
BAB 40
Setelah suasana tenang, antara keluarga pasien dan Dokter Cakra. Dewa mencari Dayana yang ternyata duduk di pojok IGD menahan sakit di bagian bahunya akibat di dorong.
“Dayana?”, panggil Dewa mencemaskan kakak sepupu istrinya. “Kamu terluka?, dimana?”. Sebagai ketua kelompok Dewa merasa bertanggung jawab pada setiap anggota dan menjaga semuanya.
“Aku, aku baik eh bahu ku sedikit sakit dokter”, ucap Dayana yang semula ingin Dewa tak khawatir padanya kini berbalik memanfaatkan keadaan. Ia pun menunjuk bahu kirinya yang memang sedikit memerah.
“Sebaiknya segera diobati, dimana Sania?”
“Tadi pasien di sana memanggilnya. Dokter Dewa bisa memeriksa bahuku?”
“Aku akan meminta bantuan pada Sania”, Dewa berdiri hendak mencari asistennya itu. “Tunggu disini, lukamu harus diobati, istirahat lah dulu”, ucap Dewa.
Dayana mengangguk pasrah tak bisa menahan dan memaksa Dewa memeriksa bahunya, ia pun menyandarkan kepala pada dinding rumah sakit.
Tidak sampai 15 menit Dewa kembali bersama Sania yang membawa salep untuk dioleskan pada bahu Dayana. “Sania, bantu Dayana”, Dewa kembali berkeliling memeriksa pasien satu dan lainnya bersama Dokter Cakra.
Tidak terasa waktu terus berjalan dan malam semakin larut, beberapa pasien beristirahat dan ada juga yang baru memasuki IGD sehingga berteriak tak kuasa menahan sakit. Dewa bersama timnya sigap membantu, hilir mudik kesana kemari memeriksa pasien. Seorang ibu yang hendak melahirkan pun tak luput dari perhatian Dewa dan Dokter Cakra yang segera menghubungi Dokter Evlyn di ruang bersalin.
“Ahhh”, pekik Dewa karena tangannya mendapat cengkraman kuat dari ibu tersebut.
“Maaf dokter”
“Tidak apa bu”, Dewa mengulas senyum. “Mungkin aku juga akan mengalami lebih dari ini ketika Dwyne melahirkan nanti”, batin Dewa yang harus sabar menanti hari itu datang.
'‘Hey ingat istri di rumah”, Cakra menepuk pundak Dewa, dinilai tidak wajar tersenyum berlebihan pada istri orang yang sedang kontraksi.
“Tentu, Dwyne di sini tidak akan pergi”, tunjuk Dewa pada dadanya.
__ADS_1
“Ah, pengantin baru. Aku iri padamu Dewa bisa menaklukan hati Nona Arogan itu dengan mudah”, papar Cakra yang tidak tahu apa kesulitan bahkan rintangan Dewa.
Dewa menanggapi degan senyum kecil berlalu dari hadapan Cakra untuk menelepon istrinya, tidak ada notifikasi apapun dari Dwyne membuat hati Dewa kecewa lagi-lagi istrinya ini acuh.
“Biar aku yang menghubungimu”, gumam Dewa menekan nomor telepon wanita kesayangannya.
Tersambung namun tak kunjung mendapat jawaban, Dewa tak menyerah terus berusaha melakukan panggilan video, rasa rindu menumpuk mengalahkan segalanya. “Dwyne terima lah sayang”, harapan Dewa melihat layar ponsel yang masih belum menunjukan wajah sang istri.
“Dokter, ada pasien baru”, panggil seorang perawat.
Dewa menyimpan kembali ponsel di saku jas putih kebanggaannya, berlari menolong pasien yang terluka karena mengalami kecelakaan.
**
Rumah Dewa & Dwyne
Sekarang, Dwyne menunggu Dewa kembali menghubunginya, berkali-kali membuka kunci layar pipih itu. “Kenapa Dewa berhenti?”, gumam Dwyne kecewa.
Dirinya berdiri berjalan dalam kamar sembari menggigit kuku ibu jari, ragu untuk menghubungi Dewa lebih dulu. Egonya masih tinggi, tak ingin suaminya itu berpikir jika telah memenangkan hatinya. “Ah, tidak jangan Dwyne”.
Terbiasa dalam kamar sebelum terlelap melihat suaminya duduk di sofa seraya membaca buku, kini tempat itu tak berpenghuni. Menampik jika sebenarnya ia juga merindukan Dewa yang pasti mengucapkan kata pengantar tidur. “Argh, benar-benar keterlaluan kamu Dewa, kenapa dia ada di kepalaku?”, kesal Dwyne membanting tubuhnya ke atas ranjang empuk.
Terus melirik ponselnya yang sepi tak bersuara, jangankan panggilan video, pesan chat pun tak ada. “Huh, menyebalkan kamu Dewa”, gerutu Dwyne. Memukul bantal yang biasa digunakan suaminya.
Dwyne pun memilih untuk tidur dari pada menunggu tak jelas kabar dari suaminya, ia mematikan lampu utama kamar hanya dengan satu tepukan tangan.
Hampir 30 menit Dwyne hanya berguling dari sisi kasur ke sisi lainnya, “Apa aku insomia?, hah mustahil”, ucap Dwyne. Karena selama ini dirinya tak pernah kesulitan tidur, sekalipun banyak pekerjaan atau sedang sakit tidurnya selalu nyenyak.
Ia keluar kamar dan memasuki ruang kerja mengambil beberapa buku untuk membantunya terlelap, Dwyne melirik sekilas pada tangga, senyum lebar terbit di bibirnya yang sangat pelit. Teringat Dewa memberinya kejutan, menyusun ratusan tangkai bunga mawar di sepanjang anak tangga.
__ADS_1
“Dewa”, gumam Dwyne.
“Apa kamu memberikan sesuatu di vitamin itu sehingga aku tidak bisa tidur?”, Dwyne bertanya-tanya pada diri sendiri.
Bergegas memasuki ruang kerja dan membaca buku, tapi sayang upaya mendatangkan rasa kantuk tetap gagal. Sampai pukul 2 dini hari masih tetap terjaga, berkali-kali merubah posisi dari duduk tegak, bersandar tetap tak kunjung mengantuk.
Dwyne kembali ke kamarnya lantaran kesal, akhirnya ia hanya berbaring di ranjang dengan kedua mata menghadap lurus ke arah langit-langit.
Tring
Suara ponsel mengalihkan perhatian putri Rayden Bradley, dengan cepat membuka pesan chat yang masuk. Senyum tipis muncul di wajahnya yang sedari tadi menekuk.
“Dewa”, gumamnya senang.
“Dwyne, sayang istriku. Apa kamu sudah tidur?, selamat tidur sayang. Hari ini aku bertugas sampai pagi. Dwyne jaga kesehatanmu”
Tbc
...****...
Rindu tapi gengsi, eh nyebelin kamu Dwyne
Jangan lupa like, komentarnya besti
Hadiahnya juga ditunggu
Makasih 😘😘😘😘
__ADS_1