
BAB 18
Dewa memberikan satu gelas jus buah yang ia buat sendiri, awalnya Dwyne menolak karena menerima pemberian pria itu sama saja seperti memberi harapan padanya, sama ketika ia memutuskan memakai kalung yang dibeli Dewa, padahal Dwyne melakukan itu semua karena ingin memperlihatkan pada Dayana jika kakak sepupunya itu tidak bisa mengambil apa yang telah menjadi miliknya.
“Lumayan”, tanggapan Dwyne datar usai meneguk satu gelas jus.
Beberapa hari tinggal bersama, perlahan setiap rutinitas istrinya bisa Dewa pahami. Hal apa saja yang dilakukan Dwyne mulai dari bangun hingga tidur malam hari.
“Setiap hari aku akan membuatnya untukmu”, senyum Dewa, tangannya terulur menghapus jejak jus di sudut bibir istrinya.
“Dewa kau .....”, Dwyne mematung mendapat sentuhan di bibirnya. “Tidak perlu, aku bisa minta pelayan membuatnya”, ketus Dwyne menolak jika pada hari-hari berikutnya suaminya akan membuat jus buah.
“Kenapa belum tidur?”, tanya Dewa masih melihat sang istri memainkan smartphone-nya.
“Bukan urusanmu”, tetap menggulir layar 8 inch di tangannya, “Hey, Dewa berikan. Apa-apaan kau ini”, geram Dwyne berusaha mengambil ponselnya dari tangan Dewa karena pria itu mengambilnya, bukan tanpa alasan mengingat malam semakin larut dan istrinya belum istirahat sedetik pun. “Kembalikan Dewa”
“Dwyne, kamu harus menjaga kesehatan tubuhmu. Tidurlah”, memasukkan benda itu ke saku celananya.
“Ck, kau itu keterlaluan. Lagipula besok masih libur untuk apa aku tidur secepat ini, hah?. Kembalikan padaku”
“Tidak, dan kalau mau ambil saja sendiri”
Sontak kedua manik indah Dwyne melebar mendengar ia harus mengambil ponsel mahalnya dari saku celana Dewa.
“Tidak mau”, Dwyne berpaling.
Seketika mengundang tawa renyah suaminya yang seakan tak jera untuk menggoda istrinya ini. Dewa pun melangkah santai menuju sofa bed alas tidurnya.
“Ambil saja Dewa, lagi pula aku bisa mendapatkan yang baru malam ini”, Dwyne memegang telepon hendak menghubungi seseorang, “Ah sial nomor teleponnya aku tidak ingat”, batinnya mengeluh.
Pada akhirnya wanita ini merebahkan tubuh di atas kasur karena kesal pada suaminya yang tidur membawa ponsel miliknya.
.
.
__ADS_1
Keesokan harinya
“Dayana, ada perlu apa kamu di sini”, tanya Dariel melihat kakak sepupunya di lantai 2.
Pria tampan yang memiliki sikap jahil itu memandang risih Dayana yang berjalan bagai setrikaan, Dariel tengah bersiap berolahraga pagi seperti biasanya tetapi setelah keluar kamar mendapati Dayana mengamati pintu kamar saudari kembarnya.
“Aku... aku, ah Dariel kamu mau joging?”
“Hem, kenapa?”
“Aku, aku menunggumu”, senyumnya kaku.
“Ah kenapa aku lupa kalau Dariel pasti akan terbangun jam segini”, ucapnya dalam hati yang berharap adik sepupunya tidak mencurigainya.
Dayana pikir bisa melihat Dokter Dewa di pagi hari tanpa ada Dwyne di sisinya namun prediksinya meleset, karena pagi ini ia akan langsung pulang ke rumah Oma Nilla. Bunda Nayra memintanya pulang pagi-pagi untuk membantunya mengirim pesanan roti.
Tentu saja toko roti yang sebelumnya di kelola Oma Nilla kini di pegang kendali oleh Bunda Nayra.
Usai sarapan Dayana pamit pada Mama Nayla dan Papa Rayden, matanya sedikit mengembun melihat Dewa yang tersenyum sembari menatap istrinya yang dijahili Dariel.
Sementara dalam rumah aksi kejar-kejaran masih berlangsung antara Dariel dan Dwyne, “Dariel awas kamu”, Dwyne menggertakkan giginya.
“Cukup”, seru Papa Rayden pusing melihat tingakah kedua anaknya yang masih seperti anak kecil.
“ Dwyne, sebaiknya kita bersiap. Sebentar lagi kita berangkat melihat rumah yang akan kita tempati”.
Seketika kedua saudara itu tersentak, apalagi Dwyne mendengar rumah yang akan ia tempati lalu semakin membuat Dwyne tidak nyaman karena harus keluar dari rumah ini dan tinggal bedua bersama Dewa.
“Apa?”, lirihnya.
“Aku tidak mau dan tak akan pernah keluar dari rumah ini”, seru Dwyne, “Apalgi harus tinggal berdua dengannya. Ck, tidak akan pernah”, kesalnya dalam hati.
“Sebaiknya kamu ikut Dewa, bagaimanapun dia suamimu”, tegas Papa Rayden berlalu dari ruangan itu.
.
__ADS_1
.
.
.
Setibanya di rumah yang sedang tahap renovasi itu, Dwyne memandang takjub akan desain bangunannya. Rumah yang berdiri di depannya memang tidak sebesar dan semewah kediaman Bradley, tetapi Dwyne tidak habis pikir jika suaminya telah mempersiapkan rumah yang cukup luas untuk ditempati berdua.
“Ini”, tunjuk Dwyne.
“Iya ini akan menjadi tempat tinggal kita”, Dewa menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam melihat ruangan lainnya. Tepat setelah pembayaran pertama Dewa rajin mengunjungi rumah ini untuk mengawasi sudah sejauh mana tahap penyelesainya.
Dwyne menelisik seisi ruangan yang masih sedikit berantakan, dalam hatinya tidak percaya seorang dokter seperti Dewa bisa memberikan tempat tinggal yang sangat layak baginya, apalagi seingat Dwyne, sebelum menikah suaminya ini menyewa satu rumah kecil saja.
“Ini, simpanlah”, Dewa memberi kunci rumah di tangan istrinya.
Dwyne menggeleng pelan, lalu mengembalikan kunci itu, “Tidak Dewa, aku tidak bisa”
“Kenapa? Kita akan tinggal disini, ini milikmu Dwyne. Kamu bebas mengaturnya”, tatap Dewa.
“Aku tidak bisa tinggal berdua denganmu disini”
“Katakan apa alasannya?”
Dwyne enggan menjawab pertanyaan suaminya ini, namun untuk sekarang dan entah sampai kapan ia tidak akan keluar dari rumah Bradley hanya untuk tinggal berdua bersama Dewa.
“Dwyne, katakan apa alasannya?”, Dewa menatap sendu istrinya.
“Kau tahu Dewa, aku menerima pernikahan ini karena terpaksa?, kita akan berpisah setelah semua hutangmu pada perusahaanku lunas. Ingat itu”, tegas Dwyne yang pergi berlalu meninggalkan suaminya di depan rumah.
Dewa hanya bisa memandang nanar punggung istrinya yang semakin menjauh.
Tbc
__ADS_1