.
Satu jam kemudian
Dwyne sudah siap menjenguk Denver, bayi mungil tampannya yang menunggu di NICU. Papa Ray mendorong kursi roda putrinya sampai pintu masuk ruangan khusus ini.
“Tuan Bradley, Nyonya, Nona, silahkan”, perawat membuka pintu lebar.
“Dimana cucuku?”
“Dalam ruangan khusus itu tuan, tapi hanya bisa melihatnya dari sini. Karena kondisi belum memungkinkan”
Terlihat jelas tubuh bayi merah Arkatama Denver Bradley dengan beberapa selang alat bantu menempel di tubuhnya. Seperti ikatan batin yang kuat bahwa ibu yang melahirkannya hadir, Baby Denver membuka sedikit kedua matanya, bibirnya pun terbuka seakan bicara sesuatu.
“Sayang ini mama”, gumam Dwyne menempelkan tangan pada kaca bening yang menghalangi keduanya.
“Cucu oma, semangat. Denver pasti bisa cepat sehat, dan kita berkumpul bersama”, ucap Mama Nayla.
“Terima kasih sayang, telah memberi papa cucu yang lucu dan tampan, lihat rambutnya coklat seperti mu, Papa jadi ingat Dariel”, membelai kepala Dwyne. Papa Ray tersenyum menatap cucu pertamanya.
“Ayo sayang kita kembali ke kamar, kamu harus kuat demi Denver, dia membutuhkanmu”, bisik Mama Nayla mengantar kembali Dwyne ke dalam ruang perawatan.
Manik coklat Dwyne melirik ke penjuru rumah sakit mencari seseorang, tapi sosoknya tak juga ditemukan. “Mungkin dia sibuk”, lirihnya dalam hati.
.
.
**
__ADS_1
Satu minggu berlalu
Dwyne pun di izinkan pulang beberapa hari yang lalu, tentu Mama Nay dan Papa Ray membawanya pulang ke kediaman Bradley. Untuk Baby Denver masih mendapat perawatan intensif belum diizinkan untuk pulang. Sementara Dewa kembali ke rumahnya, Dwyne masih tak ingin melihat suaminya itu, meski Dewa memohon dan hasilnya percuma.
“Sayang Dwyne , makan dulu”, suara lembut Mama Nayla membuka pintu kamar.
“Iya ma”, sahut Dwyne yang berdiri di balkon kamar. Salah satu tempat favoritnya ketika mendapat masalah, menikmati angin senja menjadi pilihan untuk menenangkan diri.
“Masuk sayang, dingin”
“Ma, Dwyne kangen sama Denver. Kapan kita bisa membawanya pulang?”, tanya Dwyne meraih alat makan di atas meja.
“Tentu kita berharap secepatnya sayang”, Mama Nayla mengulas senyum menyejukkan hati.
Usai kepulangan Dwyne beberapa hari ini, Dewa rajin mengirimkan istrinya bunga, satu buket bunga mawar putih setiap hari. Dengan kata-kata cinta terselip di antara tangkai mawar.
“Non, ini ada kiriman bunga lagi”, ucap dua orang asisten rumah membawa bunga ke dalam kamar Dwyne.
“Simpan saja di taman”, perintah Dwyne. Ia berdiri dan mengambil kartu ucapan berwarna pink di tengah kelopak bunga.
“Sayang, istriku yang cantik semoga harimu menyenangkan. Aku merindukanmu”
“Ck, berlebihan”, gumam Dwyne merobek kertas kecil itu menjadi sangat kecil dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
Bahkan tempat itu hanya terisi kartu ucapan dari Dewa yang di buang oleh istrinya.
“Kenapa kamu keras kepala sekali Dwyne?”, gumam Mama Nayla.
Dwyne duduk kembali menikmati makan siang yang tertunda, karena siang ini pergi menjenguk Denver dan mengunjungi Dafa.
“Nah begitu sayang, makan yang banyak, jangan lupa ini di habiskan agar luka operasi kamu cepat pulih”, Mama Nayla menunjuk pada tim ikan gabus di depannya.
“Iya mah, aku juga ingin kembali berkerja. Mungkin minggu depan, tenang mah, aku masih mengerjakan semuanya dari rumah. Asisten D akan datang membawa beberapa berkas penting”, ungkap Dwyne sebelum Mamanya memberi nasihat panjang lebar.
“Ya ampun kalian bertiga memang gila kerja, tapi kamu harus menjadikan kesehatan prioritas utama sayang”
“Iya ma pasti, lagi pula untuk pekerjaan lapangan masih di pegang Dariel”, jawab Dwyne.
Dirinya akan memohon pada Papa Ray agar diizinkan kembali menjabat CMO, mencari kesibukan adalah salah satu cara Dwyne mengalihkan kesedihan atas kehilangan Dafa dari dekapannya. Sedangkan Dewa, ia masih belum ingin bertemu dengan suaminya itu.
__ADS_1
...TBC...