Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 81 - Maaf


__ADS_3

BAB 81


Dewa : “ Selamat siang cantik, kamu sudah makan?”


Dwyne menggelengkan kepala menjawab pertanyaan suaminya melalu layar smartphone.


Dewa : “Ayo makan siang sayang, aku temani bagaimana? Kamu harus ingat kedua anak kita”


Dwyne : “Tapi aku tidak lapar Dewa, perutku mual”


Dewa tertawa melihat Dwyne memajukan bibirnya, sungguh ingin Dewa pulang ke rumah mertuanya itu dan meraih pipi Dwyne mencium bibir pink kenyal yang sangat menggodanya.


Dewa : “Kalau asam lambungmu kambuh pasti akan lebih mual dari sekarang, dan merasa nyeri di perut, makan sedikit lebih baik dari pada tidak sama sekali”


Dwyne : “Aku jijik melihat nasi di pring, rasanya mereka seperti hidup”


Keluh Dwyne yang saat ini tidak bisa makan olahan apapun yang berasal dari nasi.


Di balik smartphone, Dewa menghela napas ia pun bingung, memberitahu Dwyne tak semudah memberitahu pasiennya.


Dewa : “Begini saja, kamu bisa makan sayur dan lauknya, bukan hal besar tanpa nasi”


Dwyne : “Tapi sayuran itu bau, aku tidak suka Dewa”


Pada akhirnya isi panggilan video siang ini hanya berisi penolakan Dwyne pada menu makan siangnya, dan Dewa yang kecewa karena Dwyne lagi-lagi melewatkan jadwal makannya. Namun setidaknya ia senang karena Dwyne masih bisa minum susu hingga 2 gelas besar kemudian memakan beberapa jenis buah.


**


GB Hospital


Dayana masih selalu memperhatikan Dewa dari jarak jauh, kedua matanya tidak bisa teralih pada hal lain. Karena tinggal menghitung hari tugasnya sebagai dokter koas di rumah sakit akan berakhir, dan Dayana kembali fokus pada tugas akhirnya sebagai calon dokter.


Ia banyak merekam serta memfoto Dewa sebagai penawar rindu, meskipun keduanya satu Universitas tetapi Dayana sangat jarang melihat apalagi bertemu dengan Dewa. Tamparan keras di pipinya pagi ini sedikit membuatnya sadar dan terbuka walau ia masih tetap akan mencintai Dewa.


“Aku lebih tidak bisa hidup tanpa Bunda dan Oma, tidak. Tidak bisa kehilangan dua orang yang sangat berharga dalam hidupku. Bunda, Oma maafkan Dayana”, Dayana menangis sembari memeluk ponselnya.

__ADS_1


“Dayana? Kamu baik-baik saja?”, tanya salah satu rekannya.


“Oh ya, tentu. Aku....aku hanya sedih sebentar lagi kita tidak akan koas di rumah sakit ini”


“Tapi kamu masih bisa menjadi dokter di sini, sepupu mu kan pemilik rumah sakit”, sahut rekannya. “Kami mau ke kantin, mau ikut?”


“Oh, aku menyusul saja”


.


.


**


Malam hari di kediaman Bradley, Dayana datang di dampingi Bunda Nayra dan Oma Nilla. Ketiganya duduk, Dwyne hanya berbaring menyandar pada tumpukan bantal dan Mama Nayla serta Oma Anggi menemani di sisi ranjang, sedangkan Papa Rayden dan Opa Dave bermain catur di taman belakang, memberi waktu leluasa bagi putrinya bicara. Tentu dengan Denna yang setia menemani kedua pria yang fokus menatap bidak catur.


“Untuk apa kamu datang kesini? Nyalimu besar rupanya”, sinis Dwyne menatap tajam Dayana.


“Dwyne”, ucap Oma Anggi dan Mama Nayla.


“Dwyne, aku datang kesini untuk......”, Dayana menjeda ucapannya dan menarik napas dalam.


“Tidak bukan itu Dwyne. Aku....aku minta maaf atas kesalahanku”, lirih Dayana.


Secercah senyum tersungging di bibir Oma Anggi, Oma Nilla dan Bunda Nayra serta Mama Nayla, akhirnya yang mereka tunggu tiba. Dayana mengakui kesalahannya dan datang langsung meminta maaf pada Dwyne. Mereka senang masalahnya tidak serumit masa lalu, dimana Adam mencintai istri dari adik sepupunya sendiri, yaitu istri dari Rayden Bradley.


“Dwyne, mau kah kamu memaafkan aku? Aku tahu aku salah mencintai pria yang tidak seharusnya. Aku akui perasaan untuk Dewa masih tersimpan dalam hati, untuk hal itu aku mohon kamu mengizinkannya karena......karena aku tidak mudah menghapusnya”, Dayana meneteskan air mata begitupun Dwyne, ikut menangis, sebenarnya kedua saudara sepupu ini saling menyayangi. Sejak kecil Dwyne senang bermanja-manja pada Dayana.


Dayana pun menjelaskan mengenai kejadian bagaimana saputangan Dewa bisa ada padanya, lalu Dewa menolongnya degan memberi buku referensi dan jaket, serta pada kejadian terakhir saat dirinya nyaris tenggelam di kolam berenang.


“Maafkan aku Dwyne, itu semua karena obsesiku ingin memiliki Dewa. Aku hanya ingin berjuang untuk memiliki cinta, tidak ingin kehilangan pria berharga dalam hidupku untuk kedua kalinya, setelah ayah pergi hanya Dewa yang bisa membuatku melupakan Ayah Amar”, Dayana menangis tersedu-sedu.


Bunda Nayra pun ikut meneteskan air mata, ia bangga pada putri tunggalnya yang menyadari bahwa menyukai dan berniat merebut suami orang itu salah besar.


“Aku harap kalian bahagia bersama anak-anak kalian, maafkan aku hampir menghilangkannya. Aku benar-benar tidak sengaja Dwyne”, Dayana menghampiri adik sepupunya di atas ranjang, menatap sayang wanita yang kini menjadi pemenang dari persaingan kedudukannya.

__ADS_1


“Kakak menyayangimu Dwyne, hiduplah bahagia dengan Dewa, tolong jangan sakiti dirinya”, ucap Dayana, suaranya bergetar dan serak karena menangis.


“Dayana, aku juga..... ummm kak aku juga menyayangimu, kamu akan tetap menjadi kakak perempuanku”, Dayana dan Dwyne saling memeluk.


“Terima kasih Dwyne sudah mau memaafkanku”, ucap Dayana lirih.


“Dewa, aku harap kamu bahagia bersama adik sepupuku dan anak kembar kalian. Tapi izinkan aku mencintaimu dalam hati, sampai aku benar-benar bisa menghapusnya bahkan melupakan jika kita pernah saling mengenal dan dekat, goodbye my love”, batin Dayana menangis dalam pelukan adik sepupunya.


Dayana, Oma Nilla dan Bunda Nayra tidak langsung pulang melainkan turut makan malam di rumah ini, Papa Ray melarang ketiga nya pulang bagaimana pun Dayana tetaplah gadis kecil yang selalu Rayden sayangi.


“Papa bangga padamu, Dayana”, Papa Ray memeluk erat keponakannya.


“Opa yakin kamu akan menemukan pria yang bisa mencintaimu sepenuh hati, Dayana”, tutur Opa Dave.


“Terima kasih Papa, Opa”, Dayana menyunggingkan senyum.


Semuanya larut dalam makan siang yang hangat, hanya Dwyne dan Dariel yang tidak ikut. Dariel sangat sibuk merangkap jabatannya di Hotel dan perusahaan farmasi, hingga selalu pulang larut malam.


.


.


Ketika Dayana akan pulang dan memasuki mobil, Dewa pun keluar dari mobilnya. Dewa tersentak melihat Dayana berdiri di depannya dan mengulas senyum simpul.


“Malam Dokter”, sapa Dayana.


“Malam”, Dewa membalas.


“Dokter Dewa, maafkan aku. Aku meminta maaf atas semua kesalahan yang terjadi”, Dayana sekuat tenaga menahan tangisnya, ia tak ingin pria yang dicintainya melihat dirinya rapuh dan menangis.


“Kamu bertemu istriku?”, tanya Dewa.


“Ya, aku permisi dokter, selamat istirahat”


Dayana berlalu pergi dalam mobil, ia pun sudah memutuskan untuk menjauh dari keluarga Bradley, sebelum dirinya benar-benar melupakan Dewa.

__ADS_1


Sedangkan Dewa berlari memasuki rumah ia ingin melihat kondisi istrinya secara langsung, berlari terengah-engah membuka pintu kamar, hati Dewa merasa lega karena Dwyne meyambutnya degan senyum hangat.


...TBC...


__ADS_2