Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 88 - Menyampaikan


__ADS_3

BAB 88


Dewa menghembuskan napas kasar sebelum memasuki rumah, sedari siang Dewa tidak hentinya memikirkan kandungan Dwyne yang mengalami masalah. Perlu keberanian dan waktu bagi Dewa menyampaikan kabar ini pada sang istri.


“Istriku dimana bik?”, tanya Dewa sesaat pintu terbuka, fokusnya hanya pada Dwyne.


“Di kamar Tuan, Nyonya bilang kepalanya pusing”, jawab asisten rumah tangga.


“APA? Terima kasih”, Dewa bergegas menuju kamarnya, membuka pintu kamar perlahan dan menyembulkan kepala memastikan keadaan wanitanya yang terlihat sedang tidur.


“Syukurlah”, ucap Dewa. Lalu mendekati Dwyne dan meraba kening wanitanya, suhu tubuh pun kembali normal.


“Dewa, Dwyne harus tahu kondisi kandungannya. Kalau kamu berat memberitahunya biar tante bantu jelaskan”


Kata-kata Dokter Samantha berputar-putar di kepalanya, padahal mereka rutin melakukan pemeriksaan namun memang Dwyne kerap mengalami keluhan selain kandungannya yang lemah.


Bagai tersambar petir, Dewa harus segera menyampaikan keadaaan dua jagoan kecilnya di dalam rahim sang istri yang mengalami kelainan pada fungsi plasenta.


“Anak ganteng papa, kalian yang sehat dan kuat dalam perut mama, dua bulan lagi kita bertemu. Kalian pasti bisa”, bisik Dewa dan mengecup perut buncit Dwyne.


Tubuh Dewa merosot ke bawah ranjang dan duduk menyandar pada ranjang, entah mengapa kehidupan pernikahannya dengan Dwyne dilanda masalah beruntun. Baru bernapas lega dan menikmati indahnya berumah tangga, kembali batu besar menghadang di depan jalan.


“Aku akan menjaga kalian bertiga”, ucap Dewa sangat lirih.


.


.


Pagi datang, saat ini Dewa telah siap mengatakan semuanya pada sang istri demi keselamatan ketiganya. Dewa masih menunggu Dwyne selesai sarapan baru setelah itu mengajak istrinya ke taman samping rumah, agar mencairkan suasana yang menegang.


“Hal apa yang mau kamu katakan Dewa?”, tanya Dwyne usai meneguk habis 2 gelas susu segar.

__ADS_1


“Kita ke taman ya sayang, aku ingin duduk santai di sana”, Dewa mengulurkan tangan membantu wanitanya berdiri dan memapah Dwyne hingga menginjakkan kaki di taman dengan aneka bunga memanjakan mata.


“Ada apa?”, tanya Dwyne masih penasaran.


“Sayang, apa kamu ada keluhan pagi ini?”, tanya Dewa memperhatikan seksama.


Dwyne menggelengkan kepala dan mengedipkan bulu mata lentiknya, “Seperti biasa hanya pusing tapi bukan masalah selama aku bisa berdiri”, mengulas senyum semanis madu pada suami yang dicintainya ini.


“Sayang, ehem, ada yang harus aku sampaikan dan aku minta kamu menerimanya, lalu kita akan hadapi bersama-sama”, kalimat Dewa berputar-putar tanda ia pun kebingungan menyampaikannya, Dewa menggenggam erat kedua tangan Dwyne, mengecup punggung tangan.


“Sayang, akhir-akhir kamu sering lelah, pusing dan beberapa waktu lalu tekanan darahmu tinggi, dan kaki mu juga membengkak”, ucap Dewa.


“Iya”


“Kemarin saat kamu demam, aku langsung bawa ke dokter dan kita melakukan cek lab, juga USG untuk mengetahui masalah apa yang ada”, tutur Dewa lagi.


“Ya, lalu? Semua baik-baik saja kan?”, Dwyne menguatkan hatinya, karena ia yakin apa yang akan di sampaikan Dewa bukan kabar bahagia. “Aku siap Dewa. Aku siap mendengarnya, katakan lah”.


“Apa Dewa? Cepat katakan, jangan buat aku bingung”, ketus Dwyne.


“Kandungan mu mengalami masalah tapi....tapi kita masih bisa mengatasinya sayang, dengan beberapa metode”, ucap Dewa panik.


“Maksudnya?”


“Twin to Twin Transfusion Syndrome”, lirih Dewa.


“Maksudnya janinku bermasalah? Sakit apa?”, kedua mata Dwyne mulai berkaca-kaca, hal ini tentunya yang membuat Dewa sulit bicara karena istrinya begitu sensitif, mudah sedih dan terpancing emosi.


“Dengar dulu sayang. Ini bukan masalah baru namun memang jarang terjadi, dan penyebabnya karena adanya komplikasi kehamilan pada janin kembar identik yang hidup dalam satu kantung yang sama. Lalu, tidak seimbangnya aliran darah di kedua janin karena mereka terhubung pada satu plasenta yang sama”, papar Dewa.


“Iya aku tahu kedua putraku kembar identik tapi aku....., apa maksudnya syndrome itu?”, Dwyne tak kuasa menahan tangis hingga air mata luruh sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


“Itu sebabnya selama ini aku menjaga asupan gizi yang baik untukmu karena salah satu bayi kita kekurangan berat badan. Karena dia menjadi pendonor bagi janin satunya lagi”, jelas Dewa.


“Lalu? Lalu apa yang harus aku lakukan Dewa? Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada anak-anakku”, Dwyne mengusap perut buncitnya.


Kabar yang sangat tak ingin Dwyne dengar, tidak bisakah menjalani masa kehamilan dengan sempurna. Dirinya pun telah mengambil cuti panjang sejak usia kandungan memasuki 5 bulan, bahkan tak pernah lagi datang ke kantor atau bepergian jauh yang menyebabkan dirinya kelelahan.


Kenapa dirinya harus mengalami hal menyesakkan seperti ini apalagi anak kembarnya juga turut menanggung.


“Solusinya kita akan melakukan tindakan, pembuangan cairan ketuban pada janin kelebihan cairan, untuk mempertahankan aliran darah. Ya secepatnya Dwyne, kita harus melakukan itu”.


“Lakukan apa yang terbaik untuk anakku Dewa”, suara Dwyne terdengar pilu di telinga Dewa.


“Tapi Dokter Samantha akan melakukan pemeriksaan lebih untuk menentukan mana yang lebih baik, bisa jadi tindakan yang harus di ambil itu operasi laser agar memperbaiki pembuluh darah yang mengalami kelainan”, papar Dewa.


Sepertinya ia ingin putar haluan mengambil spesialis kandungan jika Dwyne mengalami semua ini, Dewa akan berupaya yang terbaik agar istri dan kedua anaknya selamat. Namun ia percaya Dokter Samantha mampu melakukannya karena beliau dokter senior dan terbaik.


“Kapan aku harus melakukannya?”, tanya Dwyne suaranya bergetar.


“Besok kita ke rumah sakit, kita periksa lebih mendalam. Hal ini sudah aku bahas dengan dokter kandungan”


“Kita pasti bisa melewati ini sayang aku percaya dua jagoan kita akan baik-baik saja”, Dewa menyatukan keningnya dengan Dwyne, menangkup kedua pipi yang basah akibat air mata. Menghapus pipi wanitanya dengan lembut dan mencium kedua kelopak mata Dwyne.


“Jangan terlalu banyak berpikir sayang, serahkan semuanya pada tim dokter. Karena pikiranmu juga berpengaruh pada keadaan janin kita”, Dewa berusaha menenangkan istrinya meski ia pun tak tenang dan gelisah tapi biarlah Dewa yang mengalami bukan Dwyne.


“Tapi Dewa, apa kamu yakin ini akan berhasil dan aku bisa melahirkan dengan selamat?”, tanya Dwyne meminta jawaban pasti, membuat tenggorokan Dewa tercekat, rasanya begitu kering.


“Ehem”, Dewa mencium bibir pink Dwyne sebelum menjawab, “Kita akan lakukan semaksimal mungkin, jangan takut sayang”, jawab Dewa begitu ambigu bagi Dwyne.


“Ck, tidak pasti ternyata”, sinisnya kembali meneteskan air mata.


“Jangan menangis lagi sayang, aku mohon. Bukankah GB Hospital pernah menangani kasus serupa dengan dokter yang sama dan bayinya lahirselamat”, ucap Dewa, ia ingat betul bahwa beberapa minggu setelah bertugas di rumah sakit, Dokter Samantha mengalami masalah TTTS pada salah stau pasiennya dan berhasil melahirkan bayi kembar dengan selamat.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2