Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 110 - Kejutan yang Gagal


__ADS_3

BAB 110


Siang hari di rumah kediaman Bradley yang asri dan estetik ini seorang ibu muda tengah sibuk mengepak sebagian barangnya, walau hanya tas kecil tapi Dwyne terlihat sangat pusing memilah pakaian mana saja yang hendak ia bawa.


Usai rapat di Gedung XX Dwyne segera pulang ke rumah, ia pun menyampaikan niatnya yang ingin menyusul Dewa pada Mama Nayla. Tidak ada tanggapan dari wanita paruh baya itu, ia mengerti apa yang sedang dirasakan putrinya.


Sedangkan Denver hanya menunggu di rumah, Dwyne hanya pergi 2 hari mengikuti Dewa seminar. Denver pun tersenyum sesekali melirik pada mamanya yang hilir mudik di kamar, “Maafkan mama ya Denver, lain waktu kita bisa pergi liburan bersama”, ucap Dwyne. Ia pun meminta Dariel menghubungi manager hotel untuk menyiapkan kamarnya di sana.


“Kamu tenang saja, Denver aman bersama mama, lagipula mama khawatir kalau kalian hanya berdua di mobil”, terang Mama Nayla yang turut membantu putrinya.


“Makasih ma, aku sangat menyayangi mama”


“Oh itu harus sayang”


Dwyne menuju garasi dan mulai menyalakan mesin mobil mewahnya, ia sedikit merasa bersalah meninggalkan putra kecilnya di rumah. Tapi rasa rindu Dwyne pada Dewa tak bisa ditahan hingga membuatnya menyusul ke Bandung.


Setelah berpamitan pada Denver dan Mama Nayla, wanita muda ini segera menancap gas menuju lokasi. Diperlukan kira-kira waktu sekitar 3 jam lamanya, “Semoga tidak macet”, harapan Dwyne.


.


.


Sebelum tiba di hotel, Dwyne membeli cemilan khas kota tersebut yang akan ia bagikan pada dokter GB Hospital. Dwyne yang senang berburu kuliner ini menikmati saja acara jalan-jalan sorenya, ia yakin Dewa masih seminar. Karena dari susunan acara yang dikirim, Dewa akan kembali ke hotel pukul 7 malam nanti, masih ada waktu 2 jam lagi untuk Dwyne bersiap.


Puas berkeliling di jalanan Kota Bandung, Dwyne bergegas membawa kuda besinya ke hotel, ia tersenyum melihat gedung yang indah ini lengkap dengan sky garden di atasnya.


Semua pegawai hotel memberi salam dan menunduk hormat pada putri pemilik tempat mereka berkerja, Dwyne langsung naik menuju kamarnya. Tentu saja ruangan besar presidential ini sengaja Papa Ray siapkan jika putri dan putranya berlibur tanpa harus merebut kamar untuk para tamu.


Dwyne melepas lelah berendam di air hangat dengan aroma terapi, benar-benar membuatnya rileks dan bisa berpikir jernih. Tapi karena suara telepon dari seseorang yang Dwyne tunggu, ia pun menjadi gugup. Untung ini hanya panggilan suara bukan video


Gugup Dwyne menjawab perlahan, dan bicara dengan suaminya. Rupanya Dewa hanya memberi kabar jika baru saja sampai hotel dan ingin segera mandi. Sontak Dwyne mempercepat kegiatannya, merapikan penampilan terbaiknya dengan gaun yang indah dan sangat memperlihatkan keanggunan seorang Dwyne Bradley.

__ADS_1


“Dimana Dewa?”, bingung Dwyne mencari suaminya dalam restoran, menurut pesan dari sang suami jika saat ini berada di restoran bersama rekan-rekan dokter lainnya. Padahal manager hotel menawarkan makanan yang akan diantar oleh room service namun Dwyne menolak mentah-mentah.


“Malam nona”, sapa petugas.


“Dokter dari GB Hospital makan dimana?”, tanya Dwyne, petugas yang mengerti segera masuk ke dalam, “Hey, jangan katakan apapun pada mereka, cukup bapak beritahu di sebelah mana mereka duduk”, perintah Dwyne pada pria yang usianya lebih muda dari Papa Ray.


Usai mengetahui tempat duduk dimana Dewa dan rekan lainnya menikmati makan malam, Dwyne memberi uang tip beberapa lembar kertas merah pada pria yang membantunya.


“Terima kasih nona”


Dwyne mantap melangkah masuk restoran, para koki dan staf pun menunduk hormat pada putri sulung Rayden Bradley, mereka menatap kagum. Meski wajahnya angkuh namun Dwyne selalu loyal pada pegawainya.


“Malam nona, biar kami tunjukan ruang VVIP”, ucap seorang staf.


“Malam, siapkanlah untukku”


“Baik nona”


Pandangan Dwyne menatap pada Dewa yang tengah berbincang di meja makan sembari menyesap secangkir kopi. Dwyne tersenyum, akhirnya pria yang sukses membuat harinya tersiksa bisa ia temui malam ini juga. Namun senyum Dwyne seketika hilang saat melihat tangan seorang wanita memukul pelan bahu suaminya. Mata tajam Dwyne memperhatikan pergerakan wanita itu, ah pantas saja dia lancang berani menyentuh prianya. Rupanya dokter muda itu tidak Dwyne kenali dan bukan dari GB Hospital.


“Mari nona ikuti kami”


“Aku benci hari ini”, ketus Dwyne.


Dewa yang meneguk kopi melihat ke sembarang arah, nalurinya mengatakan sesuatu entah apa itu tapi hati Dewa begitu berdebar.


“Maaf dokter bisa menjaga jarak”, ucap Dewa pada dokter yang memanggil lembut namanya siang hari kemarin.


“Ayolah Dokter Dewa, bukan masalah suamiku dan istrimu tidak ada disini”, bisiknya pelan.


Dewa yang masih melihat pada deretan meja lain seketika terperanjat dan berdiri netra hitamnya menangkap sang istri yang berjalan mendekat dengan cantik dan anggun.

__ADS_1


“Dwyne?”, gumam Dewa, sontak Dokter Cakra dan beberapa dokter lain GB Hospital menoleh ke belakang, semuanya menatap kagum pada kecantikan istri Dokter Dewa. “Sudah Dewa gandeng tangannya dan bawa ke kamar”, kelakar Dokter Cakra.


Kaki Dewa melangkah menghampiri Dwyne yang tajam tatapannya, Dewa tersenyum pada wanita cantik ini. “Sayang”, panggil Dewa tepat di hadapan istrinya.


“Hem”, Dwyne kesal dan marah enggan melirik Dewa.


“Hei, kenapa? Kamu tidak rindu pada suamimu ini sayang?”, Dewa memeluk sang istri, mendekapnya begitu erat dan menangkup pipi Dwyne melabuhkan ciuman mesra di atas bibir yang selalu menggodanya.


“Kamu mau duduk dimana?”


Dwyne hanya menunjuk dengan bola mata yang bergerak lurus pada ruang VVIP.


“Baiklah tunggu sebentar aku ambil tasku dulu”, wajah Dewa yang semula dipenuhi rasa lelah kini hanya binar dan pancaran kebahagiaan, dirinya pun pamit pada rekan dokter lainnya.


Dewa merengkuh pinggang ramping Dwyne semakin rapat dan berpadu pada tubuhnya, menunjukan jika hanya ia yang memiliki wanita cantik ini.


“Sayang, aku tidak menyangka kamu datang, ini seperti mimpi, dimana Denver?”, tanya Dewa masih tak menyadari Dwyne yang marah.


“Di rumah sama mama”, ketus Dwyne duduk menjauhi suaminya.


Dewa pun mengikuti Dwyne, dan mencium pipi candunya, tapi tampak sekali tak ada raut bahagia Dwyne yang ia sayangi dan cintai.


“Ada apa sayang? Kamu marah?”


Dewa mencium bibir yang sedari tadi diam tak ada kata cinta ditujukan untuknya.


“Kenapa sayang?”, tanya Dewa mendapat penolakan.


Dwyne mendorong dada suaminya, dan menarik napas sebelum bicara. “Siapa wanita yang duduk di sebelahmu itu? Bukankah aku pernah bilang tidak suka kamu dekat dengan perempuan manapun”, kesal Dwyne.


Dewa yang mendengarnya terkikik geli dan menyadari kesalahannya tidak menghindar sejak awal dari dokter juniornya.

__ADS_1


"Ternyata istriku ini cemburu"


...TBC...


__ADS_2