
BAB 19
“Dewa cepatlah”, panggil Dwyne yang sudah duduk di kursi penumpang, “Aku ingin pulang”, suara datarnya tanpa menatap suaminya yang berdiri tepat di samping mobil.
“Baiklah tuan putri, aku akan mengantar kemanapun istriku ini pergi”, Dwyne mendelik karena Dewa masih tetap sabar menghadapi tingkahnya yang menyebalkan.
“Sebaiknya cepat, aku tidak suka menunggu”
Dewa tersenyum menanggapi istrinya, perlu memiliki kesabaran seluas samudra bahkan lebih karena nampaknya Dwyne masih belum bisa membuka hati untuknya.
“Mau langsung pulang?”
“Huum, bisa lebih cepat?. Kau itu sangat lamban”, kesal Dwyne. “Hey mau kemana? Kenapa kesini?”, tanyanya merasa terkejut karena Dewa mengendarai mobil ke arah lain.
Tak mendapat tanggapan apapun dari Dokter Dewa, Dwyne terus saja bertanya tanpa henti sampai keduanya memasuki basemen parkir area mall.
“Untuk apa ke sini?”, melihat sekitarnya. “Dengar Dewa sebaiknya bawa aku pulang sekarang”, seru Dwyne semakin lama suaminya ini sangat menjengkelkan.
“Sayangnya aku tidak bisa dan tidak mau, maaf Dwyne”, seringai pada wajahnya.
“APA?, hey”, menatap suaminya yang turun lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuknya.
“Ayo turun, kita nonton film”, ajak Dewa mengulurkan tangannya.
“Tidak mau”, membuang wajah ke arah lain.
Tidak kehabisan akal dan cara membujuk istrinya, kali ini Dewa tidak akan menuruti permintaan istrinya. Ia akan melakukan sedikit aksi nekat agar Dwyne ikut dengannya.
“Turun sekarang dan berjalan atau aku akan menggendong mu sampai masuk bioskop?”, tawar Dewa tersenyum jahil. “Ehem, aku harap kamu memilih opsi kedua”.
__ADS_1
Sontak Dwyne mendelik ke arahnya, dengan mulut sedikit terbuka wanita ini menggelengkan kepala pelan. “Kau tidak akan mungkin berani melakukanya”, menatap tajam suaminya.
“Perlu bukti?”
“Coba saja, semua hanya omong kosong”, sedetik kemudian wanita cantik nan angkuh itu menjerit karena tubuhnya sudah melayang di udara, Dewa menggendongnya ala bridal style berjalan menuju pintu masuk, “Dewa, cepat turunkan aku. Dewa”, Dwyne memukul dada bidang suaminya cukup keras, tapi Dewa tetap pada pendiriannya akan menurun Dwyne saat mereka tiba di bioskop.
“Ya ampun, mereka semua memperhatikan kita, memalukan sekali ini”, Dwyne menyusupkan kepala pada dada suaminya. “Awas kau Dewa”, batinnya mendengus kesal.
Sementara Dokter Dewa hanya tersenyum penuh kemenangan, apalagi kepala Dwyne terasa menempel di dadanya, dapat dipastikan istrinya itu mendengar detak jantungnya yang semakin cepat akibat gugup.
“Ini sudah di bioskop cepat turunkan aku Dewa”, kesalnya.
“Ok, tapi temani aku menonton film”, Dewa mengedipkan sebelah matanya.
“Ck, sepertinya kau harus memeriksakan matamu itu”, ingin sekali wanita ini memukul wajah tampan suaminya, “Jadi ini sifat aslinya selalu menggoda perempuan, ah jangan-jangan mantan kekasihnya juga banyak”, ucap Dwyne dalam hati.
“Kamu mau menonton film yang mana?”
“Hem”, datarnya. Dwyne bukan tidak menyukai menonton film hanya saja pergi ke bioskop seperti ini adalah hal baru baginya. Biasanya mengunjungi mall hanya untuk belanja dan menjernihkan pikirannya namun hal berbeda saat bersama dengan Dewa. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dalam otak cerdiknya. Dwyne tersenyum tipis dengan pemikirannya itu, hal ini tertangkap oleh kedua mata Dewa.
“Ayo masuk”, Dewa menautkan tangannya pada jemari lentik Dwyne.
“Ish, lepas”, melotot pada Dewa, “Dewa kau ingat ya jangan menyentuhku seujung kuku pun”.
“Lihatlah”
“Apa?”, ketusnya sembari memajukan bibir, namun Dwyne mengikuti arah pandang suaminya yang menuju pada banyak pasangan kekasih atau suami istri duduk bersama, berpegangan tangan, memeluk. Pemandangan itu membuat seorang Dwyne Bradley bergidik geli, “Apa-apaan mereka itu?”, gumamnya.
“Apa kamu ingin juga seperti itu ?”, tunjuk Dewa pada pasangan lain. Tidak menunggu jawaban sang istri, Dewa merengkuh pinggang ramping Dwyne dan memeluknya erat. Seketika wanita itu pun tersentak dan ingin menjauh namun seperti biasa Dewa selalu posesif terhadap istrinya ini, ditambah lagi beberapa pria memandang penuh puja pada putri sulung Rayden Bradley ini.
__ADS_1
“DEWA KAU”, desisnya sebal.
“Film sebentar lagi mulai, sebaiknya kita langsung masuk saja”, keduanya berjalan menuju pintu masuk teater tanpa Dewa melepaskan pinggang istrinya. “Hati-hati Dwyne”, khawatir Dewa istrinya terjatuh karena keadaan sekeliling cukup gelap.
“Iya Dewa, kau pikir aku tidak tahu keadaan bioskop seperti apa”, gerutu Dwyne yang berjalan tepat di depan suaminya. Dewa tersenyum mendengar ocehan istrinya ini, mereka pun duduk di kursi khusus penonton. Dwyne memandang risih ke depan, sisi kiri dan kanan, lalu belakang, “Apa ini yang namanya kencan?”, batinnya.
Dewa mengulurkan tangan pada Dwyne, “Hey, aku hanya menonton film, bukan berpegangan tangan”, ketus wanita ini.
“Bukankah kamu belum pernah berkencan?, anggap saja ini kencan pertama, dan pegang lah”, papar suaminya.
“Dewa jika kau menyebalkan seperti ini aku akan pulang sekarang juga”
“Tidak akan bisa Dwyne karena aku akan menghentikannya”, Dewa tersenyum manis dan memandang dalam wajah cantik istrinya.
Tidak berselang lama film yang dipilih pun mengalihkan fokus kedua insan ini, sampai dimana ada adegan khusus pasangan, Dwyne dan Dewa dibuat kikuk melihatnya. Wanita angkuh ini berpaling ke sisi lain, menghindari pemandangan yang membuat kedua matanya tercemar.
“Ya ampun, apa-apaan dia itu memilih film seperti ini?, benar-benar keterlaluan”, gerutu Dwyne dalam hati,
“Kamu membutuhkan sesuatu?”, tanya Dewa.
“TIDAK”, mengibaskan tangan, “Dewa apa tidak ada film lain selain ini?, kenapa kau memilih cerita seperti ini, huh?”, bisiknya.
“Kenapa?, bukankah tadi kamu yang memilihnya?, benar kan?”
Dwyne mengingat beberapa saat sebelum memasuki bioskop dan memang benar adanya ia mengumpat dirinya sendiri tidak melihat genre film yang pilihnya. Sampai harus menonton hal-hal romantis di layar berukuran besar itu.
“Ah bodoh kamu Dwyne”, batinnya.
Dewa tak menanggapi istrinya yang nampak sedang mengingat dan berpikir, ia mengulum senyum karena tahu apa yang istrinya rasakan sama sepertinya dirinya, keduanya pun semakin dibuat salah tingkah sampai pemutaran film itu berakhir.
__ADS_1
Tbc