Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 101 - Gagal


__ADS_3

BAB 101


Dwyne berjalan bersisian dengan suami tampannya ini, ia sengaja tidak menitipkan Denver pada pengasuh yang mulai masuk sejak pagi tadi. Selain masih rindu pada buah hati, Denver pun masih sangat membutuhkan perhatiannya, serta Dwyne yang akan mulai mencari perhatian dari sang suami.


Dewa membuka handle pintu dan mendorongnya, mengulurkan tangan kanan, sedikit menggerakkan kepalanya, mempersilahkan sang pemilik hati untuk masuk lebih dulu. Netra Dewa terkunci pada Dwyne yang membaringkan Denver perlahan pada ranjang bayi yang tepat berada di dekat sofa bed.


“Kalau kamu lelah, istirahatlah, biar aku menjaganya sampai berangkat nanti”, tawar Dewa pada Dwyne, tapi jangan harap adegan romantis memeluk dari belakang. Dewa hanya bicara dengan nada datar dari ambang pintu. Ia menjaga diri, jika terlalu dekat dengan sang istri pasti tubuhnya tak akan setia dengan apa perintah dari otaknya.


Dewa selalu ingin menggenggam tangan lembut Dwyne, memeluk erat wanita itu, melabuhkan kecupan cinta pada wajah dan seluruh tubuh istrinya.


Mendengar penawaran dari suami yang kini acuh, Dwyne hanya menggeleng lemah sembari menyunggingkan senyum tipis. Ia menolak tawaran itu, bagaimana bisa istirahat jika niatnya saja ingin meraih perhatian pria ini lagi.


“Dewa kamu mau sarapan? Aku ambilkan makanan, kamu tunggu disini”, telapak tangan wanita arogan ini terasa dingin karena gugup. Tentu saja gugup seorang Dwyne baru pertama kali akan berusaha menarik perhatian lawan jenis, sebelumnya tak pernah ia berusaha mencari perhatian, malah banyak pria yang berusaha meraih hatinya namun gagal dan hanya Dewa yang berhasil.


“Jangan. Jangan Dwyne.... pagi tadi aku makan sandwich yang dibawa oleh Sania”, ucap Dewa, pria ini benar-benar jujur pada sang istri.


“APA? SANIA? HAH, KENAPA WANITA ITU LAGI?”, teriak Dwyne di hati, tapi jangan lupa riak pada wajahnya seketika berubah, terlihat sekali menahan amarah namun Dwyne tidak ingin meledakkannya. Dirinya harus bisa mengendalikan emosi yang sangat mudah terbakar. “Setelah Dayana menyingkir, sekarang Sania. Apa aku harus mejadi dokter untuk mengawasi perempuan itu?”, geram Dwyne, menghembus napas kasar.


“Oh”, ucapnya satu kata. Gagal sudah wujud perhatian yang akan ia tunjukan pada Dewa dengan membawakan pria itu makanan. Tapi seorang Dwyne Bradley tidak akan menyerah begitu saja.

__ADS_1


Melangkah masuk kamar mandi, melepas segala kekesalan , bukan berupa teriakan atau melempar barang, tapi Dwyne memaki cermin yang tidak bersalah tanpa kata. Menunjuk-nunjuk benda itu dengan kesal hingga ingin memukulnya sampai retak dan hancur. Tapi tak dilakukan, pasti akan semakin menambah runyam hubungannya, Dwyne harus bisa mengendalikan emosi.


Kepalannya hanya tertahan di udara, 5 cm lagi mencapai cermin terhenti. “Perasaan menyiksa macam apa ini?”, gemas Dwyne masih menahan pita suara mengeluarkan suara teriakannya.


Pada kenyataannya Sania memang selalu membagi sandwich pada rekan sesama dokter dan perawat, bahkan dokter senior sekalipun. Calon dokter itu tak berniat merebut suami orang apalagi Dokter Dewa yang jelas memiliki istri sekelas Dwyne, sungguh Sania bukan lawan imbang jika disandingkan dengan putri Bradley ini.


Lama tak kunjung keluar, Dewa mencemaskan istrinya, inisiatif mengetuk pintu perlahan agar suara bising tidak sampai pada pendengaran Denver.


Tok...tok


“Dwyne, apa kamu baik-baik saja?”, tanya Dewa pelan. Wajah cemas ketara sekali di wajahnya, ia takut terjadi sesuatu, bayangan sang istri yang pingsan pun melintas. “Dwyne buka pintunya”, seru Dewa sekali lagi. Masih tetap tak mendapat jawaban, Dewa mengambil ancang-ancang mendobrak pintu kokoh itu.


“Bukan, bukan apa-apa. Aku.... ke kamar mandi dulu, sudah selesai kan?”, tanya Dewa menahan malu, pipinya menjadi merah. Dwyne sungguh membuat hatinya tak karuan, cemas berlebihan seperti tadi hanya karena tak mendapat jawaban dari Dwyne. “Jangan berlebihan Dewa”, menyandarkan tubuh pada wastafel, melepas pikiran buruknya.


Membasuh wajah sebanyak 3 kali untuk meredakan rasa panas akibat rasa malunya tadi. Dewa berpikir sejenak sebelum keluar kamar mandi, mungkin lebih baik dirinya berangkat ke Universitas lebih cepat dari jadwal.


Dewa keluar kamar mandi tersentak, mematung di ambang pintu, langkanya begitu berat untuk pergi mengikuti perkuliahan. Pemandangan elok, dari pahatan indah tubuh istrinya terpampang nyata di depan mata.


“Sial, kalau seperti ini terus aku tidak bisa menahannya”, ucap Dewa dalam hati yang saat ini merasa serba salah.

__ADS_1


Ya Dwyne, istri Dewa Bagas Darka itu kini memakai dress rumahan yang begitu menampakan sisi lekuk tubuhnya. Dress bertali spaghetti dan berwarna navy sangat padu dengan kulit putih Dwyne, serta wajah angkuhnya semakin memberi kesan seksi menurut Dewa.


Dwyne hanya tersenyum tipis, ia memunggungi suaminya, dan fokus menatap Denver yang lelap dalam tidur. Wanita ini memang sengaja mengganti pakaiannya, selain mencari kenyamanan Dwyne juga berniat menggoda Dewa.


Pria mana, suami mana yang tidak akan tergoda bila tersaji buruannya di depan mata. Dewa pun sama, ia hanya pria normal yang sedang menguasai diri. Hanya seorang suami yang ingin mempertahan rumah tangga, suami yang belum mendapat maaf dari sang istri dari kesalahan yang tidak ia perbuat.


“Ehem”, Dewa membuka satu kancing kemeja, melepaskan rasa gerah dalam tubuh. “Dwyne, kabari aku kondisi Denver. Aku lupa kalau hari ini harus datang lebih awal”, pamit Dewa, mantap melangkah keluar kamar.


Dwyne semula tersenyum penuh kemenangan, harus duduk lesu menatap sendu punggung Dewa yang telah hilang dibalik pintu kamar. Padahal ia sangat yakin jika Dewa tergiur akan kemolekan tubuhnya tapi ternyata salah besar.


“Apalagi yang harus aku lakukan?”, lirihnya sembari mengerucutkan bibir. Tatapannya pun teralih pada Denver, ibu muda ini mendaratkan kecupan di kening putra kecilnya. “Denver, bantu mama merebut perhatian papa ya”, Dwyne mengelus tipis pipi gembul dan kenyal Arkatama Denver.


Sungguh Dwyne rindu akan kehangatan yang diberikan oleh suaminya, rindu akan belai dan perhatian yang selalu Dewa tujukan hanya untuknya. Tapi kemana semua itu sekarang?.


Menjalani pernikahan di tahun pertama dengan beberapa prasangka Dwyne sematkan pada Dewa, dan di tahun kedua pernikahannya kembali diuji, dan yang lebih menguras tenaga saat kehilangan Dafa. Dwyne sangat marah pada Dewa yang tidak datang tepat waktu ke rumah sakit.


“Hah, aku menyesal ma”, lirih Dwyne, menopang dagu dengan tangan kirinya. Ia ingat nasehat Mama Nayla namun dianggap hanya angin lalu akibat terlalu larut dalam kubangan amarah dan kesedihan.


“Dewa, aku sakit harus menerima sikapmu yang acuh”, Dwyne memandang pigura besar pada dinding, foto pernikahannya bersama Dewa. Mungkin jika bisa waktu terulang, Dwyne akan merubah semua sikapnya, ya semua. Jujur rasa bersalah kini merasuk dalam dada, ingat perlakuannya pada Dewa

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2