
BAB 64
Satu minggu dari kejadian di hotel Dewa dan Dwyne pisah rumah, Dwyne memaksa pulang ke rumah kedua orang tuanya sepulang dari hotel. Meskipun Dewa melarang, Dwyne tak peduli. Rasanya memuakkan melihat atau bertemu suaminya. Bahkan Dwyne tak lagi menggantikan Papa Rayden mengikuti pertemuan di GB Hospital, Dariel lah yang mengemban tugas itu.
Mudah bagi Rayden memperoleh bukti, dalam waktu kurang dari 1 jam, pria penguasa perhotelan itu sudah mengantongi rekaman CCTV, sesuai apa yang Dewa ceritakan jika ia hanya menolong Dayana yang nyaris tenggelam. Hanya saja tidak adanya rekaman dalam kamar membuat Rayden sedikit kesulitan , padahal ia berulang kali menjelaskan pada Dwyne, tidak mungkin keduanya melakukan hubungan intim hanya dalam waktu kurang dari 10 menit.
Dewa terpaksa menelan rasa kecewa, sarapan pagi tanpa Dwyne dan siang hari tak ada waktu makan siang bersama, malam hari pun Dewa tidur di atas sofa dan memandangi ranjang kosong, bayangan Dwyne yang tidur terlelap memenuhi pengelihatan Dewa.
“Huh, Dwyne. Kembalilah sayang”, menatap nanar ranjang yang biasa menjadi alas tidur sang istri.
Dewa seperti remaja yang sedang patah hati ditinggal pujaan hati, ratusan kali mencoba menghubungi wanitanya tapi tak tersambung. Ia pun menelan getirnya dari sikap Dwyne karena nomor ponselnya di blokir oleh sang istri. Kini Dewa menghubungi wanitanya melalui telepon rumah dan rumah sakit.
“Hilang?”, Dewa terheran-heran karena beberapa hari lalu masih bisa menemukan sosial media istri arogannya namun malam ini tidak ada nama Dwyne.
Ia pun semakin frustasi dibuatnya, kehilangan sumber penyemangat hidup. Ditambah ibu mertuanya tidak bersikap ramah, dan mendapat pesan teror dari Dayana yang bertanya terus menerus kapan menikahinya.
“Dwyne aku merindukanmu”, lirih Dewa memeluk ponsel dengan gambar dirinya mencium pipi Dwyne.
**
Sementara di kediaman Bradley, Dwyne tidur di paha Mama Nayla memeluk erat wanita yang melahirkannya.
“Sayang, lupakan Dewa. Mama tidak mau kamu hidup dengan pria yang tidak setia”, ucap Nayla
Rayden dan Dariel mendengus kesal, karena Nayla mudah terbawa emosi. Kedua pria itu hanya duduk diam, percuma saja berdebat dengan wanita yang menutup matanya pasti selalu pihak lelaki yang salah.
“Dwyne, berapa koper yang kamu bawa?”, tanya Dariel menikmati choco cookies di tangannya.
__ADS_1
“Satu cukup, memang kenapa?”
“Kamu yakin? Tidak mau bawa lebih untuk oleh-oleh?”.
Dariel dan Dwyne esok pagi sekali akan bertolak ke Inggris untuk menemui Denna, Oma Anggi dan Opa Dave, lalu melanjutkan perjalanan dengan liburan ke Dubai.
Awalnya Dwyne menyiapkan kejutan untuk Dewa, mereka akan bulan madu di Dubai, namun karena insiden satu minggu yang lalu Dwyne membuang jauh angan-angannya untuk menikmati setiap detiknya bersama Dewa.
“Huh”, menghembuskan napasnya kasar.
“Sudahlah, di sana banyak pria jauh lebih tampan dari pada Dewa”, gurau Dariel yang mendapat pukulan keras di bahunya. “Aw, sakit pa”. Mengusap bahunya yang menjadi korban Papa Rayden.
“Aku ngantuk”, sahut Dwyne bangun dan meninggalkan ketiga orang yang kembali fokus menonton acara sepak bola.
Di kamar, Dwyne memandangi foto pernikahan besar terpajang di dinding kamar. Dewa tersenyum lebar dan hangat, sedangkan ia hanya menyunggingkan senyum tipis nyaris tak terlihat.
Hubungan Dwyne dan kakak sepupunya semakin menjauh, tidak hanya itu Oma Nilla sempat mengalami syok setelah mendengar kabar buruk tentang kedua cucunya.
“Kenapa akhirnya jadi seperti ini?”, Dwyne mengusap kasar wajahnya, ia duduk di tepi ranjang melihat sofa bed di dekat meja TV, tersenyum kecut seakan Dewa duduk manis di atasnya dan merentangkan tangan pada Dwyne.
“Sudah satu minggu tapi bayanganmu masih ada, sangat menggangguku Dewa”, getir Dwyne"
Rasa sesak dalam dadanya semakin menjadi usai melihat rekaman CCTV yang Papa Ray berikan, Dewa memberi pertolongan pertama pada Dayana dengan pernafasan buatan, memang tidak ada yang salah karena hanya menolong namun belakangan Dewa menjadi lebih sering perhatian pada kakak sepupunya itu.
Drt
Smartphone di atas nakas bergetar, melihat nomor yang tidak asing pasti Dewa menghubunginya dengan telepon rumah. Tiga kali sudah malam ini mendapat panggilan dari nomor yang sama, tapi tak dihiraukannya.
__ADS_1
“Untuk apa lagi Dewa?, aku tidak mau terikat denganmu lagi, aku membencimu”, menolak panggilan itu.
**
Rumah Dewa dan Dwyne
“Dwyne ayo, terima sayang”, ucap Dewa gusar, ia sangat ingin tahu kabar wanita yang sangat di cintai. Dua orang pengawal yang ia sewa pun hanya bisa memberi berita yang sama setiap hari. Bukan tidak mampu mengunjungi kediaman Bradley, namun petugas keamanan di rumah itu melarangnya masuk atas perintah Mama Nayla.
“Ah sial, kenapa di tolak”, pusing Dewa hanya bisa pasrah menunggu waktu dan ia terus berusaha mengembalikan kepercayaan sang istri.
Dilanda rindu begitu kuat Dewa keluar rumah dan memacu kendaraannya menuju rumah Bradley, memarkirkan mobil tepat di depan rumah megah itu. Memandangi balkon kamar Dwyne “Terang”, gumam Dewa, tahu wanitanya belum tidur.
“Dwyne lihatlah aku ada di sini”, ucap Dewa berharap Dwyne keluar dan melihatnya di dalam mobil.
Bak gayung bersambut tidak lama Dewa melihat wanita berambut coklat itu menggunakan jaket tebal berdiri memandang langit yang gelap tanpa bintang.
“Dwyne”, ingin sekali Dewa berteriak.
...TBC...
...***...
Terima kasih temen temen atas dukungannya, like, komen (seneng lho bacain komentar), hadiahnya apalagi makasih banyak ya
Jangan lupa masukan ke favorit ya cerita Dokter Dewa
Makasih 😘😘😘🙏🙏
__ADS_1