Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 46 - Oma Kangen


__ADS_3

BAB 46


“Terima kasih Dokter Dewa”


“Sama-sama Dayana”, ucap Dewa tanpa senyum


BRAK


“Ya ampun”, keluh Dayana melihat buku catatan tugas koasnya jatuh mengenai genangan air di aspal.


Tanpa basa-basi Dewa turun dari mobil dan berlari cepat memutari badan kendaraan roda empat itu, membantu Dayana membawa tumpukan buku tebal, mengambil alih dari tangan kakak sepupu sang istri.


Aroma shampo yang biasa Dewa gunakan begitu ketara memasuki rongga hidung seorang Dayana, karena tubuh jangkung dokter tampan sedikit menunduk dan mendekat pada juniornya. Dayana terus memperhatikan Dewa, degup jantungnya berdetak luar biasa cepat. Kakinya lemas tak bertulang, baru pertama dekat dengan Dewa setelah satu tahun mengenalnya.


“Cepat masuk”, ajak Dewa menoleh ke belakang karena wanita dengan paras cantik khas mirip Bunda Nayra ini hanya bergeming di depan pagar coklat yang menjulang tinggi.


“I iya dokter”, Dayana menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum melangkah masuk. “Andai Papa Ray menjodohkan aku denganmu dokter, pasti aku menjadi wanita paling bahagia dan beruntung di dunia ini”, batin Dayana membayangkan jika keduanya menjalin hubungan lebih dari sekedar junior dan senior.


“Simpan dimana?”, tanya Dewa setelah masuk pintu putih rumah.


“Kamar, eh emmm maksudku bisa di meja itu Dokter Dewa”, tunjuk Dayana pada salah satu sudut rumah.


“Dewa?”, panggil wanita berambut putih dari arah dapur, rupanya Oma Nilla segera menuju ke depan rumah mendengar deru mesin mobil, ia terkejut mendapati cucu menantunya berada di rumah. “Dimana Dwyne? Oma tidak lihat, apa masih di mobil, Oma rindu cucu satu itu, ah cantiknya Oma”, tergopoh-gopoh ke halaman rumah.


“Oma, Dwyne tidak ikut”, cegah Dayana.


Raut kecewa tampak muncul di wajah keriputnya mendengar cucu tersayangnya tidak ikut berkunjung ke rumah “Dwyne masih di kantor, Oma”, ucap Dewa tersenyum membantu Oma Nilla berjalan dan duduk di ruang tamu minimalis.


“Oma kangen twin D, mereka sudah besar lupa sama Oma, pasti Rayden bikin cucu Oma sibuk. Dewa, kapan-kapan bawa Dwyne menginap di sini”, Oma Nilla mengusap tangan cucu menantunya.


“Iya Oma, pasti", Dewa tersenyum lalu mengedarkan pandangan pada beberapa foto di meja hias. Ia tersenyum melihat satu foto berukuran sedang, Papa Rayden dan Mama Nayla tengah menggendong dua bayi yang masih sangat merah, jelas tanpa bertanya Dewa tahu itu Dwyne dan Dariel.


Menyadari tatapan cucu menantunya, Oma Nilla menggenggam erat tangan Dewa, “Semoga kamu dan Dwyne cepat memberi Oma cicit, jangan lupa sering main ke sini setelah punya cicit”, harapan Oma Nilla yang juga Dewa inginkan.

__ADS_1


“Uhuk uhuk uhuk”, Dayana yang sedang minum tersedak, sungguh ia tak ingin harapan Oma Nilla menjadi nyata. Bukan dari Dwyne melainkan darinya bersama Dewa.


“Sudah biarkan saja”, cegah Oma Nilla pada Dewa yang hendak menghampiri Dayana.


“Huh Oma”, keluh Dayana.


“Oma, Dewa permisi karena harus praktik di klinik, salam untuk Tante Nayra”, pamit Dewa sangat sopan.


“Dokter terima kasih sudah membantuku”, Dayana mengantar Dewa sampai ke depan pintu pagar.


“Apa aku boleh berharap lebih?”, lirihnya setelah mobil Dewa melaju dan menjauh dari kediaman Oma Nilla.


**


G&B Farmasi


Dwyne yang merasa kepalanya berdenyut mengakhiri pekerjaan menumpuknya dan keluar ruangan dengan pandangan sedikit buram.


“Nona?”, panggil Asisten D.


Dwyne duduk di kursi depan ruangannya, menunggu kabar Asisten D yang sedang menuju lantai atas menemui Zayn.


Tidak lama asisten yang menjadi kepercayaan Dwyne muncul bersama Zayn, “Nona, Tuan Rayden akan segera pulang dan menunggu Nona di di lobby”, D membantu Dwyne bangun.


“Tidak Zayn, jangan biar D saja”, Dwyne menolak Zayn memapahnya. Cukup sekali kemarin malam pria itu membantunya. Ia tak ingin membuat seluruh pegawai menaruh curiga dan menjadikannya bahan gosip.


Akhirnya Zayn hanya mengikuti dari belakang berjaga jika Asisten D tidak kuat menahan Dwyne. Ketiganya turun dengan lift khusus petinggi perusahaan.


“Terima kasih D, cepat Zayn buka pintu mobil”, ucap Papa Ray merangkul putri tersayang.


Papa Rayden menyandarkan kepala Dwyne pada bahu kekarnya, “Sebaiknya kita ke rumah sakit, nak”.


“Jangan Pa, aku hanya perlu istirahat”, Dwyne memejamkan mata merasa nyaman bersandar pada bahu sang ayah. “Dewa bilang asam lambungku naik karena terlambat makan”, jelas Dwyne mengingat jelas kata-kata suaminya tadi malam.

__ADS_1


“Kalau begitu kamu harus lebih menjaga kesehatan, jangan melewatkan waktu makan, Papa tidak ingin putri papa sakit. Tunda dulu pekerjaanmu, tiga hari ke depan kamu jangan masuk kerja. Papa larang”, tegas Rayden tak ingin keturunannya bersama Nayla sakit apalagi sampai harus mendapat perawatan di rumah sakit.


“Tapi Pa......”


“Dwyne, jangan keras kepala. Atau bila perlu satu bulan aku melarang mu masuk”, nada suara Papa Rayden semakin tegas.


“Pah, pekerjaanku sangat banyak, ada beberapa target yang harus aku capai”, tolak Dwyne.


“Hanya tiga hari, kau itu keras kepala bukannya menuruni sifat mamamu tapi malah sifat ku yang harus turun padamu”, omel Rayden gemas pada putrinya.


“Papa?”, Dwyne masih terus membantah papanya.


“Sebaiknya jaga kondisi tubuhmu terus cepat berikan papa dan mama cucu”, ucap Rayden seketika membuat Dwyne bungkam dan memilih memejamkan mata sangat rapat.


Zayn yang berada di depan menjadi gerah, ia pun melonggarkan dasi dan membuka satu kancing kemejanya. Ternyata hal itu tak luput dari pengamatan Papa Rayden yang langsung menyadari ada hal janggal pada Zayn.


Tiba di rumah, Dwyne membuntuti papanya masuk ke dalam berdiri tepat di belakang Papa Rayden. “Dwyne?”, tanya Mama Nayla mengerenyitkan sebelah alisnya. “Kamu sendiri?, mana Dewa?”


“Sayang, anak ini datang bersama ku”, keluh Rayden merengkuh pinggang dan mengecup bibir candunya.


“Ish papa dan mama”, Dwyne mengerucutkan bibir lalu berjalan masuk ke kamarnya.


“Hey, kamu juga bisa seperti ini setelah Dewa datang, jangan iri Dwyne”, teriak Papa Rayden yang langsung menerima hadiah cubitan kepiting dari sang istri. “Maaf sayang”.


Setelah makan malam, Dwyne langsung kembali ke kamarnya merebahkan tubuh memeriksa ponsel lalu duduk bersandar pada sofa bed, menanti kabar dari Dewa. “Ish kemana sih sebenarnya dia? Aneh sekali sampai tidak memberi kabar apapun”.


Melempar asal benda pipih mahalnya, “Memohon di beri kesempatan tapi tidak menggunakan kesempatan dengan baik”, gerutu Dwyne yang langsung terlelap karena tubuhnya sangat lelah.


“Dewa”, lirih Dwyne dalam tidur, “Aku tidak mau memberi kesempatan padamu,  kamu itu sama saja seperti pria lain, selalu mengumbar janji tanpa bisa memenuhinya”, Dwyne terus meracau dalam tidur.


“Hah? Tadi apa?”, ia tersentak karena merasakan sesuatu, langsung terduduk mengedarkan pandangan pada kamarnya yang sangat sepi. Kembali melihat smartphone namun nihil tak ada pesan atau panggilan dari Dewa.


“Mungkin aku mimpi”, gumamnya dan melanjutkan tidur.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2