Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 24 - Telepon


__ADS_3

BAB 24


Korea Selatan


Dwyne bersama Asisten D dan Asisten Zayn segera menuju ke rumah sakit, karena meeting akan dilaksanakan di ruang rapat rumah sakit tersebut. Mobil mercy hitam melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil pun ketiganya sibuk dengan urusannya masing-masing.


Entah apa yang dipikirkan Dwyne, tapi setelah tiba di bandara ia mengaktifkan ponsel, pesan chat dari suaminya pun terbayang-bayang memintanya untuk segera menghubungi. Dwyne enggan menghubungi lebih dulu Dewa yang khawatir di sebrang sana.


“Nona, kita sampai”, ucap Zayn yang duduk di depan.


“Ok, baik”.


Asisten Zayn membuka pintu untuk putri bosnya, sedikit menunduk kala tatapan matanya tidak sengaja bertemu dengan manik coklat Dwyne.


“Silahkan Nona”


Dwyne berjalan di depan diikuti kedua asistennya yang masing-masing membawa tas berisi kelengkapan presentasi kerja sama.


“Selamat siang Miss Bradley ah sorry...”, sapa Tuan Lee yang seketika ingat jika wanita di depannya telah menikah.


“Bisa kami mulai Mr Lee?”, tatapan dingin Dwyne.


“Silahkan”


Lebih dari 120 menit rapat dilaksanakan, hasilnya pun memuaskan. Tuan Lee setuju dengan kerjasama antara rumah sakitnya dengan perusahaan farmasi milik keluarga Bradley. Tak pernah mendapat penolakan apalagi kegagalan selama dirinya menjabat sebagai Chief Marketing Officer. Bahkan setiap memaparkan materi langsung disampaikan olehnya, beberapa pertanyaan pun mampu Dwyne jawab lugas dan tepat sasaran sesuai keinginan klien.


Selepas keluar dari rumah sakit ketiganya memutuskan pergi ke hotel yang telah di pesan. Tentu saja hotel itu milik Rayden Bradley yang berdiri megah di pusat kota negeri ginseng itu. Dwyne menempati kamar presidential suite, sementara Asisten D dan Zayn berada 2 lantai di bawahnya.


“Kalian boleh istirahat”, perintah Dwyne pada kedua asistennya.


“Baik nona”, sahut Asisten D sembari membenarkan kacamata.


“Hubungi jika kamu memerlukan sesuatu”, nada suara datar dan dingin Zayn namun dari kata-katanya terkandung suatu makna lain.


Dwyne tidak menjawab, ia masih sibuk membaca berkas perjanjian kerja sama. Tanpa sengaja dirinya menjatuhkan secarik memo yang berisi nomor telepon dan suatu kalimat. “Ck, semua pria sama saja, menyebalkan dan tidak setia”, umpatnya usai membaca pesan yang ditulis oleh Mr Lee.

__ADS_1


Bagaimana Dwyne tidak kesal?, Mr Lee bukanlah pria lajang melainkan seorang suami. Itulah salah satu alasan putri Rayden Bradley dan Nayla Kei ini membangun benteng kuat dari para pria karena bagi Dwyne semuanya sama saja. Wanita ini pun membuang memo itu ke dalam tempat sampah.


Dwyne berendam di dalam kolam air panas yang tersedia di kamarnya, dengan pemandangan menghadap gedung pencakar langit. Ia memejamkan kedua matanya, menikmati harum aroma bunga mawar yang tumbuh indah dan rapi di sisi kolam. Tiba-tiba saja bayang-bayang Dewa memenuhi isi kepalanya, kata-kata dalam pesan chat itu pun mengganggu pikiran.


“Ah, kenapa disaat seperti ini masih saja mengganggu?”, Dwyne menghentak air di sekitarnya.


**


Klinik Praktik


Dewa baru saja menyelesaikan tugas praktik di klinik milik salah satu rekannya. Ia menyugar rambutnya lalu duduk bersandar sembari merogoh ponsel pada saku jas putih. Masih belum ada telepon atau pesan dari istrinya itu. Dewa yang ingin menghubungi lebih dulu rasanya percuma karena usai mendapat kabar jika Dwyne tiba di Korea, dokter tampan ini langsung menghubungi istrinya namun teleponnya hanya tersambung tanpa diterima.


Dewa yang tak ingin mengganggu Dwyne memilih menunggu istrinya itu menelepon lebih dulu, seperti penjelasan Asisten D jika mereka menuju rumah sakit untuk meeting, dan Dewa yakin istrinya yang seorang workaholic sangat fokus pada pekerjaannya.


Tersenyum tipis pada layar smartphone, Dewa memasukkan benda itu pada tasnya dan merapikan barang-barang karena ia harus segera berangkat ke Bogor untuk membuka praktik di kota tersebut.


Namun dering benda pipih yang tersimpan rapi dalam tas membuatnya kembali membuka tas itu dan segera mengambil serta memeriksa siapa yang menghubunginya. Kedua bola mata hitam berbinar manakala melihat nama ‘Istriku’ tertera pada layar dengan sigap Dewa menerima panggilan itu.


“Dwyne”, ucapnya.


“Akhirnya kamu menghubungiku”, Dewa tersenyum senang, karena tak menyangka istrinya menelepon.


“Bagaimana kalau dialihkan menjadi panggilan video?”, pinta Dewa karena ia rindu melihat wajah cantik istrinya.


“Aku mohon Dwyne”, Dewa memejamkan mata mendapat penolakan dari Dwyne.


“Benarkah?, baiklah”, manik hitam Dewa kembali berbinar karena Dwyne mengabulkan keinginannya.


Sambungan telepon pun saat ini sudah berubah menjadi video call.


Dewa : “ Dwyne sayang aku merindukanmu”


Dwyne : “Ck dasar pria”


Dewa : “ Boleh aku minta sesuatu darimu Dwyne?”

__ADS_1


 Dwyne : “ APA?”


Dewa : “Aku ingin kita selalu menjaga komunikasi seperti ini, saat kamu melakukan perjalanan bisnis, dan beritahu akau kemana kamu pergi. Dwyne mungkin ini sangat menyebalkan tetapi sebagai seorang suami aku sangat mengkhawatirkan istriku yang jauh dariku”


Kata-kata  Dewa tentu saja membuat Dwyne terpana dan diam menatap wajah tampan suaminya di layar 8 inchi itu.  Belum lagi kata ‘sayang’ yang tersemat di sela-sela ucapan Dewa, wanita mana yang tidak merasa senang mendapat perhatian seperti itu. Tapi seorang Dwyne hanya memasang wajah datarnya saja karena ia belum sepenuhnya percaya pada Dewa.


Dewa : “Dwyne bisakah?, kamu tahu aku begitu kecewa karena kamu tidak bicara apapun tentang keberangkatan ke Korea. Aku mencari mu di rumah tapi mama bilang kamu berangkat pagi sekali untuk perjalanan bisnis”.


Dwyne masih bergeming tak menjawab apapun, dia hanya melihat wajah Dewa yang tersenyum padanya, padahal jelas pria itu kecewa namun masih bisa tersenyum hangat pada istrinya ini.


Dewa : “Aku ingin terlibat dalam kehidupanmu”


Dewa berkata sangat lirih mungkin saja hampir tak terdengar, ia ingat sekali pagi ini saat membuka matanya tidak menemukan istrinya pada ranjang di kamar mereka.


Dewa : “Aku mohon jangan pergi lagi tanpa memberitahuku. Aku tidak melarang mu hanya saja..... aku ingin mengetahui kemana wanitaku pergi dan apa tujuannya”


Dewa : “Dwyne, jangan..... aku masih rindu padamu sayang, biarkan 5 menit lagi”


Menatap puas wajah cantik sang istri sebelum panggilan video ini berakhir, karena Dewa melihat jika istrinya hendak menutup sambungan telepon dengannya.


Dwyne : “Baik hanya 5 menit tidak lebih”


Dewa : “Apa kamu baru tiba di hotel?, apa berjalan lancar meeting hari ini?”


Dwyne : “Ya”


Dewa :”Berapa lama di sana? Aku harap tidak lama”


Dwyne : “3 hari mungkin lebih”


Dewa : “Aku akan menghubungi mu setiap hari Dwyne, aku mohon terima lah telepon dariku. Komunikasi kita harus tetap terjaga”


Dwyne “Hem”


Dewa : “ Baiklah selamat istirahat istriku sayang”

__ADS_1


Dewa tersenyum manis pada istrinya sebelum panggilan video berakhir.


...Tbc...


__ADS_2