
BAB 32
Dewa menangkup kedua pipi istrinya, tersenyum hangat mendapat ciuman di pipi pertama kali. “Dwyne, sayang”, ucap Dewa sangat lembut. Bukan hanya harapan yang didapatkannya melainkan hati sang istri yang mungkin telah terbuka untuknya.
Sedangkan Dwyne mengalihkan tatapannya pada Dewa, “Huh, dasar pria”, dalam hati berdecak kesal . “Aku lapar”, suara Dwyne mengayun indah di telinga di sang suami.
“Ayo sayang”, Dewa menggandeng tangan Dwyne menuju kantin.
Dayana menahan sesak dalam dada, ia berlari masuk ke toilet mengunci dirinya. Sakit, itulah perasaan Dayana sekarang melihat secara nyata Dwyne sangat dekat dengan Dewa, memang tidak ada yang salah karena keduanya merupakan suami istri, namun Dayana belum bisa melupakan perasaannya pada Dewa.
“Dwyne”, lirihnya.
Apalagi sekarang Dokter Dewa tidak dapat dimintai tolong lagi olehnya, selain kesibukan di rumah sakit pria tampan itu pun selalu menolak jika Dayana membutuhkan bantuannya. Meminta Dokter lain untuk membimbing Dayana, hal ini semakin membuat hatinya sudah sakit semakin sakit. Ditambah beberapa kali ia menginap di rumah keluarga Bradley tapi Dwyne dan Dewa tak kunjung terlihat, Dayana pun tak berani bertanya dimana keberadaan adik sepupu dan suaminya.
Dayana mengepalkan tangan. “Aku yakin kalian tidak saling mencintai”, berusaha menampik kenyataan jika Dokter Dewa sedang berjuang mendapatkan hati istrinya.
Dayana keluar dari toilet dalam keadaan mata sembab , pipi serta alisnya memerah. Sibuk menghapus air mata, tidak sengaja menabrak seseorang.
BRUK
“Dayana, apa kamu sakit?”, tanya Dokter Cakra.
“Maaf dokter, aku permisi”, ucapnya pelan lalu berjalan cepat menghindari Dokter Cakra.
“Pasti dia melihat ini”, Cakra mengalihkan kedua matanya pada berita yang ramai di bicarakan di grup chat rumah sakit.
Sementara itu di kantin Dewa terus memandangi istri cantiknya yang beberapa saat lalu mencium pipinya.
__ADS_1
“APA?”, seru Dwyne kesal Dewa tak henti menatapnya.
“Tidak ada”
“Ck”, Dwyne memutar bola mata menunjukan rasa malas menanggapi suaminya ini.
“Kenapa kamu mengganti bajumu?, apa pekerjaannya telah selesai?”, tanya Dewa ingin mengajak istrinya ini ikut dengannya ke klinik.
“Oh, ini. Aku hanya ingin lebih santai saja menikmati makan siang. Kenapa? Masalah pakaian tidak perlu ikut campur bukan?”, paparnya.
“Dwyne, ikut dengan ku ke klinik, aku ingin ditemani oleh istriku ini, bisa kah?”
“Hey, Dewa. Aku ini sibuk, tidak bisa. Pekerjaanku masih banyak”, tolaknya mentah-mentah pada Dewa yang masih tetap tersenyum. Dokter Umum ini tidak sakit hati sama sekali mendapat penolakan dari istrinya, karena memang tahu betul jika jadwal kegiatan Dwyne sangat padat.
“Baik, tunggulah aku di rumah”
“Ck, kamu ini berapa kali dalam sebulan selalu mengatakan seperti itu”
Setelah menikmati makan siang bersama di kantin rumah sakit, Dewa dan Dwyne sama-sama keluar rumah sakit. Dwyne pergi bersama Asisten D dan pengawalnya, lalu Dewa pun menuju mobil yang terparkir di sudut, tapi tiba-tiba terhenti mendengar namanya di panggil seorang wanita.
“Dokter Dewa tunggu”
“Hem, ya ada apa Dayana?, kamu membutuhkan sesuatu?”
“Oh ya, aku hanya mau bertanya beberapa hal yang sedikit membuatku bingung”, alasan Dayana.
“Kamu bisa menemui Dokter Cakra, aku tidak bisa membantumu sekarang. Karena pasti terlambat sampai ke klinik, sebaiknya kamu masuk dan temui Dokter Cakra”, Dewa memutar tubuhnya dan kembali melangkahkan kaki.
__ADS_1
Dayana hanya bisa menatap punggung Dewa yang semakin menjauh bahkan mobil hitam miliknya pun mulai keluar dari area parkir rumah sakit.
Waktu berjalan sangat cepat, Dewa sedang bersiap merapikan benda-benda di atas mejanya karena waktu praktik telah selesai dan tidak ada pasien yang datang. Lebih baik dirinya segera kembali ke rumah. Namun tepat di saat keluar pintu klinik, hujan deras mengguyur disertai petir, tak masalah bagi Dewa, ia kembali ke dalam mengambil payung dan sialnya saat hendak membuka pintu mobil, Dewa mendapati kedua ban mobilnya kempes.
“Argh, kenapa seperti ini?”, kesalnya lalu masuk ke dalam.
Memaksa mengganti pun percuma karena hanya ada satu ban cadangan, ia harus ke bengkel untuk mengganti ban satunya, melirik arloji di tangan rasanya tidak mungkin ada bengkel yang buka di sore menjalang malam seperti ini.
Dewa meminta bantuan pada pemilik rumah yang ia sewa untuk mencarikan bengkel di sekitar klinik. “Pak, bisa bantu saya mencari bengkel di dekat sini?”.
Dokter tampan ini pun masuk, akan menghubungi istrinya yang mungkin saja sedang dalam perjalanan pulang. Masalah baru bagi Dewa karena ponselnya kehabisan daya, ia pun segera mencari charger tapi sayang tertinggal di rumah sakit. Lengkap sudah penderitaan Dewa, terjebak hujan, ban mobil kempes, ponselnya mati. Akhirnya dokter tampan ini hanya duduk di teras klinik, menunggu hujan reda.
Tapi siapa sangka ia kedatangan pasien di tengah hujan deras, tidak hanya seorang tapi beberapa. Dewa melakukan tugasnya memeriksa kelima pasien yang datang membutuhkan bantuannya. Karena kelelahan, Dewa tanpa sengaja tidur menyandar pada dinding dingin.
**
Rumah Dewa dan Dwyne
Dwyne yang telah terbiasa makan malam masakan suaminya masih menunggu pria itu di halaman rumah, seharusnya Dewa telah tiba di rumah baru mereka satu jam yang lalu. “Mungkin macet, ah tapi aku lapar”, keluhnya melirik layar ponsel.
Sesuai kesepakatan, keduanya harus makan malam bersama akhirnya Dwyne memilih masuk ruang kerja memeriksa beberapa laporan penjualan yang sore ini diterimanya. Hampir 2 jam berlalu dalam ruangan itu bahkan pekerjaannya pun telah selesai, Dwyne tak kunjung mendengar suara suaminya.
“Kemana dia?, ck sebegitu sibuknya sampai tidak mengabari”, kesal Dwyne, lalu memanggil asisten rumah untuk membuatkannya makan malam.
Usai menikmati makan malam seorang diri di rumah untuk pertama kalinya, Dwyne mengantuk memasuki kamar di lantai 2, ia pun terus saja memeriksa smartphone mahalnya memastikan jika ada pesan atau panggilan tak terjawab dari Dewa, tapi sayang hanya pesan chat dari Dariel dan Denna yang meramaikan kotak masuk.
Dwyne membaringkan tubuh di atas sofa yang selalu jadi alas tidur Dewa, memeluk benda pipih yang sedari tadi di genggamnya, siapa tahu Dewa menghubungi maka dengan cepat ia bisa menerima panggilan suaminya. Tapi sampai 30 menit berlalu, tidak ada kabar apapun, Dwyne yang mengantuk mulai memejamkan mata di atas sofa.
__ADS_1
Tengah malam wanita ini terbangun dan melihat seisi kamarnya, masih juga tiada kehadiran suaminya itu. Akhirnya Dwyne memutuskan menelepon Dewa lebih dulu, “Ck, apa-apaan dia itu, sengaja tidak mengaktifkan ponselnya?, apa sedang bersenang-senang?, dasar pria”, gerutu Dwyne melempar benda pipih mahalnya ke atas ranjang dan menjatuhkan diri di kasur empuk mencoba memejamkan kedua mata, “Keterlaluan kamu Dewa”, kesal Dwyne menunggu sampai hampir dini hari suaminya masih belum pulang ke rumah.
Tbc