
BAB 26
“Ayo Dayana”, ajak Dokter Cakra pada salah satu dokter koas yang sangat dekat dengan para dokter senior ini.
“A apa?”, Dayana tersadar dari lamunannya dan bergerak mengikuti Dokter Cakra menuju ruang praktiknya, “I iya dokter”, berjalan malas mengekor dokter satu ini, angannya ingin Dewa yang membantu tetapi pria itu secara terang-terangan menolaknya dan kini ia harus bersama dokter lain.
Sampai di ruangan pun Dayana tidak langsung bertanya melainkan diam, “Apa yang ingin ditanyakan?, apa kamu kecewa karena aku menggantikan Dokter Dewa?”.
“Iya”, sahutnya lemas, “Eh maksudku bukan seperti itu dokter”, Dayana tersentak dengan jawabannya sendiri.
“Baiklah, aku tetap akan membantu mu, apa saja yang mau kamu tanyakan?”
Hampir 1 jam 30 menit lamanya Dayana bertanya pada Cakra, ia ingin mengakhirinya namun pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa masih berderet panjang ke bawah, dan Dayana terpaksa harus menyelesaikannya.
Ditengah-tengah fokusnya bertanya pada Dokter Cakra, ketukan pintu terdengar sontak keduanya menoleh ke arah pintu.
Tok...tok
Rupanya Dokter Dewa hendak meminta bantuan pada Dokter Cakra menggantikannya praktik di klinik Bogor dan Depok selama beberapa hari ke depan, “Bagaimana kau bersedia?”, tanya Dewa terburu-buru.
“Tentu saja, memangnya kau ada kesibukan apa sampai harus beberapa hari?”, tanya Cakra yang sesekali melirik pada Dayana dan melihat perubahan ekspresi di wajahnya saat ini sangat berbinar dan berbeda dari beberapa saat lalu sebelum kedatangan Dewa.
“Istriku sakit, dan aku akan menyusulnya ke Korea”, jawab Dewa sedikit panik karena pikiran dan hatinya hanya tertuju pada Dwyne.
“Oh, baiklah. Sebaiknya kau harus cepat kesana”, Dokter Cakra pun mengerti alasan Dewa.
__ADS_1
Dokter Dewa mendapat kabar dari Papa mertuanya yang juga baru saja menerima telepon dari Zayn menyatakan Dwyne jatuh pingsan dan belum siuman. Dewa pun pulang ke rumah mempersiapkan semua keperluannya, sembari berkemas ia mencari penerbangan pesawat yang berangkat dalam waktu dekat ini namun sayang tak menemukannya satu pun. Dewa mengepal tangan tanda kesal harus menunda keberangkatannya sampai esok hari, namun Papa Ray masuk ke kamar dan meminta menantunya menggunakan jet pribadi milik kakak sepupunya.
“Tapi pa?”
“Cepat lah Dewa, memangnya kau bisa tenang menunggu sampai esok hari?. Tolong jaga Dwyne untuk Papa dan Mama”, ucapan seorang ayah yang sangat mengkhawatirkan anaknya.
“Terima kasih Pah”, Dewa memeluk Rayden erat.
.
.
Selama 5 jam dalam pesawat kini dokter tampan suami Dwyne Bradley tiba di bandara, beruntunglah Dewa memiliki papa mertua baik hati sampai meminjam jet pribadi milik Adam Bradley hanya untuk menantunya. Sehingga Dewa bisa lebih cepat sampai tanpa perlu transit lebih dulu, mobil hitam pun sudah menjemputnya di bandara dan siap membawanya ke rumah sakit.
Dewa mencoba menghubungi asisten D namun masih sama belum tersambung juga, ia pun tidak sabar segera sampai di rumah sakit dan bertemu dengan istrinya yang pergi tanpa pamit.
“Dokter Dewa”, ucapnya lirih dengan pipi dan alis memerah akibat menangis terlalu lama.
“Dimana istriku?”, kalimat pertama yang keluar dari mulut Dewa.
“Ayo dokter, sore tadi nona tersadar tapi sekarang sedang tidur”, jelas Asisten D
Asisten D membuka pintu dan mempersilahkan suami nona bosnya masuk lebih dulu, tapi langkah kaki Dewa terhenti melihat seorang pria tidur membungkuk di sisi ranjang pasien, dan yang menjadi masalah adalah pria itu memegang erat tangan istrinya.
“Ehem”, berdeham cukup keras membuat Zayn terbangun dan melihat siapa yang telah mengganggunya tidur. “Zayn, bisa lepas tangan istriku?”, Dewa menatap tidak suka pada asisten pribadi papa mertuanya.
__ADS_1
“Bagaimana bisa dia disini?, apa Tuan Rayden yang memintanya datang kesini?”, batin Zayn tidak suka jika Dewa bersama Dwyne.
Tanpa kata Zayn melepaskan tautan tangannya dari Dwyne dan memberi ruang pada pria di depannya untuk dekat dengan nona bos yang ia kagumi. Tidak lama ia menerima sebuah pesan dari Rayden untuk kembali ke hotel bersama Asisten D.
“Ahh”, kesalnya dalam hati.
“Ayo senior Zayn, cepat. Kamu tidak mau kan melihat kemesraan nona bos dan suaminya?”, ajak Asisten D. “Tuan kami kembali ke hotel, jika membutuhkan sesuatu hubungi saja Zayn”, tutur D. Sontak kedua mata itu saling menatap tajam.
“Tentu, kalian istirahat lah”, sahut Dewa.
Selepas kepergian dua asisten itu, Dewa berdiri menatap wajah sang istri yang terlihat lemah dan pucat, ia membelai rambut panjang Dwyne dan melabuhkan satu ciuman di puncak kepala. “Kamu harus cepat sehat sayang”, gumam Dewa kini menyentuh pipi mulus Dwyne, lalu duduk di samping brankar menggenggam satu tangan istrinya, menciumi punggung tangan itu. Perasaannya sedikit lega karena melihat istrinya membaik, Dewa cemas sekali saat Papa Rayden memberinya kabar Dwyne yang sakit dan terbaring lemah di ranjang khusus pasien ini.
“Kamu tahu Dwyne, aku begitu khawatir, kamu tidak menerima panggilan telepon dariku dan jatuh pingsan”, Dewa mengusap lembut punggung tangan istrinya menggunakan ibu jari. “Istirahat lah sayang dan besok aku ingin melihat kamu membuka mata”.
Dewa pun tidur di sisi ranjang sembari menggenggam erat satu tangan Dwyne yang terbebas dari infus. Tanpa ia ketahui Dwyne sedari tadi telah bangun karena terusik dengan sentuhan tangan suaminya di kepala serta ciuman Dewa pada rambutnya. Dwyne memutuskan pura-pura tidur, mendengar setiap untaian kata yang keluar dari bibir Dewa membuatnya tersentuh dan hati dinginnya sedikit menghangat karena Dewa begitu perhatian padanya. Padahal ia telah menyakiti pria ini dan pergi tanpa izin darinya.
Satu tangan Dwyne terulur membelai rambut hitam suaminya, “Dewa”, lirih Dwyne nyaris tak terdengar. “Apa kau langsung datang kesini setelah mengetahui aku sakit?, apa benar kau sangat khawatir padaku?”, batin Dwyne. Kedua manik coklat pun masih menatap Dewa lekat-lekat, tampak sekali wajah lelah suaminya ini, Dewa yang berkerja tanpa henti sejak pagi hari sampai malam masih bisa menyisihkan waktu untuk menemaninya di sini.
Dwyne tidak tega melihat suaminya tidur membungkuk apalagi kalau sampai pagi pastilah akan sangat sakit, akhirnya ia terpaksa membangunkan Dewa. “Dewa..... Dewa bangun kau harus pindah, tidurlah di sofa”, menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Dewa.
Dokter tampan ini terganggu dan membuka mata serta merubah posisinya duduk menyandar, “Dwyne”, matanya melihat jelas jika istrinya ini melihat ke arahnya. “Kamu bangun sayang?”.
“Dewa sebaiknya kamu pindah tidur di sofa, mungkin sedikit lebih nyaman”, papar Dwyne.
“Itu terlalu jauh denganmu, aku ingin disini dekat denganmu Dwyne”, senyum Dewa.
__ADS_1
Tbc