
BAB 113
“Dewa lihat”, Dwyne kesal keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi beberapa centi dari pahanya. Ia menunjuk pada bagian atas yang banyak sekali tanda cinta dari Dewa. Menyadari suaminya tertawa Dwyne mengejar Dewa dengan membawa bantal, ingin sekali wanita ini memukul suaminya.
“Dwyne, bukan masalah kan?”, suara Dewa diiringi tawa.
“Tentu saja masalah”, Dwyne menundukkan badannya lemas, dan cemberut pada suaminya yang masih tertawa gemas. “Gaun ku bagaimana?”, Dwyne hanya bisa menghela napas menatap gaun yang telah ia pesan dari jauh-jauh hari sebelumnya.
“Rupanya itu yang jadi masalah, aku pikir kamu tidak suka”, Dewa melenggang masuk kamar mandi tanpa rasa bersalah. Selama membasuh tubuh, Dewa hanya tersenyum bahagia mengingat permainan singkat keduanya yang begitu panas di siang hari ini.
Dewa yang keluar dari kamar mandi cukup tersentak melihat Dwyne yang telah tampil sempurna bagai Dewi. Semua tanda kemerahan di bagian dada atas tertutup sempurna, penasaran, Dewa mendekat dan jahil mencolek dagu istrinya.
“Ish Dewa, jangan mulai lagi. Aku sudah rapi, cepat pakai baju”, seru Dwyne menghembus napas kasar.
Sepasang suami istri ini turun ke bawah turut bergabung bersama anggota keluarga lainnya, tak terkecuali Dayana yang kaku tersenyum pada Dewa dan juga Dwyne. Meskipun masih ada rona tidak suka dari Dwyne tapi ia sadari Dayana tidak lagi mecoba mendekati Dewa, kakak sepupunya bahkan seperti menghilang, lenyap begitu saja. Hanya sesekali menghadiri acara besar keluarga, tidak terlalu bercengkrama seperti sebelumnya.
“Hi... Dwyne, bagaimana kabarmu?”, tanya Dayana yang sekadar basa basi.
“Baik”, Dwyne tersenyum, merangkul erat lengan Dewa. Mendapat balasan senyum dan kecupan di pelipis semakin membuat Dwyne senang bukan main.
Acara makan siang yang sebagai inti dari pesta ulang tahun Denver telah usai, kini Dariel dan para sepupunya tengah berkaraoke di ruang keluarga. Suasana semakin hangat dengan celotehan Denver yang semakin lucu.
Dwyne selalu berada di sisi suaminya, tak pernah sedikit pun menjauh, ia sangat menempel tak terpisahkan. Dewa tersenyum mengusap punggung tangan istrinya, menyalurkan rasa cinta yang semakin dalam pada wanita cantik miliknya.
“Jadi kapan kita memberi Denver adik? Jangan terlalu lama sayang, aku semakin tua”, bisik Dewa.
“Semakin tua aku semakin suka”, goda Dwyne mengerlingkan sebelah matanya, sampai rengkuhan tangan Dewa pada pinggulnya kian terasa.
__ADS_1
Anggota keluarga yang melihat sepasang suami istri yang duduk berdua, bicara saling berbisik dan tak memperhatikan tarian sepupu mereka, mendapat senyum bahagia dari para orang tua. Terutama Papa Ray dan Mama Nayla, begitu bahagia melihat anak dan menantunya.
Acara ulang tahun Denver, tak ada satu pun tamu yang hadir seusianya. Semua paman bertingkah kekanakan, berebut mikrofon untuk bernyanyi hingga saling dorong antara Dariel, Stefan, Steve, Bobby dan Brady.
“Ada apa dengan kalian?”, seru papa Adam yang merupakan ayah dari Stefan dan Steve.
“Tenanglah uncle ini salah satu cara kami mendekatkan diri saat berkumpul”, ujar Bobby.
Melihat Baby Denver mulai mengantuk, Dewa dan Dwyne membawa putra kecilnya masuk kamar. Anak baik dan tidak rewel, hanya membutuhkan waktu 5 menit bagi Denver untuk terlelap dalam tidur.
Sementara Dewa meraih lengan Dwyne, sampai mendekat dan menempel di dada bidannya. Dewa memeluk erat bahkan teramat sangat erat, seolah istrinya akan pergi.
“Hey, Dewa. Lepas ada apa denganmu?”, Dwyne hanya pura-pura tak mengerti dari sikap suaminya yang menginginkan sesuatu.
“Sayang, ayolah jangan seperti ini”, wajah Dewa telah turun terbenam dalam ceruk leher putih dan harum candunya.
“Sayang...”, dengan cepat Dewa membalik tubuh istrinya, meraih tangan berjemari lentik itu mencium kedua punggung tangan Dwyne. Menghidu dalam dan penuh puja pada cinta sejatinya yang sangat ia syukuri.
Dwyne menarik paksa tangannya dari pegangan Dewa, lalu mengalungkan pada leher suaminya dan berjinjit. Menyatukan bibirnya dengan sang suami, jelas saja Dewa terkejut luar biasa. Istrinya ini memang paling bisa mengaduk rasa yang tak mudah di tebak, terkadang marah atau menggodanya lebih dulu.
Tinggi badan yang tidak terlalu beda jauh sangat memudahkan Dwyne menggapai bibir suaminya, pagutan yang semula lembut berubah menjadi semakin liar dan menuntut. Keduanya telah terbakar oleh suasana yang diciptakan sore ini, tak peduli lagi pada orang-orang yang menunggu di ruang keluarga. Bagi Dewa dan Dwyne dunia hanya milik berdua, mungkin yang lainnya hanya menyewa dunia ini.
“Dewa”, suara napas Dwyne yang memburu terdengar indah oleh Dewa, “Dewa aku mencintaimu sekarang dan selamanya”, senyum Dwyne sungguh manis, melanjutkan kembali pagutan bibirnya.
Tanpa melepas pagutan, Dewa membawa istrinya hingga ke bagian sisi ranjang, menggendong ala koala. Tak kan pernah bisa Dewa berpaling dari Dwyne, bagaimana perjuangannya melewati hujan badai yang beruntun demi cinta seorang wanita arogan ini.
“Kamu hanya milikku Dwyne”, bisik Dewa semakin panas.
__ADS_1
“Dewa jangan pernah pergi meninggalkanku. Aku dan Denver membutuhkan mu”, Dwyne menyatukan kening dan mencium puncak hidung suaminya.
“Tentu sayang”, Dewa tersenyum, membaringkan wanitanya dengan lembut seakan takut tergores dan pecah. “Aku menginginkanmu Dwyne Juliette Bradley”, tangan Dewa telah siap membuka gaun yang melekat indah membungkus raga di bawah kungkungan.
Tok...tok
“Dwyne? Kalian masih di dalam? Cepatlah keluar, kami semua menunggu”, suar Dariel terdengar kecil namun teramat sangat mengganggu bagi Dewa dan Dwyne.
Akhirnya, Dewa membantu istrinya bangun dan merapikan gaun yang sedikit kusut akibat ulah keduanya. “Kenapa papa tidak cepat menjodohkan Dariel”, keluh Dewa yang gagal menyalurkan hasratnya sore ini, mati-matian ia menahan sakit kepala dan sesuatu yang sesak di bawah sana.
“Karena Dariel belum bisa bersikap dewasa, mungkin. Papa ingin Dariel fokus mengelola dan mengembangkan hotel lebih dulu”, jelas Dwyne merasa kasihan pada suaminya yang terlihat tak nyaman,.
“Sayang aku..... kamu duluan ke bawah, aku ada keperluan dulu”, Dewa berjalan cepat masuk kamar mandi diiringi tawa kecil oleh Dwyne.
“Maaf sayang, semua ini bukan keinginanku”, Dwyne membuka pintu dan ternyata Dariel masih setia menunggu di depan pintu. “Hah kamu ini, kenapa tidak langsung pergi”, ketus Dwyne.
“Mana mungkin bisa aku harus memastikan kalian keluar kamar dan jangan bermesraan disaat banyak tamu. Keterlaluan kau ini Dwyne, sekarang dimana kakak ipar?”, Dariel celingukan mencari sosok kakak ipar yang membuat saudari kembarnya bertekuk lutut.
“Ish tidak baik mengintip begitu, kau tidak sopan Dariel”, Dwyne mendorong kepala adiknya yang menyembul masuk kamar.
“Kakak ipar, cepat lah. Kau baik-baik saja kan?”, teriak Dariel.
“Oh ya ampun Dariel”, menarik telinga Dariel untuk mengeluarkan kepalanya.
“Aw sakit Dwyne”.
Dewa yang berada dalam kamar mandi menghela napas, terganggu dengan suara kedua orang yang saling bersahutan itu.
__ADS_1
...TBC...