Istri Arogan Milik Dokter

Istri Arogan Milik Dokter
Bab 51 - Rumah Oma


__ADS_3

BAB 51


Penyatuan bibir kali ini tidak berlangsung lama karena Dwyne telah kehabisan napas lebih cepat, dan menahan kedua bahu Dewa. “Kenapa Dwyne?”.


“Aku.... aku”, kata-kata Dwyne menggantung, “Aku bingung Dewa, perasaan yang aku rasakan saja bingung. Aku membencimu tapi kenapa rasanya berbeda”, ucapnya dalam hati. “A-aku perlu bernapas, kamu tahu tidak?”, seru Dwyne berusaha bersikap angkuh meski gugup dan tubuhnya yang lemas.


“Iya sayang aku tahu”, sahut Dewa membelai rambut coklat yang terurai indah. “Aku mencintaimu, boleh aku tahu bagaimana perasaanmu padaku Dwyne, ku minta jawablah dengan jujur”, pinta suaminya sedikit mengiba, karena sejatinya sebuah hubungan memerlukan kejujuran satu sama lain.


“Aku juga tidak tahu Dewa, aku bingung. Kenapa semuanya perlahan berbeda dan berubah?, tapi apa benar aku telah menerima kamu sebagai suami?”, lagi-lagi hanya bisa Dwyne katakan di hatinya.


“Tidak, aku tidak mencintaimu”, jawab Dwyne membuang muka ke arah lain, enggan menatap wajah Dewa yang terlhat kecewa. Kata-kata yang keluar dari bibirnya bertolak belakang dengan apa yang hatinya rasakan, untuk itu ia membuang muka tak kuasa melihat perubahan tatapan Dewa.


“Dwyne, lihat aku. Jawab sekali lagi dan tatap kedua mataku”, Dewa semakin mengeratkan genggaman tangannya. Tak mau menerima begitu saja jawaban wanitanya ia berusaha menampik jika Dwyne tak memiliki perasaan lebih padanya. Lalu kenapa wanita itu menerima saja ciuman yang dilakukannya, kenapa tidak menggunakan bela dirinya untuk menghindari Dewa.


“Ck, untuk apa aku ulangi?, bukankah sudah jelas?, sebaiknya kamu menyingkir Dewa, aku perlu istirahat”, Dwyne menarik tangannya yang berada dalam genggaman Dewa Bagas Darka.


“Dwyne?”, panggil Dewa karena istrinya perlahan menjauh.


Dwyne menarik napas secara dalam dan menghembuskan kasar, “Aku perlu waktu untuk semuanya Dewa”, ucapnya datar.


.


.


 


Hari yang ditunggu oleh Dewa dan Mama Nayla tiba, yaitu akhir pekan. Tepat hari ini Mama Nayla membawa suami serta anak-anaknya dan menantunya untuk mengunjungi rumah Oma Nilla. Menggunakan satu mobil yang sama dengan Dariel yang menyetir, mengingat halaman rumah yang hanya cukup menampung 2 mobil sedangkan di rumah itu sudah ada 1 mobil milik Bunda Nayra.


“Hi, Denna”, sapa semua anggota keluarga yang terhubung dengan panggilan video.


“Bagaimana kabarmu sayang?, mama merindukanmu, cepat pulang jika sekolah mu sudah memasuki masa liburan ya”, Mama Nayla terisak mengingat putri bungsunya jauh di sana bersama Oma Anggi dan Opa Dave.


“Belajar yang benar, jangan mencari pacar”, ucap Papa Rayden sangat tegas.


“Denna, carikan aku wanita cantik di sana dan bawalah pulang kesini, kau lihat diantara semuanya aku jomblo”, Dariel mengarahkan kamera pada kedua orang tua dan kakak kembarnya serta Dewa.


“Ya sudah belajarlah yang rajin, papa merindukanmu Denna putri cantik papa”, Papa Rayden memberikan smartphone milik Dariel.


“Sayang sepertinya kita perlu membuatnya satu lagi untuk menemani kita, lihat mereka semua sudah dewasa dan akan sibuk dengan keluarganya masing-masing, bagaimana kalau nanti sore kita ke hotel?”, ucap Papa Rayden seraya menaik turunkan alisnya.


“Bukan saatnya menimang anak tapi kita tunggu saja cucu dari Dwyne”, ucap Mama Nayla membuat Dwyne seketika mematung, sementara Dewa yang duduk di depan hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


“Kamu benar juga sayang”, Papa Rayden memagut bibir sang istri tepat di depan anak dan menantunya.


“Mama dan papa memang tidak tahu tempat”, gumam Dariel.


“Hei Dariel kamu tahu tidak, selama 8 tahun aku sakit hati dan hanya mamamu yang bisa mengobatinya dan menutup rapat luka di hati papamu ini”


“Ck bosan mendengarnya”, Dwyne mendengus di kursi belakang.


“Maaf sayang aku terlambat menyadari perasaanku padamu, aku mencintaimu Nayla Bradley”, ucap Papa Rayden yang kembali mengecup manis bibir candunya.


“Aku juga mencintaimu suami ku Rayden Bradley”, Mama Nayla tersenyum.


“Ya ampun, suasana dalam mobil ini mejadi tidak enak”, gerutu Dariel. “Dwyne, kakak ipar kalian tidak ikut memanasi mata dan telingaku?”, ucap Dariel.


“Ehem”, Dewa hanya tersenyum pada Dariel.


Sementara kata-kata Papa Rayden begitu tercetak jelas di kepala seorang Dwyne, “Ah tidak mana mungkin aku mencintai pria itu?”, batin Dwyne.


Setibanya di rumah Oma Nilla, Dwyne dan Dewa langsung dirangkul oleh wanita berambut putih itu, betapa senangnya atas kunjungan anak menantu, cucu dan cucu menantunya. “Dwyne cucu oma, oma kangen”, menciumi pipi dan dahi cucunya.


“Dwyne juga Oma”


Karena telah memasuki waktu makan siang, Oma Nilla langsung menjamu tamunya di meja makan menikmati hidangan yang dimasak oleh Bunda Nayra dan Dayana. Ketika duduk di meja makan, tatapan Dayana selalu tertuju pada Dewa bahkan ketika pria itu hendak mengambil makanan, dengan sigap Dayana memberikannya pada Dewa sontak saja menjadi perhatian bagi seluruh anggota keluarga.


“Menjijikan”, gumam Dwyne pelan namun Dewa mendengarnya jelas, suaminya pun langsung menoleh pada wajah Dwyne yang nampak kesal.


Sikap arogan mungkin biasa1 dilihatnya atau kata-kata menyebalkan bisa Dewa terima apalagi ditujukan untuk dirinya namun memberi umpatan untuk Dayana rasanya sangat aneh apalagi mereka saudara sepupu.


“Dewa”, cicit Dwyne.


“Apa? Kamu membutuhkan sesuatu?”, tanya Dewa begitu lembut.


“Aku mau itu”, tunjuk Dwyne pada sapi lada hitam yang tersaji tepat di tengah meja makan.


“Apapun untukmu sayang”, suara Dewa dapat di dengar oleh seluruh anggota keluarga, dengan sigap Dewa mengambil makanan yang sang istri inginkan. “Ini, makanlah yang banyak”.


“Em.... Terima kasih”, Dwyne yang begitu sulit mengeluarkan ungkapan terima kasih kini bisa lolos dari mulutnya, sembari mata tajamnya melirik pada Dayana. Lalu beralih pada Dewa dan tersenyum manis.


“Dwyne”, batin Dewa karena pertama kali istrinya ini tersenyum hangat dan manis padanya. Tapi Dewa tidak ingin terlalu percaya diri karena keduanya kini berada di tengah-tengah keluarga besar. Mungkin saja istri arogannya ini sedang bersandiwara.


Selesai makan siang, seluruh anggota keluarga bercengkrama di halaman depan rumah yang cukup asri dan terlindung dari sinar matahari.  “Aku ke toilet dulu”, ucap Dwyne pada Oma Nilla.

__ADS_1


Dayana berdiri dan mengikuti adik sepupunya itu, menunggu Dwyne tepat di depan pintu kamar mandi yang berada di dekat tangga.


“Dwyne?”, panggil Dayana.


“Ck, apalagi ka?”, Dwyne memutar kedua bola matanya, sangat malas ya tentu saja meladeni kakak sepupunya ini. “Kalau untuk membahas kehidupan pernikahan ku sebaiknya tidak perlu, karena kamu tidak ada hak apapun”, tegas Dwyne.


“Tunggu”, cegah Dayana.


“Aku tahu kalian hanya bersandiwara, jadi lepaskan Dewa secepatnya”, begitu tidak tahu malunya Dayana sampai harus merendahkan diri pada adik sepupunya ini.


“Ck, kasihan. Dewa itu suamiku, kamu ingin aku berpisah dengannya?, ah maaf kak tidak akan, aku tidak akan melepaskan Dewa. Ingat dan catat itu, Dayana”, tegas Dwyne bernada angkuh serta sorot matanya tajam.


Tidak keduanya sadari sedari tadi sepasang mata mengamati cukup dekat dan hanya terhalang lemari hias diantar mereka.


...TBC...


...*******...


Jangan lupa dukungannya ya ditunggu like, komen, hadiah dan votenya


Terima kasih 🙏😁☺️🥰


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2