
BAB 37
Setelah membantu suaminya berpakaian, Dwyne segera menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa suaminya. Benar sesuai apa yang ia pikirkan, jika Dewa terlalu lelah menjalani kegiatannya. Dwyne tak menampik semua itu karena waktu libur Dewa yang hanya satu hari digunakannya untuk mengurusi bisnis di luar kota.
“Kenapa kamu sampai tidak istirahat sama sekali Dewa?, kamu itu seorang dokter tapi tidak menjalani hidup sehat layaknya seorang dokter memberi nasehat pada pasien”, gumam Dwyne di sisi ranjang sembari menatap suaminya.
“Semua untuk mu Dwyne”, lirih Dewa bahkan hampir tak terdengar.
“Apa? Apa maksudmu?”, Dwyne samar mendengar suara suaminya itu.
“Aku melakukan ini hanya untukmu Dwyne”, Dewa sedikit membuka matanya, menatap lekat pada manik coklat Dwyne Bradley. “Aku memang berasal dari keluarga yang jauh dari kekayaan tapi aku tidak ingin membuat hidup istri dan anak-anak seperti ku Dwyne, aku ingin membahagiakan istriku. Tidak apa badan ini sakit asalkan orang yang aku cintai bahagia”, Dewa masih bisa menyunggingkan senyum meski tubuhnya lemah.
Dwyne hanya menatap tanpa menanggapi semua kata-kata yang keluar dari bibir suaminya ini, terkejut, senang, tak menyangka seorang Dewa yang selalu ia hina dengan kata-kata menyakitkan rupanya tengah berjuang untuk menjadikan dirinya sebagai seorang istri yang beruntung dan bahagia.
“Kamu melakukan ini karena –“
“Iya, karena kamu Dwyne”, Dewa merubah posisinya, duduk bersandar di atas ranjang yang biasanya hanya di tempati oleh sang istri. Dewa bercerita awal mula ia mulai tertarik berbisnis karena untuk membayar hutang pada keluarga Bradley, hanya memiliki beberapa ratus meter tanah yang ditanami pohon buah, tetapi karena perjodohan Dewa menambah kembali tanah perkebunan dan mengelola bersama rekannya.
“Setelah kita menikah, aku baru membeli peternakan itu bersama Cakra yang juga mau menjalani bisnis untuk masa depannya. Kamu tahu Dwyne apapun akan aku lakukan demi seseorang yang telah menjadi pemilik hati seorang Dewa Bagas”, ucap Dewa menarik tangan sang istri dan menempelkannya di dada bidang Dewa.
“Entah apa lagi yang harus aku lakukan supaya istriku ini membuka hatinya sedikit saja”, Dewa tersenyum kecil.
Dwyne masih bergeming, setia mendengar kata-kata suaminya. Dirinya tersentuh, ternyata semua kerja keras Dewa lakukan hanya untuknya tapi wanita angkuh ini tak mau mudah percaya begitu saja pada Dewa.
“Aku hargai usahamu”, Dwyne menarik tangannya dan berdiri.
“Dwyne?”, Dewa tak ingin istrinya pergi dari kamar.
“Kamu belum makan malam kan? Aku ambilkan makanan”, ucap putri Nayla Kei ini.
Senyum terbit di bibir Dewa, merasa senang bukan main mendapat perhatian luar biasa dari sang istri, “Aku menunggumu disini, cepatlah”, ucap Dewa enggan melepas tangan wanitanya.
Sampai 10 menit tak kunjung kembali istrinya itu, Dewa masih setia menunggu bersandar di pada ranjang, sembari melihat galery smartphone yang dipenuhi oleh foto Dwyne. Tentu ia ambil tanpa sepengetahuan sang istri. Kedua bola matanya teralih pada pintu mendengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
Tok...tok
“Tidak biasanya, kenapa tidak langsung masuk”, batin Dewa.
“Ya?”
Tatapan Dewa berubah kecewa dan raut wajahnya sedih, melihat seorang asisten rumah tangga mengantarkan makanan untuknya. Harapan Dewa jatuh sudah terhempas ke dasar, menanti istri cantiknya memang melelahkan dan memakan hati.
“Tuan, nona meminta saya mengantarkan ini. Permisi Tuan”
“Terima kasih”, Dewa mengulas senyum simpul.
Khayalannya makan ditemani istri sembari disuapi memang terlalu jauh bagi Dewa, seharusnya dengab sikap Dwyne selama ini ia tak harus menyakiti diri sendiri dengan berharap lebih. Dewa menghabiskan makanannya dan menyimpan piring serta mangkuk di atas meja. Melirik pada jam di atas nakas, istrinya masih belum memasuki kamar.
Dokter tampan ini memutuskan mencari Dwyne di lantai 1, tempat Dwyne bersantai di taman samping rumah, sayang Dewa tak menemukan wanitanya dan kembali kecewa. Berlalu ke ruang keluarga dan dapur tak kunjung terlihat wanitanya itu, akhirnya ia kembali naik ke lantai 2 dan memasuki ruang kerja Dwyne.
Dwyne tertidur di atas meja kerja bersama layar laptop yang masih menyala. Tak ingin istrinya merasa sakit badan, Dewa yang masih lemas menggendong Dwyne membaringkannya di atas kasur empuk kamar mereka.
.
.
Selama dua hari ini Dewa menghabiskan waktu beristirahat di rumah, Dwyne pun menolak untuk diantar jemput ke perusahaan khawatir kondisi suaminya semakin buruk, apalagi sejak percakapan keduanya 3 hari yang lalu, Dwyne semakin menghindari Dewa.
Meski suaminya selalu memulai menciptakan suasana hangat pasti Dwyne lebih dulu mengalihkan perhatian, ia takut jatuh hati pada seorang Dewa Bagas Darka di saat hatinya belum yakin jika Dewa benar-benar pria yang tulus mencintainya.
“Dwyne?, panggil Dewa ketika melihat istrinya baru saja sampai di rumah.
“Hem”
“Aku senang kamu bisa pulang lebih cepat, terima kasih”, Dewa mengulas senyum memandangi istrinya yang sibuk memeriksa email di smartphone.
“Karena pekerjaan di kantor sudah selesai untuk apa lembur?”, jawabnya datar.
__ADS_1
“Kamu mau makan malam apa? Aku akan memasak lagi untukmu”, Dewa tak menghilangkan sedikitpun senyum mengembang di wajahnya.
“Aku tidak lapar”
“Kalau begitu temani aku makan, bagaimana?”
“Aku lelah Dewa, aku mau tidur”, ketusnya.
“Makan di kamar, jadi kamu bisa istirahat juga menemani suami, iya kan?”, Dewa tak kenal lelah meluluhkan dinding es di hati sang istri.
“Hah, terserah kamu saja”, menghentak kakinya menaiki anak tangga.
Hanya membutuhkan waktu 35 Dewa telah selesai memasak, makanan cukup sederhana tapi rasanya sangat lezat seperti kata Dwyne yang tidak sengaja keceplosan memuji suaminya.
Dewa membawa nampan berisi makanan ke kamar tidur, menatanya di meja dan menggiring Dwyne untuk duduk bersamanya. “Aku lelah Dewa, kamu itu selalu memaksa”, menyilangkan kedua tangan di depan dada.
“Dwyne ingat kesepakatan kita”
“Hah, kamu selalu menggunakan kata-kata itu”, Dwyne yang selalu menepati janjinya terpaksa mendaratkan tubuh di kursi yang telah Dewa sediakan.
“Tunggu sebenetar”, Dewa beranjak dari duduknya dan mengambil sesuatu yang ia sembunyikan dibalik jaketnya, setangkai bunga lily Dewa berikan untuk istri tercinta. “Untukmu istriku, wanitaku”, karena Dwyne hanya diam saja Dewa menyimpan bunga itu di atas pangkuan sang istri.
Dewa masih saja terus merayu istrinya supaya merubah sikap, tak angkuh atau menolaknya. Menyuapi Dwyne satu sendok makaroni panggang, ia pun senang Dwyne mengunyah makanan yang dibuatnya.
Sejoli itu menikmati makan malam di temani alunan musik romantis yang Dewa putar pada ponsel, tapi tiba-tiba terhenti karena ada panggilan telepon dari seseorang.
“Sebentar, aku terima telepon. 5 menit”, Dewa menunjukan kelima jarinya.
“Ck, lama”, ketus Dwyne.
“Apa harus malam ini?”, ucap Dewa, raut wajahnya pun berubah, sinar kebahagiaan yang terpancar meredup.
Tbc
__ADS_1