
BAB 71
“Dewa harus tahu keadaanmu sekarang Dwyne”, seru Dariel tak pernah semarah ini sebelumnya.
“Aku rasa dia tidak perlu tahu”,Dwyne menahan tangisnya.
“Dimana otakmu, hah? Anak itu memerlukan ayahnya, dan Dewa harus tahu. Berpikirlah logis, aku tidak mau keponakan ku menjadi korban kalian bertiga. Untuk Dayana serahkan padaku”, Dariel keluar kamar hotel. Sebelumnya meminta Denna meninggalkan mereka, karena bocah itu belum cukup mengerti kehidupan orang dewasa.
Air mata membasahi pipi Dwyne, susah payah ia menahannya sejak dokter menyatakan dirinya hamil, akhirnya luruh juga usai mendengar kata-kata Dariel. Bahkan kandungan Dwyne tergolong lemah, hingga diharuskan mengurangi aktifitas. Dan hal ini hanya diketahui oleh Dariel seorang, pria tampan itu merasakan sesak hatinya mengetahui saudari kembarnya harus mengandung dalam keadaan konflik seperti ini.
Dwyne menyentuh perut ratanya, ia tidak menyangka benih Dewa bertumbuh dalam rahimnya dalam waktu secepatnya ini. “Aku tidak mau anakku memiliki saudara beda ibu”, lirih Dwyne membayangkan Dewa dan Dayana memiliki anak dari hubungan mereka malam itu, terlalu berlebihan memang, namun rasa kecewa dan cemburu menutupi kebenaran yang terpampang nyata.
“Aku rasa kita jangan mengalah pada Dayana, menurutmu bagaimana? Huh, kenapa aku tidak menyadari kehadiranmu”, ucap Dwyne pada calon anaknya yang baru berupa kantung kehamilan.
Ia pun mencari gawainya dalam tas, namun tiba-tiba bayangan Dewa dan Dayana kembali memenuhi isi kepalanya. Dwyne mengurungkan niatnya untuk memberi tahu Dewa.
“Mungkin belum saatnya”, gumamnya.
Dwyne hanya meluruskan punggungnya sembari melihat ponsel, karena sudah terlalu lama melupakan pekerjaannya di perusahaan. Seketika bola matanya berbinar mendapati pesan dari suaminya yang Dwyne sendiri tidak meyangka Dewa tetap memberi kabar.
“Dewa”, tersenyum membaca pesan chat Dewa.
“Ku rasa, perkataan Dariel dan papa benar adanya. Tapi bagaimana...... bagaimana kalau, hah”, tak kuasa melanjutkan kata-kata, lidahnya begitu kelu mengucapkan kata keramat.
“Apa yang harus aku lakukan kalau itu benar terjadi?”, Dwyne menggelengkan kepalanya, ia akan hancur, sehancur hancurnya jika Dayana sampai mengandung anak Dewa, di saat ia telah menyerahkan seluruh kepercayaan dan hatinya hanya pada Dewa dan bersamaan itu pula semuanya runtuh.
Dwyne yang baru pertama kali merasakan debaran pada pria, merasa kecewa akan sikap Dewa yang cenderung lemah pada kakak sepupunya.
“Tidak, kita jangan mengalah pada keadaan. Bukan aku dan anakku yang harus berkorban”, gumam Dwyne menatap pesan Dewa sangat dalam.
.
.
Dwyne , Denna dan Dariel mempercepat kepulangan mereka ke Jakarta, setelah Dwyne sehat dan tak mengalami keluhan, Dariel segera memboyong kedua saudarinya pulang. Ia ingin bertemu dengan Dewa dan mempertanyakan sudah sejauh mana tindakan yang diambil.
__ADS_1
Dwyne terlihat lesu dari semalam, biasanya mendapat pesan chat dari Dewa meski hanya satu kali, tapi hari ini ayah dari calon anaknya tidak memberi kabar apapun, dan ini membuatnya sedih berlebihan.
“Kak. Kenapa? Apa liburan kita kurang?”, tanya Denna sangat polosnya.
“Hah? Bukan”, jawab Dwyne mendapat lirikan tajam Dariel yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Makanlah”, titah Dariel. “Dari pagi kamu belum makan, jangan sampai sakit lagi”
“Hu’um, aku makan”
“Aku ingin memiliki suami seperti kakak, sangat perhatian dan penyayang. Seandainya kita bukan adik kakak pasti aku akan melamar mu”, oceh Denna.
“Aw, sakit”, Dariel memukul kepala adik bungsunya dengan majalah.
“Aku tidak mau menikah dengan perempuan manja sepertimu”, tatap Dariel dengan tajam.
“Hih, kakak pasti mendapat istri yang jauh lebih manja dibanding aku”, Denna menyumpahi kakak laki-lakinya, hingga tawa Dwyne pecah melihat kelakuan saudaranya.
“Sudahlah, kalian ini ada-ada saja”.
.
.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sangat lama, akhirnya malam ini triple D sampai di rumah Bradley. Mama Nayla begitu senang menyambut ketiga anaknya.
“Dariel?”, panggil Dwyne disaat yang lain sibuk dengan Denna.
“Hem, apa?”
“Ku mohon rahasiakan kehamilanku dari papa dan mama, termasuk Dewa”, mohon Dwyne memegang tangan kembarannya.
“Kau gila, aku tidak janji”, Dariel meninggalkan wanita itu di pintu belakang.
“Setidaknya sampai aku yakin jika Dewa tidak melakukannya dengan Dayana”, lirih Dwyne.
__ADS_1
Dwyne bertekad esok hari akan mengunjungi rumah sakit untuk bertemu suaminya dan mengabarkan berita baik. Ia ingin mendengar penjelasan Dewa sekali lagi, begitu pun bukti rekaman CCTV yang pernah dilihatnya dari Papa Ray.
“Kita tidur sayang, besok siang kita bertemu papa”, Dwyne mengusap perutnya.s
.
.
Semua anggota keluarga Bradley berkumpul di meja makan, formasi lengkap hari ini karena Oma Anggi dan Opa Dave baru saja tiba pagi hari untuk menikmati waktu santainya. Suasana rumah benar-benar hangat dan ramai, apalagi Dariel dan Denna bersahutan beradu pendapat.
Oma Anggi memperhatikan cara makan Dwyne yang tidak seperti biasanya bahkan seperti menahan sesuatu, namun hanya diam saja mengamati. Oma Anggi pun tak ingin bertanya lebih.
Pagi hingga siang Dwyne kembali pada rutinitasnya berkerja di G&B, namun Dariel memberinya peringatan tegas bahwa Dwyne harus mengurangi kegiatannya mengingat kondisinya yang lemah. Dariel pun ikut me-reschedule agenda Dwyne, tak peduli pada kembarannya yang tidak setuju. Dan untuk masalah lapangan sepenuhnya dipegang oleh Dariel dan Zayn, sementara Dwyne hanya mengawasi dari kantor.
Dwyne yang terbiasa memiliki segudang aktifitas harus berdiam diri di kantor dengan setumpuk berkas laporan penjualan dan peluncuran iklan baru. Ia yang merasa bosan memutuskan pergi ke GB Hospital lebih cepat, tak sabar bertemu sang suami.
Tapi sangat di sayangkan , karena Dewa tidak berada di tempat. Dokter tampan dan baik hati itu menjalani seminar kedokteran selama 3 hari di Bandung. Dwyne melangkah kecewa keluar dari ruang direktur.
“Nona, ayo kita kembali ke kantor”, ajak Asisten D takut dimarahi oleh Dariel.
“Hem, D, aku ke toilet sebentar”
“Iya nona, aku menunggu anda di sana”, tunjuk D pada lobby rumah sakit.
Dalam toilet Dwyne merapikan rambut ikat ekor kudanya dan mengoleskan pewarna bibir secara tipis, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Dwyne?”, Dayana berjalan angkuh pada adik sepupunya, penampilan dokter koas ini sangat berbeda dari biasanya.
“Dayana?”, Dwyne menaikan sebelah alis.
“Sudah lama tidak bertemu, aku kira kamu menghindari ku, oh aku lupa kamu mencari Dewa?”, nada bicara Dayana sangat tidak enak masuk telinga Dwyne. “Kamu tidak tahu kalau suamimu itu mengikuti seminar? Miris sekali”, Dayana tersenyum sinis.
“Apa? Hey dengar Dayana, rumah sakit ini tempat umum dan ini milik keluargaku, ah maksudku milik keluarga Bradley, dan aku bebas berkunjung kapan saja. Lagi pula kau lupa siapa aku? Aku pengawas kalian, mengerti?”, Dwyne menatap tajam pada Dayana yang tak gentar.
“Ck, sombong sekali”, Dayana membuang wajah ke arah lain. “Ini aku titip untuk Dewa, sampaikan padanya terima kasih”, tersenyum simpul lalu meninggalkan Dwyne dalam toilet.
__ADS_1
“Saputangan?”, batin Dwyne.