Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 9 - Kagum


__ADS_3

BAB 9


Dewa masih tetap mendapat tatapan tajam dari istrinya, Dwyne menatap penuh intimidasi pada pria yang dengan mudah mengatakan bahwa ia harus merubah panggilannya menjadi ‘Nyonya Dewa’. Wanita cantik ini pun mulai membuka suara, “Dengarkan baik-baik, pernikahan ini hanya atas permintaan papa dan mama, kau tidak berhak merubah panggilan padaku, dan asal kau tahu Dewa aku tidak mau menjadi istrimu selamanya”, ketus Dwyne.


Dewa yang mendengar kata-kata menyakitkan itu langsung menghentikan laju mobil, menoleh tidak percaya apa yang dikatakan istrinya, “Kamu ingin kita berpisah?”


“Tentu saja, mana mungkin aku memiliki suami sepertimu”, tatapan Dwyne meremehkan pria di sampingnya.


“Kita tidak akan pernah bercerai Dwyne, aku pastikan itu”, ucap Dewa tidak kalah dingin dengan istrinya. “Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku”, ucapnya dalam hati.


“APA?, aku akan memastikan kita berpisah secepatnya”, sahut Dwyne tak ingin kalah dari Dewa.


“Dwyne”, Dewa memutar posisi duduknya, menatap istri cantiknya meraih tangan wanitanya dan menggenggam erat. “Aku akan memberi yang terbaik untukmu, berikan aku waktu untuk mendapatkan hatimu”.


“Ck, apa yang bisa kamu berikan?, gajimu?”, Dwyne tertawa meledek suaminya, “Dengar Dewa tidak ada waktu yang aku berikan untukmu”, menarik tangannya dari genggaman Dewa. “Dan dengarkan aku baik-baik”, Dwyne menunjuk suaminya “Kau tidak berhak mendapatkan hati ku”, ucap Dwyne begitu menyakiti hati Dewa.


Tak ingin terlibat perbincangan tidak sehat selama dalam kendaraan, Dewa pun kembali fokus mengendarai mobil dan mengantar istrinya sampai ke rumah, barulah ia menukar kendaraannya untuk pergi ke kliniknya di Bogor. Dewa tidak ingin memanfaatkan fasilitas yang diterimanya hanya untuk keperluan pribadi.


Meski mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari istrinya, Dewa selalu bersikap baik dan mengendalikan emosinya. “Dwyne, aku pamit. Malam ini pulang malam karena aku masih ada jadwal praktik”.


“Pergilah”, sahut Dwyne datar lalu masuk ke dalam rumah tanpa menoleh pada suaminya, sementara Dewa masih setia menatapi punggung istrinya sampai benar-benar menghilang. Dewa bergegas menuju garasi mengambil mobilnya untuk ia kendarai menuju kliniknya di Bogor.


.


.


Pukul 11 malam Dewa baru sampai di kediaman Bradley, tubuhnya lelah sekaligus lemas karena hanya mengisi perutnya dengan sepotong roti siang ini. Dewa pun beranjak ke dapur lebih dulu, meminum susu dan memakan satu buah pisang setelahnya melangkah ke kamar.


Dilhatnya Dwyne terlelap damai dalam balutan selimut tebal menutupi tubuhnya, Dewa mendekati istrinya itu, “Dwyne”, lirihnya. “Bukalah hatimu sedikit saja, aku akan berusaha memberi apa yang kamu inginkan”, gumamnya. Dewa memberanikan diri mengecup kening istrinya.

__ADS_1


Getar pada ponsel mengalihkan fokusnya dari Dwyne, ia pun membuka pesan chat di benda pipih itu, kedua netranya menyipit membaca kata demi kata lalu beralih menghubungi seseorang yang mengirimnya pesan.


“Besok aku datang, siapkan saja semua yang diperlukan”


Dewa mengakhiri perbincangannya di telepon, segera membasuh diri dan merapikan sofa bed yang akan menjadi alasnya tidur entah sampai kapan. Esok ia akan berangkat lebih pagi dari biasanya. “Dwyne, sayang, maaf besok aku tidak bisa mengantarmu”, Dewa kembali mencium mesra kening istrinya.


Pukul 6 pagi Dewa telah rapi dengan pakaian kerjanya, menuliskan secarik pesan untuk istrinya yang ia tinggalkan di atas nakas, berharap Dwyne membacanya. “Aku berangkat Dwyne”


Dewa hanya pamit pada mama mertua serta ayah mertuanya yang sedang lari pagi, ia bahkan melewatkan sarapannya meski Mama Nayla memintanya membawa bekal sarapan.


Sesampainya Dewa di rumah sakit langsung menuju bagian SDM mengisi surat permohonan cuti, ia akan mengambil jatah libur selama 2 hari karena akan menyeselaikan suatu hal yang sangat penting baginya.


**


Sementara di tempat lain, seorang perempuan cantik baru saja terbngun dari tidur nyenyaknya, Dwyne melirik malas ke arah sofa tapi seketika merasa heran karena tempat itu begitu rapi dan tak ada jejak Dewa tidur di sana.


Dwyne yang telah bersiap untuk berangkat kerja menuruni anak tangga satu persatu hingga Dariel menepuk pundak kakaknya, “Bengong”, ucapnya tepat di telinga Dwyne.


“DARIEL”, teriak Dwyne melihat saudara kembarnya berlari menuruni tangga. Seisi rumah telah terbiasa mendengar suara teriakan Dwyne dan Dariel, kedua saudara itu tiada hari tanpa bercanda.


Selama sarapan Dwyne merasa ada sesuatu yang aneh, mama dan papanya bahkan tidak bertanya Dewa kemana, mungkinkah keduanya tahu kemana Dewa pergi?. Beragam pertanyaan muncul dalam benak Dwyne.


“Kenapa sayang?”, tanya Nayla yang melihat wajah putrinya sedikit ditekuk.


“Meratapi nasib ma, kakak ipar pergi pagi-pagi”, tawa Dariel pecah, “Aw, mama sakit”, tangannya mendapat cubitan khas dari Mama Nayla.


“Sarapan Dwyne”, tersenyum manis pada putrinya.


.

__ADS_1


.


Dwyne berangkat ke kantor bersama dengan Papa Rayden, Asisten D dan Asisten Zayn sudah menunggu atasannya di lobby. Zayn langsung mengikuti bosnya berjalan ke arah lift, sementara Dwyne mendengarkan schedule yang dibaca oleh Asisten D.


“Nona satu jam lagi kita harus berangkat ke Cipanas memeriksa kelayakan bahan baku salah satu obat”, ucap Asisten D sembari memakai kacamata tebalnya.


“Oke, siapkan saja semua keperluan yang akan dibawa”.


Papa Rayden yang mendengar itu semua langsung memutar tubuhnya, “Kalian hanya pergi berdua?”, tanyanya.


“Ya”, jawab Dwyne meskipun ada dua bodyguard yang menjaga tetap saja perasaan posesif sebagai seorang ayah selalu ada dalam diri Rayden.


“Zayn, antar mereka ke Cipanas, sekalian buat kesepakatan untuk membeli lahan baru di sana”,perintah Rayden pada asistennya.


“Baik tuan”.


Asisten D tersenyum kaku mendengar jika bos besar memerintahkan asistennya ikut bersama mereka, “Hah, kenapa dia ikut segala sih?”, batinnya menggerutu.


Semua berkas dan kebutuhan yang akan di bawa telah selesai dimasukan dalam tas oleh Asisten D, Dwyne pun bergegas menuju lobby menunggu Zayn. Petugas keamanan sigap membuka pintu mobil untuk anak bos beserta asistennya, sementara Zayn duduk di depan bersama Asisten D menjadi supir lebih tepatnya.


Menempuh perjalanan lebih dari satu jam ketiganya tiba dia area perkebunan luas, Dwyne tidak risih meskipun sepatu mahalnya harus terkena tanah. Para petani sudah menunggu kedatangan nona muda mereka, didampingi seorang perwakilan, Dwyne berjalan mengelilingi area perkebunan sedangkan kedua asisten mengekor dibelakangnya.


Dwyne mendengar dengan seksama penuturan mengenai hasil panen tanaman yang akan dijadikan obat herbal itu, walau bersama seorang petani Dwyne menghormati dan tak menyela satu pun kalimatnya.


Tatapan kagum seseorang berikan di atas bukit atau lebih tepatnya lahan perkebunan lain yang posisinya lebih tinggi. Ia tidak menyangka bisa melihat wanita cantik di area perkebunan, apalagi sikap Dwyne yang sedari tadi diamatinya saat berbincang dengan petani menemaninya meninjau kebun. Semakin kagum pula karena Dwyne tidak mempermasalahkan baju dan sepatunya yang sedikit kotor terkena tanah.


“Dwyne”, gumam seseorang di lahan lain itu.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2