
BAB 39
Para Dokter telah tiba di rumah besar yang dijadikan tempat tinggal semuanya selama menjadi tenaga medis bantuan. Wakil direktur GB Hospital turut serta dalam penugasan kali ini, karena menjadi salah satu dokter spesialis bedah yang ikut membantu.
Dewa dan Cakra berbagi ruangan dengan satu dokter lainnya. Ketiganya pun membaringkan tubuh setelah menempuh perjalanan berjam-jam, dan duduk lama di dalam bis karena jarak tempuh dari kota cukup jauh. Dewa hanya mengigat wajah Dwyne yang menatap kepergiannya tanpa ekspresi.
Dirinya mengaktifkan smartphone dan menghubungi Dwyne, sampai beberapa kali panggilan tak kunjung Dwyne menerima teleponnya.
“Kamu kemana Dwyne?”, gumam Dewa.
“Sudahlah Dewa, mungkin istrimu itu sibuk. Kamu tahu sendiri kan, Tuan Rayden sangat mempercayai putri sulungnya untuk pekerjaan lapangan”, papar Cakra, kasihan pada Dewa yang cukup frustasi menghubungi istrinya namun tak menerima jawaban.
“Kau benar juga, Cakra”, Dewa menyimpan ponselnya di atas meja. Meletakkan kedua tangan di bawah kepala sebagai bantalan tidur, belum sehari meninggalkan Dwyne dirinya telah dilanda rindu apalagi sampai berminggu-minggu. Padahal setiap hari Dewa biasa bertemu pagi dan malam hari dengan istrinya itu.
Setelah satu jam istirahat, semuanya berkumpul di ruangan besar untuk menerima pembagian kelompok kerja oleh wakil direktur GB Hospital. Masing-masing menyimak jadwal tugas dan siapa saja anggota kelompoknya. Beruntung bagi Dayana dan ujian bagi Dewa karena satu kelompok dengan Dayana. Wakil direktur menunjuk suami dari putri pemilik GB Hospital untuk menjadi ketua kelompok. Tentu saja Dewa harus menerima Dayana sebagai anggotanya dan ia dituntut bersikap profesional.
Setelah mengetahui jika juniornya ini memiliki perasaan lebih padanya. Dewa cenderung menghindari Dayana untuk menjaga perasaan serta hubungannya dengan Dwyne.
“Ternyata waktu dan keadaan mendekatkan aku dengan Dokter Dewa”, batin Dayana bersorak senang.
Kelompok Dokter Dewa pun akan mulai melaksanakan tugasnya sore ini, Dayana memperhatikan seniornya dengan mata berbinar mendengar tugas apa saja yang di pegang masing-masing. Tentu saja Dewa memasangkan Dayana bersama Dokter Cakra, sementara dirinya bersama dokter koas lain.
Awalnya Dayana protes tak ingin berpasangan dengan Dokter Cakra, namun siapa sangka Dewa bertindak tegas dan dokter koas yang menjadi partnernya pun enggan bertukar dengan Dayana.
“Apa kamu sengaja Dokter Dewa?”, tanya Dayana dalam hati.
Sebelum berangkat ke rumah sakit, Dewa kembali menelepon istrinya dan masih sama tak ada jawaban dari Dwyne. Akhirnya ia menghubungi Asisten D, dan menurut penuturannya Dwyne baru saja menyelesaikan meeting penting bersama pihak rumah sakit di ibu kota mengenai pendistribusian obat. Dewa yang mulanya kecewa berubah karena memang istrinya sangat sibuk.
“Kalau begitu sampaikan salam ku pada Dwyne, dan katakan padanya aku hubungi nanti malam. Terima kasih Asisten D”, ucap Dewa langsung menutup sambungan teleponnya.
“Dewa ayo kita berangkat, mobil sudah menunggu di depan”
__ADS_1
“Apa kamu juga memberi tahu mahasiswa koas kelompok kita, Cakra?”, tanya Dewa memastikan anggotanya tak ada yang tertinggal.
“Sudah”
Dokter Dewa duduk di samping kursi kemudi dengan mobil yang dikendarai oleh Dokter Cakra, sementara di belakang duduk tiga dokter koas dan Dokter Evelyn sebagai spesialis kandungan menggantikan Dokter Samantha, karena Adam Bradley melarang istrinya ikut sebagai relawan.
Fokus kedua mata Dayana hanya tertuju pada Dewa meski hanya bagian kepala belakang saja yang terlihat tapi ia senang bisa bersama dengan pria pujaan hatinya dalam waktu cukup lama.
Tentu yang menyadari tatapan Dayana hanya Cakra karena ia sesekali melirik kaca spion, lalu menggelengkan kepala pelan. “Benar-benar rumit”, gumamnya.
“Kau bicara apa?”, tanya Dewa.
“Hah, aku?, tidak ada”, jawab Cakra.
Tiba di rumah sakit, ramai dan penuh mobil berlalu lalang, Dokter Evelyn mengajak asistennya langsung menuju ruang persalinan sementara Dewa dan Cakra bertugas di IGD. Dewa dan Cakra terkejut mendapati instalasi gawat darurat itu penuh pasien dan beberapa ada yang duduk di kursi roda karena tak mendapat brankar kosong.
“Dokter akhirnya kalian datang, terima kasih”, ucap seorang dokter jaga yang terlihat kusut karena harus memeriksa pasien yang menumpuk. “Ayo dokter ikut saya”.
“Dokter Dewa, tunggu”, panggil Dayana melihat Dewa berjalan ke arah berlawanan.
“Ya?”
“Apa hubungan kita bisa dekat lagi?, emmm maksudku sebagai junior dan senior”, jelas Dayana.
“Memang hubungan kita selalu baik, Dayana. Cakra menunggu mu di sana”, tunjuk Dewa pada tirai berwarna hijau. Pria ini berlalu mulai memeriksa pasien, ada beberapa yang belum mendapat penangan dan keluarga pasien pun marah karena lambatnya kinerja rumah sakit yang kekurangan tenaga medis ini.
Dewa juga tak luput dari amarah keluarga pasien padahal dirinya baru saja mulai memeriksa. Wajah tampannya pun terkena pukulan dari salah satu keluarga, hingga sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
“Saya mohon bapak dan anggota keluarga lainnya tenang”, ucap Dewa bernada keras.
“Dimana sumpah kalian sebagai dokter, sangat lambat”, kembali mencengkram kerah kemeja Dokter Dewa.
__ADS_1
“Hentikan, jika anda ingin kami menolong pasien dengan cepat maka berhenti bersikap merugikan seperti ini”, imbuh Dewa sangat tegas.
“Baik dokter, bantulah ibu kami”
“Mohon keluarga semua tenang, kami juga disini baru saja tiba”
Dewa langsung menuju pada seorang ibu yang kesakitan, ia teringat wajah Mama Kania yang kesakitan sebelum meninggal. Dengan segera Dewa memberi obat penawar rasa sakit lebih dulu. Namun keributan kembali terdengar dari arah sebaliknya, suara Dokter Cakra pun dapat ditangkap jelas oleh telinga Dewa.
“Ada apa?”, tanya Dewa pada asistennya.
“Sepertinya keluarga pasien dengan Dokter Cakra”, jawab Sania, dokter koas yang bertugas membantu Dewa.
Berlari cepat menghampiri rekanya yang juga mendapat caci maki dari keluarga pasien karena dinilai lambat menangani, selain itu marah pada Dayana yang hanya diam saja. Seorang pria bertubuh besar itu pun mendorong dokter koas cantik ini hingga hampir tersungkur ke lantai, untung saja Dewa sigap menahan tubuh Dayana, memeluk wanita itu dari belakang.
“Dokter Dewa”, lirih Dayana dengan mata berkaca-kaca.
“Apa ada yang terluka?”, Dewa sedikit membungkuk supaya jelas melihat wajah kakak sepupu istrinya.
“Tidak ada”
“Sania, bawa Dayana menjauh dari sini. Sebaiknya lihat pasien yang lain”, perintah Dewa.
“Baik dokter”
Dewa berusaha menahan emosi dirinya dan meredakan amarah Dokter Cakra yang tersulut, karena di salahkan. Dewa berusaha menjelaskan dengan kata-kata yang apik agar mudah dimengerti pihak keluarga.
“Kalau begitu cepat dokter bantu anak saya, bagaimana bisa rumah sakit kekurangan dokter. Memang kalian ini dokter muda hanya ingin hidup dan berkerja di rumah sakit kota besar saja”
Cakra yang tidak terima mengepalkan tangan hendak melayangkan tinju pada pria berumur di depannya.
“Tahan Cakra”
__ADS_1
Tbc