Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 67 - Barra dan Brady


__ADS_3

BAB 67


Pagi hari di rumah, Dewa segera mandi usai olahraga pagi, keringat membanjiri tubuhnya dan lengket. Dewa bercermin menggosok giginya, ia sadari sudah satu minggu tidak memperhatikan penampilan karena terlalu sibuk dan memikirkan masalah rumah tangga.


“Sayang, Dwyne”, panggil Dewa namun tak kunjung mendapat jawaban.


“Sayang?”, panggilnya lagi, seketika ingat jika istrinya tidak di rumah.


“Kamu lihat Dwyne, untuk mencukur saja aku memerlukan mu”, sinis Dewa.


Bibir dan jiwa satu suara selalu memanggil nama Dwyne, bagi Dewa Dwyne adalah cinta sejatinya. Sejak pertama bertemu ia sudah jatuh cinta pada wanita itu, mana mungkin dengan mudah menghapus perasaan yang kini telah menggunung.


“Dwyne, aku akan berusaha membuktikannya padamu, sayang”, gumam Dewa.


Dewa mengirim pesan singkat pada wanitanya


“Pagi istriku cantik, bagaimana kabarmu?”


Dewa tersenyum getir memeriksa ponselnya, masih sama tidak ada perubahan sedikit pun, nomor teleponnya masih terblokir begitupun sosial media. Nampaknya Dwyne menutup akses komunikasi diantara mereka.


Terbiasa beberapa minggu manja pada wanitanya, saat ini harus kembali mandiri. Mengancingkan kemeja dan menyisir rambutnya. Dewa bercermin memeriksa penampilan, biasanya ia akan memagut bibir pink manis Dwyne tepat di depan cermin selesai berpakaian.


“Ah, Dwyne. Aku tidak bisa terus seperti ini”, menyugar rambut yang telah rapi.


Dewa turun untuk sarapan, lagi-lagi tertawa getir melihat sarapan yang disiapkan asisten rumah hanya satu.


“Ada yang Pak Dokter butuhkan?”


“Cukup bik, terima kasih”


Mulai memasukan satu sendok nasi goreng dalam mulut, pikiran Dewa menerawang tak henti memikirkan wanitanya.


Ting


Satu pesan di dapatkan, segera Dewa membukanya berharap Dwyne namun hanya pesan dari Dayana, isinya pun tetap sama setiap harinya.

__ADS_1


Hari ini dari pagi sampai sore Dewa disibukkan dengan agenda pendidikannya, ia pun izin tidak praktik di rumah sakit. Dewa yang kelelahan membuka ponselnya dan melihat beberapa status orang-orang, hingga matanya menatap satu nama sangat dikenalinya.


“Dariel”, gumam Dewa menekannya dan menatap tidak percaya, rupanya Dariel mengambil gambar kedua saudarinya saat mereka bersama menikmati malam di rooftop.


Dewa tersenyum hangat melihat senyum merekah Dwyne bersama Denna dan Dariel, “Dwyne”, binar mata Dewa. Seakan mendapat suntikan semangat Dewa berjalan cepat ke perpustakaan, menyelesaikan tugasnya yang cukup menumpuk.


**


London


“Denna, hari ini kita kemana?”, tanya Dwyne karena adiknya ini sangat sibuk memilah pakaian.


“Kakak bilang mau jalan-jalan, aku tahu kuliner murah tapi enak”, sambar Denna yang memang mengetahui seluk beluk kota itu.


“Dimana? Aku sudah lama tidak kesini jadi lupa. Pantas saja kamu betah di sini”, Dwyne ikut mencari pakaian yang cocok untuknya.


“Ya ka, aku mau melanjutkan sekolah sarjana ku di sini, tapi tenang setiap liburan pulang, kangen mama dan papa”, Denna memeluk Dwyne.


“Dasar anak manja”.


Kedua putri Bradley itu , menyusuri jalan dengan sepeda walaupun pengawal tetap menjaga dengan jarak aman agar kedua nonanya merasa nyaman.


Brak


“Ah, es ku”, ucap Denna memajukan bibirnya.


“Maaf nona, aku ganti”, ucap seorang pria seumuran dengannya.


“Eh, Brady? Kamu di sini sedang apa?”, Denna mencari Dwyne namun tidak menemukannya.


“Aku melihat banyak Universitas, aku ganti es krimnya, tunggu sebentar”, ujar Brady, putra bungsu Papi Leo dan Mami Kezia yang berbeda dari kedua saudara lelakinya.


Tidak lama terdengar suara tawa renyah dari Dwyne yang berjalan bersama Barra. Dwyne membawa satu bungkus permen kapas yang sengaja Barra beli untuknya.


“Ka?”, panggil Denna.

__ADS_1


“Denna, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal membeli ini?”


“Aku mencarimu tapi ya sudahlah”


“Dimana Brady?”, tanya Barra mencari adik bungsunya.


“Membeli es krim untuk ku, Brady menjatuhkan es milikku Kak”


Barra dan Brady ikut bergabung bersama Dwyne dan Denna, mencicipi aneka makanan. Keempatnya sudah seperti saudara, mereka tumbuh bersama dan kedua orang tuanya pun bersahabat maka tidak heran hubungan anak-anaknya pun sangat dekat.


“Dwyne habiskan permennya, nanti aku belikan lagi”, ucap Barra sangat menyayangi Dwyne seperti adik kandungnya sendiri.


“Barra kau mau aku gendut ya?”


Barra mengetahui masalah yang menimpa Dwyne Bradley, maka saat tidak sengaja bertemu ia mengajak wanita itu untuk mencari makanan manis sebagai penunjang mood yang baik. Barra mendengar kabar itu dari percakapan antara Mami Kezia dan Mama Nayla.


“Brady, kamu yakin akan meneruskan pendidikan di sini?”, tanya Dwyne.


“Yakin, ka. Ada seseorang yang ingin aku jaga”, ucap Brady melirik pada Denna sekilas.


“Ehem, sebaiknya kita mencari makanan lagi”, sahut Denna tiba-tiba tidak merasa nyaman pada situasi yang terjadi.


Keempat orang itu menghabiskan waktu hingga sore hari, lebih tepatnya mengakhiri kegiatan kuliner setelah melakukan panggilan video dengan Dariel. Barra mengantar Dwyne dan Denna pulang ke mansion utama Bradley. Sedangkan untuk sepeda di serahkan pada pengawal yang membawanya.


“Barra tidak mau masuk menemui Opa dan Oma?”, tanya Dwyne.


“Tidak perlu, besok aku kesini lagi. Dwyne?”, panggil Barra langsung memeluk adiknya.


“Jangan sungkan menceritakan apapun yang terjadi padamu, ingat kamu tidak hanya memiliki Dariel dan Denna tapi juga aku, Bobby dan Barra”


“Kamu wanita kuat, aku yakin kamu bisa melewatinya”, Barra mengusap puncak kepala Dwyne.


“Terima kasih Barra”


Kedua Nona Muda Bradley memasuki mansion membawa beberapa kotak jajanan yang mereka beli tanpa memperhatikan kapasitas perut yang mampu menampung atau tidak.

__ADS_1


“Hah, rasanya senang sekali bisa jalan-jalan”, ucap Dwyne menjatuhkan diri pada sofa besar, “Aku bisa juga menghilangkan mi dari pikiranku, Dewa”, batin Dwyne.


...TBC...


__ADS_2