
BAB 90
Satu bulan setelah proses operasi laser endoskopi, Dwyne tidak mengalami keluhan seperti sebelumnya. Tubuhnya cenderung fit dan kondisi kedua janin dalam kandungan pun mulai membaik, mendapat asupan nutrisi cukup dari sang ibu serta berat tubuh yang berangsur meningkat pada salah satu janin yang memiliki bobot kurang.
Namun Dwyne masih tetap dalam pengawasan tim dokter sampai jadwal melahirkan yang telah diperkirakan.
Dokter Dewa pun sedikit tenang meninggalkan istrinya, apalagi jadwal perkuliahan mulai padat memasuki semester 2.
“Sayang hari ini aku pulang malam, maaf tidak bisa menemanimu di rumah. Mau ke rumah mama?”, tawar Dewa, tidak tega wanitanya harus sendirian di rumah walaupun ada beberapa asisten rumah.
“Boleh, aku mau menginap di sana, kangen masakan mama”, Dwyne memeluk tubuh Dewa dengan perutnya yang semakin membuncit.
“Aku siapkan obat dan vitamin yang harus di bawa ya”, Dewa begitu telaten mengurus istrinya, tak ada satu hal pun yang tidak diperhatikan. Wujud cinta Dewa sangat Dwyne rasakan melalui tindakannya.
Dewa mengemas obat dan vitamin penting bagi istri serta kedua anaknya, tidak lupa stok susu sapi segar yang ikut di angkut ke rumah mertua.
“Ayo sayang semua sudah siap”, ajak Dewa.
.
.
Dariel menunggu kembarannya di depan rumah, ia sigap membantu Dwyne berjalan melewati setiap undakan anak tangga.
“Selamat datang kakakku yang cantik”, Dariel mencium pipi saudarinya.
“Dariel”, lirih Dwyne.
“Hey Dewa tidak akan cemburu, kita itu juga pernah hidup polos tanpa pakaian di dalam perut mama”, gurau Dariel seketika mendapat cubitan kepiting dari Mama Nayla.
“Fokuslah belajar Dewa, mama akan menjaga Dwyne dengan baik, hari ini Oma Nilla dan Bunda Nayra juga berkunjung ke rumah, mungkin siang sampai”.
“Terima kasih ma, maaf selalu merepotkan mama”, Dewa begitu sungkan pada Nyonya Bradley satu ini, sikapnya selalu ramah dan baik sejak awal Dewa mengenalnya. Sosok ibu yang sempurna menurut Dewa.
Dewa mengantar Dwyne sampai ruang keluarga, tentu dengan Dariel yang membawa tas berisi perlengkapan ibu hamil.
“Aku berangkat sayang, hubungi aku selalu jika kamu merasa rindu”, Dewa mencubit hidung bangir sang istri.
“Ish, aku tidak akan mungkin merindukanmu tahu tidak?”, ketus Dwyne.
“Sekarang istriku ini sangat manis saat marah”, mencium bibir Dwyne.
“KALIAN”, seru Dariel. “Bisa menjaga perasaanku tidak? Aku ini jomblo, papa dan mama belum berniat mempertemukan ku dnegan jodohku”, kesal Dariel lantas memisahkan keduanya. Berdiri tepat ditengah-tengah Dewa dan Dwyne.
“Awwww, sakit mah”, Dariel memegang telinganya yang di jewer Mama Nayla.
“Jodohmu itu belum siap menikah”
__ADS_1
“Aku juga belum siap, tapi setidaknya bisa pendekatan dulu mah”, ucap Dariel membuat ketiga orang di ruang keluarga merasa gemas.
“Asisten D sepertinya cantik jika di bawa ke salon”, senyum Dariel.
“Jangan sentuh asistenku Dariel”, ancam Dwyne.
“Fokus pada perusahaan dulu baru menjalin hubungan dengan wanita”, suara Papa Ray yang menuruni anak tangga.
“Kalau Tuan Besar yang bicara aku bisa apa, terserah papa yang pasti pilihkan aku jodoh yang baik dan kalau bisa seorang dokter”, teriak Dariel sembari melangkahkan kaki keluar rumah.
Dewa pun turut pamit pada kedua mertuanya juga istri arogannya, “Jangan lupa hubungi aku sayang dan aktifkan selalu ponselmu”.
.
.
Siang hari Dwyne duduk santai di taman belakang rumah bersama Mama Nayla, mereka berdua tertawa bahagia membuat rumah semakin hangat.
Suara Oma Nilla bisa Dwyne dengar karena terus memanggil namanya, “Dwyne cucuku dimana?”
“Oma, ini Dwyne”, Dwyne memeluk tubuh sepuh ibu dari mamanya.
Oma Nilla membelai perut Dwyne, menyayangi cicitnya di dalam sana. Bunda Nayra pun ikut bergabung bersama ketiga wanita itu dan tertawa bersama, hingga satu suara yang Dwyne kenal mengalihkan perhatiannya.
“Bunda ini simpan dimana?”
Keduanya saling bertatap, Dayana menyunggingkan senyum kaku begitupun dengan Dwyne yang terlihat canggung bertemu kakak sepupunya.
“Apa kabar Dayana?”, tanya Dwyne.
“Baik, aku senang kamu sehat, semoga keponakanku juga selalu sehat”, ucap Dayana tulus.
Saat ini dirinya disibukkan dengan kegiatan intership di salah satu rumah sakit Kota Semarang. Sejak lulus, Dayana mengutarakan niatnya untuk pergi menjauh dari kehidupan Dwyne dan Dewa. Awalnya Bunda Nayra tidak setuju namun seiring berjalannya waktu memberi izin putrinya tinggal jauh.
Dayana pun turut bergabung dengan para ibu yang berbincang hangat, ia memotong cake yang dibuatnya untuk dirinya sendiri, karena obrolan membuat bosan.
Dwyne pun sibuk membaca buku bisnis, tidak tertarik bicara padanya. Namun Dayana menangkap sesuatu dari wajah adik sepupunya itu.
“Dwyne kamu baik-baik saja?”, tanya Dayana tiba-tiba perbincangan para ibu terhenti.
“Ya Dayana tentu”, Dwyne berdiri, sigap Dayana membantu memegangi pinggang dan tangan adik sepupunya. “Terima kasih kak”, ucap Dwyne.
“Sama-sama”
“Aku mau minum susu”, jawab Dwyne.
“Biar aku yang membuatnya, dimana susunya?”
__ADS_1
Dwyne hanya menunjuk ke arah dapur tanpa menjawab, Dayana yang mengerti segera membantu adik sepupunya. Saat sedang memanaskan susu sapi segar, Dwyne menyusulnya dan duduk di kursi dekat meja.
“Shhhh”, suara ringisan Dwyne.
“Eh kamu kenapa menyusul?”, tanya Dayana masih tetap fokus pada susu sapi yang ia tuang ke dalam gelas.
“Aku bosan kak”
“Ini susunya, tapi masih panas. Dwyne? Kamu baik-baik saja? Ayo aku antar ke rumah sakit”, Dayana memeriksa wajah adik sepupunya yang sedikit berkeringat.
“Ya.....ya, Dayana kenapa?”, lirih Dwyne menahan sesuatu.
PRANG
Suara pecahan gelas dari atas meja yang tersenggol oleh Dwyne, wanita hamil ini memegangi perutnya yang terasa nyeri.
“Ah, kak perutku sa-sakit”, keluh Dwyne dengan mencengkram kuat tangan Dayana.
“Mama, Bunda, Oma”, teriak Dayana.
“Kenapa sayang, kamu kenapa?”, khawatir Mama Nayla, “Dayana minta supir siapkan mobil, Dwyne harus ke rumah sakit”.
Di dalam mobil Dwyne mengeluh sakit pada perutnya bahkan tanda kuku menancap begitu terlihat di kulit tangan Mama Nayla.
“Tahan sayang, sebentar lagi sampai”
“Pak bisa lebih cepat”
Mobil yang ditumpangi Dwyne tiba di depan IGD, segera petugas medis membantu. Dokter Samantha pun telah menanti keponakannya.
Bagai dejavu bagi Mama Nayla, ia berharap kedua cucunya lahir selamat.
“Dimana Dewa?”, tanya Mama Nayla.
“Dewa sudah selesai jam praktiknya Nay”, jawab Dokter Samantha.
“Ummm, Dayana tolong bantu mama hubungi Dewa, katakan Dwyne masuk rumah sakit”, tangis Mama Nayla.
Dwyne langsung di bawa memasuki ruang tindakan, “Sakit mah”, lirik Dwyne lemas.
“Maaf sayang, mama memerlukan sampel darahmu”, Samantha langsung mengambil darah Dwyne dan mengirimnya ke laboratorium.
Melakukan pengecekan USG pada perut Dwyne, “Tenang sedikit Dwyne”, ujar Samantha.
Sontak keuda mata Samantha melotot melihat layar di depannya, tangannya pun bergetar memegang transducer.
“Tante bayiku baik-baik saja kan?”, seru Dwyne.
__ADS_1
...TBC...