Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 22 - Pergi


__ADS_3

BAB 22


Dewa melangkah lebar memasuki kamarnya dengan Dwyne, sebenarnya Dewa senang saja jika Dwyne berbagi barang yang dibelinya itu artinya ia juga peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Namun tidak untuk gaun yang dipilihnya, kecewa? Tentu Dewa sangat kecewa pada istrinya, padahal Dwyne tahu jelas jika gaun berwarna merah itu sengaja Dewa pilihkan untuknya.


“Dwyne?”, panggilnya.


“Hem?”, tanggapan yang diterima oleh Dewa.


Dokter tampan ini pun menghampiri istrinya yang sedang duduk bersandar di atas ranjang seraya memainkan smartphonenya, lebih tepatnya berbalas pesan dengan seseorang entah siapa itu Dewa tidak mengetahuinya.


“Bisa aku bertanya sesuatu?”, tanya Dewa yang ikut duduk di atas kasur empuk itu.


Dwyne menyimpan ponselnya di atas nakas, “Ada kepentingan apa?, tanyakan saja”, nada suaranya angkuh teramat menusuk telinga Dewa.


“Kenapa kamu memberikan barang-barang yang dibeli hari ini?”


“Karena ingin”, singkatnya berwajah datar tak memiliki rasa bersalah sedikit pun.


“Ingin?”, Dewa menyipitkan kedua matanya berusaha mengerti apa maksud istrinya ini. Ia pun menarik napas dalam lebih dulu sebelum lanjut bertanya. “Gaun merah pilihanku juga kamu berikan?”,


“Ehem, untuk ponsel sengaja aku berikan pada mereka karena keduanya tidak memiliki alat itu. Bukankah mereka membutuhkannya untuk menghubungi keluarga?”, alasan Dwyne memang terdengar masuk akal, dan Dewa menerimanya.


“Lalu?”


“Lalu?, lalu apa?”, seru Dwyne.


“Lalu kenapa gaun merah itu kamu berikan juga Dwyne?”


“Ah itu, tentu saja untuk anak salah satu asisten rumah tangga. Memangnya kenapa?, kau keberatan Dewa?, ck perhitungan sekali, aku akan membayar semuanya sekarang juga, berikan nomor rekening mu”, ketus Dwyne langsung mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas.

__ADS_1


“Cepat sebutkan !”, nada suara Dwyne semakin menusuk gendang telinga dan jantung suaminya.


“Tidak perlu”, Dewa beranjak dari kamar itu dan keluar menghindari perdebatan dengan istrinya.


Dirinya pun merasa bingung dengan sikap istrinya, diantara ketiga bersaudara hanya Dwyne yang memiliki sikap arogan. Dariel dan Denna memiliki sikap yang ramah, apalagi putri bungsu Rayden dan Nayla itu selalu tersenyum pada siapapun. Menyapa orang lain lebih dulu padahal ia seorang putri keluarga Bradley yang sangat disegani.


Dewa menyegarkan pikirannya menikmati semilir angin malam di balkon lantai 2 rumah, matanya pun dimanjakan indahnya warna-warni bunga yang terkena sorot cahaya lampu.


“Kakak ipar?”, panggil Dariel. “Sedang apa disini?, bukankah tadi ingin ke kamar untuk menemui kakak kembar ku?”.


“Sudah. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahat Dwyne”, Dewa tersenyum.


“Suami yang pengertian, tapi kakak ipar jangan berbohong sebagai sesama pria aku tahu kalian berdebat bukan?”. Dariel menepuk bahu Dewa, “Meskipun aku belum berumah tangga, tapi memang sebaiknya kakak ipar lebih sabar menghadapi Dwyne. Semangat kakak ipar”. Dariel meninggalkan Dewa sendiri di balkon.


“Dariel, kalian kembar tetapi sedikit berbeda”, Dewa tersenyum, lalu terlintas dalam otaknya jika suatu saat memiliki anak kembar lucu yang berlari mengejarnya, bercanda bersama tapi entah kapan semua itu terwujud karena mengambil hati Dwyne masih sangat sulit bagi Dewa.


.


.


Tepat pukul 4 pagi alarm mengusik tidur seorang Dwyne Juliete Bradley. Bangun pagi memang berat ?. “Hoaam”, meregangkan kedua tangan ke atas kepala. Netranya pun melihat Dewa yang masih nampak nyenyak terbungkus kain tipis sebagai selimut terbaring di atas sofa bed.


Dwyne membutuhkan waktu kurang dari 30 menit untuk bersiap, dirinya pun segera turun dan pamit pada Mama Nayla yang memang akan terbangun jika suami dan anak-anaknya akan berangkat pagi-pagi sekali.


“Hati-hati sayang, semoga berhasil putri cantik mama”, Nayla menciumi pipi kanan dan kiri putri sulungnya.


“Ma?, masih ada yang cantik selain aku”


Mama Nayla tergelak, “Tentu saja adik kecilmu. Tapi sayang dimana Dewa?  Tidak mengantarmu ke bandara?”. Mama Nayla melihat ke arah lantai dua siapa tahu suami putrinya itu menyusul.

__ADS_1


“Dia masih tidur, biarkan saja ma. Aku berangkat, Asisten D sudah menunggu di luar”


“Dwyne tapi kamu membertitahu Dewa kan kalau hari ini ke Korea?”, Mama Nayla sedikit meninggikan suaranya karena putrinya itu sudah berjalan menjauh.


“Tenang ma”, sahut Dwyne.


Ketika sampai di depan rumah, mata Dwyne menyipit melihat siapa yang berdiri di samping mobil hitam yang akan mengantarnya ke bandara.


“Pagi Nona”, senyumnya.


“Zayn?, aku pikir kamu menunggu di bandara?”


“Asisten Zayn memaksa ikut denganku nona bos”, celetuk Asisten D yang sedang merapikan rambutnya karena ia terlambat bangun sedangkan harus menjemput bosnya pukul 4.30 pagi.


“Yasudah, sebaiknya cepat kita berangkat”, tegas Dwyne.


Asisten Zayn pun membuka pintu belakang mempersilahkan putri pemilik perusahaan tempatnya berkerja masuk. “Silahkan nona”. Dengan sadar ia menerima tatapan tidak suka dari Asisten D yang juga memasuki mobil melalui sisi lain.


“Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?”, tanya Dwyne.


“Sudah nona bos, sesuai instruksi”, jawab Asisten D.


Mobil pun melesat menuju bandara meninggalkan halaman rumah keluarga Bradley.


Sesampainya di bandara, ketiganya disambut pilot dan co pilot jet pribadi, jangan lupakan salah satu dari keduanya mengagumi putri Rayden Bradley.


Dwyne duduk dan memasang sabuk pengamannya, melihat ke luar kaca mengingat ekspresi wajah Dewa yang kecewa karena gaun pemberiannya ia berikan pada orang lain begitu mudahnya.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2