
BAB 111
Dewa masih tetap tertawa ditengah tatapan tajam Dwyne padanya, alih-alih merasa senang karena sikap cemburu sang istri. Dewa justru mendapat pukulan di bahu bertubi-tubi dari Dwyne. “Ah sakit sayang, berhenti, berhenti”, masih tetap tertawa menyukai sikap istrinya ini.
“Argh Dewa kamu menyebalkan”, Dwyne menekuk wajah lalu berdiri dan menjauh dari suaminya, berdiri menghadap kaca dengan pemandangan taman.
Dewa gegas menghampiri Dwyne yang sedang merajuk dan pastinya sangat ingin dibujuk bukan diabaikan. “’Maaf sayang, aku sudah menghindarinya sayang”, kedua tangan kekar pria ini terulur menyentuh perut Dwyne, memeluk erat dari belakang, menyandarkan dagu pada bahu mulus istrinya yang sedikit terekspos.
“Sudah ya jangan marah lagi”, suara lembut Dewa mengalun indah di telinga Dwyne.
“Kamu genit kan Dewa? Jujur!”, tegas Dwyne yang takut kehilangan suaminya ini.
“Iya sayang, aku selalu genit”, goda Dewa.
“APA?”, seketika Dwyne membalik tubuh, kedua matanya melebar semakin tajam menatap suaminya. Jarak mereka pun hanya beberapa centi saja , terpaan napas hangat bisa dirasakan keduanya. “Minggir”, Dwyne mendorong bahu suaminya.
“Hey, Hey, Dwyne. Aku hanya genit pada satu wanita saja, dan wanita itu adalah istriku satu-satunya”, Dewa menarik tangan Dwyne, memeluk erat seakan tak ingin terlepas.
Ya entahlah Dwyne sangat senang sekali mendengar kata-kata Dewa, hingga pipinya bersemu merah bagai kepiting rebus.
Pelukan keduanya terurai saat pelayan membawa makanan masuk dalam ruangan. Dewa tak melepas pandang dari istrinya yang lahap menikmati makan malam berteman cinta dari suaminya.
“Ayo sayang makan yang banyak, kamu terlalu kurus”, ucap Dewa.
“Hih, nanti aku gendut kamu kabur”, kesal Dwyne karena kebanyakan pria selalu memandang fisik.
“Tidak akan, kamu hanya perlu menambah 2 sampai 4 kg lagi berat badan supaya lebih ideal sayang”, terang Dewa begitu memperhatikan istrinya yang memang usai melahirkan menjalani diet ekstrem.
.
__ADS_1
.
Usai makan malam yang berawal kesalahpahaman kini keduanya berada di kamar presidential suite saling bertukar saliva. Sejak memasuki ruangan Dewa tak mau melewatkan malam ini tanpa pelukan hangat dan d-e-s-a-h-an merdu dari istrinya. Siapa sangka Dwyne sangat liar membalas ciumannya, padahal seingat Dewa, wanitanya ini tidak pernah melakukannya begitu menggebu-gebu seperti sekarang.
Dirasa pasokan oksigen mulai habis, tautan bibir Dewa dan Dwyne terlepas, kening dan hidung keduanya saling menempel, bibir tersenyum. Satu tangan Dewa membelai lembut pipi Dwyne yang selalu cantik dimatanya. Begitupun Dwyne mengelus pipi dan turun pada rahang tegas Dewa, beralih menciumi rahang itu dan turun pada leher suaminya.
Dewa yang merasa tidak tahan lagi segera menggendong Dwyne ala koala menempelkannya pada dinding yang dingin. Terus bergerak hingga menemukan meja yang cocok sebagai tempat permainan malam ini.
Akhirnya untuk pertama kali setelah Baby Denver lahir, keduanya kembali menyatukan cinta dengan suara-suara saling bersahutan dalam kamar.
“Sayang, Dwyne aku mencintaimu:, erang Dewa usai mendapat pelepasan. “Terima kasih”, mencium puncak kepala Dwyne dan membawanya ke atas ranjang.
Dewa dan Dwyne tak henti saling bertatap, memuja pasangannya apalagi Dewa ia sangat menikmati indahnya mendapat balasan cinta dari wanita impiannya.
“Dwyne?”, panggil Dewa meraba hidung dan bibir sang istri. “Terima kasih telah membalas perasaan cinta yang ku berikan untukmu”, saling memeluk di atas ranjang yang hangat ini.
“Dewa, aku juga ingin berterima kasih karena kamu sangat sabar menghadapi sikapku yang.......emm yang selalu kasar”, cicit Dwyne, oh sungguh saat ini dirinya begitu malu mengungkapkan rasa pada suaminya.
“Aahh Dewa, kamu menyebalkan”, memukul lengan dan mencubit Dewa.
Cinta pertama yang dirasa Dewa dan Dwyne begitu indah meskipun mengalami dan menjalani liku yang tidak sedikit. Dewa harus menunggu hingga belasan tahun sampai akhirnya harapan yang sempat pupus, jika ia takan pernah memiliki Dwyne kini mendapat jutaan cinta dari istrinya.
.
.
Pagi ini di kamar mandi suara gelak tawa Dwyne memenuhi ruangan itu, ketika pagi masih gelap Dewa mengulang lagi kegiatan panasnya bersama Dwyne sangat cepat tapi tetap memabukkan bagi keduanya. Sekarang disinilah Dewa membantu Dwyne membersihkan tubuh usai saling menghasilkan bulir peluh.
Sungguh Dewa berat meninggalkan Dwyne dalam kamar, ingin sekali menghabiskan waktu seharian ini bersama istrinya. Hari terakhir seminar membuatnya malas, padahal Dewa selalu bersemangat mungkin karena adanya Dwyne hingga ia lebih semangat berada di kamar.
__ADS_1
Dwyne membantu Dewa mengenakan kemeja panjangnya dan selalu saja memberi peringatan pada dokter tampan ini. Agar Dewa menjaga jarak dari wanita manapun, apalagi dokter muda yang sangat ganjen mendekati suaminya.
“Pokoknya tidak ada yang boleh menyentuhmu selain aku”, tegas Dwyne begitu galak, betapa menyebalkan wanita semalam yang menepuk bahu suaminya. Dwyne ingin sekali mencakar tangan wanita itu hingga meringis sakit.
“Tenang saja sayang, ada dokter cakra yang akan melindungi”, gurau Dewa mencium kedua pipi Dwyne.
“Ish, kamu Dewa. Tadi malam juga ada Dokter Cakra tapi dia diam saja, huh. Menyebalkan”, sungut Dwyne.
Sebelum berangkat, Dewa membantu istrinya mengeringkan rambut lebih dulu. Tawa pun kembali menggema di kamar ini, tangan Dewa selalu jahil menyentuh titik sensitif Dwyne yang merasa geli.
"Sudah ah Dewa, nanti kamu semakin malas berangkat”, Dwyne mengambil alih hairdryer dari tangan suaminya.
“Ok sayang aku berangkat, kabari aku kalau kamu keluar hotel dan jalan-jalan”, Dewa membawa tas ransel kecilnya, menyesap bibir pink yang menjadi candu sebelum keluar dan melewati pintu kamar.
Dewa menjadi bahan candaan diantara rekan dokternya, bagaimana tidak pria baik hati ini tak kembali menemui rekannya setelah menghabiskan waktu bersama Dwyne. Bahkan Cakra terkejut mendapati tas Dewa menghilang ketika pagi hari. Ternyata pukul 12 malam Dewa mengambil pakaiannya itu, beruntung Cakra tak melihat penampilan berantakannya tadi malam.
“Ya pengantin baru kita sudah datang”, goda Cakra.
“Hey, sudah 2 tahun bukan baru lagi”, seru Dewa mengkoreksi sahabatnya.
Sementara wanita yang duduk dibelakang hanya menunduk malu, ia merasbbersalah karena telah menggoda Dokter Dewa yang jelas beristrikan Dwyne Bradley bukan saingannya. Ia pun berdiri mengulurkan tangan tanda permohonan maaf.
“Dokter Dewa”
“Oh ya ada apa dokter?”
“Dokter Dewa maaf sikapku kemarin, sampaikan maafku pada istri dokter”, lirihnya yang takut di mutasi ke daerah terpencil sangat jauh, mengingat siapa itu istri Dewa Bagas Darka.
“Oh ya tentu. Maaf dokter aku tidak bisa menerima uluran tangan, anda pasti tahu jawabannya”
__ADS_1
Dewa semakin mencintai singa betinanya yang memang memiliki cakar luar biasa menyeramkan.
...TBC...