
BAB 25
Dwyne menyimpan smartphone di atas meja lalu merebahkan tubuh hanya dengan bathrobe putih yang menutupi. Kata-kata ‘sayang’ yang keluar dari bibir Dewa semakin terekam dan terukir di benaknya. Ia tak menyangka jika suaminya yang kecewa masih tetap berlaku lembut dan meminta secara baik untuk saling menjaga komunikasi.
Dwyne akui dirinya salah karena tidak memberitahu kemana tujuan pada Dewa namun semua dilakukan karena tidak ingin memberi angin segar dan harapan pada suaminya itu. Apalagi bayang-bayang Dayana selalu mengganggunya, ia yakin jika kakak sepupunya itu menempel layaknya akar benalu pada suaminya.
Ketika isi kepalanya dipenuhi bayangan Dayana dan Dewa secara bersamaan, Dwyne mendapat pesan singkat dari suaminya itu.
“Selamat istirahat Dwyne”
Mendapat pesan seperti itu membuat hatinya menghangat tetapi sikapnya yang keras tetap saja menolaknya.
“Bukankah dia sudah mengatakan itu tadi?”, mendengus kesal.
.
.
Hari kedua di Korea, Dwyne beserta kedua asistennya mengunjungi salah satu perkebunan yang akan menjadi pemasok ginseng untuk G&B Pharmacy. Asisten D yang sedang mendokumentasikan area perkebunan serta merekam pembicaraan Nona Bosnya dengan pemilik kebun.Sedangkan Zayn berdiri tepat di belakang Dwyne, berjalan mengikuti atasannya.
Tubuh Dwyne merasa lemas karena berjalan cukup jauh mengitari area perkebunan, ia pun melupakan meminum vitaminnya dan hanya sedikit sarapan. Tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke belakangan mengenai dada bidang Zayn, sigap pria itu menahan bosnya.
“Nona, nona” ucap Zayn cemas. Lantas membawa Dwyne menuju mobil untuk segera mendapat penanganan.
“NONA”, histeris Asisten D, berlari menghampiri Dwyne.
“Kau duduklah di belakang temani Nona Dwyne”, titah Zayn
Dengan cepat Zayn mengendarai mobil dan langsung menuju IGD , khawatir terjadi sesuatu pada wanita yang ia kagumi.
“Nona aku mohon bangunlah”, Zayn tak sadar menggenggam erat tangan Dwyne, mengusapnya dengan ibu jari. Setia menemani bosnya dipasang infus dan dilakukan pemeriksaan oleh dokter.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Zayn.
__ADS_1
“Nona Dwyne kelelahan sepertinya yang bersangkutan terlalu mengerahkan banyak waktu berkerja, lupa istirahat ”, terang dokter. “Tidak apa, hanya perlu sedikit istirahat saja dan setelah infus ini habis anda bisa membawanya pulang”.
Asisten D hanya bisa menangis melihat bosnya begitu pucat dan tergolek lemah tidak berdaya. Matanya yang memakai kaca mata dipenuhi air mata.
“Ya ampun nona bagaimana bisa anda kelelahan?”, Asisten D mengelap ingusnya dengan tangan.
“Ck, menjijikan”, batin Zayn tidak sengaja melihat wanita berkacamata tebal di depannya.
Zayn tetap setia berdiri di sisi Dwyne bahkan ia berani menyentuh kepala istri dari Dewa ini, membelai lembut rambut panjang nona mudanya, menatap sayang serta cemas pada wajah yang biasanya terlihat angkuh kini berubah menjadi pucat dan lemas.
“Cepat bangun Dwyne”, semakin mengeratkan genggamannya di tangan Dwyne.
Zayn pun memaksa agar Dwyne dipindahkan saja ke ruang rawat karena sudah lebih dari 1 jam belum juga terbangun. Tuan Lee direktur rumah sakit turun tangan langsung menyiapkan ruangan untuk wanita yang 1 hari lalu bertemu dengannya.
Zayn dapat menangkap tatapan sedih sekaligus memuja direktur rumah sakit pada Nona Bosnya, sebagai pria dewasa ia tahu betul jika Tuan Lee menaruh hati pada Dwyne, dan Zayn tidak akan membiarkan itu terjadi bagaimana pun juga Dwyne wanita yang ia kagumi tidak rela jika Tuan Lee yang berstatus seorang suami mendekati bahkan mencuri perhatian Dwyne.
Asisten pribadi Rayden Bradley ini sengaja duduk tepat di sisi Dwyne, mengeluarkan sikap posesifnya menjaganya dari godaan para pria lain.
Cukup lama putri Rayden Bradley itu masih belum sadarkan diri, bahkan ponselnya pun terdapat banyak panggilan tidak terjawab serta belasan pesan chat dari Dewa yang menghubungi Dwyne sejak pagi. Tidak ada yang mendengar suara dering ponsel Dwyne karena tertinggal di dalam mobil.
Jakarta
Dokter Dewa yang masih berada di GB Hospital dilanda cemas karena istrinya tak kunjung menerima telepon darinya, ia pun bingung menghubungi siapa, Asisten D pun sama tidak bisa dihubungi. Dewa mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya, sembari menghilangkan pikiran negatifnya. Ia takut sesuatu terjadi pada istri arogannya.
Dokter Cakra langsung memasuki ruangan Dewa, mengetuk pintu beberapa kali tak ada juga sahutan akhirnya ia menerobos masuk.
“Dokter.... Dokter Dewa, kau kenapa?”, melihat Dewa yang terdiam. “Hey”, Cakra memukul pelan bahu rekannya.
“Ah, ya maaf. Kenapa ada yang perlu aku bantu Dokter Cakra?”, Dewa tersadar dari pikirannya yang terus berputar tentang Dwyne.
“Kau ini, pasti sedang memikirkan istrimu itu kan?, dasar”, Cakra duduk di kursi depan meja Dewa, menyerahkan berkas salah satu pasien yang akan keduanya diskusikan bersama spesialis penyakit dalam.
“Iya kau benar, aku merindukan istriku”, Dewa tersenyum mengingat Dwyne.
__ADS_1
“Telepon saja, gampang kan?, aku yakin nona muda itu akan luluh dengan perhatian yang kau berikan”
“Ya aku juga yakin suatu saat dia menjadi milik ku seutuhnya”, harapan Dewa mengundang tawa dari Cakra.
“Jika kau tidak bisa mengambil hatinya, biar aku saja yang meluluhkan”
“Enak saja, cari perempuan lain sana”, Dewa melempar bolpoin pada Cakra. “Tapi aku cemas karena istriku tidak menjawab telepon dan membalas pesan, aku takut terjadi sesuatu padanya”, air muka Dewa ketara sekali rasa cemasnya.
“Bagaiman dengan asistennya yang berkacamata tebal itu?, kau bisa menghubunginya”, ide yang diberikan Cakra mendapat gelengan kepala dari Dewa, “Jangan katakan kau tidak memiliki nomor telepon gadis itu”, tebak Cakra memajukan tubuhnya.
“Asisten D juga tidak menjawab teleponnya”, jawab Dewa lemas.
Tanpa sepengetahuan keduanya, Dayana yang hendak bertemu Dewa tidak sengaja menguping di depan pintu ruangan yang tidak tertutup rapat.
“Kemana Dwyne?”, gumamnya penasaran. “Apa sebaiknya aku tanya Mama Nayla?”, pikirannya sangat ingin mengetahui keberadaan adik sepupunya itu.
Dayana tersenyum kecut saat mendengar Dewa dengan percaya diri yakin suatu saat akan mendapatkan hati Dwyne. “Aku mohon hari itu jangan sampai datang”, batin Dayan sangat berharap Dwyne tak akan pernah membalas perasaannya pada Dokter Dewa. “Aku tidak akan merelakan Dokter Dewa untukmu Dwyne, maaf”, lirih Dayana yang masih duduk di kursi tunggu pasien.
Merapikan jasnya Dayana pun bersiap ingin mengetuk pintu ruangan Dokter Dewa.
Tok...Tok
“Permisi Dokter”, wajahnya sedikit menunduk.
“Sepertinya salah satu penggemarmu datang”, kelakar Cakra berdiri lalu berniat keluar ruangan.
“Masuk Dayana, ada apa?”, Dewa pun memanggil rekannya supaya tidak meninggalkan mereka berdua, “Cakra duduklah kembali”.
Dokter muda ini menyampaikan maksud kedatangannya ke ruangan Dewa, seperti biasa ada sesuatu hal yang sangat ingin ia tanyakan berkaitan dengan praktik dan istilah kedokteran, seisi rumah sakit mengetahui jika Aileen Dayana sangat dekat dengan Dewa bahkan banyak yang menduga jika keduanya sepasang kekasih namun semua terpatahkan saat Dewa menikahi putri pemilik rumah sakit.
“Cakra, kau bisa membantu Dayana kan?, aku harus segera pergi ke ruangan Dokter Evan”, Dewa berdiri sembari membawa berkas pasien yang diterimanya dari Dokter Cakra.
“Ta tapi Dokter...”, Dayana kecewa Dewa tidak membantunya melainkan menunjuk Dokter Cakra menggantikannya.
__ADS_1
...Tbc...