
BAB 68
Satu minggu sudah Dariel dan Dwyne menghabiskan waktu di Inggris, mereka mengunjungi kerabat jauh keluarga Bradley serta keluarga besar Oma Bella. Sore ini Dwyne, Dariel dan Denna bertolak ke Dubai menggunakan pesawat pribadi milik sang ayah.
“Ah aku sudah tidak sabar”, aura bahagia terpancar dari wajah Denna.
“Bosan”, sahut Dariel, memang ia beberapa bulan lalu baru mengunjungi negara tersebut untuk masalah bisnis.
“Kau itu menyebalkan Dariel”, Dwyne ikut menimpali saudara kembarnya.
“Memang benar ini bukan pertama kalinya kan?”, Dariel menaikan kedua bahu.
“Tapi pertama kali bagiku ka”, Denna cemberut sembari memeluk bantal tersayangnya.
“Eh Dwyne itu apa?”, tanya Dariel pada satu koper kecil yang baru ia lihat, rasanya sewaktu mereka berangkat tidak ada koper ungu itu.
“Bukan apa-apa”, ketus Dwyne berjalan keluar kamar membawa kopernya.
“Kak?, memang benar Kak Dewa melakukan itu dengan Kak Dayana?”, bisik Denna begitu bersemangat ingin tahu.
Gadis remaja itu cukup terpukul mendengar kabar kakak sepupu yang sangat ia sayangi merebut suami kakak kandungnya, padahal mereka tumbuh bersama dengan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Papa Ray dan Mama Nayla tak membedakan Dayana. Tapi wanita cantik itu tanpa berpikir ingin memiliki suami adik sepupunya sendiri.
“Kalau aku bilang tidak benar, kamu percaya?”, tanya Dariel pandangannya tetap fokus pada layar TV besar menampilkan game kesukaannya.
“Tidak benar, bagaimana maksudmu kak?”
“Oh, come on Denna. Kita itu terlahir dari kedua orang tua cerdas. Kau pikir dengan adanya insiden itu papa diam saja?”, tanya Dariel pada adik bungsunya yang hanya menggelengkan kepala.
“Peristiwa itu terjadi di hotel keluarga kita Denna, cukup 1 jam bagi papa mengetahui kebenaran. Hanya saja Dwyne berlebihan menanggapi semuanya, dia sudah termakan virus cinta pada Dewa hingga tidak berpikir jernih dan menganggap Dewa mengkhianatinya”, jelas Dariel panjang lebar seketika mengaduh sakit.
“Kamu ini apa-apaan?, tidak sopan, hei aku itu kakak mu lahir lebih dulu. Ingat itu”, seru Dariel tidak terima kepalanya mendapat hantaman dari bantal.
“Kakak tidak mengerti apa? Tentu saja kak Dwyne itu cemburu, lagi pula kenapa kakak ipar belebihan sekali sih menolong Kak Dayana, huh”
__ADS_1
“Dasar kau anak kecil, kenapa pikiran kalian para wanita sama? Mengutamakan cemburu dan perasaan, coba pakai logika, percuma saja kau sekolah di tempat terbaik tapi pola pikirmu masih primitif dan ........”
Sontak Denna menutup mulut Dariel dengan telapak tangannya.
“Pppppff”
“Denna, kau itu adik tidak tahu sopan santun”, teriak Dariel mengejar adiknya hingga keluar mansion.
Sementara Dwyne memberikan isi koper yang di bawanya pada salah seorang asisten mansion untuk dikemas dan kirim pada saudaranya di Swedia.
“Tolong kemas dengan baik, jangan sampai ada orang yang tahu isinya”, ucap Dwyne.
“Baik nona”
Dwyne berjalan menyusuri setiap ruangan ia tertawa kecil melihat Denna yang berada di atas pundak saudara kembarnya. Memberontak namun keduanya tertawa lepas, ia rindu kebersamaan seperti ini sangat baik untuk melupakan masalahnya sejenak.
“Aku harap kalian mendapat pasangan yang tepat dan baik, tidak ada masalah seperti ku”, lirihnya menyandar pada pilar besar menjulang tinggi.
Dwyne membalas lambaian tangan dari adiknya yang meminta bergabung, tentu saja ia pun menghampiri keduanya yang sedang tertawa.
**
Jakarta
Dewa terbangun di mobil, sudah 3 hari ini ia selalu tidur dalam mobil dan menunggu Dwyne di depan rumah Bradley. Barulah menjelang pagi Dewa kembali ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah Papa Rayden.
“Dwyne, kapan pulang sayang? Maafkan aku Dwyne”, Dewa membuka lebar kaca mobil dan menatap sendu pada kamar Dwyne yang nampak gelap.
Membuka ponselnya yang bergetar beberapa detik lalu, rupanya Dariel mengirimnya sebuah gambar.
“Hi, kakak ipar. Sore ini kami berangkat ke Dubai, jangan tunggu kembaranku di luar pagar”
“Dia terlihat semakin cantik bukan? Ku ambil gambarnya diam-diam, selamat merindukannya”
__ADS_1
Dariel mengirimi Dewa foto Dwyne yang diambilnya pagi hari ini ketika mereka bersantai di taman mansion. Pria tampan yang menuruni sifat jahil papanya ini mendapat laporan bahwa Dewa masih setia menginap di luar pagar hanya untuk melihat Dwyne dari kejauhan.
“Dariel, kau memang adik ipar yang baik”, gumam Dewa. Tersenyum sendiri dalam gelapnya malam, memandangi foto istri tercintanya.
“Dwyne, tunggu aku akan buktikan jika aku tidak bersalah”, Dewa mendapat semangat baru setelah melihat foto istri yang begitu ia rindukan 2 minggu ini.
“Dariel tolong beri kabar jika kalian sudah pulang dari Dubai”
Isi pesan Dewa pada Dariel.
**
Dubai
Pukul 10 malam ketiga saudara bernama awalan D tiba di Palm Jumeirah atau Palm Island. Mereka akan menginap selama beberapa hari untuk bersenang-senang.
Dwyne menatap sendu ranjang besar di kamarnya, sebelum keberangkatan ia sempat membatalkan pelayanan bulan madu yang akan disiapkan hotel untuknya, jadilah kamar ini tanpa hiasan apapun. Seharusnya Dewa ikut bersama mereka dan menghabiskan waktu dengan Dwyne.
“Dewa, apa kamu sudah pulang praktik?”, melirik jam di pergelangan tangannya.
“Hah bodoh, tentu saja Dwyne dia pasti sedang damai dalam tidurnya”, tersenyum kecut sementara ia tidak pernah bisa tidur nyenyak pasca berpisah rumah dari suaminya, jangankan pisah rumah, berbeda kamar pun membuat Dwyne tersiksa.
“Ka, jangan lupa besok kita sarapan dan langsung belanja”
Pesan Denna mengembalikan fokus istri Dewa Bagas Darka.
...TBC...
...***...
...Terima kasih atas dukungannya...
__ADS_1
...Tetap kawal terus Dokter Dewa ya...
...😁😁😁😁...