
BAB 52
“Dayana, kenapa kamu seperti itu nak?”, gumam Bunda Nayra memegang dadanya erat.
Merasa gagal mendidik putrinya, padahal ketika mereka semua menginjak remaja Dayana, Dwyne, Dariel, Stephanie, Stefan, Barra dan Bobby dikumpulkan dalam satu ruangan dan semuanya sepakat juga berjanji tidak akan menyukai, mencintai pria atau wanita yang sama. Hal ini dilakukan oleh Rayden, Adam juga Leo mengingat peliknya kisah cinta antar sepupu itu. Sedangkan Denna, Steve dan Brady belum dibicarakan masalah ini karena ketiganya masih terlalu kecil.
Namun kini Dayana memiliki perasaan pada Dokter Dewa yang jelas telah beristri yaitu adik sepupunya, seharusnya ia berbesar hati melepaskan dan melupakan perasaannya pada Dewa.
Dwyne berjalan angkuh meninggalkan Dayana yang hanya bisa menahan emosi juga mengepalkan kedua tangan, ia akui memang salah tetapi mengingat pernikahan adik sepupunya itu atas dasar perjodohan serta keterpaksaan maka Dayana bertekad merebut Dewa dari Dwyne.
“Membuang waktuku yang sangat berharga saja, tidak tahu malu”, umpat Dwyne sembari berjalan.
“Kenapa lama?”, suara Dewa mengagetkannya yang berjalan fokus. “Aku menunggumu Dwyne”.
“Kamu ini seperti hantu tiba-tiba muncul. Huh, aku mau pulang”, ketus Dwyne tak menggubris Dewa yang menatapnya aneh.
“Dwyne kamu kenapa?, katakan ada apa?”.
Inilah alasan Dwyne malas mengunjungi Oma Nilla di rumahnya karena selalu teringat wajah Dayana, sebetulnya Dwyne merasa tidak tega tapi bagaimana kakak sepupunya itu secara terang-terangan ingin membuatnya menjadi janda muda.
“Tidak. Sebaiknya kamu diam Dewa”, seru Dwyne semakin ketus.
“Wanita makhluk paling spesifik dan sulit dimengerti”, lirih Dewa berjalan di belakang istrinya.
“Ma, Pa, aku pulang . Aku tidak enak badan”, bohong Dwyne yang ternyata suasana hatinya dirusak oleh Dayana.
“Tapi sayang?”, cegah Mama Nayla.
“Biar saja, mereka kembali ke rumah”, Papa Rayden memberi bahasa isyarat pada istrinya untuk tidak ikut campur dalam rumah tangga putri mereka, pria yang merajai bisnis perhotelan ini mengetahui jika telah terjadi sesuatu pada putrinya entah itu apa, dengan siapa. “Dewa jaga putriku”, ucap Papa Ray datar dan dingin.
__ADS_1
Memerlukan waktu lebih dari 30 menit Dwyne dan Dewa sampai di rumah keduanya menggunakan jasa taksi online. Awalnya Papa Ray menghubungi supir namun Dwyne keras kepala ingin segera pergi dari rumah omanya tanpa harus menunggu supir datang.
“Hanya makan siang tetapi tenaga ku terkuras”, gerutu Dwyne menaiki anak tangga satu per satu.
Dewa yang hanya diam tetap mengikuti langkah kaki sang istri memasuki kamar mereka, tidak tahu apa penyebab mood seorang Dwyne Bradley berubah, sudah mudah terpancing emosi kini suasana hatinya buruk. Dewa harus bersiap menerima apapun yang akan dilakukan Dwyne.
“Aku mau tidur saja”, Dwyne menenggelamkan kepala pada bantal dan menarik selimut di sore hari ini menutup sekujur tubuhnya dengan benda itu.
“Dwyne apa kamu tidak gerah?, udara di luar panas”, Dewa membuka kancing kemeja dan membukanya hendak mengganti dengan pakaian santai.
“Hati ku saja sudah gerah jadi biar semakin panas dengan selimut ini, huh”, oceh Dwyne.
“Kenapa?, kamu bisa berbagi denganku. Apa Asisten D memberi kabar buruk?”, Dewa mendekat dan berdiri di sisi sang istri, menarik selimut hijau dari pegangan Dwyne.
“Diam lah Dewa, semua ini juga karena kamu”, sentak Dwyne tanpa mau melonggarkan pegangan selimutnya. Sementara Dewa yang mendengar kalimat istri tercintanya hanya melongo, ia bingung padahal tidak melakukan apapun tapi kenapa Dwyne marah padanya.
“Aku kenapa?, rasanya tidak membuatnya marah hari ini”, batin Dewa dan mulai menyusun semua kegiatan yang ia lakukan mulai dari bangun hingga pulang ke rumah. “Dwyne, katakan saja apa salahku?”, pinta Dewa yang kini berjongkok dengan satu kaki di sisi ranjang.
Dewa yang bingung sekaligus mulai terpancing emosinya mendengus kesal karena Dwyne teramat sulit dimengerti, ia pun menarik kuat selimut hijau yang menempel di kulit tubuh Dwyne Bradley.
“Apa maksudmu Dewa?”, mendelik kesal.
“Aku tidak mengerti dimana salahku Dwyne?, katakan aku akan berusaha merubahnya”, pinta Dewa.
Melempar selimut hingga teronggok di lantai, Dwyne berdiri sembari bertolak pinggang, “Seharusnya kamu tidak ikut ke rumah oma. Bertemu Dayana sampai memberinya kesempatan melayani di meja makan, lagipula kenapa kamu tidak makan makanan di dekatmu saja sampai ingin sekali makan udang saus padang masakan Dayana dan membiarkan dia menyimpannya di piring punyamu”, Dwyne menatap serius suaminya ini. “Semua pria sama saja, kalian memang makhluk paling egois”, oceh Dwyne tanpa henti.
Dewa menundukkan kepalanya, bukan takut atau merasa bersalah melainkan tertawa tipis rupanya istri cantik nan angkuhnya sedang cemburu. Dwyne terus mengomel tanpa henti dan jeda, sepeti kalimat tiada titik dan koma.
“Sudah?”, tanya Dewa melihat istrinya bernapas cepat hingga bagian dada naik turun. “Jadi istriku ini cemburu begitukah?”, suara lembut Dewa mengayun indah di telinga Dwyne.
__ADS_1
“APA? Cemburu? Siapa?”, membalik tubuhnya menghadap jendela kamar.
“Kamu, apa cemburu ini tanda cinta?”, Dewa semakin menggoda istrinya.
“Cinta, cinta apanya?”, tanya Dwyne yang memang tidak menyadari perasaan dari lubuk hatinya.
Dewa memutar tubuh wanitanya, menggenggam erat kedua tangan Dwyne. “Aku dan Dayana tidak ada hubungan apapun, kami hanya sebatas rekan kerja, senior dan junior. Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, Dwyne percayalah”.
Dwyne hanya bergeming mendengarnya, kini ia bingung harus berkata apa, dan merasa malu karena tidak bisa menahan apa yang ingin hatinya katakan. “Ah Dwyne ceroboh”, merutuki dirinya.
“Kenapa sayang?”, tanya Dewa setengah berbisik. Mengangkat dagu lancip Dwyne dengan ibu jarinya hingga keduanya saling bertatapan. Dewa pun membelai penuh kasih sayang wajah istrinya yang semakin cantik setiap saat.
“Dwyne aku mencintaimu”, memagut bibir manis sang istri menyalurkan rasa cinta, perlahan namun pasti pagutan itu berubah menjadi sedikit liar. Dwyne pun membuka sedikit bibirnya mengizinkan sesuatu menerobos masuk dan mengeksplor bagian dalam .
Merasa ada gelenyar aneh yang merambat naik ke sekujur tubuhnya, Dwyne berpegangan pada tubuh kekar Dewa. Lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher sang suami, benar-benar menjadikan Dewa sebagai sandaran, akibat kakinya lemas.
Tangan kiri Dewa pun kini mulai menyentuh bagian punggung Dwyne mengusap lembut sepanjang tulang punggung, memberi sensasi geli sekaligus candu bagi Dwyne.
Dewa melepaskan pagutannya karena benar-benar kehabisan oksigen, Dwyne pun sama. Keduanya bernapas terengah-engah menghirup sebanyak-banyaknya udara. “Sayang, Dwyne katakan kamu mencintaiku !”, bisik Dewa membuatnya meremang.
“A-apa?”, gugup Dwyne sangat gugup luar biasa. Ingin berlari tapi kaki serta anggota tubuh lainnya seakan mengkhianati.
Dewa bahkan tak melepas punggung Dwyne dari sentuhannya, rasa geli yang diberikan pun tanpa terasa membuat wanita cantik ini melenguh.
"Dwyne, bolehkah?
"Ma-maksudmu?"
"Jadilah milikku seutuhnya", Dewa merebahkan tubuh Dwyne di atas ranjang.
__ADS_1
...TBC...