
BAB 34
“Membuang waktu saja”, Dwyne melangkah memasuki kamarnya.
“Dwyne tunggu, aku belum selesai, Dwyne”, panggil Dayana setengah menahan emosi berlari mencegah adik sepupunya masuk.
“Dayana, ada apa?, kalian bertengkar?”, tanya Dariel yang tiba-tiba muncul.
“Tidak ada apa-apa, Dariel”, Dayana memunggungi adik sepupunya itu, menyeka air mata yang jatuh begitu saja, menahan sakitnya hati tidak bisa memiliki pria yang dicintainya.
Di dalam kamar Dwyne tidak marah ataupun melampiaskan emosinya, ia hanya duduk santai di balkon menikmati hembusan angin sore, memeriksa smartphone dan menggulir layar datar itu seketika senyum tipis tercetak di bibirnya walaupun tidak terlihat. Mendapat pesan chat dari Dewa, hanya membaca dan tidak membalas pesan tersebut.
“Kali ini aku tidak ingkar janji, tunggu aku di rumah”
Dwyne berdiri melihat ke arah taman bunga yang tertata rapi dan terawat, sedikit tertawa ingat selama beberapa minggu ini setelah keduanya pindah rumah Dewa selalu memanjakan dirinya
.
.
Karena akhir pekan jalanan sangat padat Dewa belum kunjung tiba di rumah mertuanya, padahal waktu telah cukup malam dan Dwyne menunggunya usai makan malam. Untung saja kali ini ponselnya tidak kehabisan daya, sehingga dapat mengirim pesan pada istri angkuhnya yang mudah terpancing emosi.
“Sebentar lagi aku sampai di rumah papa”
Isi pesan Dewa, pria yang tak pernah mendapat balasan pesan ini tetap mengirimi istrinya kabar tidak ingin kejadian semalam menimpanya, membuat wanitanya menunggu.
__ADS_1
Sampai 45 menit Dwyne menunggu Dewa belum sampai di rumah untuk menjemputnya, putri Rayden Bradley dan Nayla Kei ini terlelap di atas ranjang empuknya, dengan smartphone di tangan. Dewa sengaja tidak menjemput tepat waktu padahal dirinya telah tiba di ibu kota pukul 8 malam. Pria ini datang ke rumah mertuanya sembari membawa satu bouquet bunga mawar merah besar, berjalan menaiki tangga pelan-pelan, tapi sedikit kecewa karena wanita sudah nyenyak ke alam mimpi.
Akhirnya Dewa membawa pulang istrinya itu dalam keadaan tidur. Dayana yang menyaksikan bagaimana sikap suami adik sepupunya ini hanya bisa menangis sembari bersembunyi di balik dinding, mungkinkah waktunya ia menyerah?, tapi keinginan untuk memiliki Dewa sangat besar bagi Dayana.
“Dewa”, lirihnya pelan, lalu kembali masuk ke kamar tamu di lantai 1.
Sementara Dewa yang telah sampai di rumahnya, hanya bisa menatap tanpa berkedip wajah cantik Dwyne, menikmatinya selagi sang istri tertidur karena jika dalam keadaan bangun pasti wanitanya ini akan mengomel dan memasang wajah angkuhnya.
“Aku ke bawah sebentar. Tidurlah yang nyenyak istriku sayang”, Dewa membelai kedua pipi Dwyne, melabuhkan ciuman di kening sang istri dan beranjak turun ke bawah, untuk mengisi perutnya yang sedang menagih asupan makanan.
Namun karena tidak merasa nyaman tidur menggunakan dress yang cukup ketat, istri dari Dewa Bagas Darka ini membuka mata dan menatap sekitarnya, menyipitkan mata saat menyadari jika ini bukan kamarnya di rumah Papa Rayden melainkan kamar di rumahnya.
“Ke kenapa aku disini?, apa Dewa pulang?”, tak mendengar suara apapun dari suaminya, Dwyne memutuskan keluar kamar untuk memastikan dugaannya.
Langkah kaki terhenti sebelum menuruni anak tangga, kedua bola mata melebar, mulut sedikit terbuka lalu menutupnya dengan tangan. Ia tercengang melihat banyaknya bunga mawar merah di sisi kiri dan kanan sepanjang anak tangga. Tersentuh, tentu saja, wanita mana yang tidak menyukai hal manis seperti ini. Jangan ditanya siapa yang melakukannya, pastilah suami dokternya itu karena sedang berusaha mendapatkan simpati dan cinta sang istri.
Tapi lagi-lagi dikejutkan dengan lengan kekar yang memeluknya dari belakang, dengan bouquet bunga mawar besar memenuhi pandangan matanya. “Dewa?”, bukan suara kagum atau senang, melainkan nada suara bertanya bercampur kesal.
“Ya?”
“Ini semua perbuatanmu?”, tanya Dwyne menunjuk pada tangga.
__ADS_1
Dewa hanya menjawab dengan menganggukkan kepala dan memegang bunga mawar di tangannya, karena Dwyne tak juga menerima bouquet besar itu.
“Sejak kapan rumah kita jadi seperti kebun bunga?, seharusnya kau menanamnya di luar bukan di dalam”, ucap Dwyne merusak suasana romantis yang suaminya buat. Wanita ini memang sengaja mencoba menahan apa yang ia rasakan sebenarnya.
Dewa menarik pinggul sang istri yang bergerak maju dari depannya, memeluk tubuh Dwyne erat, menempelkan dagu di bahu istrinya, “Sebentar Dwyne, aku mohon”, ucap Dewa mendapat penolakan dari Dwyne.
“Lepas, kamu ini apa-apaan Dewa?”, mendorong dada bidang suaminya namun tetap tak berpengaruh malah pelukan semakin erat. “Lebih baik cepat bersihkan bunga itu, aku tidak.....”.
Dewa menangkup kedua pipi Dwyne, dan membuatnya berhenti bersuara. Membungkam bibir yang terus mengucapkan penolakan dengan sebuah ciuman, ya ciuman pertama kali bagi Dwyne dan kedua kalinya untuk Dewa. Hanya menempel untuk beberapa detik sebelum pria tampan ini memagut lembut penuh kasih sayang. Sontak kedua mata istrinya semakin melebar, terkejut apa yang dilakukan Dewa benar-benar di luar batas bagi Dwyne Bradley. Tak ingin terlepas degan cepat Dewa menahan tengkuk sang istri, menekan sedikit agar Dwyne tidak mengakhiri aktifitas ini.
Tak ada balasan apapun yang diterima oleh Dewa, karena Dwyne yang terkejut hanya diam saja terus membuka matanya, wajah pria yang paling dihindarinya kini sangat dekat bahkan menempel, napasnya pun dapat ia rasakan.
Dewa melepaskan sejenak istrinya untuk mengambil napas lalu kembali memagut bibir Dwyne yang masih basah akibat ulahnya.
Tbc
Siapa tahu ada yang mau kenalan sama Aileen Dayana Kei
Jangan lupa kasih like dan komen
Hadiahnya ditunggu yaaa
__ADS_1
😁😁