
BAB 107
Satu minggu sudah Dwyne dan Dewa saling memaafkan, keduanya berkomitmen tidak ada lagi rahasia dan sekecil apapun yang disembunyikan. Saling memberi kepercayaan pada pasangan, memperbaiki semua sikap yang selama ini memicu pertengkaran. Dewa ingin Dwyne tidak mudah tersulut emosi, dan belajar menghilangkan sikap arogannya. Sementara Dwyne ingin Dewa tidak mudah mengumbar senyum pada siapapun terutama wanita, dan harus menjaga jarak aman dari wanita manapun.
Tentu apa yang disampaikan oleh Dwyne, sangat ingin Dewa lakukan, dokter tampan itu merasa bahagia dan senang Dwyne posesif padanya, artinya wanita yang membeku hatinya kini telah mempercayakan seluruh hati dan dirinya pada Dewa seorang.
Baru saja sepasang orang tua muda ini menikmati kehidupan yang rukun, keduanya harus kembali berpisah karena tuntutan profesi. Besok pagi-pagi Dewa bertolak ke Bandung untuk menghadiri seminar kedokteran selama 3 hari lamanya.
Padahal satu minggu ini pun, intensitas pertemuan Dewa dan Dwyne sangat jarang. Dewa selalu sibuk setiap hari dan memiliki waktu senggang beberapa jam di hari minggu. Sementara Dwyne, mulai masuk kerja kembali, keduanya bertemu di pagi dan malam hari, iya pernah satu hari setelah hubungan membaik Dewa tidak pulang ke rumah.
Sukses membuat Dwyne begadang semalaman akibat rindu berlebihan pada Dewa, hingga Baby Denver ikut menemani mamanya sampai pagi, sampai Dewa pulang ke kediaman Bradley, ya atas permintaan Papa Ray setidaknya sampai Denver menginjak usia 6 bulan Dewa dan Dwyne baru boleh pindah ke rumahnya yang saat ini hanya berpenghuni beberapa asisten rumah tangga dan petugas keamanan.
“Jadi jam berapa berangkat? Kenapa tidak diantara supir?”, tanya Dwyne, wajahnya berubah sangar mendengar Dewa beserta beberapa dokter menggunakan bus dalam acara seminar kali ini.
“Ini atas perintah direktur, sayang. Aku bisa apa lagipula menyetir sampai Bandung melelahkan, kegiatan di sana sangat padat jadi lebih baik duduk santai dalam bus”, jawab Dewa, tak memperhatikan perubahan raut wajah Dwyne.
“Dewa apa kecerdasanmu berkurang?”, selidik Dwyne pada suami tampannya, ia pun mendengus kesal. Pasalnya Dwyne jelas-jelas menyematkan kata ‘supir’. “Bukankah diantar supir keluarga juga kamu bisa duduk santai tanpa repot menyetir mobil? Hah alasan ikut bus”, Dwyne memutar tubuhnya dan duduk menghadap pintu balkon yang terbuka lebar.
Dewa merapatkan gigi, memamerkan deratan pasukan penghancur makanan itu. Menggaruk bagian kepala belakang yang tak gatal. Kenapa juga ia bisa salah menjawab, sudah pasti akan berakhir oleh Dwyne yang kesal dan sinis padanya.
“Maaf aku tidak konsentrasi”, memeluk dari belakang dan menghirup dalam aroma tubuh Dwyne yang sangat Dewa sukai dan memberi efek menagih pada saraf pusatnya.
“Lepas, Dewa”, Dwyne merajuk melepas dekapan hangat di tengah malam yang dingin ini, momen yang pas memang, apalagi Baby Denver tidur bersama Mama Nayla.
__ADS_1
“Sayang”, bisik Dewa, rambut halus sekitar tengkuk pun meremang dibuatnya. “Sayang, apa telah selesai dan siap aku menyentuhnya?”, tanya Dewa dengan nakal menyentuh sesuatu yang ia rindukan,
PLAK
Dwyne memukul tangan kanan suaminya yang lancang memberi rasa geli di bawah sana. “Sepertinya tangan mu ini harus ikut sekolah lagi”, gurau Dwyne menyingkirkan tangan Dewa. “Aku belum siap Dewa, aku takut”, lirih Dwyne dan tentu Dewa hanya menggoda istrinya saja.
Dewa tahu Dwyne masih takut memberikannya karena khawatir akan berakibat buruk bagi luka sayat melahirkan. Ia pun mengerti sebagai seorang dokter tidak memaksakan apa yang menjadi trauma bagi istrinya.
“Maaf Dewa, aku belum siap”, ulang Dwyne merasa bersalah. “Tapi kamu tidak akan menyakitiku kan Dewa”, tanya Dwyne sedikit menekuk wajah cantiknya dan tatapannya pun datar.
“Maksudmu apa bagaimana sayang?”, Dewa mengernyitkan alis tidak mengerti, menyakiti bagaimana yang dimaksud. Tidak akan pernah Dewa torehkan luka pada hati wanita pujaannya ini, jika itu terjadi sama saja dia menyakiti dirinya sendiri.
“Umm, kamu tidak akan mencari wanita lain kan Dewa?”, raut wajah Dwyne berubah mendung.
“Dengar baik-baik sayang. Bagiku kamu lebih dari cukup dan memuaskan. Tidak akan ada wanita lain di sini dan disini, percaya itu Dwyne”, Dewa menarik tangan Dwyne, menyentuhkannya pada kepala dan dadanya. Menandakan hanya Dwyne seorang wanita yang ia sayang dan cintai.
“Kamu harus tahu sayang”, Dewa menangkup wajah mungil Dwyne dengan kedua tangan lebarnya, mengecup bibir pink yang selalu menggoda untuk disentuh.
“Aku Dewa Bagas Darka sudah menghabiskan belasan tahun hanya untuk mencintai seorang wanita arogan ini”, Dewa mencolek hidung mancung istrinya. “Untuk apa menyia-nyiakan wanita yang selalu aku impikan? Tak akan pernah sayang, percaya padaku. Cintai ini juga telah tercurahkan semua dan habis tak bersisa untuk hal lain”, senyum Dewa membelai pipi yang kini merah merona karena mendengar alunan kata-kata yang keluar dari bibir Dewa sangat manis dan menyenangkan.
“Ah, pipi istriku ini merah, kenapa ya?”, goda Dewa sampai Dwyne kembali cemberut tapi diselingi tawa menghias di wajah cantiknya.
“Awal yang berat bagi pernikahan kita Dwyne, semua seperti mimpi, kamu yang sulit tergapai kini ada dalam pelukanku bahkan apa yang aku harapkan semua menjadi nyata. Dulu aku yakin suatu saat kamu akan mencintaiku dan tak akan pernah pergi dariku”, kata-kata hati Dewa, ia ingat bagaimana lesunya Dewa mendapat perlakuan menyakitkan dari Dwyne pada beberapa hari pasca menikah, sampai wajahnya tidak bersemangat karena mendapat penolakan dari sang istri.
__ADS_1
Dokter Cakra yang menjadi sahabat sekaligus menyemangati Dewa, bahwa suatu hari istri arogannya kan luluh dan tak bisa lepas dari Dewa. Terbukti hal itu nyata sekarang, perjuangan pun tidak mudah. Banyak kerikil tajam baik yang terlihat dan tidak dalam perjalanan rumah tangganya.
Baik Dewa dan Dwyne tak ingin kejadian di belakang terulang lagi di kemudian hari. Tidak ingin menghabiskan penuh prasangka dan konflik, apalagi kini telah hadir Baby Denver yang semakin menambah warna bagi Dewa dan Dwyne.
“Terima kasih Dewa”
“Tentu sayang, apapun untuk mu. Bahkan kalau kamu meminta bulan pun aku berikan”, gombal Dewa pada istrinya, tidak salah kan meskipun itu hal mustahil.
PLAK
“Aw sakit sayang, kenapa dipukul?”, ringis Dewa sembari tertawa mengelus lengannya.
“Untuk apa aku meminta bulan? Tidak ada keinginan lain apa, huh”, Dwyne mendengus sebal.
“Itu bukan kenyataan Dwyne tapi hanya perumpamaan, apapun akan aku berikan untuk istri cantikku yang menggemaskan ini, singa betinaku”, goda Dewa lalu menarik hidung mancung wanitanya.
“Apa maksudnya singa betina?”, tanya Dwyne tidak terima kenapa disamakan dengan seekor predator berbulu itu.
...TBC...
__ADS_1