
BAB 29
Keempat orang itu telah sampai di hotel, Dewa memerintah kedua asisten untuk beristirahat sementara dirinya menyusul Dwyne yang lebih dulu masuk kamar tanpa menunggunya selesai bicara pada D dan Zayn.
Dewa hanya menggeleng kepala lemah karena Dwyne tetap seperti biasa berjalan sendiri, melangkahkan kakinya kemanapun ia suka. Tapi Dewa cukup puas Dwyne tidak menolaknya beberapa saat lalu, melihat perubahan sikap Zayn membuatnya harus semakin giat untuk menjadikan Dwyne milik Dewa seutuhnya.
“Dwyne?”, panggil Dewa menyusuri kamar yang tampak kosong, “Lagi-lagi dia menghilang”, gumamnya.
Membuka pintu kaca melihat pada kolam air panas pun tak ada tanda keberadaan istrinya, Dewa pun berlalu untuk membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Kedua bola mata hitamnya mencari Dwyne, dan ya ternyata benar wanita itu sedang berendam dalam bathtub penuh busa.
“Dwyne, kamu baik-baik saja?”, memastikan jika istrinya ini tidak pingsan.
“DEWA, APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?, KELUAR SEKARANG”, seru Dwyne benar-benar terkejut, karena ia tak mendengar derap langkah Dewa, menggunakan headphone menikmati alunan musik hingga membuatnya kaget mendapati Dewa berdiri di sisi bathtub.
“Aku hanya mencari mu Dwyne”, alasan Dewa benar adanya.
“Baik. Sekarang kau lihat aku baik-baik saja bukan? Cepat keluar”, nada suara dingin bercampur kesal.
“Ok”, Dewa berjalan mundur enggan membalik tubuhnya, tidak rela matanya berpaling dari istri angkuhnya.
Selama 30 menit Dewa menunggu sembari memesan makanan melalui room service. Dwyne keluar telah lengkap dan rapi menggunakan pakaiannya. Dewa menepuk-nepuk sisi kursi yang kosong, sedangkan Dwyne melirik malas pada suaminya itu.
“APA?”, tanyanya.
“Aku hanya merindukan istriku, apa tidak boleh duduk bersama?, bukankah kamu janji memberikan kesempatan?”, jawab Dewa.
“Ck, kau itu seperti wanita saja, berisik”, seru Dwyne mendaratkan pantatnya di kursi .
Tidak lama makanan yang dipesan diantar lalu di tata rapi oleh Dewa pada meja kayu di depan keduanya. “Ayo makan”, ajak Dewa selalu menyunggingkan senyum manis pada Dwyne Bradley. “Kamu baru keluar dari rumah sakit, sebaiknya pulihkan dulu tubuh ini supaya bisa kembali kerja, bukankah besok jadwal kerjamu padat?”, Dewa melayani istrinya ini, menyuapi istrinya yang masih menutup mulut rapat.
__ADS_1
“Aku tidak lapar”, hendak berdiri dari duduknya namun tangan Dewa sigap menahan pergerakan istri keras kepalanya ini.
“Dwyne”, tatapan begitu dalam Dewa berikan pada wanita yang kembali duduk.
Malas berdebat akhirnya putri Rayden Bradley membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang diberikan oleh Dewa.
“Dwyne?”
“Hem”
“Apa kalian sering bepergian bersama seperti ini?, maksudku bersama Zayn?”. Tanya Dewa usai keduanya selesai menikmati santapan di atas meja.
“Bisa dikatakan seperti itu”, jawab Dwyne datar.
“Asisten D juga selalu ikut bersama kalian?”
“Aku tidak suka melihatnya bersama mu, apalagi sampai lancang menyentuh istriku ini”, seketika Dwyne menoleh tidak percaya pada Dewa, sorot matanya penuh tanda tanya, “Lupakan apa yang aku katakan”
“Dengar Dewa kami hanya rekan perjalanan bisnis tidak lebih, dan aku bukan wanita murahan yang bisa disentuh oleh pria manapun termasuk DIRIMU”, tegas Dwyne merasa Dewa cemburu dan hal itu tidak seharusnya terjadi apalagi pada Zayn yang sudah jelas hanya seorang asisten pribadi kepercayaan Papa Rayden. “Kau berlebihan, pertanyaan mu tidak masuk akal”, balas Dwyne tidak kalah sengit.
“Dia bilang tidak suka melihatku bersama Zayn?, ck munafik. Aku lebih tidak suka melihatnya bersama Dayana, perempuan tidak tahu diri”, gerutunya dalam hati.
.
.
Malam hari saatnya semua manusia di muka bumi istirahat, memejamkan mata serta masuk dalam alam mimpi, tapi pasangan ini berdebat mengenai ranjang yang hanya 1 walaupun besar Dwyne tidak ingin Dewa berbaring di sisi lain, takut terjadi sesuatu padanya. Sedangkan Dewa tidak tahu tidur dimana karena di kamar ini tidak ada sofa besar yang bisa menampung panjang tubuhnya.
“Dewa turun sekarang juga”, titah Dwyne pada suaminya yang telah naik pada ranjang dan mulai berbaring.
__ADS_1
“Ini luas, bahkan untuk 10 orang pun cukup”, balas Dewa yang mengantuk.
“Dasar gila, kau tidur saja di sana atau pesan kamar lain”
“Kamu tega sekali menyuruh pria yang sudah jelas suamimu tidur di sini tanpa alas apapun”, tunjuk Dewa pada lantai beralas karpet. “Tidak, aku tidak akan pindah ke kamar lain. Tempatku dimana istriku berada”.
“DEWA. KAU ITU KERAS KEPALA”, kesal Dwyne menatap sengit Dewa Bagas Darka.
“Kamu juga keras kepala, apa susahnya berbagi kasur denganku?”, kesal Dewa tak kalah tajam menatap istrinya.
“Menyebalkan, biar aku yang pindah kamar”, Dwyne mengambil ponsel di atas ranjang hendak berjalan keluar kamar tapi Dewa mencekal lengan istrinya, menarik hingga tubuh keduanya saling menempel tak berjarak, hangat serta harum napas Dwyne dapat dirasakan Dewa, aroma bunga mawar sangat memanjakan indra penciuman Dewa karena istrinya itu begitu wangi.
Sejenak keduanya saling bertatapan, aroma mint pun masuk ke rongga hidung Dwyne. Dewa mengalihkan tangannya, merengkuh erat pinggul Dwyne. Satu tangannya bahkan membelai lembut pipi merona istrinya ini menyalurkan kasih dan sayang pada wanita yang selalu berdebat dengannya. Wajah keduanya pun semakin mendekat , hingga jarak tersisa sedikit sebelum kedua benda kenyal menyatu Dwyne mendorong suaminya dan Dewa melepaskan istrinya itu.
“Meskipun kamu pindah ke kamar lain aku akan tetap ada di sisimu Dwyne Juliette Bradley”, suara lembut Dewa mengayun indah masuk ke telinga Dwyne.
“Ehem”
Dwyne memutar tubuhnya dan kembali berjalan menuju ranjang, lalu duduk di atasnya. “Untuk malam ini kau boleh tidur di sana, tapi jauhkan tubuh dan tanganmu dariku”, lanjutnya tak ingin Dewa mendapat angin segar karena mengizinkan suaminya tidur satu ranjang.
“Kamu tenang saja. Kita hanya tidur sampai pagi”, papar Dewa menyibak selimut dan langsung berbaring memunggungi istri cantiknya. Dwyne pun melakukan hal serupa, keduanya berusaha memejamkan mata di atas ranjang yang sama dengan saling memunggungi satu sama lain.
Hampir satu jam Dewa dan Dwyne sama-sama tak bisa memejamkan mata karena detak jantung tak beraturan, Dwyne merasa harus waspada pada suaminya, ia akan memukul Dewa jika pria itu sampai lancang menyentuhnya. Sedangkan Dewa tidak tenang tidur di atas ranjang yang sama dengan sang istri, takut tidak kuasa mengendalikan dirinya. Bagaimana pun juga ia pria normal, apalagi statusnya kini seorang suami.
“Ah sial, kenapa jadi seperti ini”, umpat Dewa dalam hati.
“Awas kau Dewa, akan aku buat babak belur jika berani menyentuhku”, batin Dwyne dengan satu tangan terkepal.
Tbc
__ADS_1