Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 12 - Jangan Pergi


__ADS_3

BAB 12


Tiba di kediaman Bradley, Dwyne turun lebih dulu meninggalkan suaminya yang menatap nanar dan Dariel hanya melebarkan kedua mata, bagaimana bisa seorang istri acuh pada suami yang sedang membutuhkannya. Pada akhirnya mau tidak mau Dariel membantu kakak iparnya berjalan, karena tubuh dokter tampan itu lemas bagai tidak bertulang.


“Perlu aku panggilkan dokter ka?”


“Tidak perlu Dariel, terima kasih”


“Baiklah, Kakak bisa memanggilku jika memerlukan sesuatu. Jangan sungkan, anggap saja aku ini adik kandungmu sendiri”, Dariel terus memapah kakak iparnya sampai memasuki kamar. “Dimana Dwyne?”, menelisik seisi ruang kamar yang sepi tak berpenghuni. “Dwyne?, kau di dalam?”, mengetuk pintu kamar mandi dan berteriak di depannya.


Klek


“Ada apa Dariel?, kamu mau membangunkan papa dan mama ya?”


“Tanya saja, kamar mu sangat sepi, lagipula papa dan mama jam segini belum tidur, seperti tidak tahu saja apa yang mereka lakukan. Jangan sampai kita memiliki adik lagi”, oceh Dariel seraya berjalan keluar kamar.


Dwyne yang sudah mengganti pakaiannya beranjak naik ke atas ranjang, mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah hari ini. “Apa?, kenapa melihatku seperti itu?”, ketusnya pada Dewa.


“Tidak ada”, Dewa memperhatikan bibir wanitanya yang sangat manis dan lembut mengingat kecupan pertama kalinya di villa, ia pun bergegas mengganti pakaiannya menghindari rasa gugup yang melanda.


“Dasar aneh”, cibir Dwyne mengeratkan selimut sampai leher.


Setelah mengganti pakaian, Dewa merapikan sofa bed yang menjadi alasnya tidur beberapa hari ini. Kedua netranya tanpa henti menatapi punggung wanitanya yang terbalut selimut tebal,  “Terima kasih Dwyne”, Dewa tahu jika di villa istrinya lah yang membuka pakaian basahnya dan membawanya ke atas tempat tidur. Pelukan pertama yang mereka lakukan begitu hangat menjalar ke dalam dada seorang Dewa Bagas Darka, hingga ia hampir lupa mengendalikan diri dengan mencium bibir kenyal milik sang istri.


Dewa masih terus membuka matanya, memikirkan sesuatu yang ia kerjakan hari ini . Semuanya belum selesai karena ia sakit dan harus kembali ke Jakarta. Dewa yang seorang dokter umum biasa membeli lahan yang akan dijadikan peternakan sapi bersama dengan teman sekolahnya, pria ini bahkan telah memiliki lebih dari 1000 meter lahan yang sudah dijadikan kebun menanam beberapa jenis komoditi yang laku di pasaran. Terus berpikir langkah apa yang akan diambilnya ke depan, lambat laun matanya mulai meredup dan terlelap dalam damai.


.

__ADS_1


.


Pagi menyapa dengan sinar matahari menerobos masuk ke dalam ruangan dalam rumah itu. Dwyne pun baru membuka matanya dan duduk terdiam karena kepalanya merasa sedikit pusing. “Ah tidak, rupanya aku kesiangan”, kesalnya lalu berjalan masuk kamar mandi meskipun  hari libur tetapi banyak pekerjaan yang menunggunya. Sekelebat kata-kata dalam hati memenuhi isi kepalanya.


“Apa dia tidur nyenyak semalam?”


“Bagaimana ya demamnya”


“Apa harus aku menelepon dokter?”


Sedetik kemudian Dwyne langsung menggelengkan kepalanya tanda menghapus semua pikiran yang baru saja terlintas. Dengan memakai bathrobe Dwyne masuk walk in closet, memilih pakaian santai yang akan digunakannya seharian ini.


Dengan rambut terurai dan berjalan santai, Dwyne mengambil ponselnya di atas nakas, tanpa peduli jika seorang pria menatapnya tanpa berkedip. Dewa melihat betapa menggoda istrinya itu pagi ini, berpakaian dengan pusar yang sedikit terlihat dan tali spaghetti bertengger di bahu mulusnya, serta celana pendek yang hanya dua jengkal dari pahanya semakin menggoda sesuatu dalam diri Dewa. Seandainya mereka sepasang suami istri normal pasti Dewa akan mengurung Dwyne seharian di dalam kamar, namun sayang itu hanya sebuah angan-angan.


“Dwyne”, panggil Dewa yang duduk di sofa.


“Apa?”, seolah tak ada kata lain selain ‘apa’, setiap kali Dewa memanggilnya hanya itulah yang bisa Dwyne ucapkan.


“Apa masalahnya denganmu?”


“Aku hanya tidak mau orang lain melihat tubuhmu”


“Bukan urusanmu”


“Dwyne kamu itu istriku, dan....”


“Dan apa?”, Dwyne berkacak pinggang, “Jadi karena aku istri seorang dokter seperti mu, kau berhak melarang ini dan itu?, jangan mimpi Dewa. Sampai kapan pun pernikahan ini hanya status, TIDAK LEBIH”, Dwyne menghela napas kesal karena tidak suka mendapat aturan dari orang biasa seperti Dewa.

__ADS_1


“Dwyne, pernikahan ini bukan hanya status, gantilah pakaianmu”, Dewa berdiri dan mendekat pada istrinya yang berdiri di sisi ranjang.


“Dengar Dewa, sebaiknya jual rumah pamanmu untuk membayar hutang pada keluarga ku dan cepatlah urus perpisahan kita”, Dwyne menaikan dagunya, “Aku menyesal menurut pada mama dan papa untuk menikah dengan mu, terbukti kan hidup pun hanya menumpang disini”, kata-kata tajam bagai belati menusuk tepat di dada suaminya. “Kau tidak memiliki apa-apa selain hutang pada keluarga ku”, sambungnya.


Dewa menarik napas tidak mau emosinya terpancing dengan mudah meskipun ia sangat ingin membalas kata-kata berbisa istrinya. “Dwyne, aku tidak mau hari-hari kita hanya diisi perdebatan”, kini keduanya saling berhadapan, Dewa dapat menangkap jelas dua d-a-da istrinya yang sedikit menyembul memberontak. “Gantilah dengan pakaian yang lebih nyaman”


“Kamu itu membuang waktu ku, menyingkir”, Dwyne mendorong sedikit tubuh suaminya namun Dewa tidak bergeser sedikit pun.


“Dwyne”, seketika Dewa menghempas tubuh istrinya ke atas ranjang dan mengungkungnya.


“Dewa, kamu apa-apaan?, lepas !”, seru Dwyne


“Menurut lah Dwyne, aku tidak suka tubuhmu dilihat banyak orang”


“LEPAS DEWA KAU TIDAK BERHAK MENGATUR APA YANG AKU PAKAI”, sentak Dwyne terus bergerak di bawah kuasa dokter tampan ini.


“Aku itu suamimu Dwyne, aku berhak atas apapun yang ada pada dirimu”, Dewa mulai meninggikan intonasi suaranya. “Apa perlu aku yang menggantinya untukmu?”, deru4 napas Dewa terdengar jelas di telinga Dwyne.


“Dasar mesum, lepas”, Dwyne yang sebal akhirnya mengerahkan seluruh tenaganya dan benar saja ia menendang kaki Dewa cukup keras hingga suaminya itu mundur beberapa langkah. “Ingat, kata-kataku Dewa, jangan mengatur hidupku. Urus saja hidupmu itu”, Dwyne melangkah pergi dari kamar.


“Dwyne jangan pergi”, panggil Dewa berusaha mengejar istrinya dan menarik lengan mulus itu hingga menabrak dada bidangnya tepat di ambang pintu yang sudah sedikit terbuka. Hingga bagi siapapun yang melihat keduanya nampak seperti berpelukan. “Jangan pergi Dwyne, temani aku di sini”, lirih Dewa.


Tanpa keduanya sadari ada satu pasang mata yang melihatnya penuh luka di ujung tangga, dan seseorang itu langsung berlari turun ke lantai 1 tak kuasa melihat apa yang terjadi apalagi tangan dokter tampan begitu menempel pada kulit pinggang istrinya yang terekspos.


“Telingamu itu sepertinya sudah rusak”, Dwyne mendorong keras tubuh suaminya. “Berapa kali aku katakan jangan sentuh seujung kuku pun, kau tidak diizinkan untuk itu”, ketus Dwyne berjalan angkuh menuruni anak tangga satu persatu.


“Dwyne, jangan pergi”, gumam Dewa.

__ADS_1


TBC


 


__ADS_2