Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 99 - Cemburu


__ADS_3

BAB 99


Tepat pukul 6 pagi Dwyne terbangun, mengerjapkan kedua matanya, rasanya semalam ia tidur dalam keadaan duduk menyandar. Namun saat ini sangat nyaman dan empuk serta hangat, perlahan manik coklatnya terbuka, menatap ke sisi kanan dan kiri, kosong ya itulah pikiran Dwyne. Terbangun dalam ruang rawatnya, siapa lagi yang dicarinya saat ini? Tentu saja Dewa, suaminya.


“Dewa kamu dimana?”, Dwyne duduk sambil sedikit memijat pelipisnya, sepi dan kehilangan mungkin itu lebih cocok apa yang dirasakannya saat ini. Dalam lubuk hatinya ia merasa sunyi, bagaimanapun kehadiran Dewa memberi kehangatan tersendiri dalam hidupnya.


Wanita cantik ini pun hanya tertunduk lesu, menatap pada pintu putih, berharap terbuka menampakkan sosok suaminya yang selalu penuh perhatian. “Aku kangen kamu Dewa”, lirih Dwyne, potongan kenangan perhatian dari sang suami berputar dalam benaknya.


Dewa yang tidak tega pada istrinya, memindahkan Dwyne pada kamar rawat. Tentu tidur dalam posisi duduk sangatlah tidak nyaman, apalagi wanita itu baru melahirkan satu bulan lebih yang lalu. Harus selalu menjaga kesehatan karena mungkin luka pasca operasi belum sepenuhnya pulih.


Dwyne yang masih berharap Dewa datang padanya, begitu terlihat bahagia saat pintu mulai terbuka sedikit perlahan dan pasti semakin lebar. “Dewa?”, ucapnya girang penuh semangat, kedua mata berbinar. Sedih dan pilunya menguap dari dalam hati, tapi sayang dirinya kecewa ya sangat kecewa. Karena bukan suaminya yang masuk melainkan wanita, petugas pengantar makanan.


“Permisi Nyonya, ini sarapannya”


“Ya simpan saja”, jawab Dwyne malas, duduknya yang semula tegak menjadi bungkuk lesu tak bertenaga.


Meski enggan makan, Dwyne menarik meja kecil beroda itu mendekat padanya. Netra coklat menyipit kala sesuatu terselip diantara alat makan, tak ingin buang waktu segera membuka wrap mengambil kertas pink yang tertindih mangkuk berisi sup ayam.


“Habiskan sarapanmu, minum obat, lalu mandi, pakaian ganti sudah aku siapkan dalam lemari”


Senyum manis menghias bibirnya, mendapat note seperti ini saja Dwyne senang bukan main. Bolehlah ia terbawa suasana, karena Dewa masih begitu memperhatikannya.

__ADS_1


“Tentu saja aku akan makan”, menggenggam sendok.


“Aku membutuhkan banyak tenaga”, Dwyne mengangguk, mulai hari ini akan menarik perhatian suaminya lagi maka memerlukan makanan sebagai sumber energi.


Usai makanan habis dan minum obat, Dwyne segera mandi, ingin menemui suaminya yang pasti saat ini menunggu Denver di depan ruang perawatan bayi. Untung saja dalam tas kecilnya selalu membawa perlengkapan make up, Dwyne mengoleskan pewarna bibir natural dan menepuk pipinya hanya menggunakan cushion juga blush on tipis. “Perfect”, serunya tersenyum pada pantulan diri di cermin.


Melangkahkan kaki begitu cepat, anggun, tetap menunjukan sisi angkuhnya sebagai putri pemilik GB Hospital. Benar kan sesuai dugaan jika Dewa menunggu Denver tepat depan ruangan, tapi pupus angannya untuk mencari perhatian sang suami. Tawa renyah mengganggu pendengaran Dwyne, sesak juga marah melihat suaminya tengah bicara pada seorang dokter muda, ah bukan tetapi calon dokter lebih tepatnya.


“Isssh Dewa, bukannya di kamar temani aku, malah asyik disini dengan perempuan itu”, tangan Dwyne terkepal tak peduli pada infusnya lagi, hanya ada rasa kesal dan marah melihat keduanya.


Bukan Dwyne namanya jika hanya mengumpat di balik dinding dan kembali menjauh, untuk apa pergi? Toh ia pemilik rumah sakit ini, Dewa suami sahnya, belum lagi buah hati mereka sedang mendapat perawatan di dalam sana. Melangkahkan kaki pasti menghampiri kedua orang yang masih belum menyadari kehadirannya.


“Sayang”, suara mendayu dan manja Dwyne, tidak lupa satu tangannya mendarat cantik di bahu sang suami.


Pertama kali bagi Dewa mendengar sang istri memanggilnya ‘sayang’ pasti darahnya berdesir hangat, tersenyum tipis menanggapi wanita cantiknya. “Kondisinya semakin baik”, Dewa membalas pertanyaan yang ditujukan untuknya begitu santai tak ada beban.


Ia menepis bahwa wanitanya telah memberi maaf, mereka ada di ruang umum pasti Dwyne menjaga image-nya agar tidak buruk dimata khalayak orang.


Dewa pun melakukan hal serupa, merengkuh pinggang ramping sang istri mempersilahkan duduk di sofa yang tersedia, lalu mengecup puncak kepala sang istri. Baginya pura-pura ini membawa fisik keduanya semakin dekat meski tidak tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran masing-masing.


Berada di tengah-tengah sepasang suami istri yang saling mencintai, Sania segera undur dari tak mau merusak momen keduanya. “Dokter Dewa dan Nyonya saya permisi, semoga Baby Denver segera sehat”, ucap Sania sangat tulus.

__ADS_1


“Ya tentu saja”, jawab Dwyne, wanita ini menikmati tangan suaminya yang merangkul posesif pada pinggangnya.


“Ehem”, Dewa berdeham menetralkan suasana, “Maaf Dwyne, aku tidak bermaksud mencari kesempatan”, alasan Dewa bohong, sesungguhnya hati yang semula sedih menghangat manakala mendengar kata ‘sayang’ mengalun bebas dari bibi pink candunya.


Mungkin jika bukan di rumah sakit dan hubungan keduanya baik-baik saja, Dewa akan meraupnpipi istri arogannya dan menikmati manisnya benda kenyal pink yang kini tampak mengkilap begitu menggoda naluri sebagai lelaki.


“Bagaimana keadaanmu, masih pusing?”, tanya Dewa tapi tak menoleh pada istrinya melainkan hanya menatap dinding putih datar di depan keduanya. Dewa harus bisa menguasai gejolak dalam diri untuk memeluk wanita ini. Karena Dwyne masih belum memaafkannya, hingga mereka pun canggung saat berdua.


“Aku?”, tunjuk Dwyne pada batang hidung mancung miliknya.


“Tentu baik, ummmmm.... terima kasih sudah merawat ku , Dewa”, ucap Dwyne tegas.


“Ya tentu, sebagai seorang dokter sudah tugas ku. Kamu harus kuat dan jaga kondisi, Denver membutuhkan ibunya”, sahut Dewa, mengetuk-ngetuk lantai dengan sepatu pantofel hitamnya, menyatukan kedua tangan yang sangat ingin menautkan jemari pada jari lentik Dwyne yang kini berada di sampingnya.


“Tahan Dewa, Dwyne masih marah jangan buat dirinya semakin marah”, kata hati Dewa memastikan jika anggota gerak tubuh tidak mengkhianati otak dan hatinya.


Sedangkan Dwyne sengaja meletakkan tangan diantara jarak tubuhnya dengan Dewa, rindu akan genggaman tangan sang suami, ingin merasakan lagi lembutnya belaian Dewa pada punggung tangan mungil dirinya. “Ish, kenapa dia diam saja? Apa tidak mengerti kode yang aku berikan”, gerutu Dwyne dalam hati, sangat berharap Dewa memegang tangannya penuh cinta.


Asal tahu saja perasaan ini sungguh menyiksa bagi ibu dari Denver ini, rasa rindu yang menggebu hanya bisa tertahan dalam dada. Perasaan cinta yang tak terungkap terperangkap dalam belenggu ego masing-masing, terutama Dwyne. Lidah serta bibirnya terkunci rapat hanya untuk meminta maaf serta melepaskan perasaannya cintanya untuk sampai ke telinga Dewa.


Keduanya hanya duduk diam menanti dokter spesialis anak mengatakan kondisi buah hati, Dwyne senang ada Denver diantara mereka, pasti Dewa tak akan lari meninggalkannya, setidaknya itu keyakinan yang ia miliki.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2