Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 109 - Dering Cinta


__ADS_3

BAB 109


Tok...tok


“Nona permisi, aku masuk”, Asisten D telah mengetuk pintu ruangan beberapa kali namun tidak ada jawaban dari nona bosnya. Akhirnya wanita berkacamata tebal ini langsung membuka pintu dan masuk. Netra hitam dibalik kaca mata menyipit memperhatikan Dwyne yang bersandar lesu di kursi kebesarannya.


“Nona?”


Masih tak ada jawaban dari Dwyne, rupanya wanita cantik itu sedang melamun, pandangannya hanya lurus ke depan tampak memperhatikan satu titik saja.


Asisten D mendekat dan berdiri di samping Dwyne. “Nona? Apa anda baik-baik saja?”, tanyanya lagi.


“Ah ya, apa terjadi sesuatu?”, Dwyne tersentak mendengar suara asistennya itu.


“Nona anda melamun, apa nona baik-baik saja?”


Dwyne ingin sekali menjerit jika ia tidak baik-baik saja, jiwanya berada ditempat lain meski raganya duduk dalam ruangan. Usai saling bertukar kabar melalui sambungan video dengan Dewa beberapa menit yang lalu. Dwyne sebal dan kesal karena di ruangan yang luas tempat seminar banyak sekali dokter muda dengan penampilan cantik berada di sekitar Dewa.


Hatinya seketika terbakar cemburu dan sedih, apalagi ada seseorang wanita yang begitu lembut memanggil nama ‘Dewa’. “Oh akan ku cari tahu siapa wanita itu”, Dwyne mengepal kedua tangan, memukul meja kerjanya pelan.


“Eh nona wanita siapa? Dimana?”, bingung Asisten D.


”D, apa jadwal ku besok padat?”, tan Dwyne.


“Nona hanya memiliki 1 pertemuan di gedung XX pukul 10 pagi setelah itu kembali ke kantor”


Dwyne manggut-manggut mendengar apa yang asisten kepercayaannya ini ucapkan.


Bahkan perut Dwyne yang semula lapar, ia juga berjanji pada Dewa akan makan setelah menerima video call, kini malas mengisi perutnya, suara wanita yang mengganggu tadi begitu meresapi isi kepalanya dan mengganggu rasa lapar pada perutnya.


“Ish, kenapa disana banyak sekali perempuan, huh. Hah tapi mereka semua lebih tua dariku”, Dwyne masih berusaha menenangkan dirinya, untuk tidak menghubungi Dewa kembali dan mengganggu acara seminar pria itu.


“Maafkan aku, membuatmu tak akan menyukai apa yang aku lakukan karena aku begitu mencintaimu Dewa”, gumam Dwyne menopang dagu menggunakan kedua kepalan tangan. “Eh tapi pasti kamu akan menyukainya”, Dwyne berubah tegak dan tersenyum lebar.


Asisten hanya diam saja melihat tingkah aneh nona mudanya, ia tak berani menegur wanita yang selalu baik dan menganggapnya seperti adik ini. Lebih memilih memeriksa berkas yang telah ditanda tangani oleh Dwyne dan segera keluar dari ruangan CMO.

__ADS_1


.


.


Malam hari di rumah keluarga Bradley, suasana hangat sangat terasa di ruang makan. Hadirnya Dariel makan malam untuk hari ini sangat melengkapi keluarga yang penuh kasih dan sayang.


Mama Nayla selalu menggendong Baby Denver meskipun mereka akan menikmati makan malam, sedangkan Dwyne duduk di sisi mamanya memegang tangan dan menggoda Denver hingga tertawa renyah . Dariel pun ikut tersenyum hangat melihat keponakan tersayangnya semakin hari semakin menggemaskan dan tumbuh sehat.


“Hi, Denver. Daddy Dariel punya hadiah untuk mu”, tutur Dariel yang gemar memberi pernak pernik bayi untuk Denver.


“Uncle”, Dwyne mendelik pada kembarannya.


“Daddy”


“Uncle”


“Daddy”


Kedua saudara kembar itu meributkan masalah panggilan, sampai Baby Denver menggerakkan bola mata dari mamanya beralih ke Dariel terus seperti itu sampai menangis karena lelah dan bising mendengar suara keras Dwyne dan Dariel.


“Sudahlah Dariel jangan membuat cucuku menangis”, Papa Ray yang muncul dari belakang Dariel mengacak rambut rapi putra satu-satunya.


Dariel mendengus sebal dan menatap saudarinya dengan angkuh, akhirnya kedua anak Rayden Bradley ini saling menatap tajam sebelum menikmati hidangan malam.


.


.


Selepas makan malam, Dwyne langsung membawa Denver masuk kamar, enggan berdebat hal receh bersama Dariel. Kini Denver pun terlelap tidur di atas ranjang besar dengan selimut abu-abu membungkus dan memberinya kehangatan. “Denver”, lirih Dwyne mencium pipi gembul putranya.


“Mama kangen papa, kenapa papa belum telepon ya?”, Dwyne benar-benar menanti video call dari suaminya. Karena hanya siang ia  melihat wajah Dewa dan mendengar suaranya.


Dwyne mengirimi Dewa pesan jika ia begitu menunggu suaminya dan ingin tahu apa yang dilakukan Dewa sekarang.


“Dewa? Apa kamu masih sibuk? Aku menunggu panggilan video darimu”.

__ADS_1


Cukup lama Dwyne menunggu dan hanya memainkan ponselnya dengan lemas di atas ranjang, akhirnya wanita ini terlelap tidur tanpa sadar hanya menunggu dering panggilan dari Dewa.


Tapi setiap 30 menit sekali Dwyne terbangun, matanya berat terbuka hanya untuk memeriksa notifikasi di smartphone miliknya. Masih tetap kosong tak ada balasan atau riwayat panggilan tidak terjawab dari suaminya. “Huh, Dewa kamu menyebalkan”, gumam Dwyne kembali memejamkan matanya.


Rasanya baru satu menit Dwyne masuk alam mimpi, merasa jika ada benda bergetar di atas nakas, refleks tangannya bergerak dan mengambil serta memeriksanya. Sontak matanya yang sangat berat terbuka segera, segar saat melihat nama pada layar ponselnya.


“Dewa”, girang Dwyne, bergegas turun dari ranjang hingga nyaris terjatuh hanya untuk memastikan penampilan terbaiknya, Dwyne menyisir rambut kusut dan duduk di sofa menerima telepon itu.


“Dewa?”, binar bahagia sangat terpancar dari kedua bola coklat milik Dwyne.


“Sayang maaf”, suara serak Dewa terdengar samar dari ponsel.


Dewa: “Dwyne, maaf sayang. Aku ketiduran, selesai makan malam aku tidur. Maaf sayang, jadwal hari sangat padat”


Jujur Dewa bahkan memang wajahnya terlihat lelah juga belum sempat mengganti dnegan pakaian tidur.


Dwyne: “Dewa mau tahu tidak aku menunggu kamu video call. Ku pikir kemana, kenapa tidak memberi kabar apapun?  Mengirim pesan juga tidak, huh”


Dwyne mengerucutkan bibir pinknya dan tentu saja ini sangat menggoda Dewa di sebrang sana. Dewa pun menyentuh layar tepat pada benda kenyal yang selalu dinikmatinya itu.


Dewa: “Maaf sayang, aku bahkan tidur dengan memeluk ponsel, terserah kamu percaya atau tidak yang jelas seperti itu. Aku akan mengirim kabar tapi ya tiba-tiba tertidur dan ketika bangun mendapat pesan dari istri cantikku ini”


Dwyne mengulum senyum malu dan semburat merah terlihat pada layar datar Dewa, oh sungguh menggemaskan sikap manis ibu dari anaknya ini.


Dewa: “Singa betina milikku”


Gumam Dewa dan sialnya masih dapat terdengar jelas oleh Dwyne, hingga raut wajahnya berubah drastis.


Dewa: “Oh maaf sayang, dimana Denver? Apa malam ini tidur dengan Mama Nayla dan Papa Ray lagi? Kenapa anak itu lebih menjadi adik bagi kita berdua”


Kelakar Dewa tertawa renyah tapi tidak pada Dwyne yang berubah kesal pada suaminya dan kamera mengarah pada Denver yang sedang tidur.


Dewa: “Maaf sayang, jangan marah ya , kamu kan janji tidak mudah terbakar emosi”


Suara lembut Dewa mengayun indah ia lupa jika Dwyne enggan disebut singa betina.

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2