
BAB 98
Dwyne selalu menatap pada pintu masuk, ia sangat berharap suaminya masuk dan memberi dekapan hangat menenangkan hati. Apalagi sampai pukul 8 malam Dwyne hanya sendiri di kamar, ia sempat bertanya pada petugas pengantar makanan tentang keberadaan sang suami. Ternyata Dewa menunggui putranya di ruang perawatan, tapi kenapa tidak mengajaknya turut serta, begitulah pikir Dwyne.
Bahkan obat untuk sang istri hanya Dewa titipkan pada perawat yang betugas.
“Aku juga ingin bersama anakku”, gumamnya turun dari ranjang, berjalan membawa penyangga infus menelusuri lorong.
“Nona anda mau kemana? Dokter Dewa melarang anda keluar ruangan, karena kondisi anda tidak fit”, cegah seorang perawat.
“Aku ingin menemui anakku di lantai bawah”, datar Dwyne.
“Sebentar nona, saya akan menghubungi Dokter Dewa”, sambungnya tak mau disalahkan jika terjadi sesuatu pada putri pemilik rumah sakit.
Dwyne terpaksa kembali masuk kamar dengan perasaan kesal dan sedih bercampur jadi satu, duduk di tepi ranjang rumah sakit, mengayunkan kaki dan memeriksa ponsel untuk membunuh waktu bosannya menunggu Dewa datang.
Suara pintu bergeser langsung mengalihkan perhatian Dwyne, tak ada senyum hangat atau sambutan yang diberikan untuk Dewa. Sama halnya dengan dokter tampan ini hanya masuk dan langsung memeriksa kondisi tubuh sang istri.
“Kamu tidak boleh terlalu lelah, tubuhmu sekarang sangat membutuhkan istirahat”, jelas Dewa membantu istrinya berbaring dan memasang stetoskop, menempelkan benda itu pada dada dan perut.
Dewa melirik pada nampan di atas nakas, “Kenapa tidak dihabiskan? Bukankah itu enak”, tunjuknya pada mangkuk dan piring yang masih tersisa lebih dari setengah makanan.
“Aku tidak lapar”, Dwyne membuang muka. Bukan marah tetapi ingin sekali suaminya ini membujuk dan memaksanya makan.
“Baiklah jika kamu tidak mau makan, aku tidak akan memaksa”, Dewa berdiri dan melangkahkan kaki keluar ruangan. Dirinya yang lelah tak ingin berdebat hanya masalah makanan.
“Kenapa langsung pergi?”, tanya Dwyne dalam hati, menatap punggung kekar suaminya yang terbalut kemeja dan jas putih kebanggaan.
“Dewa, tunggu....”, panggil Dwyne. Melihat pergerakan terhenti, Dwyne berusaha duduk di atas ranjang dan bertanya kondisi putranya, “Bagaimana keadaan anakku?”.
“Denver semakin baik, tapi masih dalam pengawasan dokter spesialis anak. Susunya pun sudah ditemukan, ya semoga cocok”, papar Dewa.
__ADS_1
“Susu? Kamu mencarinya sendiri?”, tanya Dwyne mendongak.
“Tidak, Sania membantuku mencarinya. Kebetulan dia begitu ahli dalam nutrisi”, lanjut Dewa.
“APA? Sania? Siapa?”, Dwyne bertanya-tanya di hatinya. “Kamu mau kembali lagi ke ruang bayi?”.
“Ya tentu, aku ingin menemani putraku”, Dewa memutar kembali tubuhnya dan mulai melangkah menjauh, membuka pintu kamar, bahkan setengah badannya sudah keluar dari ruangan namun Dwyne cepat memanggilnya.
“DEWA? Aku ikut”, nekat ibu muda ini, mendorong penyangga infus dan berjalan ke arah suaminya.
“Istirahatlah, biar aku yang menjaganya , Dwyne”, pandangan sulit diartikan Dewa berikan pada sang istri.
Dwyne pun semakin menatap lekat wajah dan kedua bola mata suaminya, “Dimana sikap hangat dan kata-kata ‘sayang-nya’, kenapa menghilang”, gumam Dwyne di dalam hatinya.
“Tidak mau, aku ingin menjaga putraku”, ucap Dwyne.
“Hah, kamu memang keras kepala”, kesal Dewa menghela napasnya. “Baiklah, ayo”, Dewa berjalan lebih dulu tidak menautkan jemari keduanya, sontak Dwyne tergugu di tempat menurunkan pandangan pada kedua tangannya.
“Kenapa dia langsung pergi”, lirih putri Rayden Bradley ini.
“Kapan Denver bisa pulang? Kamu bilang kondisinya semakin baik”
“Ya, memang tapi dia perlu pengawasan ketat beberapa hari ini, mungkin 2 sampai 3 hari baru diizinkan pulang”, jelas Dewa.
Dwyne memperhatikan senyum yang keluar dari wajah sang suami, betapa ramahnya Dewa pada setiap orang yang melintas. Namun seketika tatapan Dwyne berubah tajam kala mendengar Dewa menjawab sapa dari wanita bersama ‘Sania’.
“Malam dokter dan nyonya”
“Malam Sania, kau mau pulang? Hati-hati lah”, santai Dewa menjawabnya.
“Jadi itu yang bernama Sania? Huh, keterlaluan kau Dewa”, geram Dwyne dalam dada mengepal kedua tangan, sampai selang infus bagian bawah berwarna merah.
__ADS_1
“Duduk disini”, perintah Dewa, saat ini dua orang yang baru saja menjadi sepasang orang tua itu duduk di kursi empuk tepat di depan ruang perawatan bayi. “Kamu terlalu banyak bergerak, sampai darah keluar seperti ini”, Dewa membenarkan saluran infus.
“Dewa?”
“Ada apa?”, menoleh pada istrinya.
“Berapa lama kamu mengenal wanita bernama Sania itu?”, tanya Dwyne penasaran.
“Oh, sejak dia koas. Anak itu salah satu teman Dayana dan mengajukan intership disini”, terang Dewa apa adanya.
“Dekat sekali kamu dengan para dokter muda itu, apa selalu begitu dengan para wanita?”, berang Dwyne tapi nadanya sedikit tertahan.
“Aku memang dekat dengan semua yang ada di rumah sakit ini, bagaimana pun tempat ini rumah keduaku, aku banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, jadi membuatnya senyaman mungkin”, jawab Dewa apa adanya, tapi wanita yang duduk di sampingnya mengartikan lain.
“Ish, awas saja kalau kau dekat dengan perempuan lain”, kesal Dwyne di hati, melipat kedua tangan di depan dada, tapi tak ada sedetik Dewa menariknya.
“Kamu mau membuat infusmu lepas dan bercucuran darah disini?”, Dewa yang lelah berdebat sedikit meninggikan suaranya.
“Tidak”, jawab Dwyne singkat, lalu duduk menyandar dengan satu tangan ia biarkan menempel pada sofa.
Sampai pukul 5 pagi Dewa dan Dwyne menunggu di depan ruangan, Dwyne terlelap tidur entah sejak pukul berapa tetapi yang pasti hanya Dewa seorang tidak nyenyak dalam tidur.
Dewa membelai rambut panjang dan coklat sang istri, lalu merapikan rambut Dwyne di kening, mengelus kedua pipi yang sangat ia rindukan ketika merona, bibir pink nan manis milik istrinya tidak luput dari perhatian Dewa.
Ia begitu merindukan istrinya, Dewa sangat berharap kembali merajut indahnya rumah tangga bersama wanita arogan yang tidur disisinya. Namun Dewa tidak akan mengharap lebih setelah apa upayanya terbilang sia-sia, biarkan sang waktu yang menentukan jalan hidup pernikahannya.
“Aku kangen Dwyne, aku rindu bibir ini yang tersenyum. Aku mencintaimu Dwyne, istriku”, Dewa bergerak mendekat, mencium bibir pink candunya dengan singkat.
“Terima kasih telah mengandung dan melahirkan Denver, kamu wanita kuat dan aku selalu mencintaimu Dwyne. Jangan pernah berhenti mencintaiku, karena aku pun begitu, selalu menyimpan mu dalam hati”, ucap Dewa.
Mungkin bila Dwyne bangun dan mendapat kesadaran penuh, pasti wanita ini akan sangat senang begitu dicintai oleh suaminya.
__ADS_1
Namun bagi Dewa, berharap Dwyne tak mendengar. Biar saja dirinya mencinta dalam diam pada wanita pujaan hatinya. Dewa tak ingin lagi menghabiskan waktu berdebat hanya untuk hal yang tidak penting. Sekarang fokus utamanya pada sang buah hati, bagaimana membesarkan dan mendidik Denver menjadi pria tangguh dan bertanggung jawab.
...TBC...