Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 28 - Negosiasi


__ADS_3

BAB 28


Dwyne yang ingin membuang air kecil seketika menengok ke belakang, menatap penuh tanya pada Dewa, sorot tajam ia berikan untuk suaminya. “Maksudmu Dewa?”.


“Jika aku pria mapan berasal dari keluarga terpandang, status sosial kita sepadan apa aku berhak menyentuhmu? Memegang tanganmu? Menciummu Dwyne Juliette Bradley?”


“Omong kosong apa yang kau katakan Dewa”, Dwyne melangkah masuk kamar mandi untuk melanjutkan tujuannya. “Dasar aneh”, gumamnya.


Keluar dari restroom, Dwyne menatapi suaminya yang masih diam tak bergerak pindah tempat. “Kenapa kau bicara seperti itu?”


“Kenapa kamu tidak mengizinkanku menyentuhmu?”, suara Dewa berubah datar.


“Ck, bukankah sudah jelas, aku tidak suka disentuh oleh pria lain, sekalipun itu dirimu....”


“Tapi aku suamimu Dwyne, aku berhak atas itu bahkan melakukan lebih pun tidak ada larangan”, jelas Dewa yang selalu mendapat penolakan dari istrinya.


“Meskipun suami, bagiku hubungan kita tidak lebih dari debitur dan kreditur, kau harus tahu itu Dewa”, kata-kata dan suara dingin Dwyne begitu menusuk relung hati seorang Dewa Bagas Darka.

__ADS_1


Menarik napas dan menghembus kasar, istrinya itu selalu mengatakan jika Dewa hanyalah debitur baginya. “Apa yang harus aku lakukan?”.


“Lunasi hutangmu, dan katakan pada pamanmu untuk berhenti mengemis meminta uang keluargaku”, desis Dwyne sangat kesal melihat rincian rekening koran keluarganya begitu banyak uang yang dipinjam keluarga Dewa. Apalagi setelah ia mengetahui paman Dewa menjaminkan rumah pemberian Papa Rayden pada salah satu bank hanya untuk meminjam uang, padahal jelas sudah sebelumnya pria itu meminjam sejumlah uang dari Papa Rayden. Memanfaatkan situasi dengan mengatasnamakan Dewa dan Kania, ingin membangun usaha demi keponakannya namun ternyata uang itu habis percuma oleh pamannya.


“Aku akan melunasinya, kamu tidak perlu takut”, Dewa memijat pelipisnya, memang benar ia menepati janji pada keluarga Bradley, setelah memiliki penghasilan sendiri Dewa mencicil hutangnya mulai dari biaya sekolahnya, lalu pengobatan Mama Kania yang memakan hingga 1 miliar, dan belakangan ini ia pun terkejut karena pamannya meminta bantuan padanya untuk melunasi hutang pinjaman modal usaha pada keluarga Bradley dan bank.


Papa Rayden menolak pembayaran dari Dewa apalagi biaya pengobatan Kania dan sekolah anaknya, namun Dewa tetap bersikukuh membayarnya walau entah kapan lunas semua itu. Dengan hanya gajinya sebagai dokter umum tidak cukup bagi Dewa untuk melunasi seluruh hutang keluarganya, akhirnya ia berkerja sama dengan teman sekolahnya yang pindah ke Cipanas untuk membeli tanah dan menanam beraneka sayuran yang hasil jualnya akan dibagi 2 sama rata, lalu baru saja Dewa membeli tanah yang dibangunnya menjadi peternakan dan itu sangat membantunya dalam membayar rumah serta hutang, uang hasil usahanya itulah yang Dwyne kuras dari rekeningnya untuk belanja. Tanpa wanita ini tahu, suaminya susah payah berkerja dari pagi hingga malam bahkan diakhir pekan masih harus melakukan kontrol pada perkebunan sayur dan peternakannya.


“Baik, aku tunggu dan waktumu tidak lama”


“Apa kamu juga bisa memberiku kesempatan lain?”, keduanya bertatap dalam pemikiran masing-masing.


“Berikan aku kesempatan untuk membuatmu jatuh hati padaku”


“Ck, kau itu memang tidak tahu diri, setelah berhutang pada keluargaku, lalu menikah dengan kreditur mu dan sekarang ingin aku mencintaimu, hah mimpimu terlalu jauh Dewa”, Dwyne tersenyum  kecut.


“Apa kamu takut memberikan kesempatan itu Dwyne, istriku?”, tekan Dewa pada kata istriku.

__ADS_1


“Takut?, tidak ada istilah takut Dewa dalam hidupku. Baik aku akan berikan kamu kesempatan dan sebaiknya gunakan dengan bijak”, jelas Dwyne.


“Terima kasih, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin”, sahut Dewa pada istrinya yang angkuh ini, “Aku yakin Dwyne, bisa mendapatkan cintamu suatu hari nanti”, ucapnya dalma hati.


Dwyne kembali naik ke atas ranjangnya dan Dewa membantu istrinya itu untuk sarapan, meskipun menolak tetap Dewa lakukan karena Dwyne telah memberinya kesempatan maka akan ia gunakan di manapun dan kapanpun.


Karena hasil pemeriksaan sangat bagus, Dwyne diizinkan pulang siang ini. Dewa dan Dwyne dijemput oleh Asisten D dan Zayn. Disambut senyum oleh asisten berkacamata tebal, sementara Zayn menatap tidak suka pada Dewa yang melingkarkan tangannya di pinggang Nona Bos. Entah apa yang terjadi Zayn tidak tahu yang jelas saat ini ia lihat Dewa dan wanita pujaannya sangat dekat. Bahkan Dwyne pun tak menolak saat Dewa menyelipkan rambut di balik telinganya.


“Aku senang nona sudah sehat lagi”, ucap Asisten D yang duduk di samping kursi kemudi. “Aku pikir nona hamil makanya pingsan, ah aku sangat takut terjadi sesuatu pada nona”, ucapnya polos.


Sontak ketiga pasang mata lain dalam mobil melotot, Dewa dan Dwyne saling menatap namun diiringi senyum hangat pada bibir Dewa, tapi bagaimana mungkin istrinya itu hamil karena sampai saat ini belum terjadi hal yang diinginkan diantara pasangan itu. Sementara Zayn merasa sesak dalam dada, jika Dwyne mengandung anak dari Dewa itu artinya kesempatan memiliki wanita itu sirna sudah.


Zayn pun menatap sepasang suami istri itu melalui kaca spion yang tergantung dalam mobil, ia berharap itu tak akan pernah terjadi. Tanpa sengaja Dewa dan Zayn beradu pandang sekilas.


“Ya secepatnya hari itu akan datang”, senyum Dewa disambut lirikan tajam Dwyne.


“Kau”, ucap Dwyne tanpa bersuara hanya Dewa tersenyum manis pada istrinya lalu merengkuh pinggang Dwyne agar semakin rapat dengannya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2