
BAB 62
Hari berjalan semakin cepat dan sangat menyenangkan bagi Dewa dan Dwyne. Sepasang suami istrinya tidak mengikuti acara makam malam bersama keluarga. Memilih menghabiskan malam panas karena cuaca yang mendukung untuk saling memeluk satu sama lain di bawah selimut dengan tubuh polos.
“Dewa”, Dwyne memeluk suaminya, membelai lembut dada bidang yang selalu memberi sandaran hangat di kala lelah menghampiri.
“Kenapa sayang?”, tanya Dewa. Pria ini begitu mencurahkan banyak cinta untu istrinya. “Hentikan Dwyne, kamu memaksaku melakukannya lagi”, suara serak Dewa yang seketika mengungkung tubuh wanitanya.
“D-Dewa, mau apa? Bukannya kita sudah selesai?”, Dwyne masih sering gugup ketika proses menghasilkan keringat di atas ranjang atau sofa yang rutin dilakukan.
“Sayang, aku masih menginginkan mu. Istriku”, mengecup lembut bibir pink yang sedikit terbuka.
Sampai pukul 3 pagi kedua orang itu tidak juga memejamkan mata, usai mendapat pelepasan yang terakhir Dewa dan Dwyne saling memandangi wajah pasangan. Dewa selalu tersenyum saat mendapat sentuhan halus di pipinya.
“Dewa?”
“Ya sayang?”
“Sepertinya aku mencintaimu, tapi......”, tertahan di bibir. “Aku ngantuk”, keluar dari bibir Dwyne dengan mudah dan lancar.
“Yakin? Tidak mau lagi?”, goda dokter tampan ini.
“Ish, aku ngantuk”, Dwyne memberengut, menyusupkan tubuhnya semakin menempel pada dada bidang dan polos Dewa.
Papa Rayden dan Adam memutuskan mengadakan liburan bersama keluarga besar di salah satu hotel milik Rayden Bradley yang berada di Kota Bandung.
Semua anggota turut serta, termasuk Dayana,Bunda Nayra, dan Oma Nilla. Tuan dan Nyonya Nooren pun ikut, kebetulan mertua Adam itu sedang berada di Jakarta menjenguk menantu dan cucunya. Denna, Opa Dave, Oma Anggi dan Opa Hendrik tidak mengikuti liburan karena masih berada di Inggris. Sedangkan Oma Anna menemani cucu cantiknya melanjutkan studi di US. Hanya Stefan dan Steve yang mendampingi Adam juga Samantha, sama seperti Rayden dan Nayla di temani twin D juga menantu tampan mereka.
.
.
Lagi-lagi Dwyne dan Dewa tidak ikut dalam acara sarapan pagi keluarga besarnya yang berburu kuliner pagi di pusat jajanan Kota Bandung. Menambah pedih pada Dayana, tahu apa yang dilakukan keduanya di kamar hotel.
“Dayana, mau makan apa?”, tanya Nayla dan Nayra bersamaan.
“Apa saja”, tersenyum kecut.
Tak lama hanya 1 jam lamanya keluarga besar Bradley berburu sarapan, kini tiba di hotel. Dariel tertawa pelan melihat saudari kembarnya keluar dari lift di rangkul oleh Dewa.
__ADS_1
“Dwyne?”, panggilnya.
“Kalian dari mana? Kenapa pergi tanpa menunggu aku sih?”, kesal Dwyne.
“Kami tidak mau mengganggu kegiatan mu dan Dewa”, goda Steve menimbulkan rona merah di pipi Dwyne.
“Kamu terlihat sangat lelah Dwyne, tidur jam berapa? Dewa, kamu terlalu liar menyentuh sepupuku yang cantik ini”, Stefan menyentuh tanda merah di bagian leher Dwyne.
“Ish, jauhkan tanganmu Stefan”, ketus Dwyne merasa malu luar biasa.
“Sudah kalian jangan menggoda pengantin baru”, Papa Rayden menarik telinga putra serta keponakannya yang membuat putri sulungnya malu.
“Benar, cepatlah menikah, kalian bertiga pasti akan sama seperti Dewa. Mengurung istri dalam kamar”, timpal Adam lalu mencium pipi Samantha di depan banyak orang.
Sedangkan mata Dwyne memandang lurus ke belakang Uncle Adam, Dayana sangat tidak menyukai situasi yang membuatnya sakit hati. Apalagi Dayana lihat jelas kemerahan di leher Dwyne.
“Dewa”, lirihnya.
“Apa sebaiknya aku harus melupakanmu?”, batinnya. Namun tubuh dan otaknya menolak, ingin sekali mendapat kasih sayang dari pria yang ia cintai.
“Jangan lupa siang ini berkumpul di lobby, kita akan berwisata bersama”, suara Rayden memberi arahan pada seluruh keluarganya. Pria setengah abad lebih ini langsung merangkul sang istri, memasuki lift menuju kamar mereka.
“Jangan cemberut, sebaiknya kita makan. Kamu belum makan dari pagi”, ajak Dewa yang memainkan rambut coklat Dwyne.
“Bagaimana mau makan kalau kamu terus melarang ku turun dari kasur, huh”, Dwyne memajukan bibirnya. Seketika tawa Dewa pecah hingga menjadi pusat perhatian termasuk Dayana yang mengamati dan mendengar dari kejauhan.
“Baiklah, ayo sayang. Kamu harus makan yang banyak untuk nanti malam”, Dewa mengulas senyum genitnya.
“Ish, memangnya pagi ini tidak cukup, selalu setiap harii”, gerutu Dwyne yang hampir setiap waktu tidur tanpa sehelai benang menempel di tubuhnya.
.
.
Tepat pukul 10 pagi rombongan keluarga Bradley memasuki mobil yang telah disediakan menuju kawasan wisata Orchid Forest Cikole, atas permintaan Mama Nayla dan Mama Samantha yang sangat menyukai buang anggrek.
Keluarga besar itu mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto bersama, semua menikmati suasana sejuk hembusan angin. Namun tidak bagi Dayana yang menatap jengah pada Dwyne dan Dewa. Seperti dimabuk cinta, Dewa memeluk istrinya dari belakang sembari melihat beragam jenis tanaman anggrek.
Memasuki siang hari mobil yang ditumpangi keluarga Bradley memasuki cafe milik Rayden, konsep tropis ketara sekali dari tempat makan ini, banyak pasangan yang menghabiskan waktu bercengkrama atau hanya sekedar mengisi perut.
__ADS_1
Sore harinya mereka menuju objek wisata Tangkuban Perahu, angin yang menerpa cukup kencang. Dewa tak ingin istrinya terserang sakit saat liburan, dengan sigap membenarkan posisi syal yang melingkar pada leher wanitanya.
“Dewa”, Dwyne tersentak.
“Dingin sayang, aku tidak mau kamu sakit”, imbuh Dewa sangat perhatian pada istrinya.
Dwyne mengulas senyum lalu mengecup pipi kanan Dewa.
“Apa itu ucapan terima kasih wanita arogan milikku?”
“Bisa jadi”, jawab Dwyne lalu menghampiri saudara yang lainnya di dekat pagar pembatas.
Dewa hanya tersenyum, istrinya yang dulu selalu mengeluarkan kalimat berbisa kini terasa manis dan menggoda. Ia pun melangkah maju, namun terhenti karena mendengar wanita mengaduh sakit di dekat mobil van.
“Dayana, kamu terluka?”
“Eh, ummmm. Aku terpeleset dokter, celana ku sobek kena kerikil ini”, menundukkan wajah melihat ke bawah.
“Kenapa kamu selalu ceroboh?”, Dewa tidak habis pikir di tempat luas seperti ini Dayana harus terjatuh, ya memang banyak pasir dan kerikil di area wisata ini.
“Pakailah”, Dewa melepas jaket couple yang digunakannya, ia tidak tega pada bagian tubuh kakak sepupu Dwyne harus menjadi santapan orang tidak bertanggung jawab.
“Ta-tapi bagaimana dengan dokter? Memang tidak dingin?”
“Sudahlah pakai saja”
“Terima kasih”, senang Dayana bukan main. Melingkarkan dan mengikat erat jaket itu di pinggangnya.
Dewa segera menemui Dwyne yang menatap tidak suka padanya, apalagi jaket itu limited edition yang Dwyne pesan dari negeri ginseng. “Ck, merusak suasana”, geram Dwyne.
“Sayang?”
“Dimana jaketmu? Kenapa kamu memberikannya pada Dayana?”, Dwyne menghindar dari tangan Dewa yang hendak menautkan jemarinya.
“Dia tidak sengaja terjatuh, sayang”, jawab Dewa lembut.
“Disini ada Dariel, Stefan dan juga Steve yang bisa dimintai tolong. Tidak harus kamu kan?”, Dwyne pergi dari suaminya.
...TBC...
__ADS_1