Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 74 - Menjagamu


__ADS_3

BAB 74


Di luar ruang tindakan Mama Nayla, Papa Rayden, Dariel, Denna, Papa Adam, Stefan, Steve, serta Barra dan Brady setia menemani Dwyne, memberikan doa terbaik. Oma Anggi dan Opa Dave lebih dulu pulang bersama Papi Leo dan Mami Kezia yang datang untuk memberi kekuatan pada Mama Nayla juga Dwyne.


“Denna sayang sebaiknya kamu pulang, Ok?, papa tidak mau putri papa sakit”, Papa Ray membelai pipi mulus putri bungsunya.


“Tapi aku mau disini pah, lagi pula di rumah tidak ada siapa-siapa”, keluh Denna.


“Biar nanti papa bujuk mama agar ikut pulang ya, di rumah ada oma dan opa”


“Ummmm, baiklah tapi papa harus selalu memberi kabar tentang kakak”, suara manja Denna mengalun indah di telinga seseorang.


“Tentu saja”, Papa Rayden menarik hidung putri bungsunya, “Sayang sebaiknya kamu pulang dan istirahat, biar Dwyne aku dan Dariel yang menjaganya. Lagi pula di dalam ada Dewa dan Samantha”.


“Tapi Ray, aku khawatir”, tolak Mama Nayla.


“Iya aku mengerti, bila perlu minta Stefan dan Steve menginap di rumah, bagaimana Adam kau setuju kan?”, Rayden menepuk bahu kakak sepupunya.


“Oh, sure. Silahkan saja bawa dua bocah nakal itu ke rumahmu”, ucap Papa Adam.


Akhirnya Mama Nayla, Denna, pulang lebih dulu bersama Stefan dan Steve yang menginap di rumah untuk menghangatkan suasana.


Barra dan Brady pun menyusul pulang ke rumah Armend, Barra memeluk erat Dariel. Ia terpukul dengan keadaan Dwyne, padahal ketika bertemu di London wanita cantik itu sangat baik-baik saja.


“Sampaikan salam ku untuk Dwyne”, ucap Barra.


“Terima kasih Bro”


Sedangkan dalam ruangan, Dewa selalu menatap wajah Dwyne tak ia alihkan sedikitpun, begitu menanti kelopak mata berbulu lentik itu terbuka. Dokter Samantha pun sama menanti keponakannya bangun.


“Dewa kamu bisa berbaring di brankar kosong”, ucap Dokter Samantha.


“Terima kasih Dokter”, Dewa hanya tersenyum.


Ditatapnya wajah pucat Dwyne yang nyaris seperti tak dialiri darah, beberapa kali Dewa mengecup kening dan puncak kepala wanitanya serta membisikan kata-kata agar mata yang tertutup itu segera terbuka.


“Sayang, aku janji akan menjagamu dan anak kita”

__ADS_1


“Maafkan aku Dwyne”


Dewa yang mengantuk tetap berusaha membuka kedua matanya, meskipun kepalanya telah 3 kali terbentur ke belakang.


“Eungg”, lenguh Dwyne.


“Sayang?”, Dewa membuka matanya begitu pun Dokter Samantha yang langsung menghampiri keponakannya.


“Emmm, kepalaku pusing”, lirih Dwyne begitu lemah hampir tak terdengar


“Sayang ini aku, bagian mana yang sakit?”, tanya Dewa rasa bahagia, haru, sedih dan marah bercampur jadi satu. Dewa sangat ingin tahu sejak kapan Dwyne tahu dirinya hamil, kenapa tidak bicara padanya, bagaimana pun ia adalah ayah dari anak yang dikandung oleh Dwyne.


“Perutmu baik-baik saja kan? Tidak sakit?”


“Dewa, jangan berikan banyak pertanyaan pada istrimu”, ingatkan Samantha.


Dwyne memijat kepalanya yang berdenyut, membuka perlahan matanya dan menoleh ke samping, bagai mimpi pria yang selama ini hanya bayang-bayang terasa begitu dekat dan nyata.


“Dariel?”, panggil Dwyne membuat alis Dewa berkerut.


“Dariel kenapa wajahmu mirip sekali dengan Dewa?”, suara Dwyne begitu lemah tak bertenaga. “Bahkan karena terlalu merindukannya, sampai wajah kembaran ku pun mirip Dewa”, ucap Dwyne dalam hati.


“Benarkah? Dewa ini kamu?”, air bening menetes dari sudut mata Dwyne.


“Ehem, Dewa permisi, tante harus memeriksa Dwyne”, ujar Samantha tak berniat mengganggu sepasang suami istri muda di depannya, ia pun sama pernah merasakan apa yang keduanya rasa.


Samantha melakukan beberapa prosedur pemeriksaan, hingga di peroleh hasil sesuai harapan. Malam ini juga Dwyne dipindahkan ke ruang rawat khusus petinggi rumah sakit.


Binar bahagia terpancar dari bola mata hitam Dewa, mengetahui bakal janin dalam kandungan Dwyne masih menempel pada rahim istrinya. Papa Rayden dan Dariel pun terharu karena mereka menanti kehadiran anggota keluarga baru Bradley.


Sebelum pulang Samantha menyampaikan pada Dewa, bahwa kandungan Dwyne sangat lemah bahkan sangat rentan. Keponakannya ini di haruskan bedrest selama 1 bulan penuh berbaring di tempat tidur. Awalnya Dwyne menolak harus istirahat selama 1 bulan, merasa dirinya baik-baik saja dan kandungannya pun tak ada masalah, ia tak mungkin mengabaikan pekerjaan tapi Papa Rayden memberinya cuti sakit.


“Dewa, aku.....”, Dwyne ingin mengucap sesuatu tapi jari telunjuk Dewa lebih dulu menempel pada bibir pink yang setengah terbuka.


“Sayang, kamu makan dulu, aku suapi”, perhatian Dewa, tak ingin istrinya mengatakan apapun yang akan berakibat fatal bagi kesehatannya.


“Aku bisa sendiri Dewa”, tolak Dwyne dalam keadaan menyandar, rambut berantakan dan kulit yang pucat.

__ADS_1


“Sudahlah Dwyne terima saja perhatian suamimu”, celetuk Dariel dari balik dinding penghalang.


“Mau ya?”, Dewa Bagas Darka mengulas senyum hangat, Dwyne mengangguk pasrah. Lagipula ia tak bertenaga untuk berdebat hal sepele.


“Buka mulut sayang. Aaaaa”, sikap Dewa ini membuat Dwyne terkikik geli.


“Apa kamu seperti ini juga pada pasien mu yang lain?”, pertanyaan yang tidak harus Dewa jawab tapi demi menyenangkan wanitanya ia pun menjawabnya.


“Aku pasti akan melakukan ini padanya”, jawab Dewa, sontak bola mata Dwyne melotot keluar.


“Tenang sayang, aku melakukannya hanya pada istriku tercinta”, Dewa mengecup bibir Dwyne.


“Ehem, sepetinya kita mengganggu Pah”, ucap Dariel.


“Ya memang, sebaiknya kita tidur Dariel dan menutup telinga juga mata”, sahut Papa Rayden membuat pipi Dwyne merona.


“Dewa, bagaimana keadaan Dayana?”, tanya Dwyne, meski ia membenci wanita itu, Dayana tetaplah kakak sepupunya yang sedari kecil hidup bersama dengannya.


“Aku tidak tahu, besok pagi aku akan mencari kabarnya. Sekarang habiskan makananmu. Aku tidak mau calon anak kita kelaparan”, membelai puncak kepala Dwyne dan mencium punggung tangan yang tengah memegang selimut.


“Apa anak kita baik-baik saja?”, suara Dwyne bergetar.


“Tentu, dia sangat sehat. Memiliki ibu yang kuat sepertimu sangat baik baginya”, Dewa menghela napas pelan. “Aku akan menjaga kamu dan anak kita”, ia ingat pesan yang disampaikan Dokter Samantha.


“Syukurlah, maaf aku belum memberitahu mu tentang keberadaannya”, Dwyne menatap dalam kedua mata suaminya.


“Sayang, masalah itu kita lupakan dulu, sekarang hal paling penting aku ingin kamu sehat dan kembali ke rumah secepatnya, aku kangen kamu Dwyne, kangen”, andai saja tak ada selang infus yang menghalangi pasti Dewa telah mendekap erat wanitanya.


“Dewa aku juga merindukanmu, sangat”, ucapnya dalam hati, lidah Dwyne masih begitu kaku mengungkapkan perasaan.


Dewa menyuapi Dwyne hingga bubur di mangkuk tersisa sedikit, dokter tampan ini pun membantu merapikan rambut coklat Dwyne yang kusut, menyisirnya dengan jemari tangan.


Sepasang suami istri ini diam tanpa kata terbawa pikiran dan kata hati masing-masing.


...TBC...


...****...

__ADS_1


...Terima kasih temen-temen dukungannya...


__ADS_2