Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 80 - Inikah Rasanya?


__ADS_3

BAB 80


Dewa sangat bisa diandalkan merawat istrinya yang sedang hamil muda. Setelah menghabiskan 2 gelas besar susu, Dewa membantu wanitanya untuk mandi.


“Dewa, geli. Hentikan tanganmu itu nakal”, oceh Dwyne pada tangan jahil suaminya yang menjelajah kemana-mana.


“Maaf sayang, kamu sangat menggoda”, bisik Dewa dari belakang tubuh Dwyne.


“DEWA”, seru Dwyne menyipratkan air pada Dewa, padahal pria ini telah mandi, dan harus rela terkena air sabun.


Sepasang suami istri dalam kamar mandi saling membasahi tubuh pasangannya, apalagi Dwyne selalu dibuat kesal karena Dewa memberinya sabun saat tubuhnya telah bersih.


Cukup lama keduanya bermain air sampai Dewa menyadari tubuh Dwyne mulai menggigil kedinginan, dan menggendong wanitanya keluar kamar mandi hanya menggunakan kain handuk.


Dewa berusaha mati-matian menahan sesuatu yang meronta dari balik handuk putih yang melilit di pinggangnya. Apalagi ia menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang dalam keadaan kedua tangan Dwyne melingkar di lehernya dan tatapan mata saling terkunci.


Bahu mulus Dwyne begitu indah hanya untuk di pandang, Dewa mulai menurunkan badannya. Sama-sama menghirup harum aroma sabun dan sampo, deru napas yang mulai memburu pun dapat dirasakan oleh Dwyne.


“De-Dewa”, gugup Dwyne namun dirinya tak menolak, suaminya semakin mendekat hingga sebuah ciuman menyentuh bibir pink kenyal. Dewa sedikit menyesap dan menyalurkan rasa rindu pada wanitanya.


Dwyne yang ketakutan tubuhnya gemetar, ia ingat kalimat Samantha bahwa mereka tidak diperbolehkan melakukan penyatuan selama satu bulan ini.


“Dewa, jangan”, lirih Dwyne.


“Dwyne aku merindukanmu, sangat”, bibir Dewa beralih pada bahu mulus Dwyne, memberi tanda cinta di sisi kanan istrinya.


“Ah, Dewa”, lenguhan keluar dari bibir pink istrinya, Dwyne mendorong tubuh suaminya ketika merasakan sesuatu di bahunya.


“Ma-maaf sayang, aku tidak bisa menahannya. Kamu begitu menggoda. Ehem sebaiknya aku ambilkan pakaian ganti”, Dewa beranjak dari ranjang.


.


.


**


Pagi ini Dwyne di jadwalkan untuk check up, Dewa setia mendampingi istrinya ke ruang obgyn. Samantha menyambut sepasang suami istri ini dengan senyum bahagia, ia senang atas hadirnya calon anggota keluarga baru Bradley.


“Sayang ayo sini, mama menunggumu dari tadi”, Samantha memeluk Dwyne.


“Gemana kondisi kamu selama satu minggu ini? Maaf mama belum sempat menjenguk”

__ADS_1


“Mama Samantha jangan khawatir, aku baik-baik saja”, Dwyne mengulas senyum tipis pada istri Adam Bradley ini.


Dokter Samantha mulai melakukan beberapa pemeriksaan yang diakhiri pengambilan sampel darah keponakannya.


Keluar dari ruangan dokter, Dewa membawa istrinya memasuki ruang dokter umum, karena ada beberapa buku yang tertinggal di ruang kerjanya itu. Dwyne tersenyum ketika melihat hasil cetak USG di tangannya. Tidak menyangka jika dalam tubuhnya kini bersemayam bakal janin kembar.


“Aku senang bisa melihat mu tersenyum, Dwyne”, kata hati Dewa, mengulas senyum di bibirnya.


“Benarkan, mereka pasti sehat karena memiliki ibu yang kuat”, ucap Dewa di belakang Dwyne dan menundukkan badan mencium pipi istrinya.


“Dewa”, Dwyne tersentak.


“Kenapa, sayang?”


“Apa kamu tidak malu?”, tanya Dwyne sedikit memberengut.


“Tidak, untuk apa?, ayo sayang aku akan mengantarmu pulang lebih dulu”, Dewa mendorong kursi roda Dwyne.


“Aku bisa pulang bersama driver, pasienmu bukannya sudah menunggu?”, Dwyne tidak enak hati karena Dewa selalu mengutamakannya.


“Tidak masalah sayang, ayo”, Dewa menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil, membantu Dwyne memasang seatbelt, kemudian mengecup singkat bibir pink wanitanya, hingga Dwyne melotot karena Dewa.


“Dewa” lirihnya lalu berjalan masuk sembari menghapus air mata yang berjatuhan.


**


Dewa dan Dwyne sampai di rumah keluarga Bradley, pria ini mengantar istrinya memasuki kamar, membantu mengganti pakaian hingga merebahkan tubuh Dwyne.


“Sayang, aku kembali ke rumah sakit. kalau memerlukan sesuatu hubungi saja, jangan sungkan, aku senang mendapat telepon darimu”, ucap Dewa membelai kedua pipi Dwyne.


Andai bisa memilih pasti Dewa akan tetap berada di ruangan ini, begitulah setiap harinya Dewa selalu berat meninggalkan Dwyne seharian dan bertemu kembali saat malam hari.


“Jangan terlambat makan siang, sayang. Aku akan menelepon nanti siang”, ucap Dewa enggan melepas tautan tangannya, begitupun dengan Dwyne yang tidak mau Dewa pergi. Apalagi ia ingat di rumah sakit ada Dayana yang selalu membayangi Dewa.


“Dewa”, lirih Dwyne.


“Kenapa sayang? Kamu merasakan sesuatu?”


Dwyne menggeleng, “Bukan, ummm tapi Dewa maukah kamu berjanji satu hal?”, tanya Dwyne membuat Dewa mendekat kembali.


“Apa itu?”

__ADS_1


“Berjanjilah tidak memberi Dayana , ummmm maksudku wanita lain , jangan memberinya celah untuk mendekat”, ucap Dwyne malu, langsung menutup bibirnya menggunakan kedua tangan.


Dewa tertawa ringan mendengar kata-kata istrinya, “Apa aku tidak salah mendengar?, kamu jangan khawatir, aku hanya memberi celah pada seorang wanita saja”.


“Hah? Apa?”, perasaan kesal Dwyne. “Siapa?”, memberanikan bibirnya bertanya lebih jauh.


“Dia sangat istimewa bagiku dan tak akan terganti, kamu tahu Dwyne karenanya hidupku menjadi lebih berwarna”, Dewa berjongkok dengan satu lutut menyentuh lantai.


“Apa wanita itu aku?”, tanya Dwyne lupa akan egonya.


Seketika Dewa mengangguk pelan, “Wanita yang selalu aku beri kesempatan dan celah itu adalah kamu Dwyne, ya hanya kamu”.


Dewa mengecup bibir pink yang menggodanya, “Hanya kamu yang selalu masuk ke dalam hati ku dan aku tidak akan mengizinkannya keluar”, ucap Dewa.


“Dewa?”, Dwyne dibuat berbunga-bunga dan melayang jauh ke atas awan, Dewa memang selalu bisa membuat hatinya senang.


“Apa sayang? Kamu mau bilang apa?”


“Aku akan menunggumu di sini, kabari aku kemanapun kamu pergi”, tutur Dwyne.


“Sayang, sejauh apapun aku pergi ingat selalu hanya untuk berkerja dan aku akan selalu kembali padamu”, Dewa tersenyum manis. “


“Kamu hal terindah yang aku miliki, aku tak akan mengulangi kebodohan diri membiarkanmu pergi lagi”, batin Dewa.


“Aku berangkat sayang, mencium puncak kepala Dwyne”.


Bersama Dewa, Dwyne amat sangat dicintai, pria ini pun selalu memberi kejutan-kejutan kecil untuk menyenangkan dirinya.


Rasanya Dwyne tak sanggup jika sekarang, esok dan di hari yang akan datang hidup tanpa kehadiran Dewa. Dirinya ingin Dewa tetap di sisinya, memiliki pria itu sepenuhnya, fisik dan hatinya hanya untuk dirinya seorang.


Hati Dwyne berdebar ingat kata-kata manis yang keluar dari mulut suaminya, pipi pun merona. Sungguh ia menyesal telah berpikiran negatif tentang suaminya itu.


Dwyne tidak mau lagi hanya bisa memandang bayang-bayang Dewa di setiap waktu tidurnya, benar-benar menyakitkan hanya bisa menahan rasa rindu. Ia pun mulai mempercayai Dewa walau belum sepenuhnya meletakkan rasa percaya itu.


“Apa ini yang namanya jatuh cinta?”, gumam Dwyne.


...TBC...


...****...


...Pak Dokter manis bener...

__ADS_1


__ADS_2