
BAB 120
“Ah Dewa, perutku kram”, keluh Dwyne sambil memegang perut buncitnya. Dewa membantu istrinya berbaring dengan beberapa tumpuk bantal sebagai ganjal bagian punggung.
“Sayang, sebaiknya kita libur panjang tidak melakukannya sampai kamu melahirkan, aku khawatir kamu kontraksi dini, Dwyne”, jelas Dewa menghapus peluh yang menempel di kening sang istri.
Dewa pun merasa bersalah menuruti keinginan istrinya untuk berolahraga malam ini. Iya mereka melakukannya dengan tempo cepat dan berkali-kali, perut besar yang menghalangi tidak mengganggu keduanya untuk saling menyatukan cinta.
Apalagi singa betina milik Dewa semakin menggoda kala suara d-e-s-ah-an-nya terdengar merdu sampai ke telinga.
“Maksudnya kamu menolakku iya begitu Dewa? Kamu jahat”, Dwyne memberengut. Serba salah bagi Dewa, disisi lain menjaga kondisi kesehatan ketiganya tapi disisi lain ia harus menjaga hubungan rumah tangganya agar selalu hangat.
“Ayolah sayang, memangnya kamu tidak kasihan pada mereka di dalam sini?”, Dewa membelai perut Dwyne yang bergerak seolah merespon kalimat ayahnya.
“Ummm, baiklah. Tapi kamu tidak boleh berpaling ke wanita lain. Awas saja kalau berani melakukannya. Aku pastikan kamu tidak akan bertemu ketiga anakmu”, ancam Dwyne, sisi arogan masih tetap ada apabila menyangkut wanita lain. Bahkan Dewa pun tak pernah berpikir untuk melirik yang lain.
Baginya, Dwyne sangat sempurna, wanita idamannya sejak remaja dan sampai saat ini tetap menghuni hatinya. Dewa akan memberi seluruhnya untuk Dwyne, apapun itu, nyawa pun akan ia beri asal istri serta anak-anaknya bahagia dan sehat selalu. Seluas itu rasa cinta Dewa terhadap Dwyne, ia pun berniat akan menghamili wanitanya dan memiliki banyak anak dengan Dwyne.
Dewa ingin istrinya terikat selamanya dan tak berpaling, karena lagi-lagi Dewa mengingat siapa saja pesaingnya selama ini, bukanlah kalangan biasa.
.
.
Satu minggu sudah Dwyne istirahat di rumah tepatnya di kamar dan tak ada kegiatan panas lagi, karena Dewa selalu menahan diri tidak menyentuh istrinya berlebihan. Pria itu pun semakin protektif menjaga Dwyne, apalagi emosi ibu hami sering tak terkontrol.
Siang ini Dwyne di jadwalkan menjalani proses operasi caesar di GB Hospital, hanya ditemani Dewa dan Oma Nilla. Meskipun bukan pertama kali, tetap saja rasa khawatir dan cemas menggelayuti sepasang orang tua ini. Terlebih pengalaman pertama yang menyesakkan dada dan berujung pada renggangnya ikatan pernikahan mereka.
“Sayang aku takut”, cicit Dwyne menggenggam erat tangan Dewa, menunggu tim dokter masuk ruang tindakan.
__ADS_1
“Tenang sayang, aku ada menemani mu. Aku yakin kali ini semuanya akan baik-baik saja”, senyum Dewa.
“Hem ya, tapi berjanjilah Dewa tidak akan kemana-mana”, tatap Dwyne begitu merasa cemas luar biasa.
“Iya sayang”, Dewa mengecup kening, hidung dan bibi pink manis candunya.
Tim dokter yang telah memasuki ruangan segera melakukan proses operasi, Dwyne terus memegang tangan Dewa selama dokter kandungan melakukan tugasnya.
“Tarik napas sayang, tenang. Percayalah mereka baik-baik saja”, Dewa selalu membisikkan kata-kata positif di telinga Dwyne.
Beberapa menit berlalu akhirnya terdengar suara tangis bayi pertama yang sangat nyaring dan bising, “Wah selamat Dokter Dewa, Nyonya Dwyne, bayinya laki-laki”, ucap Dokter kandungan yang menyerahkan bayi itu pada spesialis anak, lalu mendekatkannya pada Dwyne usai tali plasenta terpotong.
“Hi baby”, tangis haru Dwyne mendengar suara bayi laki-lakinya, tidak lama suara kedua kembali terdengar namun lebih lemah dan tersendat.
“Dewa, anakku”, pekik Dwyne berubah panik, dan menangis.
“Selamat bayi kedua ini sangat cantik seperti mamanya”, Dokter Kandungan tersenyum pada sepasang suami istri yang terharu.
“Ini sayang anak kita, lihat mirip denganmu Dwyne”, Dewa tertawa bahagia.
Lengkap sudah rasanya hidup yang ia awali penuh perjuangan dan keringat serta sakit hati, berganti kesempurnaan cinta yang kini dijalani.
.
.
Satu minggu pasca melahirkan Dewa melarang istrinya datang ke rumah Papa Rayden karena ingin bertemu Dayana yang baru saja pulang. Mengingat belakangan ini Dwyne selalu begadang karena Zac dan Zoey selalu menyusu hingga menjelang pagi. Meskipun dibantu 3 pengasuh tetap saja untuk urusan pemberian nutrisi tak terganti oleh siapapun, dan Denver setia menemani kedua adiknya di kamar.
Arkatama Denver Bradley adalah kakak yang baik bagi Zac Kaivan Bradley dan Zoey Kieran Bradley, tak sedikit pun merasa cemburu pada kedua adik bayinya. Dewa dan Dwyne memprioritaskan pembagian waktu terhadap ketiga anaknya, itu sebabnya Denver selalu merasa kasih sayang utuh papa dan mamanya.
__ADS_1
“Papa”, celoteh Denver mengalungkan satu tangan ke leher ayahnya.
“Apa Denver sayang?”
“Aku mau punya adik lagi pa, tapi halus pelempuan, Zoey kasihan”, kalimat polos keluar dari bibir Denver merasa kasihan jika nanti Zoey tak ada teman bermain, karena ia dan Zac akan bersama-sama.
“Tentu sayang, papa akan memberikan Denver adik perempuan yang lucu, anak papa pintar sekali”, Dewa mencium gemas puncka kepala putra sulungnya.
“DEWA”, pekik Dwyne, “Luka operasi saja belum sembuh, sudah memikirkan anak lagi, huh”, Dwyne memutar bola mata.
Dewa menurunkan Denver dari pangkuannya dan mendekat pada sang istri membisikan sesuatu hingga kedua mata Dwyne melotot.
“Aku rindu singa betinaku yang liar ini, tidak sabar menunggumu sampai satu bulan ke depan, kamu selalu membuatku tergoda sayang”.
Dewa memagut bibir Dwyne yang baru saja selesai menyusui, menyalurkan rasa cinta yang teramat besar hanya untuk Dwyne Juliette Bradley.
... TAMAT...
...****...
...seriusan ya beneran tamat...
...😁😁😁😁...
...makasih untuk temen-temen yang setia dukung Dokter Dewa...
...maaf masih ada keterbatasan dalam penulisan...
__ADS_1