Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 70 - Sakit ?


__ADS_3

BAB 70


“Kita ke rumah sakit”, Dariel membantu saudari kembarnya memasang sabuk pengaman.


“No, jangan Dariel aku hanya perlu memperbaiki pola makan dan istirahat”, tolak Dwyne.


“Kak Dariel benar. Sudah kak jangan dengarkan Kak Dwyne”, suara Denna begitu khawatir.


“Tidak, aku mengantuk. Percayalah hanya memerlukan istirahat sebentar”, Dwyne menyandarkan tubuhnya di kursi mobil sembari memandangi ke jalan.


Matanya terpejam, tiba-tiba bayangan Dewa melintas dalam benaknya, tersenyum hangat dan mengulurkan tangan. Seketika kedua mata Dwyne terbuka lebar, menoleh ke arah belakang, dan hanya ada Denna yang duduk sembari bermain gawai.


“Dewa”, gumam Dwyne sangat pelan.


“Hah, kau bilang apa Dwyne ? aku tidak dengar”


“Tidak ada, aku ingin cepat sampai hotel”, kembali memejamkan mata.


Dwyne membuktikan ucapannya, ia bisa berdiri sendiri dan berjalan hanya saja memerlukan pengawasan agar tidak jatuh akibat kepala yang berdenyut. Denna pun menawarkan bantuan menjaga kakaknya namun hanya mendapat penolakan, kali ini Dwyne ingin sendiri.


“Baiklah, kakak hubungi aku kalau membutuhkan sesuatu. Aku tidak akan keluar hotel”, kata Denna yang memeluk erat kakaknya.


“Hem, jangan antipati pada kesehatanmu. Telepon kami, atau kau ketuk saja pintu kamarku”, Dariel begitu menyayangi kembarannya walau mereka sering beradu pendapat dan bertengkar. Tumbuh dan hidup selama 9 bulan dalam rahim serta waktu bersamaan membuat keduanya sangat terikat kontak batin.


“Terima kasih Dariel, Denna. Aku menyayangi kalian”, Dwyne mengulas senyum tipis pada bibir pinknya.


Dwyne berbaring miring menatap gedung pencakar langit dari balik kaca, smartphone dalam genggamannya seakan membuat tangan gatal ingin menghubungi Dewa, tapi ia berusaha menepis rasa rindu yang kini semakin tak bisa dikuasai lagi.


“Dewa”, lirih Dwyne, matanya berkaca-kaca dan terpejam dalam mimpi.


**


Jakarta


Dewa telah menyelesaikan kelasnya hari ini, ia pun bersiap pergi ke kliniknya di Kota Bogor. Entah kenapa rasanya daya tarik ponsel dalam saku celana begitu menarik perhatian padahal tidak ada notifikasi berarti, hanya kumpulan pesan dari grup chat yang selalu bergurau saja.


Pandangan matanya terkunci hanya pada satu nama yang kini terlihat berbeda, “Dwyne”, kata hati Dewa begitu kuat menginginkan untuk mengirim pesan pada wanitanya.


“Dwyne, bila memang berpisah seperti ini memberi ketenangan dan membuatmu bisa berpikir jernih tidak apa. Aku akan menunggu sampai kamu bisa memaafkan ku. Aku mencintaimu istriku”


Dewa menarik napas, sedikit berlari menuju area parkir mobil sekaligus menghindari Dayana yang kerap kali menunggunya di depan mobil. Untuk hari ini Dewa merasa aman, karena Dayana masih di rumah sakit.


Beruntunglah Dewa memiliki teman Dokter Cakra yang mendukungnya dan adik ipar serta papa mertua masih menerimanya dengan baik. Oma Nilla pun percaya pada cucu menantunya, Dewa putuskan akan meminta bantuan Dariel untuk membujuk atau bahkan memaksa Dayana melakukan tes.

__ADS_1


Dikatakan frustasi karena berpisah dari wanitanya memang benar, tubuh dan penampilannya menjadi tak terurus, kantung mata pun terlihat, Dewa memang terbiasa memiliki waktu istirahat yang kurang namun tidak di barengi dengan pikiran dan permasalahan seperti sekarang ini.


“Dwyne, kamu membuatku gila”, Dewa menghela napas.


**


Dubai


Sampai sore hari kondisi tubuh Dwyne masih belum membaik bahkan kepalanya semakin pusing. Kamar Denna yang tepat berada di sebrang Dwyne memudahkan remaja itu langsung pindah dan membawa barang-barang pribadi miliknya ke kamar Dwyne.


“Dwyne, kau itu keras kepala, cepat bangun atau aku gendong paksa ke rumah sakit”, seru Dariel kesal karena sudah satu jam saudari kembarnya tidak juga menyetujui ajakan ke rumah sakit.


“Kak, ayolah aku khawatir”, Denna hampir menangis melihat kakaknya, remaja ini selain ceria juga mudah menangis, beda dari kakak perempuannya.


“Ah, aku hanya perlu istirahat”, tolak Dwyne.


Dariel menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Dwyne dan menggendong kembarannya keluar kamar, “Denna bawa tas milik Dwyne, cepatlah aku tunggu di mobil”.


“Iya”, sahut Denna segera memasuki benda-benda penting Dwyne.


Dariel memacu kendaraan roda empat yang di sewanya cukup cepat, sampai membuat gejolak di perut Dwyne.


“Dariel, kau membuat perutku mual”, seru Dwyne.


“Kau mau muntah Dwyne? Sebentar”, Dariel memberi kantung dari dalam dashboard.


“Aku bilang juga apa jangan melewatkan makan, asam lambung mu pasti kambuh”, gerutu Dariel.


“Ya, aku kapok”


“Huh, setelah sakit baru kapok, jangan sampai hubungan pernikahanmu juga begitu. Kau harus bisa menunjukan kalau ikatan diantara kalian kuat. Jangan sampai menangis karena Dewa benar-benar meninggalkanmu dan pergi bersama Dayana”, ocehan Dariel mampu membuat Dwyne menoleh dan terdiam.


“Kak”


PLAK


Denna memukul tangan Dariel dengan tasnya.


“Kak, jelas-jelas kakak ipar salah, untuk apa membantu Kak Dayana”, Denna mengompori Dwyne dan Dariel semakin kesal dibuatnya.


“Hah, percuma saja bicara pada wanita”, keluh Dariel merasa percuma menjelaskan pada kembarannya.


“Ingat Dwyne jangan sampai menyesal”, ucap Dariel pelan, tak ingin kembali mendapat pukulan di otot triceps-nya.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Dwyne hanya duduk di kursi roda yang di dorong oleh Dariel, sementara Denna pergi mencari makanan untuk kakaknya.


“Ayo masuk Dwyne”, Dariel mendorong kursi roda memasuki ruang internis (spesialis penyakit dalam). Keduanya lebih mirip sepasang suami istri jika tidak ada yang mengenali twin D Bradley.


Bukan Dwyne yang bicara keluhannya melainkan Dariel, karena ia yakin Dwyne pasti akan menyembunyikan masalah keluhan yang dideritanya.


“Mari nyonya berbaring”, seorang perawat membantu Dwyne.


Dokter mulai mengarahkan stetoskop pada bagian tubuh yang dirasa memerlukan, serta sedikit menekan bagian perut, kening dokter itu pun mengkerut . Lalu meminta Dwyne melalukan cek laboratorium untuk hasil lebih lanjut.


Dokter menyatakan memang asam lambung Dwyne meningkat namun itu di sebabkan faktor lain, dan ia merujuk Dariel serta Dwyne mengunjungi bagian Obgyn dengan membawa hasil lab.


“Aku kira sebentar, lagi pula ini kan hanya masalah lambung kenapa di rujuk ke kandungan?”, oceh Dariel tidak mengerti jalan pikiran Dokter.


“Ikuti saja Dariel, ini kan ide kamu”, kesal Dwyne harus menunggu kembali, padahal ia sangat ingin istirahat.


“Hah, sudahlah kita tunggu saja sebentar lagi, semoga hasil laboratorium mu baik. Aku akan merawatmu sampai sehat Dwyne”, perhatian Dariel pada kakak kembarnya.


“Terima kasih Dariel”, Dwyne memeluk pria tampan di sebelahnya lalu mencium pipi Dariel.


“Hentikan, orang berpikir bahwa kita itu suami istri bukan saudara kembar”, melepaskan tangan Dwyne yang melingkar di lengan kekar Dariel.


Sebelum memasuki ruang dokter, Dwyne lebih dulu menyantap makanan yang di bawa oleh Denna, cukup membantu meredakan mual dan pusingnya.


Dwyne dan Dariel mengikuti perawat masuk spesialis kandungan.


“Dokter itu kenapa tersenyum”, bingung Dariel baru kali ini melihat Dokter tersenyum karena penyakit yang di derita pasien, ia pun geram pada wanita berjas putih di depannya.


“Tuan, istri anda.....”


“Kami bersaudara bukan suami istri”, sanggah Dariel terlalu kesal. “Hah, lebih baik aku tunggu di luar, cepat katakan dokter ada masalah apa dengan kembaranku”


...TBC...


...*****...


...Udah ya 3 aja 😁...


...Besok boleh libur update?...


...Atau pada nunggu Dokter Dewa?...


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2