
BAB 21
Dwyne yang sejenak tertegun kini langsung membalik tubuhnya dan memasuki gerai salah satu smartphone. Dirinya langsung menunjuk pada deretan benda pipih keluaran terbaru dan terbatas itu, tanpa basa-basi Dwyne mengambil 2 buah smartphone yang terpajang, ia tunjukkan pada petugas.
“Aku mau yang ini, dua”, dengan mata melirik pada Dewa, bukan meminta persetujuan melainkan sorot matanya seolah bertanya pada pria itu apakah ia masih mampu memberikannya dua buah ponsel mahal ini.
“Kenapa, hem?”, sikap Dewa masih lembut padahal hari ini Dwyne sudah menghabiskan uangnya.
“Aku tidak mau sampai malu kalau kartu milikmu ini tidak bisa digunakan”, Dwyne tersenyum sinis, padahal ia sama sekali tak berniat mengganti ponsel apalagi benda yang dimilikinya jauh lebih mahal dari smartphone keluaran terbaru tersebut. Hanya saja ingin menguji suaminya ini, seberapa sabar dan mengabulkan segala keinginannya. Karena seorang Dwyne Bradley tidak akan pernah puas begitu saja.
Tiada kata-kata yang keluar dari mulut dokter tampan ini, dirinya hanya merentangkan tangan menunjuk kasir di ujung ruangan, mempersilahkan istrinya untuk membayar kedua benda bening yang ada di tangan petugas.
“Oke”, Dwyne menggerakkan sedikit bahunya.
“Mari Nona”
Wanita cantik istri dari Dokter Dewa Bagas Darka itu pun melakukan pembayaran menggunakan kartu yang diberi suaminya. Dengan gaya angkuhnya Dwyne duduk di salah satu kursi yang telah di sediakan. “Kenapa dia masih bisa tersenyum?”, ucapnya dalam hati, melihat Dewa di tengah sana tersenyum padanya.
“Terima kasih nona”, ucap seorang petugas yang telah selesai membungkus dua smartphone, dan itu tandanya kartu pemberian Dewa masih dapat digunakan.
“Huh”, keluh Dwyne, lagi-lagi suaminya itu mampu membayar semua belanjanya hari ini. “Ini, bawa”, titahnya pada Dewa.
“Apa masih ada yang kamu inginkan, istriku?”, bisik Dewa.
Sontak Dwyne terperanjat dari posisinya, “Dewa, apa-apaan kau ini, jangan terlalu dekat”, mengibaskan tangannya pelan. Pria ini sangat ingin meraih pinggul istri arogannya namun tak bisa karena kedua tangannya sudah dipenuhi oleh semua belanjaan istrinya.
Sedangkan Dwyne berpikir barang apa lagi yang akan ia beli, namun akhirnya memutuskan kembali ke rumah karena kakinya pun pegal serta merasa iba pada Dewa yang sedikit kesulitan membawa barang-barang. Lagipula tubuhnya menagih ingin istirahat, karena esok pagi-pagi sekali dirinya harus bertolak ke negeri ginseng untuk menandatangani kontrak dengan salah satu rumah sakit di sana.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, hanya ada suasana hening dalam mobil, Dwyne memandang lurus ke arah depan dan sesekali memperhatikan ke samping mobil, padahal Dewa sangat ingin tercipta kehangatan tapi nampaknya wanita disampingnya tidak tertarik sedikitpun meski beberapa kali mendapat lirikan dari suaminya.
“Sial, kenapa mengantuk”, keluh Dwyne dalam hati merasakan matanya berat.
“Tidurlah”, ucap suaminya tanpa menoleh ke pada Dwyne.
“Apa?”, tanya Dwyne seketika menatap tajam pada Dewa.
“Tidurlah, aku bangunkan nanti setelah sampai di rumah”, sebagai seorang dokter dituntut harus peka pada keadaan dan kondisi seperti ini telah lazim bagi Dewa. Ia pun tahu jika istrinya ini terlalu lelah dan membutuhkan istirahat lebih banyak.
“Siapa yang ngantuk?”, nada suara pedas khas seorang Dwyne Juliette Bradley.
Dewa mengulum senyum karena wanita satu ini selalu gengsi dan menolak keadaan, bolehkan Dewa membelai surai panjang istrinya?, atau bila diizinkan ia ingin mengusap lembut pipi mulus Dwyne dan melabuhkan ciuman di kedua pipi itu.
Lima belas menit berlalu, keduanya tiba di rumah mewah yang dipenuhi bunga-bunga cantik dan tanaman hias langka berderet rapi di pekarangan rumah dan taman belakang. Dewa turun lebih dulu dari mobil, Dwyne meregangkan tubuhnya yang begitu kaku dan remuk rasanya ditambah heels di kaki menambah beban jalannya.
“Silahkan istriku”, Dewa membuka pintu untuk Dwyne.
Dwyne yang mengantuk dan lemas, ketika berdiri tubuhnya sedikit limbung. Sigap Dewa yang berada di sampingnya menahan tubuh itu dan menggendongnya memasuki rumah. Dwyne pun hanya pasrah tidak ada penolakan apalagi memukul keras suaminya, karena sudah terlalu lelah habis tenaganya.
Beruntung baginya keadaan rumah ini sepi, pasti kedua orang tuanya berada di taman belakang atau kamar, sedangkan Dariel pasti di kamarnya bermain game.
“Tidurlah”, Dewa membaringkan istri cantiknya dan membantu melepas heels di kaki, mengambil air hangat seta handuk untuk membasuh serta memberi kenyamanan untuk Dwyne.
“Dewa”, Dwyne yang tersentak langsung menarik kedua kakinya dari pangkuan Dewa.
“Diam lah”, langsung menempelkan handuk hangat itu pada telapak kaki.
__ADS_1
Karena terlalu lelah dan memang nyaman, Dwyne pun memejamkan kedua matanya menikmati pijatan lembut yang dilakukan suaminya.
“Sepertinya kamu membutuhkan vitamin tambahan Dwyne, aku akan meresepkannya”, papar Dewa menoleh pada istrinya dan seketika tersenyum mendapati perempuan angkuh ini sudah terlelap tidur, napasnya pun terdengar beraturan. “Maaf, aku membuatmu lelah hari ini. Tapi terima kasih atas waktunya Dwyne. Aku harap hubungan kita kedepannya semakin baik”. Dewa beranjak dari duduk dan segera membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat.
.
.
.
Selepas makan malam, Papa Rayden, Dariel dan Dewa bersantai di teras samping, mulanya Dewa ingin mengikuti Dwyne ke kamar namun Dariel mengajaknya bermain billiar tanpa bertanya apa kakak iparnya ini setuju atau tidak.
Dewa pun tak kuasa menolak ajakan mertua dan iparnya, akhirnya ia bergabung dengan kedua pria tampan berbeda usia ini. Dewa melihat mama mertuanya duduk anggun menatap suaminya bermain. Dalam hati dirinya sangat menginginkan jika istrinya kelak seperti Mama Nayla yang selalu tersenyum setiap saat.
Sementara dalam kamar, Dwyne tengah sibuk menata pakaian yang akan ia bawa ke Korea, satu koper besar disiapkannya. Dirinya pun mencari sepatu yang baru saja dibelinya, mengitari seisi kamar tapi barang belanjaannya tak ditemukan satu pun.
“Huh, pasti dalam mobil”, kesalnya karena membuang waktu untuk mengambil semua benda itu.
Dwyne memerintahkan asisten rumah untuk membawa semua barang belanjanya ke kamar, ia pun memberikan dua smartphone yang dibelinya pada asisten rumah, serta beberapa potong pakaian branded.
“Nona muda kita sangat baik, ah akhirnya ponselku ganti”, girang seorang asisten rumah tangga yang usianya lebih muda dari Dwyne.
“Nona memang baik, baju ini saya kirim ke kampung untuk anak perempuan saya”, sahut seorang asisten lainnya.
Dewa yang baru saja pamit pada Papa Rayden untuk menemui istrinya, sangat terkejut melihat smartphone mahal itu dibawa oleh kedua orang asisten rumah. Mulutnya pun bertanya, “Ini milik siapa?, kalau tidak keberatan aku ingin tahu kalian mendapatkannya dari mana?”.
“Nona muda, tuan. Kami diminta membantu membawa semua barang dalam mobil dan nona memberikan ini”, tunjuknya pada ponsel dan beberapa helai pakaian.
__ADS_1
“Dwyne”, batin Dewa tidak percaya. “Baik terima kasih”, ucapnya.
Tbc