
BAB 97
“Non, tuan muda kecil muntah-muntah, badannya merah dan demam tinggi”
Suara asisten rumah tangga yang mengasuh Baby Denver terngiang-ngiang di kepala istri Dewa Bagas Darka ini. Dwyne bergegas meninggalkan cafe dan meluncur ke rumah, menjemput bayinya yang saat ini sedang demam.
Dwyne pun panik melihat wajah putranya yang memerah, sebagai ibu baru Dwyne terlalu cemas berlebihan. Ia menggendong bayi lucu itu dan membawanya masuk mobil, “Sayang, mamah mohon bangunlah”, memeluk erat tubuh mungil Baby Denver.
“Pak cepat bawa mobilnya”,perintah Dwyne pada supir.
“Nona tenanglah, lihatlah badan anda gemetaran, aku khawatir nona”, tutur Asisten D, ia ngilu melihat Dywne menangis dan menggendong bayinya. Assiten D bersiap memasang badan untuk menangkap Tuan Muda Denver bila terlepas dari pelukan ibunya.
“Kau tidak perlu menggurui ku D, kau belum pernah menjadi seorang ibu jadi tidak tahu rasanya jadi aku bagaimana”, teriak Dwyne dalam mobil, hingga bayinya terbangun dan menangis.
“Ahh, maafkan mama sayang”
“Nona maafkan aku”, cicit Asisten D merasa bersalah pada atasannya.
“Kenapa tubuhmu bisa demam begini sayang? Mama cemas Denver”, Dwyne terisak menangis membasahi selimut berwarna putih yang membalut putra kecilnya.
“Nyonya Muda”, seorang perawat membuka pintu mobil dan terkejut karena istri Dokter Dewa menangis dan menggendong bayi.
“Anakku demam, cepat obati”, perintah Dwyne.
“Berikan perawatan terbaik”, perintah Dwyne, ia tak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Karena kini hanya Baby Denver yang mampu membuatnya menepis kesedihan berlebihan akibat kehilangan Dafa.
Perawat pun langsung membawa tuan muda kecil itu ke dalam IGD, tepat di sisi brankar Denver sang ayah sedang memeriksa pasien lain yang juga anak-anak hanya usianya lebih tua dari Denver.
“Dewa?”, lirih Dwyne
Suara yang sangat dikenali dan dicintai oleh dokter tampan ini mampu mengalihkan perhatiannya. Dewa mengalungkan stetoskop di leher, menoleh ke belakang, tersentak mendapati sang istri bercucuran air mata serta buah hatinya terbaring lemah.
“Dwyne”, Dewa langsung menghampiri Dwyne.
__ADS_1
Dwyne memeluk suaminya sangat erat menghapus air mata pada kemeja yang dikenakan Dewa, “ Dewa, Denver sakit”, gugup serta panik ibu muda ini.
“Sebentar, biar aku periksa”, Dewa mengambil alih pemeriksaan putranya. Lalu bergegas mendiskusikan masalah dengan dokter spesialis anak.
“Aku hubungi dokter anak, kamu tunggu disini jangan kemana-mana”, ucap Dewa begitu tegas.
“Tunggu papa sebentar sayang”, mengecup pipi gembul putranya.
Dwyne yang tidak terbiasa menunggu, terpaksa menahan diri karena tak ingin meninggalkan Denver sendirian. Sabar menunggu akhirnya Dewa datang bersama dokter paruh baya, yang langsung membawa Denver ke ruang perawatan khusus bayi.
“Nyonya sebaiknya anda tunggu disini, tidak boleh masuk”, ujar perawat dengan takut.
“Tapi..... tapi dia anakku”, Dwyne memaksa masuk, tak kuasa membiarkan putranya masuk sendirian.
“Dwyne, Dwyne tenanglah. Percayakan semua pada tim dokter”, Dewa memeluk erat tubuh istrinya, membelai lembut kepala Dwyne yang berguncang. Dewa mengurai pelukannya dan menangkup wajah Dwyne, melabuhkan ciuman di kening istrinya. “Tenanglah Dwyne, anak kita tidak apa-apa, dia hanya demam. Aku harus kembali ke IGD, setelah selesai aku temani, tunggu aku Dwyne”, Dewa pun mengecup puncak kepala wanitanya. Membalik tubuh lalu berjalan pelan dengan satu tangan memegang jari lentik Dwyne.
Rasanya Dwyne enggan melepas pria yang selalu membuatnya damai dalam pelukannya. “Dewa?”, lirih Dwyne tak melepas tautan jemarinya. Tidak ada kata ‘sayang’ dalam setiap panggilan menambah rasa di hati semakin sesak dan sakit.
GREP
“Aku..... aku tidak bisa sendirian. Aku membutuhkan mu di sampingku, ku mohon tetaplah disini”, cicit Dwyne kembali menangis.
“Maaf Dwyne, bukan aku tidak peduli. Tapi kewajiban ku di IGD belum selesai, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku pergi dulu, tunggu aku disini”, Dewa melepas jari-jari lembut istrinya dan berjalan menjauhi Dwyne.
“Dewa”, panggilnya tercekat di tenggorokan.
.
.
Dewa telah selesai melakukan tugasnya di IGD, ia berlari cepat, melangkah lebar pada tujuannya yaitu ruang perawatan bayi. Dewa pun menatap sendu Dwyne yang duduk sendirian di bangku panjang.
“Apa sudah ada kabar dari dokter?”, tanya Dewa dan Dwyne hanya menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Ehem”, Dewa duduk di sisi istrinya merangkul bahu dan menyandarkan kepala sang istri di bahunya. “Hasil diskusi ku dengan dokter anak menyimpulkan jika Denver alergi susu sapi, tapi aku masih menunggu hasil cek darahnya”, terang Dewa.
“Dewa aku takut”, Dwyne masih menangis.
“Hey, tenanglah. Denver anak yang kuat, dia akan sehat kembali Dwyne”, Dewa menggenggam erat tangan sang istri di pahanya.
“Aku menyayanginya Dewa, anakku....”. kedua mata Dwyne bekaca-kaca, hidungnya pun merah.
Pintu utama ruang khusus balita ini terbuka, dokter spesialis membawa selembar hasil cek darah, mulai menjelaskan secara rinci pada sepasang suami istri di depannya ini. Rupanya Denver alergi pada salah satu kandungan yang terdapat dalam susu kemasan, namun karena muntah-muntah hingga menyebabkan kekurangan cairan. Dokter merujuk putra Dwyne dan Dewa mendapat perawatan selama beberapa hari.
“Apapun dokter, lakukan yang terbaik untuk putraku”, isak tangis Dwyne.
Dewa dan Dwyne mendapat tugas baru untuk menemukan susu yang sesuai dengan Denver agar tidak menimbulkan alergi lagi.
“Dwyne, kamu kenapa?”, tanya Dewa melihat istrinya beberapa kali memijat pelipis.
“Kepalaku sedikit pusing Dewa”, jawab Dwyne menyandarkan tubuh pada dinding dingin rumah sakit.
“Sebaiknya kamu istirahat, aku antar ke ruangan khusus milik mu”, Dewa memapah wanitanya, memasuki lift yang akan membawa keduanya pada lantai atas area perawatan petinggi rumah sakit.
Ting
Sesaat pintu lift terbuka, Dwyne jatuh dan pingsan, sigap Dewa menahannya dan menggendong istrinya ini memasuki kamar, ”Dwyne bangun, bangunlah. Buka matamu”, memeriksa tubuh Dwyne serta memasang infus.
“Kamu kelelahan”, ucap Dewa pada istrinya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Tak mau buang-buang waktu, Dewa keluar ruangan usai menuliskan sesuatu di atas selembar kertas. Melangkah pasti sekaligus memastikan tulisannya di atas kertas itu, ia juga meminta bantuan pada perawat untuk menjaga istrinya beberapa saat.
Selang 15 menit, Dwyne membuka mata tapi tatapannya berubah sendu kala tak menemukan sosok pria yang dicintainya.
“Kemana Dewa?”, gumam Dwyne sedih, tadinya ia sangat berharap Dewa menemaninya hingga bangun tapi sayang pria itu menghilang sebelum dirinya sadar.
“Mungkin dia jenuh?” monolog Dwyne, merubah posisi tidur menjadi duduk. “Apa kamu lelah Dewa?”, gumam Dwyne hatinya merasa sesak ditinggal sendiri di kamar seluas ini.
__ADS_1
“Maafkan aku Dewa, aku minta maaf”, ucapnya hanya pada kursi kosong dan udara yang lewat di depan hidungnya.
...TBC...