
BAB 56
Setelah menelepon pada kepala pengawal pribadi keluarga Bradley, Dwyne meminta 10 orang pengawal menyamar sebagai pengunjung hotel. Berjaga di dalam restoran dan lobby serta area hotel.
“Bagaimana D?”, tanya Dwyne tanpa terlihat jika dirinya bicara.
“Beres nona, mereka semua akan tiba sebentar lagi”, sahut Asisten D.
“Ummm, tapi Nona Dwyne. Sepertinya kita kekurangan orang”
“Maksudmu?”, tanya Dwyne.
“Lihatlah Nona”
Entahlah seberapa kaya Mr Lee yang jelas restoran kini di penuhi pria berjas hitam yang terlihat kaku berinteraksi satu sama lain. Jumlah pengawal yang diminta Dwyne pun masih kalah dari banyaknya ajudan yang mengelilingi Mr Lee.
“Ya ampun pria macam apa dia? Sampai menyewa banyak pengawal seperti itu”, pikir Dwyne.
Pria itu tersenyum kala melihat Dwyne berjalan mendekat, memang tujuannya datang ke Jakarta untuk menemui wanita incarannya lalu perihal bisnis dinomor duakan.
“Cantik”
“Menantang”
Mr Lee duduk angkuh di depan Dwyne.
“Apa anda menunggu lama Mr Lee?”, tanya Dwyne yang telah mendaratkan bokongny pada kursi.
“Tidak, Nona. Ehem.... sebaiknya kita bahas kerjasamanya”
“Iya, tentu saja”
Keduanya membahas beberapa jenis obat yang akan dikirim ke rumah sakit di Ibu Kota Korea Selatan. Padahal dalam beberapa waktu lalu mereka sudah sepakat dan selesai dalam pembahasan jenis obat apa saja yang di supply namun satu minggu yang lalu pria yang menjabat sebagai Direktur rumah sakit ini berdalih ada beberapa obat yang ingin di ganti dan menjadi prioritas rumah sakit. Akhirnya, D menjadwal ulang pertemuan di Jakarta mengingat jadwal Dywne yang tidak bisa diganti sewaktu-waktu jika harus bertolak ke Korea.
Pandangan Mr Lee tetap tertuju pada Dwyne bukan pada berkas di depannya.
“Apa ada yang ingin anda tanyakan Mr Lee?”
“Cukup, penjelasanmu selalu mengagumkan”, puji Mr Lee seusai kenyataan.
__ADS_1
Asisten D menyadari ada hal yang tidak beres pada rekan bisnis perusahaan tempatnya berkerja. Ia memberi bahasa isyarat pada Dwyne agar tidak lemah dan tetap bersikap angkuh.
Asisten D juga mengirim pesan pada suami nona mudanya jika kini mereka berdua sedang bersama klien.
“Dokter Dewa, saat ini nona ada di hotel R and B, jalan xx. Datanglah ke sini demi nona, aku takut terjadi sesuatu”
“Apa kamu sudah makan?”, tanya Mr Lee
“Sudah”
“Apa kabar suamimu?”, tanya Mr Lee diluar jalur.
Dwyne menatap tajam pria beristri di depannya, dan tak menjawab pertanyaan pria genit ini.
“Aku hanya bertanya apa tidak boleh?, sebagai sesama dokter aku ingin bertemu dengannya”, kata Mr Lee bersikap sangat santai tapi sesekali menggoda Dwyne.Tidak jera pada sikap dingin dan arogan Dwyne.
“Ayolah jangan terlalu serius”, tawanya pada Dwyne dan juga Asisten D.
Alasan Mr Lee sangat berani ingin mendapatkan Dwyne karena tahu jika pernikahan putri keluarga Bradley ini atas dasar perjodohan dan ia pun menyelidiki latar belakang Dewa yang ternyata hanya menjadi benalu bagi Dwyne, menurut hasil penyelidikannya. Hingga ia ingin menunjukan bahwa tidak layak Dewa untuk mendampingi wanita seperti Dwyne.
“Tikus kecil ini sangat mengganggu”, ucap Mr Lee dalam hati pada asisten pribadi Dwyne.
Selesai menandatangani kontrak, Mr Lee tetap memaksa memesan makanan meskipun Dwyne menolak dan niatnya untuk pergi di tahan Mr Lee.
“Apa aku salah mengajak wanita secantikmu makan malam?, jangan khawatir mana mungkin aku bertindak bodoh atau meracuni kalian”, candanya diiringi gelak tawa yang sangat dipaksakan.
“Duduklah Nona, kau tahu makanan kita akan segera tiba. Sebaiknya isi perut dengan makanan sebelum pulang atau mungkin nona akan kembali berkerja?”, Mr Lee menyilangkan kaki dan menopang dagu dengan kedua tangan di atas meja.
“Bukan urusan anda, Mr Lee”, sahut Dwyne.
“Ah ya tepat sekali, makanan kita datang. Kalian lihat kan ini baru terhidang dan aku pun baru menyentuhnya”, tutur Mr Lee, mulai makan makanannya.
Dwyne dan Asisten D makan dan minum bersama Mr Lee, tapi beberapa menit kemudian Asisten D pusing, mual tak terhankan dan meminta izin pergi ke toilet dengan wajah yang nyaris pucat. Sementara Dwyne sangat baik-baik saja, seringai licik di wajah Mr Lee terlihat jelas.
“Dasar pria gila”, umpat Dwyne di hatinya
Pria ini akan menjalankan rencananya malam ini juga, mendapatkan wanita yang berani menolaknya bahkan ia tahu jika Dwyne membuang kartu nama serta memo darinya ke dalam tempat sampah.
“Semua harus kau bayar malam ini juga, sayang, kau akan menjadi miliku nona muda”, pikir Mr Lee menanti reaksi obat Dwyne.
__ADS_1
Hingga 15 menit Dwyne menunggu asistennya namun tidak kunjung kembali, “Dimana Asisten D? Lama sekali”, keluhnya dalam hati.
Dwyne mengibas-ngibaskan tangan, kulitnya terasa panas dan terbakar, juga wajahnya merah arena sensasi panas dalam tubuh, lalu penglihatannya pun mulai sedikit memburam. “Apa aku sakit? Seperti salah makan sesuatu”, gumamnya.
“Tentu saja”, sahut Mr Lee dalam hati.
“Ya ampun apa mungkin dia mencampuri makanan ku dan D. Obat apa yang dia pakai ?, para pengawal pun dimana?”, rintih Dwyne dalam hatinya.
“Kepalaku”, lirih Dwye.
'‘Kamu kenapa Nona Dwyne?", tanya Mr Lee masih pura-pura.
Dwyne merasa pusing luar biasa pada kepalanya dan sedetik kemudian ia terjatuh dari kursi. “Akhirnya kau pingsan juga”, licik Mr Lee yang sigap menahannya dan menggendongnya, membawa masuk ke dalam salah satu kamar.
Pria dengan tubuh tinggi dan putih ini menghubungi anak buahnya untuk membawa minuman beralkohol guna semakin memperburuk efek obat yang telah masuk ke tubuh Dwyne.
“Cepatlah dan jangan lama”
Mr Lee menatap lapar pada tubuh Dwyne yang mengerang gelisah di atas ranjang, “Ah, gerah”, lirih Dwyne tapi terdengar menggoda di telinga Mr Lee yang sudah melepas jas dan kemejanya, menampakan dada bidang serta perut yang berotot.
“Apa, apa yang akan dia lakukan?”, Dwyne ingin melawan tapi tubuhnya berkhianat.
Mr Lee yang ingin langsung menyerang wanitanya harus tertahan lebih dulu karena seseorang membunyikan bell. ”Argh siapa itu”
“Tuan, ini minumannya.”
“Kalian awasi hotel ini, jangan hubungi dan ganggu aku untuk satu jam ke depan”
“Baik tuan”.
Pria yang bertelanjang dada kini membuka penutup botol dan menuangkannya ke dalam gelas. Mengapit pipi Dwyne dengan satu tangan dan memaksa wanita itu meminum minuman beralkohol, bahkan Dwyne karena haus menghabiskan hingga satu gelas.
“Hahaha, good girl. Kau akan menjadi milikku sayang”, senang karena Dwyne tergolek tidak berdaya dan menarik-narik kain dress di bagian dada.
“Sabar sayang, jangan terlalu cepat”
“Anda pria jahat, lepaskan aku”, racau Dwyne di sela-sela kesadarannya.
“Wow, kau benar-benar membuat nyaliku tertantang”, bisik Mr Lee di telinga Dwyne yang semakin membuat wanita itu mengerang bahkan sedikit d-e-sa-h-an keluar dari bibir.
__ADS_1
Mr Lee mulai membelai rambut, pipi dan bibir Dwyne. Mencium puncak kepala wanita yang malam ini akan menjadi miliknya.”Lahirkanlah keturunan untuk ku sayang”, bisiknya dengan tangan berusaha melepaskan dress di tubuh rekan bisnisnya ini.
...TBC...